Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 273 : Menyelinap


__ADS_3

Walaupun Mo Lian pergi dengan cara menghilang, tapi ia muncul dengan cara melangkah turun melalui tangga kayu ke lantai dasar. "Ada apa, Fefei?"


Terlihat di lantai dasar Mo Fefei berdiri dengan berkacak pinggang, dan ada kelompok pria yang salah satunya tergeletak seperti baru terkena tendangan dari Mo Fefei.


"Kakak?" Mo Fefei menoleh ke arah sumber suara. "Dia menepuk pundak Fefei dan memaksa untuk pergi bersamanya." Ia menunjuk pemuda berambut cokelat yang diikat dengan hiasan hanfu dan mengenakan pakaian berwarna ungu.


"Oh?" Mo Lian berjalan menuruni tangga kayu dengan santainya, dan memperlihatkan senyum indah, namun aura membunuh yang kuat bisa dirasakan menyebar di atmosfer.


Pemuda yang baru saja ditendang Mo Fefei itu kembali bangkit seraya menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor. "Apa yang ingin kau lakukan?! Apakah kau tidak tahu kalau aku berasal dari Sekte Macan Hitam!"


Semua orang tertegun saat mendengarnya termasuk Mo Lian yang menghentikan langkah kakinya. Semua pengunjung mengalihkan perhatian pada Mo Fefei dan menatapnya, serta Mo Lian yang sudah mereka anggap mati.


"Kenapa kau diam? Apakah kau takut—"


"Apakah kalian juga dari Sekte Macan Hitam?" Mo Lian menatap tajam kelompok pemuda di depannya, dengan kilauan cahaya yang terlihat di sudut matanya.


"Bukan, tapi dari Paviliun Naga Merah." Salah seorang menjawabnya, dan yang lain juga memberikan identitas mereka.


Mo Lian tersenyum ringan dengan menganggukkan kepalanya, kemudian berbalik menghampiri Mo Fefei yang melanjutkan menyantap parfait. "Kembalilah, atau kalian akan mati."


Pemuda berpakaian ungu itu nampak sangat kesal ketika mendengar ucapan Mo Lian, ini benar-benar suatu penghinaan terhadapnya yang merupakan Genius No.9 di Sekte Macan Hitam. Ia melesat bagaikan anak parah ke arah Mo Lian. "Mati kau!"


Bang!


Tiba-tiba ada pusaran cahaya berwarna hitam yang muncul di belakang pemuda itu, dan ada tangan bayangan hitam yang menariknya untuk masuk. Begitu pun dengan tujuh pemuda lain yang juga terhisap masuk oleh pusaran cahaya hitam.


Kejadian ini benar-benar sangat mengejutkan semua orang karena terjadi secara tiba-tiba, yang mereka lihat bukanlah pusaran cahaya hitam, melainkan kilatan hitam dan membuat mereka menghilang.


Mo Lian menoleh ke kiri dengan mata terbuka lebar. "Di mana mereka?"


Semua orang menggelengkan kepala bersamaan, kemudian salah seorang berteriak. "Mengapa kau tidak menghilang? Apakah kau yang melakukannya?"


Mo Lian mengerutkan keningnya berpura-pura tidak tahu apa yang dikatakan oleh pria paruh baya dengan kekuatan hanya sebatas Alam dan Manusia tahap Awal. "Energi ku hangat dan berwarna biru." Ia melepaskan energi spiritualnya dan memperlihatkan telapak tangannya.


Melihat itu, tidak ada lagi yang mencurigai bahwa Mo Lian adalah pelakunya, dan mereka kembali melanjutkan menyantap makanan mereka di atas meja yang tertunda karena keributan.

__ADS_1


Mo Lian kembali duduk seraya menjentikkan jarinya perlahan tanpa menimbulkan suara sama sekali. Namun samar-samar terdengar suara ledakan yang berasal dari balik gunung di arah barat kota, yang merupakan ledakan dari kelompok pemuda yang ia bunuh.


Mo Fefei menoleh ke kanan saat mendengar suara ledakan yang kencang, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Mo Lian. "Kakak, apakah itu?"


Mo Lian mengangguk kecil seraya terus memakan parfait pesanan Mo Fefei. "Iya."


"Mengapa kau bisa memukulkannya? Apakah kau tidak mengatakan kau berasal dari Sekte Zhongjian?"


"Tidak." Mo Fefei menggelengkan kepalanya. "Terlalu lama, lebih baik memukulnya langsung." Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


"Uuhh..." Mo Lian sedikit memiringkan kepalanya ke kiri karena terkena pukulan tangan Mo Fefei di wajahnya.


Bukannya menarik tangannya kembali, Mo Fefei terus menekan tangan kirinya pada wajah Mo Lian, karena merasa tidak bisa melakukannya terlalu sering, sehingga jika ada kesempatan, ia ingin terlihat seperti memukul wajah Kakaknya.


Mo Lian juga membiarkannya saja, biarkan sampai Mo Fefei lelah dengan sendirinya.


Benar saja, baru belasan detik saja Mo Fefei sudah merasa pegal-pegal dan mulai kembali menyantap parfait yang mencair.


Mo Lian juga melanjutkan menyantapnya, dan sesekali menoleh ke kanan melihat Mo Fefei. Kerutan di dahinya terlihat saat melihat bagaimana cara Adiknya yang berantakan, banyak krim yang menempel di pipi Mo Fefei.


"Ibu mengatakan kau selalu makan perlahan-lahan, orang-orang juga bilang kau adalah Dewi Alkemis yang sangat anggun. Kau selalu memerhatikan bagaimana cara makan, selalu menjunjung tinggi tata cara yang baik, tidak pernah berantakan ..."


Mo Lian menyimpan kembali sapu tangannya. "Lalu, mengapa sekarang terlihat seperti anak kecil?"


"Ehem." Mo Fefei berdehem dan membenarkan posisi duduknya yang tegak. Raut wajahnya mulai terlihat dingin, namun cantik seperti Dewi. Gerakan tangannya yang memegang sumpit untuk mengambil daging terlihat lemah lembut namun tegas, kemudian menyuapkannya perlahan dan mengunyahnya tanpa bersuara.


Mo Fefei menelannya setelah mengunyahnya cukup lembut, kemudian menoleh ke kiri menatap Mo Lian. "Apakah seperti ini, Kakak Sayang?"


Mo Lian terpana melihat perubahan Mo Fefei yang cukup berbeda, kemudian menganggukkan kepalanya. "Kau can ... tik ..."


Baru mau memuji kepandaian Adiknya, Mo Fefei sudah kembali lagi bersikap seperti anak kecil yang manja.


"Fefei ingin dimanja Kakak, jadi bersikap seperti ini jika bersama Kakak."


Mo Lian tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian mengembuskan napas dan tersenyum ringan. "Baiklah, Fefei akan selalu menjadi Adik Kecilku." Ia merangkul pundak Mo Fefei dan mencubit pipinya.

__ADS_1


Mo Fefei tersenyum cerah saat mendengarnya, memperlihatkan ekspresi yang sangat bahagia dan menyenangkan untuk dipandang.


***


Ruang VIP, Lantai 9, Paviliun Xangzao


Kelompok enam orang itu sudah kembali ke ruangan mereka untuk mengistirahatkan tubuh karena terbang sepanjang malam, semuanya memasuki kamar masing-masing di Ruang VIP, kecuali Mo Lian yang masih terjaga dan memilih untuk tidak tidur.


Masih ada yang harus Mo Lian lakukan dan ia menunggu tengah malam yang hanya perlu menunggu belasan menit lagi. Ia ingin mendapatkan Lumut Kayu 10.000 tahun di Kediaman Wali Kota.


Mo Lian berdiri dari tempatnya setelah dirasa sudah memasuki waktu yang tepat. Ia menghilang dari tempatnya duduk dan berpindah langsung ke atap bangunan di Kediaman Wali Kota.


Penjagaan di sini benar-benar padat, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari keberadaannya di sini. Ia bisa bergerak dengan bebas, dan semua tempat adalah tempat persembunyiannya. Entah api, udara, daun, kayu, tanah, cahaya dan bayangan, ia bisa bersembunyi di sana.


"Ngomong-ngomong, tidak ada yang mencurigai bahwa akulah yang membunuh anggota Sekte Macan Putih, Paviliun Naga Merah dan yang lain."


Walaupun tidak ada yang mencurigai, tapi Sekte Macam Putih mengirim lebih banyak anggotanya untuk datang ke Kota Hans, menghadiri acara perburuan harta. Ini adalah kesempatan baginya untuk membunuh mereka semua di dalam hutan, karena di dalam sana tidak ada aturan, semuanya bebas untuk membunuh satu sama lain.


Mo Lian kembali menghilang di kegelapan dan pergi ke pusat kediaman, kali ini ia tidak mengosongkan ruang harta, karena ia tidak memiliki masalah dengan Wali Kota. Ia hanya ingin mengambil lumut, kemudian pergi.


Mo Lian melompat dari satu pohon ke pohon lain, atau ke bangunan lain untuk sampai ke pusat kediaman. Hingga tak lama, ia melihat rumah yang ditempati oleh Wali Kota, dan merasakan aura yang dirasa ada adalah Lumut Kayu 10.000 tahun.


Ia bergabung dengan tanah untuk bisa pergi ke bawah lantai bangunan yang berbentuk panggung. Dari bawah tanah ia bisa melihatnya dengan jelas, lumut yang menempel di bawah lantai memancarkan sinarnya yang terang, berwarna hijau muda keemasan.


Lumut itu memiliki ukuran satu meter persegi, dengan sebanyak ini ia bisa membuat dua sampai tiga Pedang Kehidupan.


Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian mengambilnya dan menyimpannya di dalam botol giok yang memang sudah disiapkan untuk hal-hal semacam ini.


Setelah semuanya selesai, Mo Lian kembali memasuki tanah untuk pergi meninggalkan Kediaman Wali Kota. Kemudian menunggu hari di mana Dimensi Ruang dibuka dengan sendirinya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2