Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 191 : Kekacauan


__ADS_3

Rabu, 26 Mei 2021


Sudah dua bulan berlalu semenjak Mo Lian mengurung diri di ruang bawah tanah Sekte Chenlong, dan belum ada tanda-tanda akan selesai dalam kultivasinya, karena samar-samar dari permukaan tanah dapat dirasakan fluktuasi di kedalaman.


Saat ini di dalam Aula Sekte telah berkumpul Mo Qian, dan Penatua Sekte Chenlong yang sedang membahas sesuatu yang sangat penting dan mendesak, dengan suasana yang mencekam karena masalah yang terjadi beberapa hari lalu.


Pandangan mereka semua tertuju pada layar besar yang berada di dinding, di atas kursi Patriak. Pada layar itu terlihat Tetua dari Pasukan Mata Setan, Pasukan Taring Naga, Aliansi Beladiri dan Pejuang hebat lainnya di seluruh Daratan Huaxia.


"Bagaimana keadaan kota yang lain? Berapa banyak jumlah korban meninggal, dan berapa kerusakan yang terjadi?" Mo Qian memberi pertanyaan yang tergolong sensitif.


Pria tua berambut putih panjang dengan kerutan di wajah, yang tak lain Tetua dari Pasukan Mata Setan yang berada di kiri atas layar itu menggelengkan kepalanya. "Tidak baik, Kota Harbin mengalami kerugian material, dan banyak sekali korban jiwa yang berjatuhan dari warga sipil."


Yang lain juga memiliki jawaban yang tidak jauh berbeda, entah itu Kota Beijing, Kota Chongqing, Kota Hangzhou, Kota Zhengzhou dan lain sebagainya. Banyak sekali gedung-gedung yang hancur dengan warga sipil menjadi korbannya.


Semua itu karena pergerakan dari organisasi yang bernama Aliansi Revolusi Dewa, beserta Deus-Techno yang berasal dari Amerika.


Mo Qian terdiam sejenak sembari bersandar pada sandaran kursi dan memijat keningnya. "Pihak Sekte Dongfangzhi memiliki tiga Wu-Zheng, dua belas Wu-Sheng, puluhan Wu-Dan, dan sisanya berada ditingkat Wu-Zong dan Wu-Zun."


"Karena itulah Kota Chengdu hanya mengalami sedikit kerusakan, tapi tetap saja jika ini terus berlanjut, aku tidak tahu apa yang terjadi. Terlebih dengan organisasi bernama Deus-Techno, yang bisa melukai Wu-Sheng dengan mudahnya."


"Aku juga sudah mengirimkan empat klon ke kota sekitar untuk membantu, tapi tidak terlalu banyak membantu karena kekuatannya tidak bisa dilepaskan sepenuhnya." Mo Qian kembali menundukkan kepalanya, menatap lantai ruangan dengan lesu.


Suasana kembali hening, termasuk lawan bicara yang berada di berbagai kota hanya diam tanpa berucap. Kerusakan yang terjadi pada Daratan Huaxia sudah terlalu parah, dan pasukan khusus juga sudah mengerahkan semua kekuatan, meski hasilnya nihil.


"Bagaimana dengan Patriak? Aku tidak melihatnya selama ini, jika dia yang bertindak, mungkin lain lagi kisahnya." Tetua Pasukan Taring Naga berucap, yang berada di tengah atas layar.


Mo Qian mendongak, menatap layar yang berada di dinding. "Anakku masih mengurung diri dari dua bulan yang lalu, untuk dapat menembus Wu-Zheng tahap Akhir."


Semua orang hanya bisa terdiam tanpa bersuara saat mendengar jawaban Mo Qian. Dengan ini artinya mereka harus terus berjuang untuk menjaga kedamaian negara yang telah terusik selama beberapa hari ini, dan sudah ribuan orang menjadi korban.


***


Minggu, 06 Juni 2021


Sepuluh hari berlalu dari pertemuan jarak jauh untuk membahas tentang kekacauan yang terjadi di China. Dalam sepuluh hari ini jumlah korban terus bertambah dan daya serang dari Deus-Techno semakin mengerikan, mereka hanyalah manusia biasa, namun menggunakan teknologi yang berada diluar nalar.


Teknologi itu mampu menciptakan sebuah pelindung seperti energi spiritual, dan dapat menahan serangan dari Inti Emas tahap Awal tanpa tergores sedikitpun. Karena hal inilah China mengalami kekalahan yang tidak terduga sana sekali.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan di sana?" Mo Qian melompat dari satu bangunan ke bangunan lain, dan berbicara dengan lawan bicara yang berada jauh, menggunakan alat komunikasi yang terpasang di telinganya.


"Bagian utara tidak berbeda jauh, banyak sekali nyala api yang membakar gedung-gedung. Tim kami sedang berusaha untuk mengevakuasi semua orang, dan memadamkan api." Ong Lei Yang membalasnya.


"Ayah, biarkan aku membantu." Suara lain masuk ke dalam alat komunikasi Mo Qian.


Mo Qian menyentuh telinga kirinya. "Jangan! Kau tunggu saja bersama Ibumu di dalam pelindung sekte! Ayah tahu kau kuat, karena itulah lindungi mereka yang berada di san—"


Wush! Duarr!


Mo Qian melesat tajam menghantam gedung hingga menembus beberapa gedung di belakangnya, dan menciptakan sebuah ledakan keras dengan api yang membakar saat ia menghantam tanah.


"A- Ay ... zztth ... ah! Ap- Pa ... ya ... zzztt ..."


"Uhuk." Mo Qian terbatuk-batuk sembari berdiri dari lubang besar yang tercipta di tanah. Ia melepaskan alat komunikasi yang sudah rusak.


Tubuh Mo Qian terluka sangat parah, darah segar mengalir deras membasahi pakaiannya, dengan tangan kiri yang hancur karena mencoba menahan serangan yang tiba-tiba terarah padanya.


Ketika Mo Qian berdiri dengan sempoyongan, terdengar suara mesin yang menghampirinya, berada belasan meter dari permukaan tanah.


Note : Bahasa Inggris


Mo Qian mendongakkan kepalanya perlahan, menatap siapa yang mengajaknya berbicara. Bisa terlihat seorang pria paruh baya berambut cokelat dengan jambang. Pria paruh baya itu mengenakan jirah berwarna biru dan kuning, pelindung besi yang melindungi kepalanya, beserta mesin jet tempur berada di punggungnya.


Bukan hanya itu saja, di kedua tangan pria paruh baya itu terdapat sebuah lingkaran aneh berwarna biru, yang mampu menembakkan gelombang kejut yang sangat kuat, sampai-sampai membuat Mo Qian terluka parah.


"Aku lebih baik mati daripada harus menyerahkan diri!" teriak Mo Qian yang melepaskan seluruh energi spiritualnya, membuat kecepatan regenerasinya bertambah.


Pria paruh baya itu hanya diam tak bergeming, aura kuat yang terpancar dari Mo Qian tidak berefek sama sekali padanya, karena baju tempur yang digunakannya memiliki kemampuan menahan tekanan.


Mo Qian menyentuhkan kedua telapak tangannya, kemudian memisahkannya secara perlahan, terlihat pedang petir muncul dari telapak tangan kirinya.


Mo Qian menekan kakinya di tanah, melesat tajam mengarah pada pria paruh baya yang mengenakan baju tempur. "Matilah!" Ia mengayunkan pedang petir.


Bang! Duarr!


Dentuman keras terdengar saat pedang Mo Qian berbenturan dengan telapak tangan Xander Graha, kemudian petir itu terbelah dua, melesat ke langit gelap dan meledak di sana.

__ADS_1


"Pejuang yang dikatakan sebagai Dewa, ternyata sangatlah lemah! Akan sangat mudah bagi Deus-Techno untuk menguasai dunia!"


Mo Qian menggertakkan giginya. Ia mengangkat tangan kirinya ke udara, menciptakan pedang lainnya sembari menghilangkan pedang di tangan kanan. Ia mengayunkan pedang itu, mengarah pada kepala Xander Graha.


Xander Graha masih tidak memperlihatkan perubahan ekspresi. Dengan santainya ia mengangkat tangan kanannya, dan menangkap pedang yang diayunkan Mo Qian.


Xander Graha menarik tangan kirinya ke pinggang untuk mengambil ancang-ancang, kemudian memukulkan tinjunya pada dada Mo Qian dengan kerasnya. Saat ia memukul tadi, pada bagian sikunya terdapat api yang merupakan mesin jet untuk menambah daya serangnya.


"Keuk!" Mo Qian kembali terpental jauh dengan memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.


Mo Qian melesat sangat cepat dan menciptakan sebuah jurang lebar karena gesekan antara dirinya dengan permukaan tanah, dan berhenti saat menghantam gedung tinggi.


Napas Mo Qian tersengal-sengal seperti orang yang sekarat. Meski demikian, ia masih berusaha untuk bangkit kembali, dan melindungi Daratan Huaxia. Ini adalah kali pertamanya mendapatkan lawan yang sangat kuat, bahkan saat di Pasukan Mata Setan, ia dapat membantai puluhan ribu orang seorang diri.


"Karena kau tidak ingin menyerah, maka aku harus membunuhmu di sini saat ini juga."


Xander Graha mengarahkan telapak tangannya pada Mo Qian yang berjalan sempoyongan. Dari telapak tangannya itu tercipta energi spiritual yang sangat kuat, energi yang setidaknya setara dengan setengah Jiwa Emas.


Fluktuasi energi spiritual itu menciptakan pusaran angin yang sangat kencang, dengan daya hisap yang sangat kuat, bahkan sampai mampu membuat gedung tinggi di sekitar mulai miring, dan sebagiannya mulai runtuh.


"Matilah!" Xander Graha menembakkan energi yang telah berkumpul pada satu titik.


Mo Qian yang melihat itu hanya bisa diam di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun, energi spiritualnya sudah terkuras habis, karena itulah ia tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan untuk berdiri pun kesulitan. "Sepertinya, aku akan mati. Lian'er, balaskan dendam Ayah, dan lindungi Ibu dan Adikmu." Ia menutup matanya perlahan.


Energi berwarna biru itu terus bergerak sangat cepat mengarah pada Mo Qian yang telah pasrah, namun saat hampir mengenai Mo Qian, tiba-tiba energi itu berhenti dan menghilang dengan sekejap mata.


"Berhenti."


Terdengar suara yang menggema ke seluruh penjuru Daratan Huaxia, membuat siapapun yang mendengarnya menghentikan gerakan mereka tanpa terkecuali, bahkan Xander Graha yang kekuatannya setara dengan setengah Jiwa Emas.


"Siapapun yang mengacau negaraku, harus mati!"


Gemuruh menggelegar di langit, dan dari ucapan itu juga seluruh langit di Bumi mulai berubah warna menjadi hitam seperti malam hari.


...


***

__ADS_1


__ADS_2