Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 330 : Kejadian yang Tidak Asing


__ADS_3

"Siapa!?" Tianshi Xuyan sangat marah karena ada yang mengacaukan pertarungan antara Ras Malaikat dan Raksasa.


Mo Lian melangkah perlahan di udara; ada api yang membakar dan melelehkan tanah di setiap langkah yang ia ambil. "Kau memiliki mata yang besar, apakah kau tidak bisa melihatnya?"


Tianshi Xuyan sangat kesal atas provokasi dari Mo Lian. "Hanya manusia rendahan!" Ia melemparkan tombak emas ke arah Mo Lian.


Mo Lian mengangkat tangannya sampai batas kepala dan memperlihatkan jari telunjuk; mencoba menahan bagian tajam dari tombak emas.


Ras Raksasa dan Malaikat melihat Mo Lian dengan tatapan mencemooh; mengganggap bahwa Mo Lian besar akan dirinya sendiri, merasa mampu menahan tombak emas yang bahkan salah satu dari mereka akan berpikir dua kali untuk menahan dengan kekuatan penuh.


Booom!


Asap bercampur debu tebal menghalangi pandangan dengan ledakan yang sangat keras! Dua ras berbeda terlihat seperti dalam aliansi saat melihat tombak emas yang mengenai Mo Lian, mereka tidak bisa tidak mencemooh, mereka memperlihatkan penghinaan terhadap Mo Lian yang terlihat jelas di mata mereka.


Namun kesenangan mereka tidak berlangsung lama karena asap tebal mulai menghilang tertiup angin kencang yang lembut, tidak seperti angin kencang yang mampu melukai tubuh maupun alam.


Pupil mata mereka membesar saat melihat tombak emas yang sudah retak dari bagian mata sampai belakang, dan saat melihat Mo Lian yang berdiri di langit, menahan tombak dengan satu jari, mereka tidak bisa menahan mulutnya untuk tetap tertutup.


Mo Lian mendorong jari telunjuknya yang berhasil menahan tombak emas, mengakibatkan tombak emas meledak menjadi serpihan kecil seperti kerikil yang jatuh ke tanah. Tekanan udara kuat juga melesat tajam karena dorongan Mo Lian, membelah tanah menjadi jurang dalam.


Tindakan yang diambil Mo Lian kali ini lebih mengerikan lagi ketimbang menahan serangan tombak emas, bahkan Ras Malaikat yang sangat mendominasi di Bumi, tidak ada apa-apanya dibandingkan satu jari Mo Lian.


Mo Lian yang masih melayang di langit, mengangkat tangan kirinya di depan dada dengan telapak yang terbuka; tangan kanannya terangkat setinggi mungkin dengan jari telunjuk mengarah ke langit merah. Perlahan, ia menurunkan jari telunjuknya untuk menyentuh telapak tangan kiri.


Ngung, ngung...


Suara dengungan yang menggetarkan mulai didengar di langit merah; awan putih mulai berkumpul dalam sekejap, yang kemudian terbelah menjadi dua bagian, memperlihatkan jari telunjuk berwarna emas.


Ras Malaikat dan Raksasa tidak bisa bergerak bebas saat jari telunjuk yang lebih besar dari mereka turun; aura yang sangat menekan mulai menguat sampai menggetarkan Bumi.


Booom!


Tianshi Xuyan dan Jade Bei terkena serangan saat yang lain berhasil mundur sedikit, kemudian terhempas karena gelombang udaranya.


Ketika jari telunjuk berwarna emas menghilang, Tianshi Xuyan dan Jade Bei sudah tak lagi terlihat, hanya ada genangan darah membentuk danau.


Mo Lian tidak berhenti disitu saja, ia bergerak bagaikan cahaya yang melintas sangat cepat; tiba di belakang Tianshi Fang dalam sekejap mata. Ia mengayunkan tangannya yang rapat membentuk sebuah pedang tajam.

__ADS_1


Slash!


Sayap kanan Tianshi Fang terpotong rapi, darah menyembur deras dan kehilangan keseimbangan saat kehilangan salah satu sayapnya.


Mo Lian yang sudah memotong sayap Tianshi Fang, melesat naik ke langit sampai melebihi tinggi dua ras berbeda karena ada serangan yang berasal dari belakangnya. Ia mengarahkan tangan kanannya pada tombak emas, lalu menariknya kembali; tiba-tiba tombak emas di tangan Tianshi Fang menghilang dan sudah berada di langit.


"Berlutut!" Mo Lian mengarahkan tangan kirinya ke bawah; ada tekanan yang sangat kuat dari atas langit, menggetarkan daratan sampai memadatkan tanah untuk turun lebih dalam lagi.


Tianshi Fang dan yang lain tidak bisa menahan tekanan yang diberikan, membuat mereka bertekuk lutut sampai dua lutut mereka menghantam tanah, menimbulkan getaran hebat bagaikan gempa bumi.


Mo Lian mengayunkan tangan kanannya, membuat tombak emas bergetar seperti menjawab panggilannya, kemudian melesat sangat cepat menembus tengkuk Tianshi Fang sampai bagian bawah tubuhnya dan menancap di tanah.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya kembali; ada Cincin Matahari yang muncul di belakang punggung dengan suhu yang naik dalam sekejap, menguapkan sumber air yang berada jauh di dalam tanah, bahkan tanah mulai meleleh seperti mentega.



Bukan hanya itu saja, energi kuat berwarna merah dan oranye mulai berkumpul di atas kepala Mo Lian; di antara kedua tangannya yang terbuka dan terus memadat membentuk sebuah bola.


Bola yang berada di antara kedua tangannya terus membesar dan ada retakan-retakan di permukaannya berwarna oranye, suhu yang dikeluarkan terus meningkat sampai mengubah tanah menjadi lahar panas.


Mo Lian melemparkan bola yang berada di antara kedua tangan; bola itu melesat ke arah Beisa Fan yang berada di barisan terdepan.


Tidak ada Ras Raksasa yang tersisa, hanya tangan besar milik Beisa Fan. Ras Malaikat yang berada di belakang Mo Lian hanya tersisa dua, mereka gemetaran tidak bisa bertindak, dan ini suatu penghinaan terhadap mereka yang mana mereka adalah bawahan dari Kaisar Giok.


Mo Lian menoleh ke belakang, mengibaskan tangannya yang mengeluarkan tekanan lebih kuat dari sebelumnya; atmosfer di sekitar Tianshi Yang dan Tianshi Xang mulai memadat, menekan mereka berdua sampai meledak; darah menyebar ke segala arah seperti balon air yang pecah.


"Semuanya sudah berakhir, entah karena aku memakai tubuh Duan Kun, aku bisa membunuh mereka dengan mudah. Sekarang, yang menjadi pertanyaan, apakah aku bisa membunuhnya menggunakan tubuhku sendiri?"


Fluktuasi energi kuat berkumpul di belakang Mo Lian, ia menoleh melihat tangan Beisa Fan yang bergerak-gerak seperti ikan di tempat kering.


Mo Lian menunjuk jarinya pada tangan yang bergerak-gerak; ada energi merah yang berkumpul di ujung jarinya, melesat ke arah tangan dan meledakkannya.


Namun, tangan yang sudah meledak kembali beregenerasi, tapi hanya batas tangan saja, tidak sampai seluruh tubuh. Meski demikian, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Mo Lian kesal.


"Apakah kau menghinaku? Aku akan memusnahkan mu tanpa sisa!"


Mo Lian kembali mengangkat tangannya, menciptakan sebuah Matahari kecil di antara kedua tangannya, kemudian ia mengayunkannya.

__ADS_1


Booom!


Matahari kecil melesat dan menghantam tangan, mengubahnya menjadi debu-debu halus yang tertiup angin. Namun, tidak lama kemudian, debu-debu halus itu kembali menyatu dan membentuk tangan.


Mo Lian hanya diam menatap tajam tangan yang tergeletak dengan kemarahan yang bangkit di lubuk hatinya, ingin sekali menghancurkan Bumi sampai semuanya tidak bersisa. Tapi, ia merasa itu terlalu berlebihan hanya karena tangan sampai menghancurkan Bumi.


Mo Lian mengangkat tangan ketika dengan dua jari menghadap ke langit; tombak emas yang tergeletak di tanah mulai bergetar menanggapi panggilannya. Tombak itu berada sangat tinggi, ribuan mil dari permukaan tanah. Ketika ia mengayunkan tangannya, tombak itu melesat jatuh ke arah tangan.


"Aarrgghh!"


Tiba-tiba ada teriakan keras yang menggema dan menggetarkan daratan; lahar panas mulai bergolak seperti air mendidih.


Pada bagian pegangan tombak emas, ada kepala raksasa yang terlihat menggantung, meski sebenarnya tertembus dari bagian atasnya. Darah mengalir dari bagian bawah kepala, darah itu mulai bergerak-gerak membentuk pembuluh darah.


Wajah Mo Lian mengeras dengan kerutan di dahi, merasa aneh karena Beisa Fan masih bisa beregenerasi meski hanya tersisa tangan dan kepalanya saja.


Mo Lian mengangkat kedua tangannya di depan dada; ada empat awan hitam yang mulai menggulung di atas kepalanya. "Teknik Abadi, Penyegelan Spiritual!" Ia menyentuhkan kedua telapak tangannya.


Bang!


Dentuman keras menggema dari empat awan di atas kepala, lalu terlihat ada pedang besar berwarna hitam yang diselimuti oleh energi hitam dan dilumuri darah. Empat pedang itu saling berhubungan dengan rantai hitam yang sangat besar, dan sama-sama mengeluarkan aura kuat yang menekan.


"Jatuh!"


Empat pedang itu jatuh secara bersamaan, mengepung tangan Beisa Fan yang berada di tengah-tengahnya. Ada aura merah yang mulai keluar dari empat pedang, bergerak ke arah tombak emas dan menekan perkembangan Beisa Fan yang hendak beregenerasi.


Tidak ada lagi fluktuasi energi spiritual dari tangan maupun kepala Beisa Fan, semuanya sudah berakhir dan hanya ada darah yang terus mengalir bagikan hujan maupun sungai dari tempat yang berbeda.


Mo Lian menurunkan kedua tangannya perlahan, lalu ada kerutan yang cukup dalam di dahinya. "Entah mengapa aku merasa tidak asing melihat tangan dan kepala, lalu melihat cara Tianshi Fang yang terbunuh ..."


"Kapan aku pernah melihatnya?" Mo Lian memiringkan kepalanya dengan melipat kedua tangan di depan dada.


Kemudian, ia mengangkat kedua bahu seraya sedikit merentangkan kedua tangannya. "Entahlah, siapa yang peduli."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2