
Mo Lian terbangun dari tidurnya saat sinar matahari yang menerpa wajahnya melalui jendela kaca. Ia mengedipkan matanya dan membukanya perlahan, saat ia bangun, ia merasakan ada yang menekan kedua bahunya. Ia menolehkan kepalanya, dan terlihat dua wanita cantik yang sedang tertidur pulas di bahunya. Di sebelah kanan ada Qin Nian, dan di sebelah kiri ada Ong Hei Yun yang sepertinya berpindah tempat duduk saat malam hari.
Jika ini adalah pertama kalinya ia bereinkarnasi, atau lebih tepatnya saat-saat di mana ia tidak percaya dengan seorang wanita, maka ia akan bangkit dari tempat duduknya dan membiarkan kedua wanita itu terbangun. Namun berbeda dengan sekarang, dalam waktu setengah tahun ini, Mo Lian banyak sekali menerima kasih sayang dan perasaan hangat yang tidak pernah dirasakannya, kecuali dari ibu dan adiknya.
Saat ini, Mo Lian ingin menikmati masa mudanya yang belum sempat dirasakan. Ia tersenyum tipis, dan kembali tidur dengan pipi kanannya bersandar di atas kepala Qin Nian, ia juga dapat mencium aroma shampo yang digunakan Qin Nian. "Sangat harum."
Sopir bus yang melihat melalui kaca di atas kepalanya hanya bisa menggeleng pelan dan tersenyum masam karena iri. "Indahnya masa muda. Aku ingin pulang dan berkumpul dengan istriku."
Tiga jam kemudian, Mo Lian kembali terbangun dari tidurnya saat ada yang menekan kedua pipinya. Ia membuka matanya perlahan, terlihat dua wanita cantik yang sedang mencolek pipinya. "Apakah sudah sampai?" tanyanya masih sedikit mengantuk.
"Hampir sampai," jawab Qin Nian membernarkan posisi duduknya.
Masih memainkan pipi Mo Lian, Ong Hei Yun menyipitkan matanya dengan senyum lebar menatap wajah Mo Lian. "Apakah kau senang bisa tidur dengan dua wanita cantik?"
Mo Lian menaikkan sebelah alisnya, kemudian menjawab, "Aku sudah bangun terlebih dahulu. Namun saat melihat kalian yang masih tertidur, aku kembali tidur. Dan lagi, kalian membuat pakaian ku basah," jawabnya sembari menaikkan kedua bahunya.
Seketika itu Ong Hei Yun terdiam dan lagi tersenyum, ia menolehkan kepalanya melihat ke arah bahu Mo Lian, begitupun dengan Qin Nian. Dan benar saja, baju bagian bahu yang dikenakan Mo Lian sudah tercetak gelap sebesar kepalan tangan, menandakan jika itu basah karena air.
"Ma- Master. Ma- Maaf." Qin Nian menundukkan kepalanya menatap kedua lututnya.
Mo Lian menoleh ke arah kanan, ia tersenyum tipis dan mengusap lembut puncak kepala Qin Nian. "Tidak masalah."
Setelah mengatakan itu, suasana dalam bus kembali hening tanpa ada suara sedikitpun, hingga akhirnya sopir menyalakan musik agar suasana sedikit berwarna.
Bus terus melaju dengan kecepatan yang stabil, dan saat masuk ke dalam kawasan Gunung Kunlun, kecepatan bus melambat secara signifikan, bahkan bisa dibilang berlari akan lebih cepat ketimbang menaiki kendaraan.
Puluhan menit kemudian, bus sudah sampai di depan gapura desa yang terbuat dari dua pohon yang diikat, dan untuk jalannya sendiri tidak bisa dilalui oleh bus, bahkan untuk mobil ukuran normal pun tidak bisa.
Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian keluar dari dalam bus bersama dengan Qin Nian dan Ong Hei Yun setelah ia memerintahkan sopir untuk tetap diam di luar desa.
Ketiganya memasuki desa, terlihat beberapa anak kecil yang berlarian ke sana kemari, serta anak-anak remaja yang membantu orangtua mereka bekerja. Ketika orang-orang desa melihat kehadiran Mo Lian, beberapa dari mereka berlari menuju bangunan terbesar yang ada di desa.
Kemudian dalam waktu belasan menit, orang yang berlari itu kembali datang dengan sepuluh orang muda yang dikenali Mo Lian, dan di barisan terdepan ada wanita muda yang berlari kencang dengan kedua tangan direntangkan.
"Lian!" Wanita muda yang tak lain ialah Xu Xumei itu melingkarkan kedua tangannya di leher Mo Lian dan memeluknya erat.
Qin Nian dan Ong Hei Yun yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak dan rahang yang hampir terjatuh. Siapa wanita ini?
__ADS_1
Mo Lian tersenyum lembut menjelaskan kerinduan dan membalas pelukan Xu Xumei. "Nenek, aku datang lagi," ucapnya pelan.
Sekali lagi, Qin Nian dan Ong Hei Yun kembali terperangah dengan apa yang mereka dengar. Nenek?
Xu Xumei melepaskan pelukannya, ia mundur selangkah menatap wajah Mo Lian untuk sesaat, kemudian memiringkan tubuhnya melihat kedua orang wanita yang berdiri di belakang Mo Lian. "Lian. Yang mana pacarmu?"
"Uhuk uhuk." Mo Lian terbatuk saat mendengar pertanyaan itu.
Qin Nian menundukkan kepalanya menatap tanah sembari memainkan jari-jarinya. Sedangkan untuk Ong Hei Yun, ia mengibaskan rambut panjangnya yang berwarna ungu memperlihatkan kecantikannya.
Mo Lian hanya menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Xu Xumei.
Wu Yengtu berjalan menghampiri Mo Lian. "Ku lihat kau membawa banyak sekali bus. Apakah persiapan di sana sudah selesai?"
Mo Lian mengangguk kecil kemudian menjawab, "Sudah. Aku sudah membangun 100 unit rumah, enam menara dan satu bangunan yang digunakan sebagai ruang pertemuan."
Wu Yengtu menganggukkan kepalanya, ia tidak berharap apa yang dikatakan Mo Lian bisa terpenuhi hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. "Tapi sebelum itu, pencaharian utama penduduk di sini adalah berkebun dan bertani, jika kami datang ke sana, bagaimana kebutuhan para penduduk?"
Mo Lian tersenyum tipis, ia sudah menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. "Kakek tenang saja, wilayah yang kami bangun cukup luas, bahkan bisa dikatakan dua sampai tiga kali lebih luas dari desa ini. Di sana sudah kami bangun danau buatan yang bisa digunakan sebagai tempat membudidayakan ikan, lalu ada lahan kosong lainnya ..."
"Lalu untuk anak-anak, akan kita ajarkan untuk berkultivasi. Untuk tiap bulannya kami juga akan memberikan uang sebesar 5000 sampai 10.000 Yuan untuk satu keluarganya, anggap saja ini sebagai bayaran. Lalu—"
Mo Lian menaikkan sebelah alisnya keheranan. "Ada apa Kakek?"
Wu Yengtu terdiam mencoba menenangkan diri dari keterkejutannya.
"Sepuluh ribu?" Xu Xumei menatap wajah Mo Lian dengan penuh tanya.
"Apakah itu terlalu sedikit?"
"Bu- Bukan begitu. Pendapatan satu keluarga di sini hanya berkisar antara 500 sampai 1000 Yuan saja," jawab Xu Xumei.
Mo Lian terdiam, 1000 Yuan untuk satu bulan itu cukup berat dengan anggota keluarga berjumlah empat orang. Bahkan ibunya yang tinggal di desa dulu, 1000 Yuan untuk sendirian itu masih kurang, terkadang ibunya harus pergi memancing dan membantu petani sekitar untuk meringankan biaya hidup.
Bahkan untuk makan mie instan sehari dengan empat orang dan makan tiga kali, itu menghabiskan biaya 36 Yuan, dan untuk satu bulannya adalah 1080 Yuan.
"Jadi, apakah benar-benar tidak masalah jika Lian memberikan kami sebanyak itu? Terlebih lagi Lian sudah memberikan kami tempat tinggal," lanjut Xu Xumei menundukkan kepalanya dengan wajah bermasalah.
__ADS_1
Mo Lian tersadar dari lamunannya, ia tersenyum lembut. "Tidak masalah, anggap saja penduduk desa yang membiakkan ikan, ayam, bertani dan sebagainya bekerja padaku. Lalu perbulannya akan kuberikan 10.000 Yuan untuk tiap keluarga."
Xu Xumei terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Tapi itu ... tetap saja menguntungkan kami, itu terlalu banyak—"
"Tidak masalah." Mo Lian menggeleng pelan.
Baginya yang sekarang, uang sebanyak satu juta Yuan tidak terlalu berarti. Bahkan jika ditambah dengan menggaji karyawan di Perusahaan Meiliafei, ia hanya perlu merogoh kocek sebanyak lima sampai enam juta Yuan untuk satu bulannya, dan ia masih memiliki keuntungan sebanyak sekitar 298 juta Yuan. Itu adalah keuntungan bersih, sudah dipotong dengan gaji, biaya bahan dan pembagian 40% untuk dua keluarga.
Bahkan dalam pemikirannya, ia akan mendapatkan untung yang lebih banyak jika mempekerjakan orang-orang yang memang tinggal di gunung, orang yang paham akan tanaman rempah maupun herbal. Sehingga ia tidak perlu lagi membeli herbal, ataupun menanamnya sendiri.
"Jadi apa yang harus kami siapkan?" tanya Wu Yengtu yang sudah kembali tenang.
"Hanya pakaian maupun barang yang ringan. Untuk perabotan, kami semua sudah menyiapkannya di sana."
Wu Yengtu mengangguk kecil, ia berbalik hendak mengintruksikan kepada seluruh penduduk agar bersiap-siap. Tapi saat ia berbalik, di belakangnya sangat sepi dan bisa terdengar suara bising dari tiap-tiap rumah.
Sepertinya pembicaraan mereka di dengar oleh salah satu warga, dan warga itu menyebarkan berita itu kepada yang lain. Sehingga dengan cepat mereka semua berkemas-kemas.
"Karena kita masih harus menunggu mereka selesai. Aku ingin naik lagi ke puncak gunung untuk mengambil rempah dan herbal, termasuk batu-batu berharga lainnya, lalu yang terpenting adalah sebagian dari mayat ular putih. Apakah Kakek mengizinkannya?" ucap Mo Lian meminta izin.
Wu Yengtu kembali berbalik menatap wajah Mo Lian. "Tentu saja, aku bisa menebak pemikiranmu, kau menyiapkan lahan kosong untuk digunakan sebagai perkebunan obat. Apakah aku benar?" tanyanya sembari menaikkan sebelah alis.
Mo Lian tersenyum canggung seraya menggaruk pipinya.
"Tidak masalah. Penduduk desa akan merawatnya," lanjut Wu Yengtu.
"Jadi? Haruskan kita berangkat ke puncak gunung?" tanya Xu Xumei berjalan di depan Mo Lian.
Mo Lian mengangguk kecil sebagai balasan. Ia, Wu Yengtu dan yang lain menekan kakinya di tanah, kemudian melesat pergi ke arah gunung meninggalkan Qin Nian serta Ong Hei Yun.
Keduanya terdiam dengan mata terbelalak lebar. Ong Hei Yun tidak menduga jika sepuluh orang di depannya tadi adalah seorang Pejuang, bahkan Qin Nian yang sudah pernah diceritakan juga tidak luput dari keterkejutan.
Tanpa berlama-lama lagi, keduanya juga mengambil langkah yang sama dan terbang mengerjar Mo Lian.
Mo Lian yang merasakan dua aura tambahan di belakangnya sedikit tersentak kaget, ia tahu jika dua aura itu adalah Qin Nian dan Ong Hei Yun. Ia juga tahu jika Qin Nian sudah menyentuh Fase Lautan Ilahi beberapa bulan yang lalu, tapi yang sedikit mengejutkannya adalah Ong Hei Yun, hanya dalam beberapa hari di Kota Beijing saja sudah meningkatkan kekuatannya dari Fase Mendalam tahap Menengah ke Fase Lautan Ilahi tahap Awal.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...