
Mo Lian mengibaskan tangan kirinya, menangkap Dao Surgawi. Dengan mencengkeramnya erat, langit mulai bergetar hebat seperti akan menurunkan bencana yang lebih kuat dari sebelumnya.
Dengan tertekannya Dao Surgawi, aturan dunia nampak berubah. Bahkan meski Dao Surgawi telah kehilangan tempatnya karena Alam Selestial telah dihancurkan, tapi kedudukannya di Tiga Alam masih sangat kuat.
Mo Lian tidak tahu apakah Alam Selestial masih ada atau tidak, tapi melihat dari kenyataannya, harusnya sudah hilang. Kecuali, Dao Surgawi adalah kunci dari Alam Selestial, dan jika benar-benar ingin menghancurkan Alam Selestial, dia harus membunuh Dao Surgawi sepenuhnya tanpa meninggalkan apa pun.
"Kau tidak bisa membunuhku!"
Raungan marah Dao Surgawi menggetarkan langit merah, dan ia sendiri dikelilingi oleh kilatan petir emas yang menjalar di tangan Mo Lian.
Mo Lian merasakan rasa sakit di tangannya, tapi dia tidak peduli dengan itu semua, dan mencengkeram lebih erat Dao Surgawi sampai langit bertambah marah.
"Apakah ada Kesadaran Langit?" Mo Lian mengerutkan keningnya. Dia benar-benar bingung dengan aturan ini semua, dia dulu tidak terlalu memikirkannya karena memang saat itu masih “Katak di dalam sumur”, tapi setelah kekuatannya terus meningkat, semakin penasaran dan ada ketakutan tersendiri.
Mengetahui langit memaksanya untuk tunduk, Mo Lian sangat marah. Energi ungu yang sudah dimurnikan olehnya sepanjang waktu, tiba-tiba meledak dan memberikan perlawanan terhadap aturan di atas yang memaksanya untuk menghentikan tindakan terhadap Dao Surgawi.
Energi ungu itu melonjak ke langit seperti pilar yang menerjang, kemudian ledakan super besar tercipta dengan berbagai macam kehancuran yang tidak bisa terhindarkan.
Lonjakan energi ungu membentuk sosok besar yang melindungi Mo Lian. Mengangkat kedua tangannya, itu menopang kekuatan yang mencoba menghancurkannya.
Mo Lian melihat ke langit, menembusnya sampai ke Alam Semesta. Dia bisa melihat ada titik cahaya yang menyerap energi di sekitar, mencoba memadatkan bentuk, seolah ingin memanifestasikan Alam Selestial yang telah dihancurkan.
Melihat ini, tebakannya ternyata benar. Alam Selestial hanya bisa dihancurkan dengan membunuh Dao Surgawi, dan setelah ini, mungkin akan ada ledakan seperti Kaisar Manusia yang terbunuh di masa lalu.
Tapi, ada pertanyaan lain, mengapa Alam Semesta masih tetap ada di saat Kaisar Manusia terbunuh di masa lalu? Bahkan meski itu bunuh diri, mati tetaplah mati.
Mengesampingkan masalah itu, Leluhur Kaisar Dewa Kuno bergegas melarikan diri dari tempat, ia melesat seperti cahaya ke langit untuk mengindari jangkauan serang Mo Lian.
Tapi, Mo Lian mengangkat tangan kanannya saat tangan kirinya masih mencengkeram erat Dao Surgawi. "Kembali."
Leluhur Kaisar Dewa Kuno langsung berhenti bergerak dan berpindah ke tangan Mo Lian. Ia melepaskan kekuatannya, memaksa untuk lepas dari cengkeraman Mo Lian. Tapi Mo Lian menahannya lebih erat, Rantai Darah keluar dari punggungnya, mengikat Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno.
Raungan marah terdengar dari keduanya, itu menggema di langit yang pecah dan berbagai macam petir berbeda ukuran menyambar Mo Lian seperti memberi hukuman.
Mo Lian mengangkat kedua tangannya, menciptakan tangan lain di sosok besar yang menahan langit. Kemudian dia berlutut seraya membanting kedua tangannya di tanah.
Booom!
Tanah meledak, tapi tidak ada api seperti yang diharapkan, melainkan ruang spasial yang terbuka dan melonjak, menelan semua hal di sekitarnya. Petir-petir meledak, tapi dengan cepat ditekan oleh sosok ungu di atas Mo Lian.
Rantai Darah yang mengikat Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno memancarkan sinar merah gelap, dan itu nampak hidup karena ada gelombang energi yang diserapnya.
Raungan, teriakan, kemarahan terdengar dari keduanya yang menambah tekanan dari langit.
__ADS_1
Mo Lian melempar Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno ke atas. Kemudian dia berdiri, membuka kedua kakinya sejajar dengan bahu dan mengatupkan kedua tangannya. "Kekacauan: Penghancuran Aturan!"
Swoosh...
Angin bertiup dengan dengungan yang menyebar, melawan gelombang yang dihasilkan dari ledakan petir di langit.
Retakan-retakan lain bermunculan, tapi tidak berwarna hitam, melainkan ungu dengan aura yang lebih kuat dari yang dikeluarkan langit. Kemudian retakan itu meluas tiba-tiba, seolah-olah ada tangan yang membukanya secara paksa.
Bang!
Tiba-tiba tangan besar berwarna ungu datang dari kiri-kanan Dao Surgawi maupun Leluhur Kaisar Dewa Kuno. Sepasang tangan itu menekan keduanya, dan di sepanjang tangan ada mantra-mantra aneh yang tidak pernah ada di Tiga Alam.
Mantra-mantra itu bergerak seperti ular yang menuju Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno. Ketika mengenai, menempel pada mereka, terdengar suara desis dengan uap panas yang keluar. Kemudian Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno mengeluarkan teriakan yang terdengar menyakitkan.
Mo Lian menggertakkan giginya. Dia benar-benar tidak menyangka akan sangat sulit untuk membunuh keduanya. "Kalian berdua sudah tidak bisa melakukan apa pun. Menyerahlah, tidak ada gunanya melawan!"
""Persetan!""
Keduanya mengumpat secara bersamaan dengan nada marah dan kebencian yang dalam terhadap Mo Lian.
Mo Lian merentangkan kedua tangannya, menarik semua kekuatan yang ada di sekitarnya dan memadatkan Energi Asal di depannya dadanya. Kemudian dia mengatupkan kedua tangan, memukul Energi Asal yang sudah membentuk bola seukuran kepalan tangan.
Leluhur Kaisar Dewa Kuno bergetar hebat dengan retakan-retakan kecil yang muncul di permukaannya. Ia nampak melemah, itu bisa terlihat dari warnanya yang mulai pudar.
Sekarang, Mo Lian ada di kegelapan tak berujung. Hanya energi ungu yang digunakan sebagai pencahayaan, dan ditemani oleh teriakan-teriakan Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno yang tersiksa.
Energi ungu ini sangat kuat dan terang, tapi di ruang gelap ini, cahayanya seperti kunang-kunang tunggal di tengah hutan rimbun.
Mo Lian tidak tahu di mana dia sekarang, tapi dia masih merasakan adanya hubungan dengan Tiga Alam.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengatupkan kedua tangannya sekuat-kuatnya sampai tulangnya menghasilkan suara derak. Ini sangat menyakitkan, tapi dia menahannya.
Darah mulai mengucur dari kedua matanya seperti menangis, dan itu terasa sangat panas. Dia kembali menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan Pohon Yin Surgawi dan Perunggu Surgawi.
Dengan kedatangan keduanya, kekuatan Mo Lian melonjak dan tekanan yang diberikan untuk Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno bertambah beberapa kali lipat.
"Aaarrrgghh!" Leluhur Kaisar Dewa Kuno berteriak ketika retakan-retakan di tubuhnya terus membesar, dan mantra-mantra meresap memasuki tubuhnya yang berbentuk bola, dan itu mulai menyerap semua kekuatannya dengan liar.
Crack! Bang!
Leluhur Kaisar Dewa Kuno tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan akhirnya meledak. Ledakan itu tertahan oleh sepasang tangan ungu, tapi tidak dengan ledakan di sekitarnya yang dihasilkan oleh sisa-sisa Alam Hanzi. Bukan sisa dari tempatnya, melainkan dari aturan yang tertinggal.
Dengan matinya Leluhur Kaisar Dewa Kuno, Alam Hanzi benar-benar dihancurkan.
__ADS_1
Mo Lian menatap tajam Dao Surgawi yang tersisa. Matanya memancarkan kebencian, kemarahan yang tak tertahankan. "Kau melukai istriku, melakukan kejahatan terhadap Ras Manusia, melanggar aturan yang kau tetapkan sendiri. Kau mengatakan tidak akan ikut campur, tapi diam-diam kau melindungi Batu Giok dan Pohon Lapuk!"
Dao Surgawi bergetar, kemudian terdengar suaranya yang menggema. "Aku tidak peduli. Pencipta kami tidak adil, Ras Manusia berumur pendek! Lemah, dan bodoh! Tapi mengapa, mereka dibuatkan bentuk yang sempurna, berbeda dengan kami yang hanya berbentuk bola, berkah yang kami terima juga sedikit!"
Mo Lian terdiam. Dia menurunkan kedua tangannya, tapi tekanan yang diberikan tidak berkurang, melainkan bertambah karena kemunculan Dewa Semesta yang membantu.
"Kau sangat bangga, tapi kau tidak mengetahui semua kebenaran."
Dao Surgawi tertegun, kemudian bertanya, "Apa maksudmu?!"
Mo Lian menggelengkan kepalanya dalam diam, dia tidak berkeinginan untuk menjawabnya.
Melihat Mo Lian tidak berkeinginan untuk menjawab, Dao Surgawi berteriak marah, energinya yang tersisa meledak-ledak dengan kekuatan yang luar biasa. Ia memaksa untuk lepas dari dari tekanan sepasang tangan, tapi seberapa pun ia berusaha, tangan itu hanya sedikit bergetar.
Mo Lian kembali mengangkat tangannya dan mengatupkannya.
Crack!
Dao Surgawi akhirnya retak, dan itu menimbulkan suara dengungan yang berasal dari ruang gelap ini. Kemudian ruang hampa ini retak, dengan energi emas yang memaksa masuk.
Melihat ini, Dao Surgawi tertawa sedikit dengan gemetar. Dengan adanya energi ini, ia bisa kembali pulih dan membentuk tubuh baru. Tapi, kenyataannya tidak sesuai yang diharapkan.
Pohon Perunggu Surgawi gemetar dengan suara dengungan yang tajam, itu menarik semua energi yang awalnya ingin bergerak menuju Dao Surgawi.
Dao Surgawi tertegun, kemudian meraung marah.
Mo Lian menatap datar Dao Surgawi. Dia membuka mulutnya, dan mengatakan satu kata, "Mati."
Booom!
Dao Surgawi meledak dengan kerasnya, api menyala di kegelapan ruang, tangan ungu yang menahannya mulai retak karena dahsyatnya ledakan melebihi Leluhur Kaisar Dewa Kuno.
Energi emas yang awalnya terus masuk, tiba-tiba terbakar habis dan menimbulkan ledakan berantai.
Mo Lian yang berada di tengah-tengah ledakan, tetap diam tanpa bergerak dari tempatnya.
Kemudian, ledakan itu menghilang dalam hitungan detik hanya dengan lambaian tangan Mo Lian, digantikan oleh cahaya putih yang menyilaukan mata.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1