Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 458 : Memecah Belah


__ADS_3

—Dunia Rahasia—


Mo Lian membuka matanya dan menghela napas panjang. Cahaya emas menyelimuti tubuhnya, kemudian dengan ledakan, cahaya emas melonjak ke langit dari dalam tubuhnya, membentuk pilar cahaya yang menembus awan.


Hong Xi Ning yang dari awal merawat Mo Lian semenjak berkeringat secara tiba-tiba, akhirnya menghela napas lega saat melihat Mo Lian yang tidak lagi terlihat kesakitan.


"Ada apa?" Yun Ning kembali bertanya yang kesekian kalinya, meski dia sudah tahu pasti tidak akan dijawab lagi.


Hong Xi Ning menoleh menatap Yun Ning. "Nan Ren mengirim klon, dan sepertinya klon itu memasuki dimensi lain di Dunia Rahasia. Mungkin klon itu sedang diuji, tapi tubuh utamanya mendapatkan efeknya."


Yun Ning mengangguk kecil tanda mengerti. Kemudian dia kembali fokus melihat Mo Lian yang masih dibungkus dengan cahaya emas.


Jiang Chen gemetaran saat merasakan aura yang dilepaskan oleh Mo Lian. Ini terlalu kuat. Akhirnya semua pertanyaan di benaknya selama ini telah terjawab, Mo Lian bukan Dewa Bumi tahap Menengah, tapi Dewa Surga! Bahkan, mungkin Dewa Surga tahap Akhir!


Api itu Dewa Surga tahap Akhir? Itu adalah eksistensi terkuat yang melebihi kekuatan utama dari Bintang Xiang! Kekuatan utama dari Bintang Xiang hanya sampai Dewa Surga tahap Menengah, dan itu pun baru menerobos beberapa tahun lalu.


Jiang Chen tidak mengharapkan akan mendapatkan penolong dari Dewa Surga tahap Akhir. Taruhannya ternyata benar dan membawakan kemuliaan pada Sekte Pedang Mawar.


Sebelum Jiang Chen, padahal banyak kekuatan yang ingin merekrut Mo Lian, tapi tidak ada yang datang karena mereka tidak ingin melukai harga diri mereka sendiri dengan merendahkan diri di hadapan orang lain. Tapi berbeda dengan Jiang Chen, harga diri dan reputasi dirinya sendiri bisa disingkirkan, yang utama adalah Sekte Pedang Mawar.


Xiao Shuyu tercengang tanpa bisa berkata-kata. Dia merasa bodoh, dari aura ini, Mo Lian lebih kuat dari orang-orang yang berada di luar sebelum memasuki Dunia Rahasia. Kembali lagi saat dia bertamu, dia hampir menantangnya dan mengantarkan nyawanya.


Mo Lian kembali menghela napas dan menarik auranya. Pilar emas yang terbentuk itu mulai menipis, berkedip-kedip dan menghilang.


"Jika sebelumnya aku bisa melawan lima Dewa Abadi Surgawi dengan usaha lebih keras, sekarang aku bisa melawan mereka bersama dan membunuhnya hanya dengan tamparan."


"Niat Pedang mengalami peningkatan dalam kemurnian dan kekuatannya telah berada di level berbeda. Tapi, aku tidak tahu seberapa kuat karena tidak bisa mengetesnya."


Jelas, hanya Dewa Abadi yang bisa menjadi target utama untuk mengetes peningkatan kekuatannya. Jika dia mencobanya pada Dewa Surga tahap Akhir dari Alam Semesta, mereka hanya akan mati tanpa meninggalkan debu.


Tapi, buang dulu tentang mencoba Niat Pedang. Masih ada yang membuatnya bertanya-tanya, yaitu identitasnya yang sekarang, apakah masih bisa dibilang sebagai “Kultivaror”?


Dewa? Dia masih belum menganggapnya seperti itu.


"Sayang." Yun Ning melambaikan tangannya di depan mata Mo Lian.


Mo Lian tersadar, lalu tersenyum tipis. Dia berdiri, melihat sekitar dan langit. "Kita harus pergi dari sini, aura tadi bisa dianggap seperti lahirnya Harta Surgawi. Jika kita tetap tinggal di sini, hanya hal buruk yang akan terjadi."


"Ah! Terlalu lama." Mo Lian tidak tahan melihat Jiang Chen yang terlambat bereaksi, sehingga dia mengambil tindakan.


Mo Lian melapisi tubuh semua orang dengan energinya, kemudian langsung berpindah tanpa melakukan gerakan apa pun. Pindahnya mereka tidak terlalu jauh, hanya beberapa ribu mil dari tempat awal, tapi sangat tersembunyi.


Alasan mengapa Mo Lian berpindah di tempat yang tidak terlalu jauh, itu karena ingin melihat bagaimana orang-orang yang awalnya bekerja sama untuk membunuhnya, tapi saling bertarung di sini dan saling membunuh hanya karena harta.

__ADS_1


"Apakah Nan Ren ingin melihat mereka saling membunuh?"


Jiang Chen melihat Hong Xi Ning yang berada di depannya, lalu Mo Lian. "Bukankah ini terlalu berbahaya? Bagaimana jika mereka mengetahui keberadaan kita?"


Mo Lian menoleh ke belakang menatap Jiang Chen. "Jika mereka mengetahui keberadaan kita? Bukankah itu mudah? Bunuh mereka semua."


Mo Lian memalingkan wajahnya. Dia tidak perlu lagi menjelaskan semuanya pada Jiang Chen, Xiao Shuyu, Wan Chun dan Ming Yuyu. Lebih baik menunggu sebentar, karena akan ada pertempuran yang pantas untuk ditonton.


Dia mendongak melihat langit saat merasakan fluktuasi energi spiritual yang datang dari segala arah. Sosok-sosok manusia yang diselimuti cahaya berbeda warna sedang terbang ke tempat di mana pilar cahaya tadi terbentuk.


Sosok-sosok itu adalah mereka yang bekerja sama untuk membunuhnya di luar Dunia Rahasia.


Melihat itu, Mo Lian tersenyum tipis dan mengeluarkan salah satu barang berharga. Dia mengeluarkan Tulang Monster Dewa Surga dengan kekuatan 7 Garis Simbol Dewa. Dia sudah menyegel aura yang terkandung di dalamnya, dan berniat melemparkannya ke tengah-tengah agar memicu pertengkaran hebat.


"Nan Ren, ini ..." Hong Xi Ning merasakan sesuatu yang aneh di dalam tulang.


Mo Lian menganggukkan kepalanya. "Benar, di tulang ini memiliki banyak Hukum. Jika Ning'er bisa memahami salah satunya dan menguasainya sampai mendapatkan Dao, kekuatan Ning'er akan meningkat pesat."


Hong Xi Ning sudah menebaknya, tapi tetap saja membuatnya terkejut saat mendengarnya langsung. Dia melihat tulang, lalu ratusan orang di langit. "Apakah Nan Ren bermaksud memecah belah mereka dengan tulang ini? Apakah tidak terlalu berlebihan? Ini terlalu berharga."


Mo Lian tersenyum, membelai lembut pipi Hong Xi Ning, memperlihatkan kemesraannya di depan orang-orang. "Apakah menurutmu mereka bisa mengambil barang milikku?"


Hong Xi Ning menggelengkan kepalanya, tentu saja tidak ada yang bisa mengambilnya, bahkan orang terkuat di Bintang Xiang sekalipun.


Qin Nian mengamati Tulang Monster Dewa Surga dari dekat. Kemudian dia melihat mantra yang lepas dari tulang itu, dan sepertinya disengaja agar dia bisa melihatnya lebih jelas. Tanpa membuang waktu, dia duduk bersila untuk memahaminya.


"Siapa pun yang mendapatkan harta itu, serahkan atau Tanah Suci Danau Giok kami akan mengambil tindakan!"


Yang lain saling memandang, kemudian menatap orang tua yang merupakan terkuat di antara mereka.


"Pak Tua! Kau datang terlebih dahulu dari kami, dan kau meminta kami menyerahkan harta? Bukankah kau terlalu berlebihan? Membawa Tanah Suci Danau Giok? Apakah kau mampu menanggung semua serangan dari 119 Tanah Suci?!"


Pak Tua mengepalkan tangannya. Pembuluh darah mulai terlihat di wajah dan leher saat marah, aura kuat menyelimuti tubuhnya, membawa kekacauan. Tapi, kekacauan itu tidak terlalu kuat seperti di luar, karena semua kekuatan ditekan oleh Dunia Rahasia.


"Apa maksud kalian? Apakah kalian benar-benar berniat melawan Tanah Suci Danau Giok-ku?" Pak Tua mengangkat tangannya bersiap-siap untuk menyerang.


Mo Lian yang menonton di balik layar, mengangkat tangannya ke arah Pak Tua yang merencanakan tentang pembunuhannya. Dia mengirimkan Tulang Monster Dewa Surga ke tangan Pak Tua dan melepaskan segelnya.


Tiba-tiba...


Bang!


Aura kuat meledak dari tangan Pak Tua, ilusi monster seperti gabungan antara harimau dan singa muncul di atas kepalanya. Awan putih di sekitar bergerak ke arah di mana aura itu berasal, awan itu menggulung udara sekitar, membawa petir dan api yang muncul entah dari mana.

__ADS_1


Raungan keras yang menggetarkan jiwa datang dari ilusi dan mantra-mantra kuno yang membawa Hukum Dao muncul di sekitarnya.


Hukum Waktu, Hukum Ruang, Hukum Petir, Hukum Api dan lain sebagainya.


Kemunculan Tulang Monster Dewa Surga membawa kejutan pada perwakilan dari 119 Tanah Suci. Tatapan mereka menjadi ganas dan niat membunuh terlihat jelas di mata masing-masing.


"Pak Tua! Apa maksudnya ini? Kau mengatakan tidak mendapatkan apa-apa. Tapi lihat apa yang di tanganmu!" Salah seorang mengeluarkan pedang dan mengungkapkan aura tahap Akhir dari Dewa Bumi.


Pak Tua dari Danau Giok terkejut. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk beberapa saat, dia melihat Tulang Monster Dewa Surga di tangannya, dan tidak bisa menahan kejutan yang didapat. Tulang ini membawa kekuatan yang luar biasa, dan ini adalah harta terbaik dari yang terbaik yang pernah didapatnya selama ini.


Tapi, dia segera sadar dan melihat sekeliling. "Apakah kalian semua mencari kematian?"


"Tidak, tidak, tidak!" Pria paruh baya dari Tanah Suci Pedang Ilusi menggelengkan kepalanya. Dia mengeluarkan Batu Komunikasi dan mengangkatnya setinggi mungkin. "Kaulah yang mencari kematian. Aku hanya perlu menghancurkan ini, maka Pedang Ilusi kami akan mengirim orang untuk menghancurkan Danau Giok-mu!"


Pak Tua sangat marah. Wajahnya menghitam dan niat membunuh muncul di matanya. "Apakah menurutmu hanya ada tiga Dewa Surga di Tanah Suci Danau Giok-ku? Maaf, kami memiliki tahap Menengah dan Akhir. Salah satu dari mereka sudah cukup untuk memusnahkan kalian!"


"Brengse*!"


Tiba-tiba, salah seorang sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia menebas pedangnya di udara, menciptakan lintasan pedang berwarna kuning-emas di langit yang mengarah ke Pak Tua.


Yang lain tidak berpikir lebih banyak lagi dan melepaskan serangan masing-masing. Aura dari 104 Dewa Bumi dan 15 Dewa Surga meledak, mengakibatkan terjadinya badai spasial yang mengerikan.


Tanah tersapu bersih, pepohonan maupun gunung berubah menjadi debu. Awan hitam panas datang di langit, celah ruang muncul membawa petaka. Tanah terbelah menyemburkan magma yang tersimpan di dalam bumi.


Badai angin seperti pedang bergegas ke segala arah, membunuh murid-murid yang mereka bawa.


Mereka tidak peduli lagi dengan kehidupan mereka, asalkan Tulang Monster Dewa Surga menjadi milik mereka. Adapun murid? Ini tidak seperti mereka tidak memiliki murid berbakat lain.


Bagi mereka, murid hanyalah alat yang digunakan untuk mencari sumber daya atau menjadikannya sebagai Tungku Kultivasi.


Sementara itu, Mo Lian tersenyum tipis melihat pertempuran yang sudah pecah. Ini membuatnya merasa senang karena bisa membunuh mereka tanpa harus turun tangan langsung.


Jiang Chen tercengang. Dia tidak tahu apakah harus mengatakannya atau tidak, tapi pada akhirnya, dia memberanikan diri dan berkata, "Jika semua terbunuh dan hanya menyisakan kita seorang, 120 Tanah Suci akan datang ke Sekte Pedang Mawar untuk meminta pertanggungjawaban."


Mo Lian tersenyum. Dia sudah tahu akan hal itu, tapi dia sudah membuat pencegahan. "Kau tenang saja. Ada banyak orang yang datang di sini, di antara mereka pastinya ada yang tergabung dalam satu faksi. Jika satu faksi masih hidup, maka kesalahan akan jatuh pad mereka."


"Adapun Tulang Monster Dewa Surga itu, aku akan mendapatkannya lagi setelah keluar dari Dunia Rahasia ini."


Mo Lian tersenyum tipis yang seperti bukan senyuman.


Jiang Chen mengangguk, memahami itu. Tapi dia masih merasa ada yang salah, hanya saja tidak tahu apa itu.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2