
Mo Lian tersenyum bahagia, ia sangat senang karena dapat menemukan keberadaan binatang spiritual. Dengan ini ia bisa membuat cincin ruang yang sangat diimpikannya, dengan ini juga ia tidak perlu lagi membawa banyak barang bawaan, ia bisa membawa beberapa barang tergantung seberapa besar penyimpanannya.
Wu Yengtu mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan yang terbuka. Ia mengalirkan energi spiritualnya pada telapak tangan, terlihat api berwarna merah yang tidak panas, ini seperti mengatakan jika pengendalian Wu Yengtu sudah mencapai tahap tinggi. Sehingga sangat mudah mengendalikan suhu apinya.
"Ayo masuk." Wu Yengtu berjalan memasuki gua menuntun semua orang.
Xu Xumei menolehkan kepalanya menatap Mo Lian. "Lian, hati-hati. Jalan di dalam cukup sulit untuk dilewati, banyak bebatuan yang membuat sulit untuk berjalan," ucapnya penuh rasa khawatir.
Mo Lian tersenyum, meski diantara semua orang ia adalah yang terkuat. Namun saat ada yang mengkhawatirkan dirinya selain ibu, adik, dan Masternya. Ia merasakan perasaan hangat di hatinya. "Terimakasih, Nenek."
Xu Xumei tersenyum lembut, kemudian kembali menggenggam pergelangan tangan Mo Lian dan menuntunnya masuk.
Saat di dalam gua, Mo Lian terus menolehkan kepalanya melihat sekitar. Di sini banyak sekali rempah maupun herbal langka, yang jika di jual membutuhkan lebih dari 100.000 Yuan untuk satu tangkainya, bukan hanya di dalam gua, saat di perjalanan tadi ia juga melihat herbal lainnya, seperti ginseng yang berusia lebih dari 500 tahun.
Mo Lian sangat ingin sekali memetik semua rempah dan herbal-herbal itu. Tapi sangat disayangkan ia tidak memiliki tempat yang digunakan untuk menyimpannya, sehingga ia harus menunggu untuk beberapa saat, sampai cincin ruangnya selesai dibuat.
Mereka terus melangkah masuk, apa yang dikatakan Xu Xumei tadi benar. Banyak bebatuan yang menghalangi jalan, tapi karena mereka semua adalah seorang Pejuang, sangat mudah bagi mereka untuk melewatinya. Jika sulit untuk berjalan, maka terbang saja.
Bukan hanya rempah maupun herbal yang ditemui sepanjang jalan. Beberapa kali mereka dihadang oleh ular-ular, entah itu ular berbisa, maupun ular besar yang sanggup meremukkan batang pohon.
Tentu saja Wu Yengtu yang berjalan di barisan terdepan mengalahkan semua ular itu dengan mudahnya. Ia melemparkan api ditangannya, menyelimuti seluruh tubuh ular dengan api, lalu menaikkan suhu api itu hingga dapat menghanguskan ular dalam sekejap mata.
Mo Lian mengangguk kecil, ia kagum melihat Wu Yengtu yang dapat dengan mudah mengendalikan suhu api. Untuk mengendalikan suhu sendiri cukup sulit, jika orang itu tidak bisa mengendalikan energi spiritual dan tidak memahami api itu sendiri, maka yang ada hanya akan membuat pengguna celaka.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di kedalaman gua. Di depan mereka terlihat cahaya biru yang bersinar terang, bukan hanya satu, melainkan cukup banyak seperti bintang di langit malam.
Tidak hanya sinar biru, saat di hadapan pintu masuk lainnya di dalam gua. Mereka merasakan napas yang sangat kasar, tanah yang mereka pijak sedikit bergetar, seperti bumi itu sendiri sedang bernapas.
Jika orang lain merasakan tekanan ini, tentunya orang itu akan berlari menjauh keluar dari gua ini. Berbeda dengan mereka bersebelas yang merupakan seorang Pejuang ataupun Kultivator Dao berpengalaman, Mo Lian yang sudah menjadi Kultivator Dao selama 1000 tahun, dan kesepuluh orang lainnya selama 700 tahun.
Mereka berjalan memasuki pintu lainnya yang berada di kedalaman gua. Saat mereka masuk ke dalam sana, alangkah terkejutnya mereka saat melihat apa yang berada di depan mereka.
Terlihat ruang yang sangat luas, jika diukur secara sekilas. Ukurannya delapan kali dari lapangan sepakbola, di tengah-tengah ruangan itu terdapat danau berwarna biru yang memancarkan cahaya. Tapi dari itu semua, yang lebih mengejutkannya adalah ular besar berwarna putih yang sedang tertidur di seberang danau.
Ukuran ular itu sangat-sangat besar. Mo Lian yakin ular itu bisa menghancurkan gedung dengan 50 lantai, ular itu memiliki panjang lebih dari satu mil, memiliki ukuran kepala yang sangat besar. Bahkan truck besar yang biasanya digunakan di tambang juga bisa tertelan oleh ular itu, dan untuk kekuatannya, sudah berada ditingkat Ranah Inti Perak tahap Akhir. Selangkah lagi menembus Ranah Inti Emas.
Mo Lian membuka matanya lebar. "Bai She Zhuan?" tanyanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Bai She Zhuan, dikatakan itu adalah siluman ular putih yang tinggal di kedalaman Gunung Kunlun. Banyak sekali persepsi yang berbeda-beda, dan banyak novel-novel maupun film yang didasari pada mitologi ini, namun tidak ada satupun yang tahu apakah Bai She Zhuan ada di dunia nyata.
"Bukan." Wu Yengtu mematahkan pemikiran Mo Lian.
"Bai She Zhuan adalah siluman, di depan kita murni binatang spiritual, ditambah di ekornya terlihat warna hitam dan mengeluarkan aura membunuh yang pekat," lanjut Wu Yengtu menjelaskan, ia mengarahkan api di tangannya pada bagian ekor untuk memperlihatkannya dengan jelas.
Seperti yang diharapkan dari seorang senior, batin Mo Lian.
Baru saja api di arahkan, mata ular besar itu terbuka menatap mereka semua. Ular itu mengangkat kepalanya sampai hampir menyentuh langit-langit ruangan. Tinggi ruangan di dalam sini sendiri hampir menyamai gedung berlantai 50.
Saat Mo Lian melihat itu, ia menyimpulkan jika mereka sudah turun sangat jauh ke kedalaman tanah.
"Apakah ini waktunya bertarung?" tanya Xu Xumei sembari menatap ular besar.
"Sepertinya begitu," jawab Xu Fulian.
Jia Yaoyu melakukan peregangan, ia menekuk-nekuk lengannya. "Sudah lama sekali, kuharap tulang tuaku masih bisa menahannya."
Wu Yengtu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Meski ia adalah yang terkuat diantara rekan-rekannya, tapi ia jugalah yang paling malas untuk bertarung seperti ini. Jadi untuk kali ini, yang mana pertarungannya tidak ada orang biasa di sekitar, dan tidak ada yang perlu dilindungi. Maka ia hanya akan menonton jalannya pertarungan.
Mo Lian tidak tinggal diam, ia mengikuti ketiga orang itu, ia menggenggam pedang spiritual di kedua tangannya.
Ssshh!
Ular mendesis dan membuka mulutnya. Perlahan, di tengah-tengah mulut ular yang sangat besar itu berkumpul energi spiritual yang sangat padat dan membentuk bola dengan ukuran sebesar truck. Jika energi spiritual itu menghantam daratan, sudah bisa dipastikan daratan seluas Kota Chengdu akan menghilang.
Mo Lian dan ketiga orang lainnya menekan kaki mereka di tanah, kemudian terbang melesat mencoba menghadang serangan dari ular. Namun saat mereka berempat baru saja melompat, ekor ular yang dari tadi diam mulai bergerak dan menghantam ke arah mereka dengan tajam.
Melihat itu, Mo Lian membatalkan pedang spiritualnya, ia mengarahkan tangan kanannya dengan telapak tangan yang terbuka. Tiba-tiba di depan telapak tangan itu tercipta pelindung berlapis-lapis, untuk ukurannya sendiri hampir mencapai setengah lapangan bola.
Bang!
Dentuman keras memekakkan telinga terdengar di dalam gua saat ekor ular itu menghantam pelindung yang dibuat Mo Lian. Bebatuan yang berada di langit-langit gua berjatuhan karena tidak dapat menahan getarannya, air di danau juga bergejolak dan melonjak beberapa meter ke udara.
Ketika Mo Lian berhasil menahan serangan, kesepuluh orang tua yang sudah menjadi muda kembali itu terperangah dengan mata terbelalak lebar. Mereka memang sudah diberitahu jika Mo Lian berada pada tingkatan yang sama seperti Wu Yengtu, tapi energi spiritual milik Mo Lian lebih padat dan murni.
Saat Mo Lian baru menangkis serangan, ular melepaskan energi spiritual yang sudah memadat di tengah-tengah mulutnya yang terbuka. Energi spiritual itu melesat tajam mengarah pada Mo Lian, ya! Hanya Mo Lian, itu karena ular menganggap Mo Lian sangat berbahaya.
__ADS_1
Mo Lian mengumpat kesal, ia mengubah pelindung berlapis-lapis menjadi dua telapak tangan yang sangat besar. Kedua telapak tangan itu bergerak cepat dan menangkap serangan ular, kemudian menekannya dengan kedua telapak tangan menjadi gumpalan.
Namun usaha Mo Lian sia-sia. Terlihat cahaya berwarna putih terang yang menembus celah-celah kecil di antara jari-jari tangannya. Perlahan terlihat retakan-retakan di telapak tangan yang ukurannya sangat besar itu, dan kemudian meledak begitu saja membuat dentuman yang sangat keras, bahkan sampai bisa di dengar oleh penduduk di kaki gunung.
Angin berembus kencang menerbangkan Mo Lian dan lainnya, tidak terkecuali ular besar yang menyerangnya. Tapi dari itu semua, yang terkena serangan paling besar adalah ular, ular itu menghantam dinding gua, membuat lubang yang sangat besar. Ketika lubang besar muncul di dinding gua, terlihat ruangan luas lainnya yang terdapat rempah maupun herbal yang menggunung tinggi.
Dengan tangan kanan bertumpu pada lututnya, Mo Lian menopang badannya untuk berdiri tegak sembari menepuk-nepuk debu yang menempel di pakaiannya. Ketika ia mendongakkan kepala, ia membelalakkan matanya saat melihat herbal yang menggunung. Jika semua herbal itu dijual, ia bisa mendapat untung lebih dari 10 Miliar Yuan.
"Lian. Apakah kau tidak apa-apa?" tanya Xu Xumei menghampiri Mo Lian.
"Tidak masalah." Mo Lian menjawabnya singkat sembari menggelengkan kepala.
Mo Lian dihadapkan pada pilihan yang sulit, ia bisa saja mengalahkan ular di depannya dengan cepat. Tapi tentu saja ruangan dalam gua ini akan hancur dan membuat Danau Spiritual tercemar sehingga tak dapat lagi berefek.
Sesuai dengan namanya, Danau Spiritual adalah danau yang memiliki kandungan energi spiritual berlimpah, dikatakan jika pembudidaya yang mengalami kemacetan dalam hal kultivasi akan langsung menembus ketingkat selanjutnya hanya dengan berendam di dalamnya. Bukan hanya itu saja, jika ada orang biasanya yang berendam di sana, orang itu akan memiliki fondasi kultivasi yang kokoh dan baik untuk berlatih.
Mo Lian menghela napas berat, mau tidak mau ia harus menahan kekuatannya agar ruangan dalam gua ini tidak hancur.
Mo Lian menekan kakinya di tanah, kemudian kembali terbang di atas danau sembari menatap tajam ular besar yang sudah bangkit. Tanpa berlama-lama ia mengalirkan sejumlah besar energi spiritual pada tangan kanannya, ia menarik tangan kanannya ke belakang punggungnya. Kemudian memukulkannya keras di udara kosong.
Wush! Bang!
Dari pukulan Mo Lian tercipta udara bertekanan tinggi, tekanannya sendiri sanggup menghancurkan Puncak Gunung Everest. Tapi meski begitu, pukulan Mo Lian yang menggunakan 30% kekuatannya itu tidak dapat melukai sisik ular, yang dapat terlihat hanyalah goresan kecil pada sisik ular itu.
"Lian. Biarkan Nenek membantumu," ucap Xu Xumei yang entah dari kapan sudah berada di sebelah Mo Lian.
"Sepertinya aku juga harus bergabung." Wu Yengtu meregangkan otot-otot tubuhnya tepat di sebelah Mo Lian.
Mo Lian mengangguk kecil. "Usahakan jangan sampai merusak Danau Spiritual. Itu adalah harta yang sangat berharga, itu bisa membantu untuk menembus ketingkat selanjutnya."
Semua orang terdiam, mereka tidak menyangka jika danau yang bercahaya itu ternyata merupakan harta berharga. Keenam orang lainnya yang sedari tadi diam menganggukkan kepala, kemudian mengelilingi danau dan membuat pelindung energi spiritual untuk menahan serangan-serangan yang mungkin saja mengenai danau.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1