
Kecepatan Mo Lian yang terbang di langit terlihat seperti cahaya biru yang bergerak. Banyak sekali orang-orang yang panik saat melihat cahaya itu, karena mereka semua sudah melihat bagaimana keganasannya yang mampu meledakkan senjata nuklir, membuat fenomena yang tidak bisa dipikirkan secara sains.
Mo Lian yang terbang di langit juga menciptakan angin yang kuat dan membelah awan di sekitar, serta membuat langit bergemuruh.
Hanya dalam hitungan menit, Mo Lian sudah berada di langit Gedung Putih, yang berlokasi di 1600 Pennsylvania Avenue di Washington, DC.
Kedatangan Mo Lian ini menciptakan keributan, dan tentu saja ia disambut oleh tembakan berbagai senjata yang mengarah padanya. Entah itu senjata dari helikopter, tank, rudal, rpg, atau apapun itu.
Mo Lian mengarahkan telapak tangan kanannya mengarah ke tanah, membuat halaman Gedung Putih itu bergetar hebat seperti gempa bumi, dan kemudian banyak sekali retakan di sana.
Dari retakan-retakan itu mengeluarkan air yang melonjak tinggi, hingga mengenai helikopter yang terbang beberapa puluh meter dari permukaan tanah.
Mo Lian turun perlahan dari langit dan mendarat dengan kaki kanan menyentuh tanah terlebih dahulu, ia berjalan di tengah-tengah pasukan bersenjata yang terus menembakinya dengan berbagai senjata. Namun tidak ada satupun dari senjata itu yang mampu melukainya.
Mo Lian melepaskan seluruh auranya, membuat pasukan bersenjata itu tersungkur di tanah untuk beberapa detik sebelum berubah menjadi daging giling. Bahkan Gedung Putih di depannya juga mulai retak dan di bagian tertentu sudah hancur menjadi kepingan batu.
Ia terus berjalan dengan santainya dan kembali menarik auranya saat sudah membunuh pasukan bersenjata, ataupun menghancurkan tank dan helikopter dari auranya.
Ketika hanya tersisa belasan meter dari pintu masuk, Mo Lian menghentikan langkah kakinya dan berbalik sembari mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah luar, di mana banyak sekali wartawan.
"Jangan ada yang mengambil gambar ku." Mo Lian menghancurkan kamera yang mengambil gambarnya, kemudian kembali berbalik berjalan menuju pintu masuk.
Bang!
Pintu masuk itu terlempar ke dalam saat Mo Lian hampir sampai. Ia terus berjalan dengan santainya, berjalan mengikuti aura yang dirasakannya. Ia merasakan banyak sekali orang yang bersembunyi di bunker khusus yang berada di bawah tanah.
"Sepertinya mereka berada di ruang kontrol senjata nuklir. Apakah mereka akan menembakkannya lagi?" gumam Mo Lian yang terus berjalan.
Mo Lian juga merasakan ada lagi kehadiran orang di dalam Gedung Putih, orang-orang itu adalah pasukan khusus yang bersembunyi dan bersiap untuk menyergapnya.
"Terlalu lama jika aku berjalan menuruni tangga menuju bawah tanah." Mo Lian menghentikan langkah kakinya, kemudian berlutut dengan bertumpu pada satu kaki.
Tangan kirinya menyentuh lantai, ia menarik tangan kanannya yang terkepal, kemudian mengayunkannya memukulkan tinjunya pada lantai.
Boom!
__ADS_1
Dari pukulan Mo Lian menciptakan sebuah gelombang udara yang sangat kuat dan menyebar ke segala arah, menghancurkan Gedung Putih menjadi potongan batu kecil yang berterbangan ke segala arah.
Jika dilihat dari luar, tidak ada lagi Gedung Putih yang terbangun, yang ada hanyalah tanah kosong dengan Mo Lian yang berlutut di tengah-tengahnya.
Mo Lian melayang perlahan meninggalkan daratan yang memiliki lubang besar itu. Ia menundukkan kepalanya menatap tajam ke bawah, di mana di sana terlihat sebuah bunker besar yang sudah tidak berbentuk kubus sempurna.
Menggunakan kekuatan jiwanya, Mo Lian mengangkat tangan kirinya perlahan ke udara, membuat daratan sedikit bergetar hingga terlihat sebuah bunker baja yang cukup besar, mampu untuk menampung sekitar ratusan orang dengan peralatan militer di dalamnya.
Kejadian ini terlihat di depan semua orang yang berada di sekitar Gedung Putih. Mereka hanya berani melihat dari jauh tanpa melangkah maju, tidak ada satupun juga dari mereka yang berani mengambil gambarnya. Itu karena sudah diperlihatkan oleh Mo Lian apa yang terjadi jika gambarnya diambil.
Mo Lian mengibaskan tangannya, membuka bunker bagian atas yang ketebalan bajanya lebih dari 20 centimeter.
Bisa terlihat di dalam bunker yang terbuka itu belasan penjabat, militer, ruang kontrol senjata nuklir, serta presiden yang dijaga oleh belasan penjaga.
"Aku ingin meminta penjelasan tentang senjata nuklir yang kau gunakan di Pulau Hawaii. Bagaimana bisa kalian menembak target yang berada di dalam lautan?" Suara Mo Lian menggema di langit, membuat semua orang dalam radius 100 mil bergetar ketakutan.
"Aku adalah Perdana Menteri Urusan Luar Negeri, Nathan. Aku mendapat laporan bahwa Perusahaan Meiliafei sudah mengembangkan produk ilegal dan cacat." Pria paruh baya berjalan keluar dari bunker dan menatap Mo Lian.
"Apakah kau bodoh? Hanya karena produk kecantikan sampai mengakibatkan perang penggunaan senjata nuklir? Jika negara lain mendengar alasan konyol seperti itu, mereka hanya akan menertawakan negaramu." Itu adalah alasan yang sangat konyol yang pernah didengarnya.
Mo Lian menghancurkan Pil Pingyuan di tangannya dan mengubahnya menjadi kabut, ia mengendalikan kabut itu mengarah pada sepasang orang tua yang berada di luar pagar.
Kabut itu mengelilingi pria dan wanita tua, yang kemudian dengan kecepatan kilat mengubah penampilannya secara sekejap mata menjadi muda kembali. Berambut hitam berkilau, kulit halus tanpa keriput, dan dapat berdiri lagi dengan tegak.
Ini adalah Pil Pingyuan lain yang memang memiliki efek penyembuhan untuk orang biasa, yang dibuatnya saat kembali ke Bumi.
"Apakah kau melihatnya?" Mo Lian kembali mengalihkan perhatiannya pada Perdana Menteri.
Perdana Menteri itu menggertakkan giginya sembari mencengkeram jari-jarinya yang terkepal. "Apa yang Anda inginkan?" ucapnya dengan nada sopan.
"Berikan kompensasi atas masuknya pesawat tempur ke wilayah China, kapal induk, serta penyerangan Keluarga Rosth, sebesar lima ratus miliar Dollar," jawab Mo Lian yang menunduk menatap Perdana Menteri.
Nathan termasuk semua orang yang mendengar itu hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka lebar, itu adalah jumlah yang sangat banyak. Meski kekayaan negara sebanyak 62,58 triliun Dollar, tapi tetap saja 500 miliar Dollar masih sangat banyak.
"Itu termasuk jumlah yang sangat sedikit." Bagi Mo Lian jumlah itu sangatlah sedikit untuk memberikan sebuah kompensasi untuk suatu negara.
__ADS_1
"Ap- Apakah Anda mencoba menggertak kami? Itu adalah jumlah yang sangat bany—"
"Kalau begitu serahkan seluruh aset Keluarga Rosth padaku. Aku tidak ingin tawar-menawar." Mo Lian mengangkat tangannya ke udara, membuat langit bergemuruh dengan jutaan pedang cahaya mulai bermunculan.
"Itu. Kami tidak bis— Arrgghh" Nathan kembali mencoba tawar-menawar, namun ucapannya terhenti dan digantikan dengan teriakan rasa sakit.
Terlihat sudah ada dua pedang yang menembus kedua pahanya, yang membuatnya tersungkur dan berguling-guling di tanah.
Mo Lian mengayunkan pedangnya sekali lagi mengarah pada Nathan. Namun terhenti saat serangannya hampir mengenai tangan Nathan.
"Tunggu! Kami akan melakukannya!"
Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada sumber suara, terlihat seorang pria tua berambut putih dengan potongan rapi, mengenakan jas hitam dengan dasi merah.
"Maaf, Tuan. Kami akan melakukannya sesuai dengan keinginan Anda, kami akan mentransfer seluruh aset Keluarga Rosth kepada Perusahaan Meiliafei." Pria tua itu membungkukkan badannya mengarah pada Mo Lian, dengan tangan kanan menyentuh dada.
Mo Lian terdiam sejenak sembari merasakan napas pria tua itu, serta detak jantungnya. "Baiklah, aku akan menunggunya. Dalam waktu tiga jam, aku ingin seluruh aset atas nama Keluarga Rosth berpindah ke Direktur Utama dari Perusahaan Meiliafei."
"Baik, sesuai keinginan Anda," balas pria tua itu tanpa berbasa-basi lagi.
Mo Lian menatap tajam pria tua itu, membuat pria tua tersungkur di atas tanah. Kemudian ia pergi ke arah selatan setelah menghilangkan jutaan pedang, ia ingin pergi ke Kediaman Rosth, sesuai dengan aura yang dirasakan dari Inti Darah.
Ketika Mo Lian pergi meninggalkan Gedung Putih, banyak percakapan terjadi diantara penjabat di sana, yang membahas tentang dirinya. Ia juga mendengar bahwa aset Keluarga Rosth akan dipotong sebagian, dan memberikannya yang tidak berharga.
Mo Lian mendengus dingin saat mendengarnya, kemudian menggerakkan jari-jarinya, mengendalikan beberapa pedang yang berada jauh di langit. Pedang itu sengaja disembunyikannya jauh dari jangkauan pandang, untuk membunuh orang-orang semacam itu.
"Pemerintah Amerika sudah berhasil diatasi, selanjutnya tinggal menunggu kekuatan yang sedang bersembunyi ..."
Mo Lian terdiam sejenak memikirkan orang-orang yang mengambil gambarnya. "Orang-orang yang muncul semakin kuat, jika ada yang mengetahui identitasku, maka orang-orang itu bisa saja menggunakan Ibu maupun Fefei menjadi sandera ..."
"Kekuatan keduanya juga masih sebatas setengah Inti Perak. Tapi ... jika aku melindungi mereka dengan kloning, seharusnya tidak masalah."
...
***
__ADS_1
*Bersambung...