Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 153 : Pergi ke Kota Hanzhong


__ADS_3

Mo Lian tidak bergerak dari kursi yang berada di sebelah jendela, ia tetap menutup matanya memasuki kesadarannya untuk mencari teknik-teknik yang berada di dalam ingatan. Ia memiliki cara untuk menyimpan data hanya dari melihat sekilas saja, namun terkadang ia lupa akan data itu. Karena itulah ia harus memasuki kesadaran untuk mencari tahu, seperti saat ini.


Cukup lama ia mencari teknik yang cocok untuk aura kematian dapat diubah menjadi energi murni, sampai belasan menit berlalu, akhirnya ia mendapatkan teknik yang didapatnya saat menyerang Sekte Iblis, tapi tidak lengkap.


Teknik Budidaya Iblis itu memungkinkan dirinya menumbuhkan dua tanduk dan membuat kedua telinganya menjadi runcing, tentu saja ia tidak ingin penampilannya berubah seperti itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengubah isi dari teknik itu agar menjadi lebih baik dan sangat mudah untuk dipelajari.


Ketika ia membuka matanya perlahan, ia mendengar suara kicauan burung di halaman rumah, menandakan bahwa hari sudah mulai berganti. Selama waktu ia menutup mata, ia sudah mengubah suatu Teknik Budidaya Iblis, menjadi Teknik Budidaya Pemurnian Hitam.


Aura kematian yang berbentuk kabut ataupun uap dapat di serap ke dalam tubuh, yang kemudian dimurnikan dan disalurkan pada Dantian. Ini adalah teknik yang baru saja diciptakannya di dalam kesadaran, dengan teknik ini, maka ia bisa menambah satu metode pelatihan lagi.


Teknik Budidaya Pemurnian Hitam juga berbeda dari Teknik Budidaya Sutra Dewa. Teknik ini tidak mengharuskan seorang Kultivator mengambil posisi duduk bersila, orang yang mempraktikkan Teknik Budidaya ini bebas mengambil posisi apa, bahkan sambil berdiri. Hanya saja harus ada aura kematian, dan kekuatan jiwanya juga harus tinggi untuk dapat menahan aura itu.


Mo Lian menghembuskan napas panjang, ia mengalihkan pandangannya pada tempat tidur, dan terlihat di sana ada Mo Fefei yang masih tertidur lelap dengan posisi yang berantakan. Bantal dan guling yang jatuh dari kasur, posisi tidur yang menyilang hingga kepalanya hampir terjatuh.


"Bagaimana dia bisa tertidur seperti itu? Ini sudah lima belas tahun, dan tidak ada perubahan pada posisi tidurnya. Apa yang terjadi saat di asrama sekolah, apakah dia tidur dengan posisi seperti ini juga?"


Mo Lian menekan kedua tangannya pada sandaran lengan di kursi dan berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Mo Fefei dan menggendongnya di kedua tangan. "Padahal dia sudah punya kamar sendiri, tapi masih saja ingin tidur di sini." Ia menggeleng pelan dan berjalan menuju pintu keluar.


Saat ia baru saja membawa Mo Fefei keluar, tiba-tiba Mo Fefei menguap lebar dengan kedua tangan yang direntangkan, menghantam pipi kirinya dengan cukup keras. Dengan cepat ia menggerakkan kepalanya sembari membuka mulut, kemudian menggigit jari Mo Fefei.


"Aduh!" Mo Fefei tersentak dan terbangun dari tidurnya saat merasakan rasa sakit pada hari kanannya.


Mo Fefei menoleh menatap tajam Mo Lian. "Mengapa Kakak mengigit jariku?" Pipinya mengembung dengan air mata yang sedikit mengalir.


"Posisi tidurmu tidak beraturan, aku membawamu keluar karena kau yang meminta menemani pergi ke Kota Hanzhong. Hari inilah harusnya kita berangkat, saat aku menggendongmu, kau memukul wajahku cukup keras," ucap Mo Lian pelan yang menurunkan Mo Fefei dari kedua tangannya.


Mo Fefei memiringkan kepalanya seperti orang linglung, kemudian menguap kembali dan mengecap-ngecap bibirnya berkali-kali. Hingga belasan detik berikutnya, ia tersentak saat baru memahami apa yang dikatakan Mo Lian. "Ah! Benar! Besok ada acara reuni!"

__ADS_1


Mo Fefei berlari menuju kamarnya yang berada di seberang kamar Mo Lian.


Mo Lian menggelengkan kepalanya menatap punggung Mo Fefei untuk sesaat, kemudian berbalik memasuki kamarnya sendiri untuk membersihkan dirinya, sebelum akhirnya nanti akan berangkat.


Puluhan menit kemudian, setelah ia selesai membersihkan diri maupun mengganti pakaian serta melakukan persiapan, akhirnya ia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju lantai bawah.


"Jika dipikir-pikir, semalam adalah hari yang panjang. Aku melakukan pertarungan melawan Kepala Keluarga serta Leluhur Rosth, pergi ke Pulau Hawaii, Amerika, dan Segitiga Bermuda."


Mo Lian yang sudah sampai di lantai dasar langsung pergi ke dapur, di sana sudah ada enam orang yang duduk di meja makan.


Su Jingmei menoleh ke arah Mo Lian. "Lian'er, apakah kau juga pergi ke Kota Hanzhong?"


Mo Lian menarik kursi dan duduk di sana, kemudian menjawab, "Iya, aku harus menemani Fefei. Apakah Ibu ingin menitip sesuatu?"


"Tidak ..." Su Jingmei menggelengkan kepalanya dan kembali menyantap makanan. Detik berikutnya ia tersedak saat teringat akan sesuatu yang dirasa sangat penting. Ia mengambil gelas yang berisikan air dan meneguknya. Kemudian kembali menoleh menatap Mo Lian yang berada di sebelah kirinya. "Bisakah kau datang ke rumah Bibi Yu, berikan dia uang, kita masih memiliki hutang sebesar seribu Yuan. Ibu baru saja teringat."


Mo Lian mengangguk kecil tanpa bersuara. Seribu Yuan, adalah jumlah yang sangat banyak pada saat mereka tinggal di rumah kecil di desa yang berada di ujung Kota Hanzhong.


Kepergiannya ke Kota Hanzhong hanya diketahui oleh keluarganya saja, tidak ada lagi yang mengetahui perihal itu, dan memang sengaja tidak diberitahukan. Itu agar tidak ada yang mengikutinya ke Kota Hanzhong, terutama untuk Yun Ning yang selalu saja menggandeng lengannya.


Untuk pergi ke Bandara Shuangliu Chengdu sendiri ia memesan taxi. Tidak diantar oleh Ibunya maupun Ayahnya, ia juga belum bisa mengendarai mobil sendiri.


Mo Lian bersandar pada sandaran tempat duduk mobil, di sebelah kirinya ada Mo Fefei yang sedang sibuk bermain game. "Fefei, apakah kau ingin aku belikan sebuah mobil?" Ia asal bicara tanpa sadar.


Dengan cepat Mo Fefei menolehkan kepalanya menatap wajah Mo Lian dengan mata terbuka dan pupilnya yang melebar. "Benarkah?! Tentu saja!" Suaranya sedikit nyaring yang membuat sopir sedikit kaget.


Mo Lian sedikit menjauh dari Mo Fefei saat wajah keduanya terlalu dekat, memang ini sudah biasa, tapi tetap saja tidak baik dilihat di muka umum. "Kau terlalu dekat, tentu saja aku akan membelikannya nanti saat kita sudah tiba di Kota Hanzhong. Asalkan kau sudah memiliki surat izi—"

__ADS_1


Mo Fefei tersenyum penuh makna sembari memperlihatkan surat izin mengemudinya tepat di depan mata Mo Lian. Ia mendengus seraya menepuk dadanya sendiri, seperti menjelaskan bahwa dirinya sudah memiliki surat izin, dan Mo Lian tidak.


Mo Lian tidak bisa berkata-kata lagi saat melihat tingkah Adiknya. Akhirnya ia hanya bisa menoleh ke luar jendela dan menunggu taxi yang mereka tumpangi untuk sampai di bandara.


Puluhan menit lainnya terlewati, mereka berdua sudah sampai di Bandara Shuangliu Chengdu. Setelah ia membayar beberapa ratus Yuan untuk biaya taxi, ia dan Mo Fefei berjalan masuk ke ruang tunggu.


Mo Lian duduk bersandar dengan mata terpejam di ruang tunggu, serta kedua lengannya yang menyilang di depan dada. Saat ia berada di posisi ini, ia merasakan adanya aura kematian yang lumayan kuat di dalam ruang tunggu.


Aura kematian ini bukan berasal dari orang yang mati atau terjadinya pembunuhan di ruang tunggu, ini adalah sebagai tanda jika akan ada sesuatu yang tak terduga nantinya di dalam pesawat, atau saat sudah sampai di Kota Hanzhong.


Apakah pesawat akan kembali di bajak seperti dulu? Bukankah aku adalah orang yang cukup sial jika mengalami hal itu dua kali?


"Perhatian, para penumpang pesawat XXX dengan nomor penerbangan XC985 tujuan Kota Hanzhong dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A11."


Bersama dengan Mo Fefei, ia berdiri dari kursi panjang di ruang tunggu, menuju pintu A11 sesuai dengan pengumuman yang disebutkan.


Baru saja Mo Lian berdiri, tiba-tiba ia terhenti dengan posisi seperti orang tua yang bungkuk, dan kemudian kembali bergerak setelah beberapa detik dalam posisi diam.


Tadi ia merasakan aura seorang Kultivator yang cukup kuat untuk ukuran Kota Chengdu, jika Sekte Dongfangzhi dikecualikan. Kekuatan orang itu setingkat Fase Lautan Ilahi tahap Awal, tahap Awal yang sangat dasar karena baru naik tingkat.


Mo Lian berjalan menuju pintu A11, dan di depannya yang berjarak lima meter darinya, ia melihat seorang pria tua yang mengenakan pakaian serba hitam, berkacamata hitam dengan potongan rambut putih yang rapi. Dari pria tua itu, samar-samar ia melihat aura hitam yang terpancar.


Aliran energi pada pria tua itu juga sangat aneh, dan saat dilihat lebih teliti, ia bisa merasakan ada energi lain di dalam Dantian pria tua itu.


Orang ini, bermaksud meledakkan pesawat?"


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2