
Mo Lian menggunakan kekuatan jiwanya untuk membawa Lu Xian Zhi melayang dari lantai dan mengikutinya dari belakang menuju jalan keluar. Baru melangkah untuk beberapa langkah, ia berhenti dan menatap Murong Di yang terduduk di tangga dengan tatapan takut. Ia mengibaskan tangannya, mengeluarkan Tael Emas dengan jumlah yang lumayan. "Gunakan ini untuk mengganti kerusakan pada Hua Canting."
Setelah memberikan sepuluh Tael Emas, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju jalan keluar, menunggu kedatangan helikopter yang dikirimkan oleh Ayahnya yang berada di Kota Chengdu.
Ketika Mo Lian keluar dari bangunan, suasana mulai kembali tenang, semua orang dapat bernapas dengan lega, namun masih ada ketakutan di wajah semua orang.
Murong Di yang duduk di tangga mulai bergerak dan berdiri secara perlahan. Kedua kakinya bergetar dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Ia melangkah perlahan seraya berpegangan pada pagar tangga untuk menumpu tubuhnya. "Benar apa yang dikatakan kakek, di dunia ini ada orang-orang khusus yang memiliki kekuatan. Aku kira itu hanya omong kosong saja ..."
Sementara itu. Mo Lian dan Mo Fefei duduk bersantai di kap mobil untuk menunggu kedatangan helikopter, dan untuk ketiga orang yang dibawanya, ia menggunakan teknik untuk menyamarkan keberadaan mereka bertiga agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Mo Lian yakin jika di lantai teratas, lantai di mana ia mematahkan tulang puluhan orang, ada yang melaporkan pada kepolisian tentang kejadian ini. Tentunya itu sangat merepotkan jika harus berurusan dengan mereka, dan benar saja, ia melihat puluhan mobil polisi yang sedang menuju ke Hua Canting.
Puluhan mobil polisi itu berhenti di halaman depan, dan saah satu dari mereka berhenti tepat tepat di depan mobilnya. Ketika pintu mobil terbuka, terlihat wanita muda berambut hitam panjang, kulit halus bagaikan sutra, wajah datar dengan tatapan tajam.
Mo Lian mengerutkan keningnya saat melihat wanita itu, dan tanpa sadar suara keluar dari mulutnya, "Hu Lan Yue?"
Wanita muda itu menolehkan kepalanya dengan cepat saat ada yang memanggil namanya. "Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?!"
"Benar yang dikatakan Ong Hei Yun, sikapmu yang kasar tidak pernah berubah." Mo Lian turun dari kap mobil, ia berjalan menghampiri Hu Lan Yue. "Kita pernah bertarung bersama, dan Pria Tua itu yang memimpin tim kalian, dan sayang sekali dia kalah ..."
Hu Lan Yue mengerutkan keningnya sembari menatap tajam Mo Lian. "Apakah kau Mo Lian? Dan untuk Ketua Tim, memang namanya memiliki arti 'Pria Tua', tapi bisakah kau memanggilnya Lao Tzu biasa."
Mo Lian tersenyum tipis dan mundur perlahan, kemudian kembali duduk di kap mobil. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Seharusnya aku yang menanyakan itu. Apa yang kau lakukan di sini? Aku mendapatkan laporan jika ada orang gila yang mengamuk di Hua Canting, melukai puluhan orang dan menghancurkan bangunan!" ucap Hu Lan Yue yang sedikit berteriak.
__ADS_1
Mo Lian hanya diam dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat, ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu, karena sebentar lagi juga akan diketahui.
Hu Lan Yue menghampiri Mo Lian. Ia sedikit membungkukkan badannya dengan tatapan mata tertuju pada Mo Lian, ia mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Mo Lian. Namun saat hampir menyentuh, tiba-tiba angin bertiup kencang dengan suara baling-baling yang cukup keras.
Ketiganya menengadahkan kepala melihat ke atas, terlihat helikopter yang terbang rendah dan mencoba untuk mendarat, namun tidak bisa karena halaman penuh dengan mobil polisi yang tak tertata.
Dengan kekuatan jiwanya, Mo Lian mengangkat tangannya mengarah pada puluhan mobil polisi, dan memindahkan semua mobil pada bagian jalan masuk maupun keluar Hua Canting.
Mo Lian kembali mengalihkan pandangannya pada helikopter. "Apakah kalian dikirim oleh Ayahku? Mo Qian?" Suaranya yang pelan dapat di dengar oleh orang yang berada di dalam helikopter.
Helikopter mulai turun perlahan dan mendarat di lahan kosong yang sudah dibersihkan Mo Lian sebelumnya, dan saat baling-baling sudah berhenti berputar, pintu helikopter terbuka, memperlihatkan pemuda yang berseragam tentara, lengkap dengan senjatanya.
Pemuda itu berjalan menghampiri Mo Lian, namun ternyata hanya melewatinya saja dan berhenti di depan Mo Fefei. "Lapor! Aku diperintahkan oleh Senior Mo untuk menjemput Anda!" Ia memberi hormat militer.
Mo Lian yang dilewati hanya bisa terdiam, dan kemudian tertawa kecil. Orang yang melewatinya tadi adalah orang yang sama, yang mengantarnya dari Pegunungan Himalaya ke Kota Chengdu, hanya saja pada saat itu penampilannya tidak seperti ini.
Pemuda yang mengabaikan Mo Lian sebelumnya tersentak. Ia melewati seseorang yang sangat penting, yang bahkan Tetua Pasukan Mata Setan saja sampai tidak berani menatap mata Mo Lian, dan sekarang ia melakukan kesalahan yang baginya cukup fatal.
Mo Fefei melompat dari kap mobil dan berlari-lari kecil menuju helikopter.
Mo Lian menyentuh pundak pemuda yang mengabaikannya tadi. "Tidak perlu khawatir, kau bisa santai saja. Sekarang, pergilah duluan ke helikopter."
"Ba- Baik." Pemuda itu membungkukkan badannya, kemudian berbalik menuju helikopter.
Hu Lan Yue menaikkan sebelah alisnya. Ia memang mendengar dari Ong Hei Yun jika Mo Lian yang pernah dilawannya dulu sangat berubah, dari seorang pelajar biasa menjadi Pejuang yang sangat dihormati, bahkan Pasukan Taring Naga juga memintanya untuk mengajar, namun ditolak mentah-mentah.
__ADS_1
"Apakah kau orang yang membuat kekacauan di Hua Canting? Jika iya, mengapa kau melakukannya?" Hu Lan Yue memberanikan dirinya untuk bertanya, meski itu bisa membunuhnya.
Mo Lian menyentuh kap mobil, dan menyimpan mobil itu ke dalam Cincin Ruang. "Keluarga Lu, Lu Fan Gang, menaruh obat berbahaya ke dalam minuman, dan membiarkan kami semua meminumnya. Ketika para wanita tidak sadarkan diri, dia memanggil puluhan pria brengs** untuk menjual semua wanita ..."
"Untungnya aku bisa mencegahnya, dan mematahkan semua tulang mereka. Lalu Keluarga Lu datang, mereka menembakkan senjata api di dalam Hua Canting ..."
Mo Lian menjentikkan jarinya, menghilangkan penyamaran yang menutupi ketiga orang yang dibawanya tadi. "Karena itu, aku harus membawa mereka bertiga ke Kota Chengdu, itu adalah perintah dari Ayahku."
Hu Lan Yu terdiam dengan mata terbuka lebar, serta mulut yang terbuka namun ditutupi dengan kedua tangannya. Ia tidak bisa lagi berkata-kata, ketiga orang yang tidak sadarkan diri di depannya terluka sangat parah, dan seperti lebih memilih untuk mati ketimbang harus hidup dalam penyiksaan.
Mo Lian membawa ketiga orang itu berjalan melewati Hu Lan Yu, kemudian ia menghentikan langkah kakinya. "Jika kau ikut campur dan melawan, aku akan melupakan fakta tentang kau adalah teman baik Ong Hei Yun, dan aku akan membunuhmu saat itu juga tanpa meninggalkan jejak sama sekali," ucapnya sembari melepaskan aura membunuhnya, kemudian kembali berjalan.
Tubuh Hu Lan Yue bergetar ketakutan, aura yang dirasakannya sangat mencekam, seperti ada malaikat maut yang sedang meletakkan sabit dingin nan tajam di lehernya. Yang dirasakannya tadi bukanlah ancaman biasa, melainkan niat yang benar-benar akan terlaksana jika ia ikut campur, meski hanya sedikit saja.
Ketika Mo Lian tidak lagi berada di dekatnya, Hu Lan Yue yang tubuhnya lemas itu terduduk di jalanan dengan kedua tangan yang menyentuh jalan tanpa bisa bergerak. Tak lama kemudian, ia menyilangkan lengannya, memeluk erat dirinya sendiri. "Ta- Tadi itu, bukan ancaman ... aku merasa ... bisa ma- mati saat ... itu juga ..." ucapnya perlahan dengan suara bergetar.
Hu Lan Yue mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Ak- Aku harus ... kembali ke Kota Chengdu. A- Aku ingin, menemui Hei Yun ..."
Kembali lagi pada Mo Lian, ia yang sudah berada di dalam helikopter hanya diam dan memandang keluar. *Setelah kembali ke Kota Chengdu untuk mengantarkan ketiga orang ini, aku akan berkeliling dunia untuk mencari barang-barang berharga.
Dan sepertinya, aku akan membawa Qin Nian. Itupun jika dia tidak keberatan*.
Mo Lian menolehkan kepalanya ke kanan menatap Mo Fefei, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Ia ingin mengajak Mo Fefei, namun diurungkannya karena adiknya harus bersekolah.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...