Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 251 : Ketenangan Pikiran


__ADS_3

Kota Fang, Provinsi Kun


Kota Fang adalah kota kecil dengan penduduk mencapai 30.000.000 jiwa, yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan bukan praktisi yang menempuh jalan Kultivator Dao atau Iblis. Karena jumlahnya yang sedikit dan kebanyakan adalah manusia biasa, Kultivator terkuat di sini hanya sebatas Inti Emas, itu pun tidak lengkap.


Tidak lengkap dalam kultivasi adalah kultivasi yang terburu-buru tanpa memperhatikan kondisi tubuh sendiri, dan fondasi yang lemah. Teknik kultivasi yang asal-asalan juga termasuk dalam kondisi kultivasi tidak lengkap, untuk peningkatan juga terlalu lambat.


Karena yang terkuat hanya Inti Emas, Mo Lian juga menyamar sebagai manusia biasa dan membeli salah satu rumah kecil dengan dua ruangan. Mo Lian ingin hidup di desa untuk sementara waktu, sekaligus menenangkan dirinya sebelum menembus Dao Immortal.


Sudah dua minggu ia tinggal di kota kecil ini, dan selama itu ia tidak mendengar pergerakan dari Keluarga Tang. Daratan Tianming juga nampak tenang-tenang saja, seperti peristiwa beberapa minggu lalu tidak pernah terjadi.


"Nak Lin Mo, hendak pergi mencari ikan?"


Mo Lian yang baru keluar dari halaman rumah kecilnya sudah disapa oleh wanita paruh baya berusia empat puluhan tahun, yang membawa keranjang berisikan sayuran. Ia menganggukkan kepalaku dan tersenyum cerah. "Iya, Bi. Saya ingin memancing di sungai sebelah barat kota."


"Jika Nak Mo tidak mendapat ikan seperti biasa, kau bisa datang ke rumah bibi."


Mo Lian tersenyum masam dan menganggukkan kepala. Tentu saja ia tidak akan mendapatkan ikan meski memancing selama ribuan tahun lamanya, karena sungai di mana ia memancing mengandung energi murni yang berlimpah. Energi murni itu terlalu kuat untuk ikan kecil biasa.


Mo Lian berjalan menuju gerbang barat dan membawa pancing ikan serta ember. Banyak tatapan mata yang tertuju padanya karena wajah tampannya, tapi banyak juga hinaan dari Kultivator lain yang menganggapnya tak berguna memiliki wajah tampan jika tidak memiliki kekuatan.


Tiga puluh menit kemudian, Mo Lian sudah sampai di sungai lebar nan panjang, dengan kilauan air di permukaannya. Ia melemparkan kail pancing yang tidak ada umpannya ke dalam air, dan memandangi air yang tenang.


"Untuk menembus Dao Immortal agar mendapatkan kekuatan yang berlimpah, haruslah berada di tempat yang tenang dengan suasana hati bersih tanpa amarah. Bahkan, ada di mana orang itu harus benar-benar menahan diri dan berperilaku seperti manusia biasa tanpa kekuatan."


"Air sungai yang tenang dengan energi murni ini adalah pelatihan yang cocok untuk dapat menahan diri."


Mo Lian sudah menjalani pelatihan ini selama dua minggu, atau dari awal ia datang ke Kota Fang. Banyak yang mencari masalah dengannya seperti menantang berkelahi, atau mencoba menghajarnya, namun semua itu bisa ia hindari dengan mudah tanpa berakhir dengan perkelahian.


Mo Lian menutup matanya dan mengatur pernapasan hingga benar-benar tenang seperti menyatu dengan alam sekitar. Emosinya yang masih tersisa mulai menghilang, emosi di sini hanya kemarahan. Untuk cinta dan kasih sayang, ia masih memilikinya karena selalu memikirkan keluarganya.


Waktu terus berjalan dan ketika langit mulai gelap, Mo Lian membuka matanya perlahan dengan senyum cerah menghiasi wajahnya. Samar-samar energi spiritual biru mulai terlihat keluar dari pori-pori kulit Mo Lian, dan itu semua karena ia sudah mendapatkan pencerahan yang selama ini ia tunggu.


"Selama dua minggu menunggu, akhirnya aku bisa dianggap sebagai Dao Immortal. Hanya perlu menarik Kesengsaraan Petir, tapi terlalu bahaya untuk menariknya sekarang. Paling tidak, aku harus menyelesaikan urusan dengan Keluarga Tang, agar tidak ada pikiran yang menganggu lagi."

__ADS_1


Mo Lian membereskan perlengkapan memancing dan membawanya kembali ke kota. Tapi sebelum itu, ia ingin berburu kelinci sebagai oleh-oleh, tidak baik diundang namun tidak membawa apa pun ke sana.


Mo Lian yang sebelumnya duduk di bawah pohon rindang, berpindah ke tempat lain yang hutannya sedikit terbuka dan tidak terlalu lebat, serta ada rerumputan.


Tidak membutuhkan waktu lama seperti tadi, karena ia sudah bisa menggunakan kekuatannya setelah mendapat pencerahan. Mo Lian membuka semak-semak tinggi di depannya, dan melihat hamparan rumput serta rusa yang sedang berjemur.


"Daripada kelinci, lebih baik rusa karena memiliki daging yang lebih banyak." Mo Lian tersenyum cerah saat mendapatkan hewan yang akan menjadi buruannya.


Mo Lian menjentikkan jarinya lurus ke depan, dan menciptakan siluet bulan sabit berwarna biru yang melesat tajam. Siluet itu memotong leher rusa gunung dalam sekejap, tanpa memberikan kesempatan untuk melarikan siri atau bereaksi.


Dengan kibasan tangan kanannya, rusa gunung itu bergerak ke arahnya dan ia tangkap pada bagian pergelangan kaki kanan belakang.


Mo Lian membalikkan rusa itu dan mengeluarkan semua darah, agar saat membawanya ke kota nanti tidak mengotori jalanan di sana.


Belasan menit kemudian, ia sudah selesai dan kembali ke kota dengan menggantung rusa pada sebatang bambu.


***


Kota Fang


"Apakah akhirnya kau mendapatkan buruan? Aku tidak mengira kau mampu menangkap rusa." Pemuda berambut hitam panjang, mata kecil yang bagian ujungnya tajam dan memiliki senyum menjijikan.


Pemuda itu mengenakan pakaian biru muda dengan jubah ungu pada bagian atas dan berubah menjadi putih pada bagian bawahnya. Ia juga membawa kipas tangan berwarna hijau.


Mo Lian berhenti sejenak, kemudian kembali melangkah dan melewati 12 pemuda itu.


Pemuda yang dilewati Mo Lian itu menggertakkan giginya kesal dan mengepalkan tangannya erat sampai menghancurkan kipas tangan yang digenggamnya. "Brengs**!" Ia berbalik dan melepaskan pukulan kuat pada punggung Mo Lian.


Mo Lian terus berjalan santai tanpa melawan sampai sekali, ia juga tidak menoleh ke belakang atau menghindari serangan. Hingga saat pukulan hampir mengenainya, ia mengendalikan kerikil kecil yang tidak jauh darinya, dan mengarahkannya pada siku pemuda bernama Ann Jing Hao.


"Arrgghh!" Ann Jing Hao berteriak keras menjelaskan rasa yang sangat menyakitkan. Ia memegangi sikunya yang berlubang tertembus oleh kerikil kecil.


"Bu- Bunuh dia!"

__ADS_1


Sebelas pemuda yang lain mulai bergerak dan menyerang Mo Lian secara bersamaan, namun belum sempat berlari, mereka semua sudah jatuh karena tersandung batu yang tiba-tiba muncul di jalanan.


Mo Lian menoleh ke belakang dan mendengkus dingin, kemudian kembali berjalan santai. Sampai saat ini ia masih menahan diri, karena yang diketahui orang-orang di kota, ia adalah pribadi yang baik dan benci kekerasan.


Namun jika mereka mengetahui identitas asli Mo Lian, dan sangat dihormati serta ditakuti di Daratan Tianming, mungkin sikap mereka akan berubah.


"Pikiran yang tenang, akan selalu membawa kedamaian." Mo Lian tersenyum lembut.


Belasan menit kemudian, Mo Lian sudah sampai di rumah kecil yang ia beli, dan tetangganya yang merupakan bibi yang menyapanya tadi pagi sedang bersiap-siap untuk mengadakan pesta kecil.


"Bibi, aku datang membawa rusa."


Wanita paruh baya berambut hitam kusam terikat oleh hiasan itu menoleh ke belakang melihat Mo Lian. "Nak Lin Mo?"


Mo Lian tersenyum hangat dan membawa masuk rusa ke halaman dari kediaman wanita paruh baya itu. "Aku membawakan rusa untuk ungkapan rasa terimakasih atas perlakuan bibi selama ini."


Wanita paruh baya itu tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian mengangguk kecil dan tersenyum hangat. Ia berjalan memasuki halaman, dan di sana ada suami dan dua anak-anaknya yang sedang bertugas mengurus pekerjaan masing-masing.


Mo Lian turut membantu membersihkan rusa, dan sesekali juga menyiapkan kayu bakar untuk mengasapi daging rusa. Ketika sedang membelah kayu bakar menggunakan kapak, tiba-tiba ia menoleh ke arah kanan atau timur. "Ini ...."


"Ada apa, Nak?" Wanita paruh baya bernama Bai Yuyan datang menghampiri.


Mo Lian menggeleng pelan dan menjawabnya, "Tidak ada, langit malam ini sangat cerah dan terlihat kilauan bintang yang menghiasi ..."


Bai Yuyan menengadahkan kepalnya melihat langit, dan kemudian menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


Mo Lian kembali bekerja dan membawa kayu bakar pada Paman Xang. Sesekali ia juga melihat ke arah timur. Sepertinya, ketenangan di Kota Fang akan berakhir tidak lama lagi. Pertumpahan darah akan kembali terjadi, dan aku, Mo Lingdao akan kembali lagi!


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2