
—Paviliun Jari Keajaiban, Kota Louhu—
Tes pertama sudah dimulai, ada hampir seratus soal esai yang harus dijawab. Walaupun ini adalah tes dasar, tapi nilai untuk lulusnya sangat tinggi, itu setidaknya harus mendapatkan nilai 80 poin. Jika di bawahnya, maka langsung gagal dalam tes pertama.
Mo Lian membaca soal yang tertera di lembaran kertas yang baru saja dibagikan.
[Soal No.1: Jelaskan secara rinci tentang Rumput Embun Duri!]
[Soal No.2: Manfaat Daun Satu Jari?]
[Soal No.3: Jika seseorang mengalami luka pada bagian pergelangan tangan dan harus segera diberikan Bunga 1000 Tangkai. Apa yang harus dilakukan terhadap Bunga 1000 Tangkai?]
...
Mo Lian yang melihat semua soal, tidak bisa berkata-kata. Sebelum datang ke Paviliun Jari Keajaiban, dia sudah mengantisipasi apabila pertanyaan yang akan diberikan terlalu sulit karena berbedanya sistem kultivasi di sini. Tapi ternyata, pertanyaan ini sangat-sangat dasar.
Bahkan Alkemis tingkat Satu bisa memberikan penjelasan rinci setiap soal sampai ratusan halaman.
Mo Lian tidak pernah menyangka bahwa kualitas untuk lulus sangat rendah. Tapi saat melihat sekeliling, banyak yang menundukkan kepala dengan tangan yang memegang kepala, seolah-olah kepala mereka kesakitan.
Mo Lian menggelengkan kepalanya, lalu mengambil kuas dan mulai menuliskan jawabannya.
“Tumbuhan dengan daun berdaging tebal. Tumbuhan ini bersifat menahun, berasal dari tanah kering, dan tanaman liarnya telah menyebar ke kawasan beriklim tropis, semi-tropis, dan kering di berbagai belahan dunia. Rumput Embun Duri banyak dibudidayakan untuk pertanian, pengobatan, dan tanaman hias, dan dapat juga ditanam di dalam pot...” (Menghilangkan ribuan kata penjelasan)
Mo Lian terus menulis semuanya sedetail mungkin karena dia tidak tahu maksud dari rinci yang ada di soal. Jadi dia menuliskan semua yang diketahuinya: ciri-ciri, penyebaran, budidaya tanam, penggunaan, sifat racun, jenis-jenisnya yang berbeda dan penamaannya.
Penatua Hang menoleh sekeliling dan menghela napas mengungkapkan kekecewaannya terhadap peserta tahun ini yang buruk. Sampai pandangannya berhenti pada salah satu peserta dengan kuas yang tidak berhenti, bahkan terlihat seperti menari-nari di permukaan kertas.
Penatua Hang menyipitkan matanya untuk dapat melihat lebih jelas. Ternyata yang mengejutkan bukan di mana kuas itu terus menari, tapi tumpukan kertas lain yang terlihat sudah setebal buku dengan ketebalan ibu jari, dan itu belum ada tanda-tanda akan berhenti.
Karena penasaran, Penatua Hang datang menghampiri, dan ini membuat semua peserta gugup. Tapi tidak ada yang boleh bersuara, bahkan tidak boleh menoleh ke samping meski setiap peserta dibatasi jarak satu sampai dua meter.
Penatua Hang berjalan melewati peserta, lalu berbalik dan melihat peserta yang membalik kertas soal dan menulis jawaban. Dia melihat nama yang tertulis di atas meja. [Mo Lian; 22 Tahun]
Lalu saat melihat salah satu jawaban, Penatua Hang membuka matanya lebar-lebar. Itu karena jawabannya sangat lengkap, itu bahkan memiliki penjelasan di atas Tabib Master, dan dia merasa Grandmaster tidak ada bandingannya dengan ini, meski dia sendiri belum pernah bertemu dengan Grandmaster.
Kemudian tumpukan kertas kembali bertambah, Penatua Hang melihat jawaban lain, dan itu memang sangat-sangat lengkap.
Soal ini baru dibuat tadi malam, tidak mungkin ada yang tahu pasti tentang isinya. Bahkan jika ada yang secara sengaja membocorkan soal dan jawaban, masih tidak mungkin untuk memberikan penjelasan yang bahkan lebih lengkap dari jawaban yang telah disiapkan pihak Paviliun Jari Keajaiban.
Melihat ini, Penatua Hang segera bergegas meninggalkan ruangan di bawah perhatian semua orang.
Penatua Hang langsung berlari ke lantai teratas tanpa menjawab murid-muridnya yang menyapa ataupun tabib yang setara dengannya. Dia ingin datang ke lantai teratas untuk memanggil Tabib Master yang dikatakan hampir mencapai Grandmaster.
Ketika sudah sampai di lantai teratas, Penatua Hang berhenti di depan pintu kecil. "Ketua, ada peserta yang luar biasa! Saya mohon Ketua untuk datang dan melihatnya sendiri!"
__ADS_1
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat dari dalam ruangan.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan terlalu semangat di usia kita yang seperti ini. Kau adalah Tabib Master Rank 34 di Kerajaan Angin."
Penatua Hang tersenyum canggung. Dia mengatur napas agar kembali tenang, kemudian mengatakannya lagi tanpa tergesa-gesa, "Ketua. Peserta ini dapat menjawab semua soal yang kita buat dengan sempurna, bahkan pengetahuannya tentang bahan-bahan dasar di atas saya. Dari ciri-ciri, jenis-jenis, cara menanam, merawat, kegunaan, aroma, rasa, racun yang terkandung dan cara menghilangkan racunnya."
Penatua Hang berhenti dan menunggu jawaban.
Ketika mendengar penjelasan Penatua Hang, orang di dalam tidak mengatakan apa-apa Tapi detik berikutnya terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa.
Penatua Hang yang membungkuk, mendongak dan langsung mundur menjauh dari pintu.
Bang!
Pintu terbuka keras dengan ledakan, membuat pintu itu terlempar dari kusen.
Penatua Hang tidak terkejut dengan hal ini. Meski Ketua Paviliun Jari Keajaiban Cabang Louhu tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang Kultivator Abadi, tapi Ketua tetaplah Pendekar tingkat Delapan.
Jika bagi Kultivator Abadi, itu hanyalah Fase Lautan Ilahi tahap Menengah.
Terlihat seorang pria yang lebih tua dari Penatua Hang, tapi karena kekuatannya adalah Pendekar tingkat Delapan, tubuhnya lebih diremajakan dan kesehatannya seperti masih muda.
Ketua Wuxu mengenakan pakaian Taois putih, alisnya cukup panjang dengan janggut sampai dada. Penampilan ini adalah penampilan yang didambakannya saat masih kecil ketika melihat Kultivator Abadi, tapi dia hanya bisa menyerah karena tidak berbakat dan mengkultivasikan diri menjadi Pendekar.
"Bawa aku ke sana." Ketua Xu menoleh melihat Penatua Hang, kemudian menggeleng seraya berjalan. "Lambat, aku bisa pergi sendiri."
...
Ketika Ketua Wuxu sampai ke ruangan tes, semua peserta sudah meninggalkan ruangan. Dia tidak terkejut karena memang waktunya hanya satu batang dupa, tapi tetap saja sedikit kesal karena Penatua Hang terlambat untuk melapor padanya.
Ketua Wuxu datang ke meja pengumpulan soal. Dia memilah-milah kertas, tapi langsung tertuju pada tumpukan kertas yang bahkan tebalnya lebih dari sejengkal tangan. Itu sangat mencolok, karena jawaban peserta lain hanya lima sampai sepuluh lembar.
"Siapa yang menulis jawaban ini?" Ketua Wuxu melihat pria paruh baya yang merapikan kertas-kertas.
Petugas itu terlihat kewalahan dan mau tidak mau mengeluh meski berada di depan Ketua Wuxu. "Ketua, orang ini gila, dia terus mengangkat tangannya dan meminta kertas. Meski kertas tidak mahal, tapi ini baru tes pertama, masih ada tes kedua dan ketiga. Jika ini terus berlanjut sampai tes-tes berikutnya, persediaan kertas kita akan habis."
Ketua Wuxu mengangguk kecil, lalu mulai membaca jawaban soal nomor satu. Saat membaca, dia mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi saat terus membaca, matanya terbuka lebar dan tubuhnya gemetar.
"Ini, ini, ini." Ketua Wuxu tidak tahu harus berkata apa ketika melihat semua jawaban yang sangat jelas, dan bahkan lebih baik dari catatan di Paviliun Jari Keajaiban.
"Ketua?"
Ketua Wuxu sadar dari keterkejutannya, dia menarik napas dan mengembuskannya. Lalu menatap petugas. "Kirim surat ke Pusat Paviliun Jari Keajaiban. Tolong minta bantuan dari sana untuk datang ke Kota Louhu, masalah ini sangat penting!"
Petugas itu menganggukkan kepalanya seperti robot yang rusak saat matanya terbuka lebar. Kemudian dia keluar ruangan dengan linglung, dia tidak mengerti mengapa Ketua Wuxu sangat bersemangat.
__ADS_1
***
Mo Lian sedang berada di lobi lantai dasar, memandangi jalan utama. Dia memikirkan tentang tes barusan, semua jawaban adalah pengetahuan yang dia tahu sampai sekarang, tapi itu hanyalah dasar-dasarnya, masih banyak yang dia sembunyikan.
Seperti halnya soal-soal tadi yang membutuhkan tumpukan kertas sampai sejengkal tangan, tapi jika Alkemis tingkat Tujuh seperti dirinya. Dia bisa memberikan penjelasan sampai tumpukan kertas itu tiga sampai empat kali lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.
"Itu ..." Mo Lian menyipitkan matanya saat melihat ke jalan, dia melihat wanita yang sangat dikenalnya, bahkan sering tidur bersamanya. "Ni'er?"
Mo Lian melihat Yun Ning terlihat sangat kesal saat menarik kaki seorang pria, menyeretnya di jalanan. Kedua tangan pria itu lemah seperti tanpa tulang, kepalanya bengkak seperti babi, darah di wajahnya terus mengalir.
Mengikuti arah di mana Yun Ning pergi, itu adalah markas patroli di Kota Louhu.
Ketika Yun Ning sudah sampai di depan kantor keamanan, Yun Ning melemparkan pria itu dengan ganasnya, tidak peduli dengan hidup-matinya.
Melihat ini, Mo Lian menggaruk pipinya. "Ning'er mungkin akan mengubahnya menjadi kabut darah, Nian'er masih sedikit lembut. Ni'er, dia asal-asalan dan sering memukul orang yang mencari masalah sebelum membunuhnya."
Dia bahkan merasa tidak berdaya saat menghadapi Yun Ning.
Mo Lian melihat Yun Ning yang berteriak pada petugas, lalu berbalik pergi.
Yun Ning berhenti di depan Paviliun Jari Keajaiban, kemudian tatapan matanya bertemu dengan Mo Lian. Dia mengedipkan satu matanya dan memberikan ciuman di tangannya sebelum meniupnya.
Mo Lian tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
"Lihat! Wanita itu sangat cantik, dia melihatku!"
"Tidak! Tidak! Dia melihatku, aku yang tertampan di antara kita dan hanya kita yang berdiri di pintu, jadi dia pasti menyapaku!"
Mo Lian yang mendengarnya, hanya menggelengkan kepalanya dan bersandar di kursi untuk menunggu hasilnya. Tapi tiba-tiba...
Mo Lian merasakan bahwa energi yang ditinggalkannya pada Mo Fefei bereaksi. Itu membuatnya sangat khawatir dan marah, bahkan aura yang disegelnya hampir pecah. Tapi segera, Mo Lian menahannya lagi dan menutup matanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
...
Mo Lian membuka matanya perlahan dengan ekspresi rumit. Dia benar-benar ingin datang menghampiri Mo Fefei yang ada di Bintang Peng dan memukul kepalanya.
Dia tidak mengharapkan bahwa Mo Fefei akan sangat beruntung karena berhasil menemukan Catatan Kaisar Manusia yang sepertinya berhubungan dengan catatan yang didapat Hong Xi Ning dari Medan Perang. Tapi, dia cukup kesal karena Mo Fefei tidak menghargainya dan membuangnya seperti sampah ke Cincin Ruang.
Mo Lian menghela napas dan bergumam, "Catatan Kaisar Manusia. Tapi melihatnya tadi, itu belum lengkap, masih ada bagian-bagian yang terbuang."
"Aku harus mencarinya nanti."
...
***
__ADS_1
*Bersambung...