Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 468 : Perubahan Leluhur Dewa Agung


__ADS_3

Leluhur Dewa Agung menyimpan mayat Yi Yangzhu di dalam Cincin Ruang. Dia menatap Mo Lian, kemudian pandangannya teralihkan pada Hong Xi Ning, Qin Nian dan Yun Ning.


Leluhur Dewa Agung tidak mengungkapkan perubahan ekspresi, dia tetap tenang, tapi detik berikutnya langsung bergegas menuju ketiga wanita. Dia ingin membunuh mereka terlebih dahulu, baru kemudian Mo Lian.


Mo Lian melihat Leluhur Dewa Agung yang terbang melewatinya, tapi dia langsung bereaksi saat itu juga. Dia tiba di samping Leluhur Dewa Agung dengan satu kaki berayun, menendang bagian dadanya.


Dengan dentuman yang membosankan, Leluhur Dewa Agung membelalakkan matanya saat rasa sakit memenuhi tangannya. Dia bahkan sampai terlempar dua kali lebih jauh dari jarak yang sudah diambilnya tadi.


Leluhur Dewa Agung tercengang melihat Mo Lian yang bisa mengimbangi kecepatannya. Dia menyilangkan kedua tangannya menahan tendangan yang diarahkan ke dadanya.


"Sayang." Mo Lian menyempatkan diri untuk mengecup kening mereka bertiga, kemudian dia memasukkan mereka ke dalam Dunia Kecil.


Mo Lian menyingkat jarak dan tiba di atas Leluhur Dewa Agung dengan mengangkat salah satu kakinya.


Leluhur Dewa Agung kembali mengangkat tangannya untuk menahan serangan, tapi dia tidak berani ceroboh seperti tadi, kali ini dia menggunakan Artefak Pertahanan tingkat Surga.


Ketika tendangan Mo Lian hampir mengenai Leluhur Dewa Agung, dia menghentikan gerakan kakinya dan langsung berpindah tepat di bawah kaki Leluhur Dewa Agung. Dia mengangkat tangan kanannya, menangkap pergelangan kaki musuhnya dan melemparkannya sekuat tenaga.


Leluhur Dewa Agung terlambat bereaksi, membuatnya melesat jatuh dengan kecepatan melebihi suara.


Mo Lian kembali mengejar Leluhur Dewa Agung. Dia mengayunkan tangannya seperti melempar batu, tiba-tiba Dewa Kematian kembali muncul dan melemparkan Rantai Darah tanpa ada Sabit Darah.


Rantai Darah berhasil menangkap Leluhur Dewa Agung agar tidak pergi lebih jauh. Mo Lian menariknya untuk tiba di depannya.


Leluhur Dewa Agung yang sudah kembali di depan Mo Lian, membuka mulutnya dan mengeluarkan raungan keras seperti monster.


Mo Lian mengibaskan tangannya, melemparkan Leluhur Dewa Agung untuk menjauh darinya, tapi itu juga melepaskan ikatannya dari Rantai Darah. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, raungan tadi sangat menganggu meski tidak memiliki dampak apa pun pada tubuhnya.


Leluhur Dewa Agung menggerak-gerakkan tangannya yang terasa sakit setelah patah beberapa kali. "Aku harus mengakui kalau kau memang kuat, tapi ini baru permulaan—"


"Ya!" Mo Lian tiba di depan Leluhur Dewa Agung. Dia mengayunkan pukulannya ke arah dada Leluhur Dewa Agung.


Leluhur Dewa Agung memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan, tapi reaksinya lebih lambat dari serangan itu. Setengah tubuhnya hancur: dari pundak kanan sampai pinggang kanannya menghilang.


Crack! Craaang!


Ruang di belakang Leluhur Dewa Agung pecah seperti kaca ketika terkena gelombang dari pukulan Mo Lian.


Leluhur Dewa Agung memukul kepala Mo Lian dengan tangan kirinya.


Tanpa melihat, Mo Lian menangkap pukulan Leluhur Dewa Agung dengan mudahnya. Dia akan menyerang ketika Leluhur Dewa Agung memotong tangannya sendiri dan mundur ratusan mil untuk menjaga jarak.

__ADS_1


Leluhur Dewa Agung tersenyum seraya menggigit Cincin Ruang saat melihat Mo Lian yang memegang potongan tangannya. "Mati!"


Tangan Leluhur Dewa Agung yang dibawa Mo Lian, bergetar dan memancarkan cahaya kuning-emas. Cahaya itu semakin terang dalam seperkian detik, kemudian meledak seperti ledakan Supernova.


Mo Lian terlambat untuk menghindarinya dan terjebak di dalam ledakan.


Leluhur Dewa Agung tertawa terbahak-bahak melihat Mo Lian yang berada di dalam ledakan. Dia menggerak-gerakkan tangannya yang sudah tumbuh kembali. "Harusnya sudah mati, tidak ada yang bisa selamat dari ledakan itu, bahkan Dewa Surga tahap Akhir tidak mampu bertahan."


Whuuush...


Angin bertiup di tengah-tengah nyala api, membuat api itu menyebar dan menghilang. Terlihat Mo Lian yang sebelumnya tertangkap basah oleh ledakan, masih baik-baik saja tanpa luka sedikit pun, bahkan pakaian yang dikenakannya tetap utuh.


Mo Lian menepuk-nepuk pakaiannya yang tidak kenapa-kenapa, tapi karena sudah terbiasa, sulit untuk menghilangkannya.


Leluhur Dewa Agung tercengang. Dia menunjuk Mo Lian dengan tangan gemetaran. "Kau, kau, kau... Bagaimana kau masih hidup?!"


Mo Lian mendongak setelah memastikan semua pakaiannya aman. Dia menatap Leluhur Dewa Agung dengan tatapan bingung saat memiringkan kepalanya. "Apakah aku harus mati di dalam? Itu hanya ledakan biasa, suhunya bahkan tidak lebih baik dari lilin."


Leluhur Dewa Agung menundukkan kepalanya dengan tubuhnya yang gemetar. Dia sangat marah karena direndahkan seperti ini, dia melihat Cincin Ruang yang dikenakannya, lalu mengepalkan tangannya. "Aku tidak punya pilihan, awalnya kami ingin mencari cangkang terbaik untuk menciptakan Makhluk Abadi, tapi karena semuanya sudah seperti ini, tidak perlu ragu-ragu lagi."


Leluhur Dewa Agung merentangkan kedua tangannya. Energi kuat meledak saat Cincin Ruang mengeluarkan barang-barang berharga: Esensi Darah Dewa Surga, Inti Bintang, Tulang Dewa Surga 100.000 Tahun, Tulang Sumsum Abadi, Tulang Es Dingin...


"Kau akan mati jika tidak menghentikanku!" Leluhur Dewa Agung memprovokasi Mo Lian untuk menghentikannya. Dia terlihat tenang di permukaan, tapi dia tetap panik karena harus kehilangan dirinya sendiri. Dia menggertakkan giginya, kemudian berteriak.


Belasan Inti Jiwa mengeluarkan garis yang terhubung ke tubuh Leluhur Dewa Agung. Bahan-bahan lain mengelilinginya dengan aura mengerikan yang berbeda-beda, tiap-tiap bahan membawa tekanan tertentu.


Tubuh Leluhur Dewa Agung membesar seperti balon yang mengembang ketika mendapat asupan energi dari Inti Bintang. Kemudian tubuhnya bocor dan mengempis seraya mengeluarkan kabut hitam tebal yang menghalangi pandangan.


Bahan-bahan lain yang berada di sekitar, mulai menyatu dengan Leluhur Dewa Agung. Bahan-bahan itu termasuk tulang-tulang, darah dan bagian-bagian dari tubuh monster maupun binatang buas.


"Aaarrrgghh!" Leluhur Dewa Agung berteriak keras dengan rasa sakit yang terasa di seluruh tubuhnya.


Mo Lian mengamati Leluhur Dewa Agung yang terus menyatu dengan bagian tubuh monster termasuk organ dalam. Dia tidak tahu bagaimana hasilnya, dan dia sangat penasaran.


Setiap bahan terus menyatu dan kabut hitam yang mengelilingi itu memadat membentuk sebuah kepompong yang mengurung Leluhur Dewa Agung di dalamnya, menunggunya selesai dalam evolusinya.


Mo Lian tidak mengambil tindakan dan menunggunya dengan sabar. Dia bisa merasakan Energi Yin yang terus menguat, dan dia tidak bisa tidak tersenyum.


"Aku mengambil keputusan yang tepat. Jika aku membunuhnya dari awal, aku tidak bisa mendapatkan Energi Yin. Bahkan jika aku membunuhnya dan mengambil harta di Cincin Ruang, aku harus menyulingnya dan itu merepotkan. Lebih baik seperti ini, dia membantuku menyuling, dan aku langsung menyerapnya."


Mo Lian duduk bersila di angkasa, menunggu dengan bosan sampai waktu yang tidak diketahui.

__ADS_1


Hingga akhirnya, retakan-retakan kecil mulai terlihat di permukaan kepompong. Melihat itu, Mo Lian berdiri dan mengambil langkah mundur karena merasa akan ada ledakan yang tidak lama lagi terjadi.


Crack! Crack! Duarr!



Ketika ledakan datang dari dalam kabut membentuk kepompong, kabut di sekitarnya itu menghilang dan digantikan oleh sosok hitam. Itu adalah Leluhur Dewa Agung yang sudah berubah menjadi makhluk lain.


Semua kulitnya berwarna abu-abu kehitaman. Dia hanya memakai bawahan berwarna hitam sampai menutupi kakinya, di bagian pinggangnya ada semacam benda aneh dengan ukiran kepala monster.


Kemudian bagian kepalanya, dia memakai helm besi berbentuk aneh. Lalu ada Cincin Dewa yang tidak sama seperti Cincin Dewa pada umumnya, Cincin Dewa itu seperti terbuat dari logam tertentu, dan menyatu langsung dengan tubuh fisiknya. Tidak seperti Cincin Dewa lain, yang berjarak satu meter dari punggung.


Mo Lian melihat aura hitam yang samar-samar muncul di sekitar Leluhur Dewa Agung, auranya lebih padat dan keras dari sebelumnya. "Simbol Dewa Lima Garis? Hanya ini dan ingin membantu semua orang di Alam Semesta untuk mengabaikan aturan kultivasi yang sudah ada? Jika kau bisa mengubah aturan kultivasi, bukankah aku juga bisa?"


Jelas, Mo Lian cukup kecewa dengan hasilnya. Dia menduga bahwa hasilnya akan seperti Kaisar Giok atau Pohon Perunggu Surgawi, atau bahkan Dao Surgawi. Tapi, ternyata hanya manusia tanpa kesadaran yang hanya tahu cara membunuh.


"Jadi ini adalah kekuatan dari Yang Maha Kuasa! Aku, Dewa Agung! Yang terkuat!"


Suaranya tidak terlalu jelas, karena kepalanya tertutup rapat oleh helm logam, dan malah terdengar seperti suara mesin tua.


Leluhur Dewa Agung mengepalkan tangannya, merasakan aliran energi kuat di dalam tubuhnya. Dia tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Aku tidak kehilangan diriku! Aku tetap bisa mengendalikan tubuhku sesuai dengan keinginanku!"


Mo Lian juga sedikit terkejut melihat Leluhur Dewa Agung yang masih bisa mempertahankan kesadarannya saat berubah menjadi makhluk lain. Tapi keterkejutannya menghilang dengan cepat, digantikan dengan senyuman tipis.


Jika Leluhur Dewa Agung kehilangan kesadaran, itu tidak menarik karena dia tidak bisa mendengar teriakan putus asa saat bertarung.


Leluhur Dewa Agung menatap tajam Mo Lian dan berkata, "Kali ini kau tidak akan selamat, kau bukan lagi tandinganku!"


Mo Lian mengangkat tangan kanannya. "Baguslah ..."


Dia mengeluarkan Sembilan Energi Dewa, Pohon Dunia, Sepuluh Pedang Semesta dan Keabadian, Satu Kesatuan Niat Pedang dengan Alam Semesta, Dewa Kematian, Dewa Semesta, Kunpeng, Naga Petir, Cincin Matahari...


Mo Lian tersenyum tipis. "Aku harap tindakanmu sesuai dengan perkataanmu ..."


Leluhur Dewa Agung terdiam tanpa bisa berkata-kata. Jika dia tidak memakai helm di kepalanya, maka akan terlihat ekspresinya yang tidak sedap dipandang...


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2