Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 471 : Kedatangan Dewa Kuno


__ADS_3

—Pengadilan Alam Hanzi—


Pengadilan Alam Hanzi sama seperti Istana Taiyi dari Alam Selestial, yang mengatur semua urusan dari Alam Hanzi sebelum terpecahnya menjadi dimensi yang berbeda. Sekarang, banyak Alam Hanzi yang terpecah, dan semua urusan tidak lagi sama.


Dahulu sebelum adanya perang Tiga Alam, Alam Hanzi masih mengikuti aturan reinkarnasi. Tapi setelah pecahnya perang, Alam Hanzi sudah tidak lagi mereinkarnasi Dewa Hanzi maupun Ras Manusia. Walaupun, konon katanya Alam Hanzi di Wilayah Timur masih melakukan hal yang sama, itu karena Alam Hanzi di Wilayah Timur berada di bawah kekuasaan Istana Taiyi.


Tidak ada yang memahami mengapa Istana Taiyi membiarkan Wilayah Neraka mereinkarnasi Ras Manusia di sana, padahal menurut aturan dari Istana Taiyi, hidup hanya sekali, tidak ada lagi hidup setelah kematian dan tidak ada yang bisa bereinkarnasi.


Pengadilan Alam Hanzi yang sekarang adalah memberkati Dewa Surga tahap Akhir yang ingin menjadi Dewa Kuno (Garis Dewa). Hanya Kaisar Dewa Kuno yang setingkat dengan Kaisar Giok yang mampu memberkatinya. Walaupun Kaisar Dewa Kuno dan Kaisar Giok setingkat, hanya dalam kedudukan, bukan kekuatan. Kaisar Dewa Kuno lebih lemah dari Kaisar Giok.


Jika Dewa Kuno tidak diberkati oleh Kaisar Dewa Kuno, maka dia tidak terdaftar di Daftar Dewa Hanzi 3000 Dao dan tidak mampu mengerahkan kekuatan utama dari Alam Hanzi.


Pemberkatan ini membawa keuntungan tersendiri bagi Dewa Kuno, bisa mendapatkan peningkatan Simbol Dewa 1 — 3 Garis tergantung dari seberapa berbakatnya dan pemahamannya tentang Dao yang berkaitan dengan Alam Hanzi.


Kemudian, Kaisar Dewa Kuno tidak satu seperti Kaisar Giok, tapi ada 9 Kaisar Dewa Kuno. Meski begitu, mereka tidak saling bertarung untuk kedudukan.


Pada saat ini, 9 Kaisar Dewa Kuno berada di dalam satu ruangan. Duduk di kursi masing-masing setinggi belasan meter, ruang pertemuan ini sangat gelap, dan hanya mata merah mereka yang terlihat.


"Ras Manusia datang ke Alam Bawah. Kekuatannya tidak terlalu besar, tapi keberaniannya patut diapresiasi." Kaisar Dewa Kuno: Bintang Utara berbicara dengan suaranya yang tidak terlalu keras, namun didengar oleh setiap orang.


"Ya... Tapi yang lain memakai metode tercela, bahkan kita yang berasal dari Alam Bawah, tidak menggunakan metode semacam itu." Kaisar Dewa Kuno: Bumi Pertahanan membalasnya.


"Metode itu seperti Dewa Luar. Ngomong-ngomong, Pohon Perunggu Surgawi harusnya berasal dari luar Tiga Alam, aku merasa dia tidak memiliki aura dari Alam Selestial sama sekali." Kaisar Dewa Kuno: Es Abadi.


Kaisar Dewa Kuno lain mengangguk, mengungkapkan perasaan yang sama seperti Kaisar Dewa Kuno: Es Abadi saat membahas tentang Pohon Perunggu Surgawi.


Ketika mengetahui ada yang aneh dari Pohon Perunggu Surgawi, mereka memanfaatkan kesempatan dari kacaunya perang. Walaupun Jalan Enam Reinkarnasi dihancurkan, tapi mereka tidak terlalu mendapat banyak kerugian seperti Alam Manusia di mana Kaisar Manusia harus terbunuh.


Selama ini, mereka bersembunyi di Alam Hanzi yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada niatan untuk keluar dari sini, karena sedikit saja mereka keluar dan auranya bocor, maka Alam Selestial akan mengirimkan Dewa Abadi.


"Oh?" Kaisar Dewa Kuno: Laut Merah sedikit terkejut. "Dewa Kuno mendatangi Ras Manusia itu. Haruskah kita menghentikannya? Jika dibiarkan, Alam Bawah dan Alam Manusia akan berperang."


"Perang?" Kaisar Dewa Kuno: Kayu Timur tertawa kecil dengan nada mengejek. "Kaisar Manusia sudah mati! Bahkan jika perang antara Alam Bawah dan Alam Manusia pecah, lalu apa? Alam Manusia tidak mungkin bisa menang! Biarkan saja Dewa Kuno itu membunuh Ras Manusia itu."


Mendengar itu, Kaisar Dewa Kuno lain saling memandang untuk beberapa detik, sebelum menganggukkan kepala. Menurut mereka, apa yang dikatakan Kaisar Dewa Kuno: Kayu Timur ada benarnya, dan ini merupakan suatu hiburan. Jadi mereka beranggapan, tidak masalah perang dengan Alam Manusia, asalkan bukan Alam Selestial.


...***...

__ADS_1


Mo Lian duduk bersila di udara saat dia menggunakan energi dari Leluhur Dewa Agung untuk meningkatkan kekuatannya. Walaupun sudah dimurnikan dan mudah diserap, dari ada kekuatan bawaan yang harus disempurnakan lebih baik sehingga tidak berdampak buruk seperti Leluhur Dewa Agung.


Kekuatan ini adalah Cincin Dewa Jarum. Dia sendiri tidak terlalu memahami kekuatan ini, tapi dia tetap menerimanya, dan tapi dia tidak dengan gegabah menggabungkannya. Dia harus memisahkan semua kesadaran dari monster yang tersisa, dan memastikan jika Cincin Dewa Jarum hancur, tidak mempengaruhi kekuatannya. Seperti Leluhur Dewa Agung, hanya karena Cincin Dewa Jarum dihancurkan, kekuatannya turun.


Mo Lian ingin, saat Cincin Dewa Jarum dihancurkan, itu bisa dikembalikan lagi detik berikutnya, dan tidak menghancurkan konstitusi tubuhnya.


Yang paling penting dan utama, dia tidak ingin fisiknya berubah seperti Leluhur Dewa Agung yang mengenakan helm logam di kepalanya.


Aura hitam keluar dari dalam tubuhnya melalui pori-pori kulit, yang kemudian dibarengi dengan raungan marah yang mencoba menyerangnya.


Mo Lian melapisi tubuhnya dengan Dao Pedang. Tiba-tiba raungan marah itu terdengar menyakitkan saat aura hitam seperti kabut tercabik-cabik, dan terlihat lumpur merah-hitam yang jatuh ke tanah.


Raungan yang mencoba merusak pikirannya mulai hancur dan energi dari Leluhur Dewa Agung yang diterimanya menjadi lebih ringan. Mo Lian lebih mudah menyerap kekuatan yang dibawanya. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengendalikan kekuatan baru untuk membentuk Cincin Dewa Jarum yang berbeda.


Mo Lian menggunakan Cincin Matahari untuk menuntun, dan itu mengakibatkan Energi Yin dan Yang bertemu, mengakibatkan fenomena aneh. Energi keras meledak-ledak, petir biru-emas dan putih-hitam menyambar ke sekitar dengan Mo Lian sebagai pusatnya.


Kabut hitam berkumpul di belakang punggung Mo Lian dan membentuk Cincin Dewa Jarum dengan Energi Yang di tengahnya membentuk matahari.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya perlahan, kemudian mengibaskan tangannya ke atas seperti menebas dengan pedang.


Ledakan datang dari dalam tubuhnya, cahaya hitam-emas melonjak ke langit merah, merusak celah ruang dan waktu.


Dentuman datang dari langit dan terlihat Cincin Dewa Jarum yang terbentang di langit merah dengan posisi horizontal. Jarum-jarum di sekitarnya berubah arah, mengarah turun dengan sudut 45°.


Mo Lian mengayunkan tangannya secara vertikal ke bawah, membuat jarum-jarum itu memancarkan sinar emas dengan kilatan petir hitam. Kemudian jarum-jarum itu langsung melesat dan tahu-tahu menancap di tanah...


Booom! Duarr!


Tanah meledak mengakibatkan kehancuran luar biasa, tebasan pedang yang tak terhitung jumlahnya menambahkan dampak ledakan yang dihasilkan. Ruang-ruang dihancurkan, atmosfer sekitar telah mengungkapkan ruang hitam pekat tanpa kehidupan.


Mo Lian mengangkat dua jarinya, lalu mengayunkannya seperti menebas pedang.


Jarum-jarum yang menancap itu melayang perlahan, kemudian bergerak menebas searah dengan jarum jam.


Lintasan pedang emas-hitam muncul di udara, membentuk cincin luas yang menyebar. Jika diibaratkan lebih mudahnya, ini seperti Mo Lian terkurung di dalam botol, tapi dia memotong botol itu menjadi dua bagian.


Mo Lian mengangkat tangannya, mengambil salah satu jarum di Cincin Dewa. Dia melihatnya, dan mengubah bentuknya menjadi pedang hitam legam.

__ADS_1


Dia mengepalkan tangannya, menghancurkan logam itu. Hasil yang didapat hanyalah sedikit penurunan kekuatan, yang detik berikutnya kembali naik. Tapi Mo Lian belum selesai, dia mengendalikan Cincin Dewa Jarum untuk terbang ke depan.


Cincin Dewa Jarum miliknya berbeda dengan Leluhur Dewa Agung. Jika Leluhur Dewa Agung tidak dapat dipisahkan, miliknya bisa dikendalikan dengan mudah, dan tidak terhubung dengan tulang maupun sumsum.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya di depan dada, lalu mendorongnya perlahan ke arah Cincin Dewa Jarum.


Booom!


Cincin Dewa Jarum dihancurkan oleh Mo Lian, mengakibatkan ledakan keras yang mengguncang bumi. Tanah bergetar hebat, meledakkannya ke langit dan mengubahnya menjadi debu.


Sekarang, Mo Lian berada jauh di dalam tanah, dengan tanah di sekitarnya sangat tinggi. Awalnya, tempatnya berada adalah tanah datar, tapi karena ledakan demi ledakan, tempatnya sekarang berada seperti jurang dalam.


Darah mengalir di sudut bibir Mo Lian, ada sedikit penurunan. Tapi penurunan ini bukanlah penurunan kekuatan aslinya.


Mo Lian memanifestasikan energinya dan kembali membentuk Cincin Dewa Jarum di belakang punggungnya, membuat kekuatannya kembali seperti semula.


"Jika aku memakai Cincin Dewa Jarum ini, kekuatanku meningkat sebesar sepuluh persen, dan apabila hancur, hanya memberikan sedikit luka fisik. Tidak ada luka di Inti Jiwa, tapi aku masih belum puas."


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat Cincin Dewa Jarum yang samar-samar menyatu dengan Diagram Delapan Yin dan Yang. "Dengan kekuatanku yang sekarang, apakah aku bisa bersaing dengan Dewa Abadi yang setara dengan Simbol Dewa Tujuh Garis?"


Mo Lian penasaran, tapi dia tidak bisa mencobanya karena tidak ada lawan lagi. Dia berdiri, lalu melesat naik ke langit atau lebih tepatnya ke dataran atas.


"Ngomong-ngomong, haruskah aku menghancurkan Inkarnasi dan kembali, atau berkeliling sebentar lagi. Aku merasa, ini adalah keuntungan yang jarang didapatkan, aku berharap bisa bertemu dengan Dewa Hanzi, kemudian membunuhnya untuk mendapatkan Energi Yin."


Mo Lian melihat sekeliling, kemudian dia asal mengambil arah. Tapi sebelum sempat pergi, dia merasakan fluktuasi spasial dari atasnya. Dia mendongak, melihat pusaran cahaya oranye yang terbentuk.


Sosok oranye keluar dari pusaran cahaya. Itu adalah pemuda berambut oranye dan berkibar seperti api yang membara, mengenakan pakaian seperti hanfu pria, tapi sedikit berbeda, berwarna merah.


"Ras Manusia ... di Alam Bawah?"


Mo Lian merenung sejenak, mengamati siapa yang datang. Penampilannya seperti manusia, terlihat tidak ada perbedaan sedikit pun. "Dewa dari Alam Han— Alam Bawah?"


Mo Lian terdiam dengan keterkejutan di wajahnya saat mendengar pertanyaannya sendiri, kemudian dia mengungkapkan senyum dingin. Akhirnya, hal yang ditunggu-tunggu olehnya datang sendiri di depannya. Dengan ini, dia bisa mencoba kekuatan baru dan mendapatkan Garis Dewa baru.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2