
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa sudah dua jam terlewat semenjak keduanya pergi dari Mansion Bai Long. Mobil yang mereka kendarai sudah tiba di depan gedung tinggi berlantai 60, waktu yang mereka tempuh cukup lama karena kemacetan di jalan utama kota. Yang mana banyak sekali pejalan kaki yang ingin melihat tempat terjadinya pertarungan, serta petugas kota yang membersihkan puing-puing.
Mo Lian dan Qin Nian turun dari dalam mobil, mereka berdua berjalan memasuki pintu kaca yang cukup besar. Saat keduanya berjalan, banyak sekali tatapan mata yang tertuju pada mereka. Dan dari semua itu, mereka membicarakan tentang penampilan Mo Lian yang mirip seperti orang yang bertarung di Perusahaan Heiqiu.
Mendengar itu, Mo Lian hanya diam dan mengabaikannya, ia menatap lurus ke depan menaiki eskalator dan pergi menuju tempat di mana toko pakaian berada.
Sepuluh menit kemudian, keduanya telah sampai di lantai 6. Mo Lian berjalan membuntuti di belakang Qin Nian, bagaimanapun ini baru kali pertamanya menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan.
Tidak lama kemudian, keduanya telah tiba di depan toko yang cukup besar, cukup untuk menampung lebih dari 300 orang jika berdempetan. Ia dan Qin Nian memasuki toko, saat keduanya memasuki toko, keduanya disambut oleh dua wanita pelayan toko yang bisa dibilang cantik untuk ukuran penjaga toko.
Kedua pelayan itu menatap wajah Mo Lian dengan mata bersinar-sinar. Ketampanan Mo Lian sudah melebihi para aktor terkenal di Huaxia.
Kulitnya halus bagaikan sutra, bulu-bulu halus di wajahnya juga tidak terlihat, bagaimanapun masa hidupnya sebanyak 2000 tahun. Sehingga akan membutuhkan waktu 1000 tahun baginya untuk menumbuhkan bulu halus di wajahnya, tapi beda lagi dengan bulu yang lainnya.
"Ada yang bisa kami bantu?" Wanita muda berambut merah muda sebahu sedikit menundukkan badannya.
"Berikan baju yang cocok untuknya, dan baju santai untuk rumahan." Mo Lian menunjuk ke arah Qin Nian menggunakan ibu jarinya.
"Baik, Tuan." Wanita muda itu menganggukkan kepalanya, ia mempersilakan Qin Nian mengikuti langkahnya.
Sedangkan untuk Mo Lian, ia berjalan-jalan di tempat pakaian pria. Ia memilah-milah pakaian mana yang cocok untuk digunakannya, cukup lama ia memilih, itu karena semua pakaian yang dikenakannya sangat cocok, sungguh luar biasa menjadi pria yang tampan. Apapun yang dipakai, akan selalu cocok dan terlihat mewah.
Empat puluh menit kemudian, ia telah memilih setelan. Celana jeans berwarna hitam, kaus putih lengan panjang dan dilapisi dengan jaket biru tanpa pelindung kepala, tidak lupa juga ia membeli topi berwarna hitam.
Bukan hanya itu saja, ia juga membeli setelan dengan jumlah 10 set. Ini digunakan sebagai persediaan baginya jika ingin bertindak secara diam-diam saat mencari informasi di kota-kota.
Mo Lian berdiri di depan cermin yang lumayan tinggi. "Aku sangat tampan."
"Sejak kapan aku seperti ini? Bahkan dulu aku tidak terlena hanya karena memiliki penampilan terbaik di seluruh Alam Semesta." Mo Lian menggelengkan kepalanya.
Setelah dirasa cukup, ia meninggalkan tempat ganti di area pria. Ia menuju ke arah meja kasir, di sana sudah berdiri seorang wanita muda yang sangat cantik. Wanita muda yang tak lain ialah Qin Nian itu mengenakan hanfu, namun sudah disesuaikan dengan zaman modern, mengenakan rok di atas lutut berwarna merah dengan bunga-bunga, dan untuk atasannya berwarna putih. Untuk alas kakinya mengenakan high heels berwarna putih, dan di rambutnya dihiasi dengan beberapa aksesoris indah.
Dengan wajah tertunduk dan memainkan jari-jarinya, Qin Nian berjalan menghampiri Mo Lian. "Ba- Bagaimana?" ucapnya malu-malu.
__ADS_1
Mo Lian terdiam sejenak, ia tidak tahu harus berkata apa. Jika ia ingin jujur, ia ingin mengatakan bahwa Qin Nian sangat cantik, tapi itu malah akan membuatnya seperti lelaki yang suka memberikan harapan palsu. Namun jika mengatakan tidak, itu malah membuatnya menjadi pria yang kurang ajar.
Ia menghela napas panjang. "Kau sangat cantik?" ucapnya seperti orang yang sedang bertanya.
Masih dengan kepala tertunduk, Qin Nian merasa aneh saat mendengar jawaban Mo Lian. Ia mendongakkan kepalanya menatap bingung dan meminta penjelasan maksud dari perkataan Mo Lian tadi.
Melihat itu, Mo Lian kembali menghela napas panjang, ia menepuk pundak Qin Nian. "Mari kita bayar dulu, kemudian pulang."
Qin Nian menganggukkan kepalanya, ia mengikuti Mo Lian berjalan ke tempat parkir setelah membayar sejumlah uang yang lebih dari 100.000 Yuan hanya untuk pakaian saja.
Lima belas menit kemudian, keduanya telah berada di dalam mobil. Namun mobil yang dikendarai keduanya belum meninggalkan tempat parkir.
Mo Lian bersandar di kursi, ia menolehkan kepalanya melihat ke jendela keluar. Ia menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Entah mengapa setelah kelahiran kembalinya, ia menjadi lebih lembut dan tidak seperti sebelumnya yang akan selalu mengabaikan wanita.
"Nian. Kau memang sangat cantik, jika aku tidak berjalan dijalan Kultivator Dao dan menjadi orang biasa. Mungkin aku akan dengan senang hati menjadi kekasihmu, tapi, apakah kau akan menerimaku sebagai orang biasa tanpa kekuatan, kedudukan, dan kekaya—"
"Aku mencintaimu apa adanya!"
Mo Lian menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan untuk menenangkan diri dan pikirannya. Ia menolehkan kepalanya menatap wajah Qin Nian. "Aku tahu ini kejam. Tapi, kau tahu, tidak selamanya aku akan tinggal di Bumi. Cepat atau lambat, setelah semua urusanku telah selesai, aku akan pergi meninggalkan semuanya yang ada di Bumi."
Qin Nian terdiam dengan mulut sedikit terbuka, di kedua sudut matanya sudah keluar air yang mengalir membasahi pipinya. Ia menatap wajah Mo Lian dengan pandangan penuh tanya. "Mengapa?"
"Mengapa? Aku mencintaimu sudah dari lama, bahkan sebelum kau membangun perusahaan. Lebih tepatnya saat aku berkunjung ke apartemenmu untuk mengambil baju-bajumu di sana, saat itu aku memang belum menyadarinya. Tapi ..." Qin Nian menghentikan perkataannya, ia tak kuat lagi menahan rasa sakit di dadanya. Ia berbalik keluar dari mobil dan berlari menjauh meninggalkan Mo Lian seorang.
Mo Lian terdiam, ia menyandarkan badannya dan menutup kedua matanya dengan lengan kiri. "Inilah mengapa aku tidak ingin berhubungan dengan wanita. Tapi, jika aku membiarkan Qin Nian pergi sendiri di malam hari, bisa-bisa ibu memarahiku."
"Dia memang berbakat, jika dia di Galaxy Pusat. Kemungkinan dia akan menjadi rebutan oleh sekte-sekte besar dan bahkan bisa menjadi menantu dari keluarga besar. Tapi kembali lagi, dia baru ditingkat Fase Mendalam tahap Awal. Masih jauh dari Ranah Alam dan Manusia, yang mana itu adalah syarat untuk pergi ke Galaxy Pusat."
Mo Lian kembali terdiam, ia mengigit bibir bawahnya. Tidak lama kemudian, ia membuka pintu mobil dan keluar mencari Qin Nian yang entah sudah pergi ke mana. Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan ketika sudah mengetahui ke arah mana Qin Nian pergi.
Lebih baik aku mematahkan targetku daripada harus menyesal nantinya karena meninggalkan Qin Nian. Dan bahkan mungkin saja nantinya aku malah akan kehilangannya! Bagaimanapun dua tahun dari sekarang Master akan datang ke Bumi, dan tentunya dia tidak sendirian, yang aku tahu dia datang bersama belasan orang yang berasal dari sekte berbeda.
Tiga menit kemudian setelah keberangkatannya mencari Qin Nian, ia sudah sampai di gang kecil yang cukup gelap. Di ujung gang yang gelap, terlihat wanita cantik yang terduduk di jalan, dengan wajah yang dibenamkan di antara kedua lututnya.
__ADS_1
Melihat itu, Mo Lian berjalan menghampirinya. Ia berjongkok agar tinggi keduanya sejajar, ia mengusap lembut puncak kepala Qin Nian. "Nian. Ayo kita pulang," ucapnya pelan.
Qin Nian hanya diam tak menjawab perkataan Mo Lian. Dan hanya isak tangis yang terdengar.
Mo Lian juga ikut terdiam saat mendengar tangisan Qin Nian. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk bersebelahan dengan Qin Nian, sesekali ia melihat jam tangan, di sana tertulis jika waktu sudah menunjukkan pukul 19.50.
Ia menengadahkan kepalanya melihat langit-langit malam. Suasana di antara keduanya hening tanpa ada yang berbicara, waktu terus berjalan, Mo Lian kembali melihat jam tangannya, di sana waktu sudah menunjukkan pukul 21.20. Tidak terasa mereka berdua sudah berdiam selama satu jam setengah di gang yang gelap.
Mo Lian menolehkan kepalanya, di sana masih terduduk Qin Nian yang membenamkan wajahnya di antara kedua lutut dengan tubuh sedikit bergetar karena kedinginan.
Mo Lian melepaskan jaketnya, kemudian memakaikannya di tubuh Qin Nian agar muridnya itu tidak merasakan kedinginan.
"Nian. Ayo kita pulang." Mo Lian merangkul pundak kiri Qin Nian dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya, berharap Qin Nian mau pulang bersamanya.
"Apakah kau bisa membawaku ikut pergi meninggalkan Bumi?"
Mo Lian terdiam sejenak, kemudian mengehela napas panjang. "Jika kultivasimu sudah menembus Ranah Alam dan Manusia."
Qin Nian mendongakkan kepalanya perlahan, terlihat wajah cantiknya sedikit berair dengan kedua mata yang merah dan bengkak. Ia menolehkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. "Janji?"
Mo Lian tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Qin Nian tersenyum membalas senyuman Mo Lian. Ia mundur beberapa langkah menggunakan kedua lututnya yang menyentuh jalan, kemudian ia berlutut di hadapan Mo Lian. "Master, maafkan kekasaranku yang sebelumnya. Bahkan sampai membentak Master. Murid ini memohon ampunan."
"Sudah. Tidak apa-apa, ayo kita kembali."
"Baik, Master."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1