
Mo Lian membekukan lahar panas yang keluar dari Alam Hanzi dan mencoba menyebar, tapi dia menahannya agar tidak berdampak buruk yang mungkin bisa membuka dimensi lain dan terhubung ke Alam Selestial. Dengan kekuatannya yang sekarang, dia masih belum mampu melawannya.
Bahkan melawan Leluhur Dewa Agung yang sepantaran dengannya saja sedikit kewalahan, apalagi Alam Selestial yang tidak ditekan.
Mo Lian bergegas memasuki Alam Hanzi setelah dia memastikan semuanya aman, tapi dia tidak masuk dengan sendirinya ke sana, mainkan mengirimkan inkarnasi. Inkarnasi berbeda dengan klon, klon hanya membawa sedikit kekuatan dan tidak berdampak pada tubuh utama (Setidaknya setelah dia keluar dari Dunia Rahasia), dia terus mengembangkan kekuatan dan tidak ingin hal semacam itu terulang kembali, di mana klon bisa mempengaruhi tubuh utama. Itu adalah kerugian apabila tubuh utama dan klon bertarung di tempat yang berbeda, tapi saling berbagi luka.
Namun, dia merasa ada beberapa tempat yang mengabaikan klon, seperti Dimensi di Dunia Rahasia dari Bintang Xiang. Mo Lian menduga Dunia Rahasia di sana langsung menarik Kesadaran Ilahi-nya dari tubuh utama untuk mengikuti ujian, sehingga menggunakan klon tidak terlalu berbeda dengan tubuh utama.
Inkarnasi tidak sekuat tubuh utama, tapi lebih kuat dari klon, namun apabila inkarnasi terluka sampai batas tertentu, tubuh utama akan menanggungnya.
Inkarnasi melompat turun memasuki dimensi, yang kemudian tertutup.
Pada aturan umum, “Inkarnasi” mampu mengembangkan Kesadaran Spiritual-nya sendiri dan memiliki tindakan yang berbeda dengan tubuh utama, bahkan bisa membunuh tubuh utama untuk mengambil alih.
Namun Mo Lian belajar banyak dari kesalahan banyak orang, dan tidak menggunakan Inkarnasi seperti orang lain, dia menanamkan kesadarannya, penggunaannya sama seperti klon yang harus mengendalikannya dari jarak jauh atau memecah Kesadaran Spiritual.
Jadi jika ditanya apakah Inkarnasi orang lain dan miliknya sama, maka jawabannya berbeda. Sulit untuk dijelaskan, disebut “Inkarnasi” tapi seperti “Klon”, dan disebut “Klon” tapi seperti “Inkarnasi”.
Singkatnya, “Inkarnasi” milik Mo Lian adalah “Klon” Versi 2.0!
Ini bukan karena Mo Lian tidak bisa menjelaskan perbedaannya atau apa, tapi karena memang lebih mudah menyebutnya dengan Klon Versi 2.0!
...***...
—???Alam Hanzi???—
Inkarnasi yang dikirim sudah datang ke tempat yang sepertinya adalah Alam Hanzi, dia memandangi sekitarnya dan memastikannya sekali lagi bahwa ini memang tempat dengan aura yang serupa seperti Alam Hanzi, tapi dengan aura yang lebih kuat.
Whooooosh!
Gunung runcing datang menyambutnya yang baru datang.
Mo Lian mendorong telapak tangannya ke bawah seperti memukul meja. Tangan biru besar seperti Dewa Semesta jatuh bagikan hujan karena jumlahnya yang banyak, itu memborbardir gunung sampai menghancurkannya menjadi abu.
Serangan itu tidak berhenti meski sudah menghancurkan gunung runcing yang dilempar. Tangan itu terus turun, menimbulkan suara lolongan angin yang menyebar karena tekanannya.
Mo Lian bisa melihat ada pelindung hitam pekat dengan duri-duri tajam di permukaannya. Dia tahu bahwa itu adalah penghalang yang diciptakan Leluhur Dewa Agung, dan dia juga tahu serangan tadi juga dilakukan oleh orang yang sama.
Dia berubah dengan memanfaatkan kekuatan Dewa Semesta, ini benar-benar menggunakan tubuhnya, bukan mengubah energi spiritual.
Mo Lian mengangkat kedua tangannya. Sembilan Niat Pedang yang telah berubah menjadi Satu Kesatuan Niat Pedang berkumpul di kedua tangannya, menyatu dengan Sembilan Energi Dewa yang membentuk pedang biru.
"Mati!" Mo Lian mengayunkan kedua tangannya secara vertikal ke bawah saat menggenggam pedang yang terbentuk dari Sembilan Energi Dewa.
Tebasan ini membawa aura penindasan yang tak terbayangkan, dan ini semua karena Mo Lian tidak lagi menahan diri di setiap serangan. Sebelumnya, dia harus memperhatikan kehidupan di sana dan itu menyulitkannya.
__ADS_1
Deru angin terdengar seperti lolongan serigala, uap panas mulai menyebar karena terkena tebasan. Getaran hebat yang menghancurkan bumi membuat lahar mulai bergolak liar sampai meledak-ledak dan menembakkannya ke langit merah.
Suara derak logam terdengar dari penghalang yang diciptakan Leluhur Dewa Agung saat retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaannya.
Bang!
Tebasan pedang itu menghantam penghalang yang diciptakan, membuatnya langsung hancur tanpa perlawanan.
Udara bertekanan tinggi jatuh ketika tebasan pedang itu menghancurkan penghalang. Tekanan yang sangat kuat mengakibatkan bencana yang lebih parah, gunung berapi meledak, memuntahkan magma panas yang tersimpan di kedalaman bumi.
Lahar panas yang berada di bawah penghalang hitam, menyebar seolah lautan yang terbelah, mengungkapkan bebatuan kering di dalamnya.
"Uhuk!" Leluhur Dewa Agung batuk beberapa kali dan bangkit dari dalam puing-puing. Dia terluka sangat parah, tapi tidak sampai membuat nyawanya terancam.
Leluhur Dewa Agung melayang perlahan meninggalkan puing-puing batu di dalam lubang. Tapi baru saja naik beberapa meter, dia merasakan tekanan kuat lagi, seolah-olah gravitasi meningkat sampai membuatnya tidak bisa bergerak.
Mo Lian menampar Leluhur Dewa Agung dengan kekuatan penuhnya, membuat Leluhur Dewa Agung menghantam tanah dengan kerasnya.
Gelombang udara yang menyebar, menghempaskan semua hal yang berada di sekitar. Tidak ada lagi gunung api, sungai lava maupun lahar panas yang mengalir, semuanya benar-benar tersapu.
Mo Lian mengangkat tangannya perlahan, melihat Leluhur Dewa Agung yang bersimbah darah di dalam lubang. Dia tidak berharap Leluhur Dewa Agung akan sangat keras, sudah diserang dengan kekuatan seperti ini, tapi masih belum mati-mati.
Leluhur Dewa Agung bangkit perlahan. Dia menatap Mo Lian dengan tatapan menghina. "Kau tidak bisa membunuhku, aku adalah Dewa Agung! Aku yang terkuat, tidak ada yang bisa membunuhku!"
Mo Lian hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun, kemudian tiba-tiba tubuhnya mengecil dan tiba di depan Leluhur Dewa Agung. Dia meraih kepalanya, menghantamkannya ke tanah.
Whooooosh!
Leluhur Dewa Agung melesat bagaikan kilatan cahaya, menembus udara panas dan momentum gesekan antaranya dengan udara menimbulkan tanah terbesar membentuk jurang dalam.
Hanya dengan langkah kecil, Mo Lian sudah mengejar Leluhur Dewa Agung dengan berada di atasnya. Dia mengangkat kedua tangannya z menggenggam pedang yang mengarah ke bawah.
Retakan-retakan muncul di langit, tanah dan ruang sekitar ketika Dao Pedang berkumpul di tangannya sampai sekitarnya tidak mampu menahan aura tajamnya.
Dao Pedang yang dilepaskannya membentuk Domain, semua hal di sekitarnya seolah-olah terbelah karena tebasan. Debu-debu yang dihancurkan olehnya bergegas ke arah Mo Lian seolah membantu memberikan serangan.
Mo Lian menusuk pedang ke dada Leluhur Dewa Agung.
Debu-debu yang berada di sekitar Mo Lian bergerak dengan liar seperti pedang, menyerang Leluhur Dewa Agung seperti lebah yang menyengat.
Pedang Mo Lian menembus dada Leluhur Dewa Agung dengan mudahnya, tidak seperti berada di Alam Semesta. Bahkan meski ini hanya sebatas Inkarnasi, tapi kekuatan Mo Lian di sini tidak ditahan oleh keadaan.
Leluhur Dewa Agung memuntahkan banyak darah, tapi dia tidak peduli dengan itu dan menggunakan kedua tangannya untuk menyerang.
Mo Lian tidak akan memberi kesempatan kepada Leluhur Dewa Agung untuk menyerang. Dia menangkap kedua tangan Leluhur Dewa Agung, kemudian dia melepaskan Dao Pedang sekali lagi, tapi memfokuskannya di kedua tangan.
__ADS_1
"Aaarrrgghh!" Leluhur Dewa Agung berteriak keras saat merasakan sakit di tangannya. Sakitnya bukan hanya karena tangannya yang terasa seperti ditebas pedang, tapi energi dan jiwanya seperti dicabik-cabik.
Mo Lian membuang tangan Leluhur Dewa Agung yang sudah dipotong, kemudian membalikkan tubuhnya. Dia menginjak pinggang Leluhur Dewa Agung seraya menarik Cincin Dewa Jarum.
Mo Lian menarik sekuat tenaga sampai mengeluarkan suara. Pembuluh darah muncul di dahinya, otot-otot tangannya terlihat.
Leluhur Dewa Agung kembali berteriak saat merasakan sakit yang menghancurkan Inti Jiwa-nya. Dia tidak pernah berharap akan ada efek samping semacam ini, di mana Cincin Dewa Jarum akan terhubung langsung dengan Inti Jiwa.
Mo Lian menggunakan Energi Yin dan Yang, Sembilan Energi Dewa dan Dao Pedang untuk memperkuat tubuhnya. Dia meraung keras sampai menggetarkan langit. "Aaaahh!"
Bang!
Ledakan datang dari dalam tubuh Leluhur Dewa Agung saat Mo Lian berhasil melepas Cincin Dewa Jarum dan menghancurkannya. Kekuatan Leluhur Dewa Agung turun dengan pesat karena pusat dari kekuatannya telah dihancurkan.
Simbol Dewa 5 Garis ... Simbol Dewa 4 Garis ... Simbol Dewa 3 Garis...
Dewa Surga tahap Akhir ... Dewa Surga tahap Menengah ... Dewa Surga tahap Awal...
Kekuatan yang disebarkan oleh Leluhur Dewa Agung karena rusaknya Cincin Dewa Jarum, dimanfaatkan oleh Mo Lian untuk meningkatkan Pohon Yin Surgawi.
Mo Lian menendang Leluhur Dewa Agung ke tanah.
Leluhur Dewa Agung menukik seperti meteor, tubuhnya yang terluka parah dan kembali seperti semula itu terbakar. Kemudian saat jatuh menghantam tanah, ledakan keras yang menghancurkan terjadi, api menyala membentuk jamur raksasa.
Mo Lian mengarahkan tangannya ke api yang membakar, kemudian mengibaskan tangannya.
Api yang membakar itu langsung padam, hanya meninggalkan asap putih dengan udara panas yang mengelilingi Leluhur Dewa Agung.
Mo Lian bergegas menuju Leluhur Dewa Agung. Dia berdiri di depannya, melihatnya yang tergeletak dengan tubuh yang sudah menghitam seperti arang, retakan-retakan muncul di permukaan kulit membentuk semacam sarang laba-laba berwarna merah.
"Kekuatanmu, bukan milikmu. Bahkan meski terlihat di bawah kendali, tapi kau harus tahu, kau menggunakan tubuh monster kuat yang masih menyimpan kesadaran di dalamnya. Tapi aku harus berterima kasih padamu, kau sudah memurnikan semua kekuatan itu, dan aku hanya perlu menyerapnya tanpa halangan."
Leluhur Dewa Agung hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun saat tergeletak di dalam lubang. Matanya kosong mengungkapkan ketidakpercayaan, saat di Alam Semesta, dia merasa keuntungannya lebih tinggi dari Mo Lian, tapi di tempat asing ini, dia seperti mainan yang tak berdaya.
Mo Lian mengangkat tangannya, lalu melambaikannya seraya mundur ratusan mil ke belakang.
Whooooosh!
Pedang biru sebesar gunung jatuh dari langit, itu membelah ruang, dan secara tiba-tiba sudah menghancurkan Leluhur Dewa Agung tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Mo Lian tidak mengungkapkan sedikit pun kebahagiaan meski sudah menghancurkan Dewa Pembebasan Kehidupan. Dia menghela napas, menengadahkan kepalanya melihat langit merah.
"Setelah ini, aku bisa kembali ke Bumi." Mo Lian tersenyum tipis, dia sudah merindukan kehidupan di sana.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...