Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 68 : Pergi ke Provinsi Qinghai


__ADS_3

Mo Lian mengetuk pintu ruang kerja ibunya yang berada di lantai teratas. "Ibu, ini aku."


"Masuk."


Mo Lian membuka pintu secara perlahan setelah ia mendapatkan balasan dari dalam ruangan. Terlihat ibunya yang memakai pakaian formal sedang duduk di belakang meja kerja sembari menatap layar laptop. Beberapa detik kemudian, ibunya mendongakkan kepala menatap wajahnya.


"Ada apa?" tanya Su Jingmei menyingkirkan laptopnya ke tepi meja kerja.


Mo Lian menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. "Tidak ada, aku hanya ingin melihat Ibu bekerja," jawabnya berjalan menuju sofa yang berada di kanan depan meja kerja.


Su Jingmei terdiam sejenak dengan sebelah alis terangkat, ia menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Jika ada yang ingin Lian'er butuhkan, bisa beritahu pada Ibu," ucapnya melanjutkan pekerjaannya.


Mo Lian mengangguk kecil sebagai balasan, ia memandangi Ibunya yang bekerja sejenak. Kemudian merogoh kantung celananya dan mengeluarkan handphone, ia mengusap-usap layar handphone mencari informasi-informasi yang baru-baru ini terjadi di Kota Chengdu.


Di rasa tidak ada yang menarik, ia meletakkan handphone-nya di atas meja. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa, ia memejamkan matanya mencoba untuk beristirahat.


Su Jingmei menolehkan kepalanya ke arah kanan, kemudian tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya saat melihat anaknya yang tertidur. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju meja lainnya yang berada di ruangan ini. Ia berjongkok membuka lemari kecil dan mengeluarkan selimut, lalu berjalan kembali ke arah Mo Lian dan menyelimutinya.


Su Jingmei sendiri tidak mempermasalahkan jika Mo Lian tertidur di sini, ia juga tidak mempermasalahkan saat Mo Lian berkeinginan untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Karena ia berpikiran jika Mo Lian yang sekarang pastinya merasa tidak nyaman untuk melanjutkan sekolahnya, bagaimanapun dengan kekuatan Mo Lian, bersekolah hanya akan menjadi beban tersendiri.


Mo Lian yang masih belum tertidur tersenyum lembut. Perlahan, rasa kantuk mulai menyerangnya dan membuatnya tertidur.


Beberapa jam kemudian, Mo Lian terbangun dari tidurnya saat ada yang menepuk-nepuk pipinya. Ia membuka matanya perlahan, terlihat Ibunya sedang menatapnya dan menyentuh wajahnya. Dengan kedua tangan menyentuh sofa, ia menopang badannya untuk duduk.


"Ada apa, Bu?" tanya Mo Lian dengan mulut terbuka karena menguap.


"Ayo pulang. Ini sudah waktunya."


Mo Lian terdiam, ia melihat waktu di jam tangannya. Seketika itu juga ia membuka matanya lebar, ia tidak berharap akan tertidur untuk waktu yang lama meski sebenarnya ia hanya ingin beristirahat sebentar.

__ADS_1


Ia menurunkan kedua kakinya di lantai, kemudian berdiri menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang masih terlihat mengantuk. Setelah selesai, ia berjalan ke ruang kerja, di sana masih berdiri ibunya yang menunggunya selesai. "Ibu, aku sudah selesai."


Su Jingmei menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, ia menganggukkan kepalanya m "Ayo pulang, adikmu sudah menunggu dari tadi di lantai bawah."


Mo Lian terkekeh kecil, ia berjalan menghampiri Ibunya dan kemudian pergi bersama menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Tiga menit kemudian, layar kecil yang terletak di atas pintu lift menunjukkan angka satu, menandakan bahwa sudah sampai di lantai dasar. Pintu lift terbuka secara membelah, tanpa berlama-lama lagi Mo Lian dan Su Jingmei keluar dari dalam lift.


Ia menolehkan kepalanya melihat sekitar, di lantai dasar masih banyak sekali orang-orang yang berdatangan meski kantor sendiri sudah tutup. Mo Lian berjalan menuju cafe, lebih tepatnya menuju meja yang berada di samping dinding kaca, di sana terduduk dia wanita cantik yang memiliki usia sama, yang tak lain ialah Mo Fefei dan Yue Xin Mei.


"Fefei. Ayo pulang."


Mo Fefei dan Yue Xin Mei mendongakkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. Keduanya menganggukkan kepala kemudian berdiri dari tempat duduknya, keduanya berjalan menuju pintu keluar di mana di sana sudah berdiri Su Jingmei yang menunggu mereka bertiga.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka berempat pergi ke tempat parkir yang terletak di bawah tanah. Tempat parkir sendiri terbagi menjadi dua, untuk di halaman depan adalah tempat parkir yang dikhususkan untuk para tamu maupun pelanggan. Sedangkan tempat parkir yang terletak di bawah tanah adalah tempat parkir bagi karyawan.


Puluhan menit kemudian semenjak keberangkatan mereka dari tempat parkir, mobil yang mereka kendarai telah sampai di depan gerbang mansion. Gerbang itu terbuka, mempersilakan mobil memasuki halaman.


Keempat orang itu turun dari mobil. Mo Fefei dan Yue Xin Mei langsung berjalan menuju pintu masuk. Sedangkan untuk Su Jingmei, saat ia hendak berjalan mengikuti Mo Fefei, langkah kakinya terhenti saat Mo Lian menggenggam pergelangan tangannya. Ia berbalik menatap wajah Mo Lian. "Ada apa?"


Su Jingmei tersentak kaget. Provinsi Qinghai, meskipun memiliki wilayah yang luas seperti Provinsi Sichuan. Namun setengah dari Provinsi Qinghai adalah pegunungan, jadi cukup aneh saat ia mendengar Mo Lian ingin pergi ke sana. "Untuk apa kau pergi ke sana?"


Mo Lian terdiam dengan kepala masih menoleh ke sisi lain.


"Tatap wajah Ibu." Su Jingmei menyentuh wajah Mo Lian dan mengarahkannya pada wajahnya.


Mo Lian terdiam sejenak, kemudian menjawabnya, "Aku ingin pergi ke Gunung Kunlun."


Su Jingmei kembali tersentak, ia mencubit kedua pipi Lin Chen. "Gunung Kunlun kau bilang? Apa yang lakukan di sana? Apakah kau tidak tahu jika jalan di sana cukup terjal? Bagaimana jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Bagaimana—"


"Ibu. Aku bukan anak kecil lagi, terlebih lagi aku bisa menjaga diriku." Mo Lian memotong perkataan Ibunya, ia mengerti apa yang dikhawatirkan Ibunya, ia merasa senang. Namun saat ini ia harus cepat-cepat pergi ke sana untuk berburu Binatang Spiritual, dan membuat cincin ruang.

__ADS_1


Su Jingmei terdiam, air mata mulai mengalir di kedua sudut matanya. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Mo Lian dan memeluknya erat. "Bagi Ibu, sekuat apapun dirimu, kau tetaplah putra kecil Ibu." Ia melepaskan pelukannya, dan menyentuh pundak Mo Lian. "Baiklah, Ibu akan mengizinkanmu pergi, hanya saja, jaga dirimu baik-baik," lanjutnya.


Mo Lian menganggukkan kepalanya, ia sendiri tahu mengapa Ibunya sangat khawatir. Karena menurut mitos-mitos dan legenda yang beredar, Gunung Kunlun merupakan gunung suci tempat para dewa tinggal, para dewa-dewa di sana akan marah jika ada yang mengusik kediamannya. Dan yang terparah, orang-orang yang datang ke sana bisa menghilang seperti tertelan oleh lubang hitam.


Karena itulah Ibunya sangat marah saat mengetahui jika dirinya ingin pergi ke Gunung Kunlun. Tapi alasan utamanya adalah, Ibunya tidak ingin lagi merasakan kehilangan orang yang sangat berharga.


"Kapan kau akan pergi ke sana?" Su Jingmei bertanya sembari mengusap air matanya.


"Besok pagi. Aku berencana untuk satu hari saja di sana, dan yang terlama, mungkin sampai tiga hari," jawab Mo Lian seraya mengeluarkan sapu tangan dari kantung bajunya dan menyerahkan pada Ibunya.


Su Jingmei menerima sapu tangan yang diberikan Mo Lian, ia mengusap air matanya. Kemudian mengangguk kecil sebagai balasan. "Baiklah, Ibu akan mengatur keberangkatan mu ke Kota Xining besok pagi."


Setelah mengatakan itu, keduanya masuk ke dalam rumah untuk pergi ke kamar masing-masing, dan pada malam harinya mereka semua berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan malam.


***


Keesokan Paginya


Mo Lian membawa koper berisikan pakaian untuk beberapa hari. Kepergiannya ke Provinsi Qinghai sendiri hanya seorang diri tanpa membawa orang lain, itu karena ia tidak ingin membawa orang-orang yang kemungkinan akan memperlambatnya. Untuk pergi ke Bandara Shuangliu Chengdu sendiri ia diantar menggunakan mobil Ibunya, namun meski begitu beberapa orang dari Keluarga Qin dan Yun juga datang untuk mengantar kepergiannya.


Mo Lian menatap belasan orang yang berdiri di depannya. "Saat aku pergi, kalian merupakan pilar Kota Chengdu selain Pasukan Taring Naga. Mengapa aku berkata demikian, seharusnya beberapa dari kalian mengetahuinya sendiri saat membaca buku-buku teknik ..."


"Jaga keadaan kota tetap tenang, terlebih lagi Perusahaan Meiliafei. Aku tidak ingin lagi adanya pertumpahan darah di sana, dan jangan lupa terus tingkatan kultivasi kalian semua. Dalam beberapa bulan lagi, kemungkinan besar Organisasi Dunia Hitam akan bergerak."


Belasan orang yang berdiri di depannya sedikit membungkukkan badan dengan menangkupkan kedua tangan memberi hormat pada Mo Lian. "Baik, Master."


Mo Lian menganggukkan kepalanya dan sedikit menaikkan tangan kanannya sebagai balasan dari salam itu, kemudian ia berbalik berjalan menuju ruang tunggu.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2