
"Apakah penting bagi orang mati untuk mengetahui dari mana kami berasal? Orang mati hanya perlu diam dan menerima nasibnya." Salah seorang berbicara saat membuang herbal yang telah dipetiknya dan mengambil pedang pendek sepanjang lengan bawah.
Setelah satu orang mengambil senjata, yang lain juga mengambil senjata yang mereka sembunyikan di balik baju. Hampir semuanya menggunakan pedang pendek, dan hanya satu orang yang membawa dua belati.
Mo Lian tidak tahu dari mana kepercayaan diri mereka, tapi ternyata kepercayaan diri mereka datang dari senjata yang mereka simpan dengan baik. Tapi sayangnya, senjata-senjata itu masih tidak akan mampu menggores kulitnya kecuali dia ingin.
Mo Lian menarik kaki kirinya ke belakang, kedua tangannya mengulur ke depan. Dia dalam sikap Tai Chi, siap untuk bertarung.
Melihat sikap siap Mo Lian, ada amarah karena mereka dianggap remeh, tapi mereka juga memandang rendah Mo Lian dengan penuh penghinaan.
"Serang!"
Mo Lian melihat tiga orang yang menyerangnya secara langsung: satu di depan dan dua dari samping. Dia tetap tenang ketika melangkahkan kaki kirinya ke depan dengan cara menyeretnya. "Perpaduan Yin dan Yang adalah kombinasi dari keduanya. Itu adalah kendali penuh atas Alam Semesta.”
Tidak ada yang mengerti apa yang dikatakan Mo Lian, dan mereka menganggapnya bodoh karena masih sempat-sempatnya mengatakan omong kosong di saat seperti ini.
Ini adalah kata-kata untuk memahami Dao. Bahkan meski Mo Lian sangat marah karena mengetahui bahwa kekuatan ketika menembus Desa Surga ditekan oleh Dao, tapi dia tetap harus mengakui bahwa Dao memang memiliki kekuatan yang tak terbayangkan.
Angin berseru mengikuti gerakan kaki Mo Lian, dedaunan terbang terkena angin yang cukup kencang, tapi tidak menyakitkan.
"Mati!" Penyerang dari sebelah kanan menusuk pedang pendek ke arah dada Mo Lian. Sangat terlihat jelas bahwa pengalamannya kurang dan tidak memiliki kemampuan dalam tekniknya.
Mo Lian melambaikan tangannya, menepuk punggung tangan penyerang untuk melempar pedang pendek. Tapi belum berhenti, tangannya bergerak seperti ular yang menahan tangan lawan, kemudian dia melangkah maju dan menekan tangannya.
Dengan suara retak yang membosankan, pria di samping kanan depan Mo Lian berteriak keras saat tangannya patah.
Mo Lian mundur selangkah saat dua orang menyerang. Keduanya berhenti di tempatnya berdiri sebelumnya. Mo Lian mengangkat kaki kirinya dan menendang pelan orang di depannya seraya memukul dada orang di sebelah kirinya dengan telapak tangan.
Serangan balasan Mo Lian terlihat pelan, tapi alam nampak seperti membantunya dan itu meningkatkan serangannya.
Mo Lian yang telah berhasil menjaga jarak, kembali mundur dan membawa orang di sebelah kanannya yang masih meraung kesakitan. Dia mengambil jarum lain di belakang pinggangnya yang sepanjang seperti pedang pendek, ini digunakannya untuk menusuk titik akupuntur monster saat berlatih.
Bagaimanapun, titik akupuntur manusia dan binatang buas berbeda dan memiliki ketahanan yang berbeda.
Mo Lian menusuk jarum itu ke leher orang di sampingnya, membuatnya berhenti bergerak, kemudian menariknya dan menusuknya lagi ke bagian kepala sampai menembus ke sisi yang lain.
Orang itu kejang-kejang dan matanya memancarkan ketakutan. Dalam keengganan, dia mati perlahan di bawah rasa sakit dan penyesalan.
Qi Wuhui, yang memimpin di barisan belakang, terdiam tanpa bisa berkata-kata.
Mo Lian melihat semua orang dan tersenyum. Kemudian dia melesat dengan kecepatan tiga kali manusia normal, dia langsung pergi ke arah Qi Wuhui. Jarum lain muncul di tangan kanannya, sehingga dia membawa jarum di masing-masing tangan. Dia melambaikan tangannya, melempar jarum itu tepat ke arah dahi dua orang yang menyerangnya sebelumnya dan menembusnya.
“Sepuluh tahun untuk mengetahui perubahan empat musim, seratus tahun untuk mengetahui kehidupan, usia tua, penyakit, dan kematian, dan seribu tahun untuk melihat pergantian dinasti. Semuanya ada hukumnya."
Angin bertiup lebih kencang dengan awan di langit seperti sedang berlomba-lomba untuk menjauh dari tempat pertarungan.
__ADS_1
Qi Wuhui menggertakkan giginya kemudian menyerang. "Semuanya! Bunuh!"
Seorang yang membawa belati ganda bergerak lebih cepat dari Mo Lian dan sudah tiba di belakangnya. Dengan menggunakan dua Sanur, dia menebas leher Mo Lian.
Mo Lian berjongkok tiba-tiba sampai kedua tangannya menyentuh tanah dan kaki kanannya mendorong ke belakang, menendang lutut orang yang berada di belakangnya yang entah siapa namanya.
Penyerang itu menjerit dan terjatuh, lalu memegangi lututnya yang patah.
"Bunuh!" Qi Wuhui kembali memerintahkan saat mereka sudah berada tepat di depan Mo Lian. Dia mengayunkan kakinya menendang kepala Mo Lian.
Mo Lian mendorong kedua tangannya di tanah sebagai tumpuan, membuat tubuhnya sedikit naik. Dia mengepalkan tangannya, memukul tulang kering Qi Wuhui.
Qi Wuhui berhenti bergerak, wajahnya membiru saat menggigit bibirnya, kemudian berteriak keras saat rasa sakit mulai menjalar dari kakinya. Tapi dia tidak ingin membuang kesempatan ini, dia turun saat jatuh seraya menusuk pedang pendek ke arah punggung Mo Lian.
Tapi, semburan darah yang diharapkan tidak muncul, melainkan kejadian yang tak terduga membuat Qi Wuhui tercengang. Empat orang yang berdiri di belakang juga berhenti dan membuka mata lebar-lebar.
Pedang pendek, hanya mengoyak pakaiannya saja sebelum patah menjadi dua bagian. Jangankan luka, bahkan goresan pun tidak terlihat.
Mo Lian berdiri perlahan seraya membersihkan tanah di kedua tangannya. Lalu mengambil pedang patah di tangan Qi Wuhui untuk menebas lehernya. "Tidak mungkin, kan, aku membiarkan kalian pergi setelah kalian melihat ini?"
Mo Lian tersenyum tipis, lalu dia berlari seraya melempar pedang patah. Kemudian dia berhenti dua meter di depan salah seorang, lalu melompat dan menendang kepalanya menggunakan lututnya.
Tidak berhenti, Mo Lian langsung memegang kepala orang yang ditendangnya di saat tubuhnya jatuh.
"Bunuh!" Ketiga orang yang tersisa sudah tahu bahwa mereka tidak bisa selamat dari sini, tapi mereka tetap meraung marah.
Mo Lian berdiri perlahan dan mundur beberapa langkah dengan lompatan kecil yang menyingkat beberapa meter. Kemudian dia kembali melangkah ke depan.
Mo Lian menahan serangan dari samping kirinya dan menahan serangan dengan tangannya, kemudian menggunakan tangan lain untuk menusuk titik akupuntur di bagian dada untuk mempercepat kerja jantung dan memblokir aliran darahnya.
Lalu Mo Lian menyerangnya dengan tendangan berputar yang menggesek kakinya di rumput, menendang pergelangan kaki lawan dengan tumit kakinya.
Lawan itu kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh, tapi sebelum sempat jatuh di rumput, Mo Lian sudah berdiri dan menendang dadanya.
Orang yang ditendang, memiliki penampilan buruk setelah jantungnya berdetak cepat dan darahnya tersumbat. Dia kesulitan bernapas dan itu terasa sangat menyakitkan.
Mo Lian sedikit membungkukkan badannya saat mengindari serangan lain. Dia mengangkat tangannya, memukul dagu orang itu dengan telapak tangan. Lalu memutar tubuhnya ke kiri untuk mengambil ancang-ancang dan menyerang dada lawan dengan siku kirinya.
Kemudian, Mo Lian mengayunkan tangan kanannya, memukulnya di dada dengan tenaga yang cukup kuat.
"Keugh!" Pria paruh baya dengan sedikit luka di wajahnya tersedak, kemudian memuntahkan darah seteguk darah sebelum terjatuh dengan napas sesak.
Klang!
Yang masih hidup, mengayunkan pedangnya ke arah kepala Mo Lian dan sama seperti sebelumnya, tidak ada luka yang didapat, melainkan pedang pendek itu patah.
__ADS_1
Mo Lian mengulurkan tangan kirinya dan mencengkeram leher pria paruh baya yang memiliki sedikit rambut putih. "Katakan, dari mana kalian berasal. Jika kau memberi tahuku, aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit."
"Aku! Ming Qiu! Tidak akan ... mengatakannya!* Puuh!"
Mo Lian memiringkan kepalanya untuk menghindari ludah yang disemburkan Ming Qiu. Tatapannya sangat dingin dan ingin membunuhnya saat ini juga, tapi dia menahannya kembali. Dia menarik napas dan berkata, "Aku memberimu kesempatan untuk terakhir kalinya."
Ming Qiu mendengus dingin dan memandang Mo Lian dengan penuh penghinaan. "Aku tahu kau kuat! Tapi, Kota Louhu tidak sesederhana yang kau tahu ... Kota Louhu yang kau ketahui, hanya puncak gunung es di lautan!"
Mo Lian terdiam tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi wajahnya. "Karena kau tidak ingin bekerja sama, maka matilah."
Setelah mengatakan itu, Mo Lian mencengkeram lebih erat sampai lehernya patah. Dia melepaskan cengkeramannya, mayat itu terjatuh di tanah.
"Bahkan meski aku tidak mendapatkan informasi darimu, Ning'er sudah mulai mencarinya. Adapun rahasia di Kota Louhu, bukankah itu hanya pasukan rahasia Keluarga Guo dan beberapa tabu?"
Mo Lian melihat sekeliling, melihat delapan mayat dan darah yang membasahi tanah. Dia mengeluarkan beberapa ramuan, yang pertama digunakan untuk membekukan darah agar tidak terus mengalir dari luka, lalu menggunakan ramuan lain untuk memurnikan darah yang mengotori rumput dan menghilangkannya.
Adapun ramuan terakhir, itu digunakan untuk menghancurkan mayat. Tapi dia tidak bisa menggunakannya di sini, setidaknya harus di tempat berbatu agar tidak benar-benar meninggalkan jejak.
Mo Lian membersihkan semua jejak yang ada di sini, dan karena kehancurannya tidak terlalu besar, dia tidak perlu khawatir.
Setelah membersihkan darah di tempat pertarungan, Mo Lian mengikat mayat-mayat itu dan menariknya ke bagian terdalam hutan yang di sana ada gunung seperti pagar alam.
Sesampainya di sana, Mo Lian sudah tiba di tebing batu yang sangat sunyi di sekitarnya dan tidak ada lagi pohon yang tumbuh.
Mo Lian mengeluarkan ramuan yang sudah diuji coba pada Utusan dari Sekte Boneka.
Ketika cairan hitam itu mengenai mayat, mayat itu mengeluarkan asap putih seperti pembakaran; tubuhnya mulai meleleh seperti plastik yang dibakar dan mengeluarkan aroma busuk yang menyengat.
Perlahan, mayat itu sudah berubah menjadi cairan hitam dan menguap tanpa meninggalkan mayat yang tersisa. Bahkan pedang patah sudah meleleh.
Mo Lian mengerutkan keningnya ketika melihat ini. Dia masih belum puas dengan hasilnya karena terlalu lambat dan mengeluarkan aroma busuk. Akan lebih baik lagi jika tidak mengeluarkan asap, tapi yang lebih penting tidak meninggalkan bekas di tanah seperti pembakaran sampah.
Mo Lian menginjak bekas di tanah, lalu menggesek-gesek tanah sampai tidak beraturan, kemudian dia berbalik untuk kembali ke Kota Louhu. Tapi saat dia berbalik ke kiri, matanya menangkap sebuah gua yang terhalang oleh semak-semak dan itu cukup jauh darinya.
Dia merenung sejenak, melihat sekitarnya, kemudian menengadah melihat ke langit dan menemukan bahwa masih ada waktu sebelum memasuki jam makan siang.
"Apakah di dalamnya ada harta? Atau mungkin di sini menjadi tempat persembunyian orang-orang gila dari Kota Louhu?"
Mo Lian terdiam sejenak, karena tidak bisa menemukan jawabannya, dia memutuskan untuk mencari tahunya sendiri.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1