Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 241 : Menembus Ranah Jiwa Emas?


__ADS_3

Mo Lian sudah kembali ke Kota Sheng dan memutuskan untuk bersembunyi beberapa saat, sebelum akhirnya berjalan ke jalanan setelah semua orang yang berlutut kembali berdiri dan melanjutkan pekerjaan mereka yang terhenti paksa


Mo Lian pergi ke suatu penginapan yang nampak biasa-biasa saja, tidak seperti bangunan lain yang megah seperti kota-kota di Bumi.


"Penginapan Beruang Ikan," ucap Mo Lian mendongak menatap papan nama penginapan. "Nama yang sesuai dengan lambang beruang menangkap ikan." Ia melangkah masuk ke dalam penginapan berlantai sembilan.


Mo Lian berjalan menghampiri wanita muda yang berdiri di belakang meja resepsionis. "Aku ingin menginap dua hari."


Wanita berambut merah muda, bibir merah merona, wajah halus dengan mengenakan pakaian yang selaras dan selendang putih itu menganggukkan kepalanya. "Empat Batu Spiritual kualitas Rendah."


Mo Lian mengeluarkan Batu Spiritual dengan jumlah yang sesuai dan meletakkannya di atas meja.


"Apakah Anda ingin makan malamnya disajikan sekarang?"


Mo Lian mengangguk kecil sebagai jawaban, dan berjalan menuju meja bundar yang kosong, yang berada di sudut ruangan seluas 100 meter persegi.


Aku sudah membunuh pendukung di balik Organisasi Angin Hitam, seharusnya Kekaisaran Yang telah mendapatkan kabar ini. Entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, apakah mereka tetap diam atau bergerak.


Jika mereka datang kemari, maka aku hanya perlu menunggu dan membunuh mereka semua.


Mo Lian akan membunuh siapa pun yang berasal dari Kekaisaran Yang, tidak peduli apakah muda dan tua. Jika ia membiarkan satu saja yang selamat, meski anak kecil berusia lima tahun, maka anak itu akan berubah menjadi monster di masa depan.


Mengkultivasikan Kultivasi Iblis dengan niat membalas dendam dan hati gelap, tentunya kekuatannya tidak bisa dianggap remeh. Sebelum menambah pekerjaan yang tidak perlu, akan lebih baik menghilangkan sampai ke akar-akarnya.


"Tuan, makanan Anda."


Mo Lian tersadar dari lamunannya setelah daging panggang telah berada di atas meja, dengan semangkuk nasi dan satu botol arak.


Puluhan menit kemudian, Mo Lian telah menghabiskan makanannya dan memutuskan untuk naik ke lantai empat. Ia berencana untuk meningkatkan kekuatannya lagi, sebelum menembus Ranah Jiwa Emas.


Mo Lian duduk bersila di atas tempat tidur yang empuk, dan menenangkan pernapasannya sebelum berkultivasi.


"Aku masih memiliki satu Teknik Budidaya Utama yang bisa dipraktikkan. Aku akan menggunakan Teknik Budidaya Lima Element."


Teknik Budidaya 5 Element memungkinkannya untuk menambah elemen lain selain elemen yang telah ia kuasai saat ini. Tapi dengan Tubuh 5 Element, Tubuh Emas dan Teknik Budidaya 5 Element, tentunya pelatihan yang ia jalani akan sangat berat.


Tapi demi menggapai kekuatan besar untuk melindungi keluarganya, ia akan melakukannya.


Teknik Budidaya 5 Element sendiri adalah teknik yang ia dapatkan di tempat terlarang yang tidak jauh dari Bintang Utama. Tidak ada yang pernah memasukinya, bahkan Hong Xi Ning saja tidak pernah menginjakkan kakinya ke sana.

__ADS_1


Saat di kehidupan sebelumnya, Mo Lian tidak mempraktikkan Teknik Budidaya 5 Element karena memang tidak mampu lagi. Saat itu ia sudah mempraktikkan Teknik Budidaya lain yang sangat lemah dari Tiga Teknik Budidaya yang ia gunakan sekarang.


"Teknik Budidaya Lima Element. Aktif." Mo Lian menutup matanya perahan.


Energi spiritual dari segala tempat mulai berkumpul di Penginapan Beruang Ikan, dan samar-samar terlihat lima cahaya berbeda warna. Cahaya-cahaya itu melambangkan lima elemen berbeda.


Kegelapan, Es, Petir, Angin dan Ruang dan Waktu.


Kegelapan di sini bukanlah kegelapan yang dimiliki oleh Kultivator Iblis, melainkan serangan-serangan dasar seperti elemen lain, meski memiliki dampak yang berbeda.


***


Keesokan Harinya


Mo Lian membuka matanya perlahan. Meski hanya sebentar, ia sudah merasa cukup untuk menembus Jiwa Emas. Bagaimanapun, ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, energi spiritualnya sudah benar-benar diambang batas yang bisa ia tahan.


"Karena menambahkan Teknik Budidaya baru, aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi," ucap Mo Lian yang melihat telapak tangannya. Ia beranjak turun dari tempat tidur, dan berjalan menuju pintu keluar. "Aku akan pergi sejauh mungkin, agar dampaknya tidak mengenai kota."


Mo Lian melangkah menuruni tangga kayu menuju lantai dasar. Ketika sudah sampai di lantai dasar, ia mendengar pembicaraan yang menurutnya patut untuk didengarkan.


"Apakah kalian tahu, Sekte Qingzhaou ternyata adalah Sekte Iblis, dan kemarin sudah dihancurkan oleh pemuda yang sangat kuat."


"Ada yang mengatakan jika pemuda ini merupakan Penatua dari Sekte Zhongjian, sekte terkuat di Alam Semesta. Kekuatannya berada ditingkat Heavenly Immortal tahap Akhir."


Tidak ada yang berani menyangkal ataupun tidak mempercayai berita itu, karena mereka sendiri sudah merasakan tekanan yang mengerikan, yang membuat siapa pun bersujud.


Mo Lian langsung berjalan menuju pintu keluar tanpa menyantap sarapan.


Mo Lian yang sudah berada di luar penginapan itu menengadahkan kepalanya melihat langit biru. "Setelah membunuh semua Kultivator Iblis di Bintang Tianjin, aku akan melanjutkan perjalanan menuju Galaxy Pusat ..."


"Aku tidak tahu bagaimana keadaan Fefei kecil, apakah dia sudah berada di Ranah Inti Emas, atau bahkan Alam dan Manusia. Dengan bakat dan tubuhnya, seharusnya tidak sulit untuk menembus Jiwa Emas."


Mo Lian menunduk dan berjalan menuju gerbang di bagian selatan. Meski ia ingin menembus Ranah Jiwa Emas, ia tidak ingin terburu-buru karena saat ini masih memikirkan tempat yang cocok. Menembus di Sekte Qingzhaou? Tentunya di sana banyak orang yang datang untuk melihat bagaimana tempat pertarungan.


***


Menara 100 Lantai


Shen Jia Mee yang berada di lantai teratas melihat Mo Lian yang berjalan menuju gerbang selatan. Ia sangat ingin datang menemuinya untuk berterimakasih, namun ia tidak berani dan sangat ketakutan saat mengingat kejadian kemarin.

__ADS_1


Identitasnya sebagai Putri Keluarga Shen yang merupakan Penguasa Kota Sheng tidak ada harganya di hadapan Mo Lian yang merupakan Penatua dari Sekte Zhongjian.


Kecantikan wajahnya yang merupakan teratas di Kota Sheng juga tidak akan bisa menarik perhatian Mo Lian.


"Nona Muda, jika Anda ingin berterimakasih, bukankah lebih baik mendatanginya?"


Shen Jia Mee menghembuskan napas panjang. Dalam kejadian di Sekte Qingzhaou, kakek tua yang berada di belakangnya tidak turut hadir dalam pertarungan di sana, tentunya tidak mengetahui apa yang terjadi.


"Tidak perlu, aku di matanya bagaikan semut. Tidak! Bahkan semut lebih berharga lagi, semua penghuni di Bintang Tianjin sangat lemah. Bahkan jika kita hanya menatap matanya, nyawa kita sudah berada di ujung tanduk."


Kakek tua itu hanya diam tak mengerti, dan merasa heran dengan sikap Shen Jia Mee saat ini. Ia memang merasa jika Mo Lian kuat, tapi menurutnya itu terlalu berlebihan untuk mengatakan semua penghuni Bintang Tianjin tidak berarti.


"Nona Muda, apakah Hamba perlu membawanya kemari?" Kakek tua itu menangkupkan kedua tangannya mengarah pada punggung Shen Jia Mee.


Shen Jia Mee terperanjat saat mendengarnya, dan berbalik menatap tajam wajah kakek tua itu sembari berteriak, "Jangan! Jika kau membawanya, Keluarga Shen akan menghilang dari Bintang Tianjin! Tidak! Mungkin Kota Sheng itu sendiri!" Ia benar-benar sangat marah dan ingin sekali memukul kakek tua itu jika tidak mengingat masa kecilnya.


Kakek tua itu tersentak dan diam untuk beberapa saat. Keringat dingin mengalir di wajahnya karena mendapatkan teriakan dari Shen Jia Mee yang tidak pernah ia dapatkan. Ini adalah kali pertamanya melihat Shen Jia Mee sangat marah, terlebih lagi padanya. "Ba- Baik, Hamba mengerti."


Shen Jia Mee memalingkan wajahnya dan melihat keluar melalui dinding kaca nan tebal. "Dia, sudah pergi ..."


***


10.000 Mil ke Arah Selatan dari Kota Sheng


Mo Lian sudah berada di hamparan rumput sejauh mata memandang ke arah selatan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia mau pun monster di sini, benar-benar sangat tenang, dan tempat yang cocok untuk menarik Kesengsaraan Petir.


"Ini adalah tempat cocok. Tapi ..." Mo Lian duduk perahan di hamparan rumput, dan merebahkan tubuhnya dengan kedua lengannya menyilang di belakang kepala sebagai bantalan. "Aku akan beristirahat sejenak, sampai Kesengsaraan Petir itu muncul sendiri."


"Dulu, saat aku tidak memiliki siapa pun, aku berlatih keras untuk dapat naik ke Alam Selestial. Namun setelah terlahir kembali, yang ku inginkan hanyalah ketenangan bersama keluarga."


"Tapi, aku tahu hal itu tidak dapat diwujudkan dengan mudah. Bagaimanapun, Kultivator tidak pernah bisa hidup tenang, akan selalu ada masalah. Jika kau menjadi manusia terkuat, barulah kau bisa hidup dengan tenang."


Mo Lian mengangkat tangan kanannya seperti hendak menggapai langit. "Aku akan mengubah niatku, bukan hanya menjadi Dewa Semesta, tapi juga menjadi Dewa Tiga Alam!"


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2