Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 75 : Entahlah


__ADS_3

"Siapa sebenarnya Anda?"


Mo Lian hanya bisa terdiam dengan senyum lembut menatap wajah Xu Xumei. Ia melangkahkan kakinya di udara menghampirinya, melangkah di udara dan terbang di udara sangatlah berbeda. Jika terbang mengharuskan meringankan tubuh dan menerbangkannya menggunakan energi spiritual, maka berjalan di udara mengharuskan mewujudkan energi spiritual di udara dan memadatkannya agar bisa dipijak.


Tentu saja jika ingin berjalan di udara, orang itu haruslah memiliki pengendalian energi spiritual yang sangat tinggi.


Ketika jaraknya dengan Xu Xumei hanya tersisa beberapa langkah saja, ia menghentikan langkah kakinya. Ia menatap lembut wajah Xu Xumei. "Aku? Aku adalah cucumu, Nenek. Untuk saat ini hanya itu saja yang bisa ku beritahu, jika terlalu banyak, itu akan sangat berbahaya bagi kalian."


Xu Xumei menatap wajah Mo Lian dengan air mata yang menjelaskan jika saat ini ia senang, ia senang saat mendengar suara lembut Mo Lian yang memanggilnya dengan sebutan 'Nenek'. Karena terlalu senang, ia sampai menangis haru dan melupakan fakta jika Mo Lian memiliki kekuatan yang sangat mengerikan.


Xu Xumei ingin melompat ke arah Mo Lian dan memeluknya erat, tapi ia menahannya karena ada hal penting yang ingin ditanyakannya. Dengan bibir bergetar, ia membuka suaranya. "Berbahaya? Apa maksud—" Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya.


Ia menolehkan kepalanya, terlihat suaminya, Wu Yengtu sedang menatapnya dengan tatapan mata yang menyuruhnya untuk berhenti. Meski enggan, Xu Xumei hanya terdiam dan menganggukkan kepala mengikuti perintah suaminya.


"Apakah pertempuran yang kami lihat tadi, adalah dirimu? Jika iya, mengapa kau melakukannya?" Wu Yengtu bertanya menggantikan Xu Xumei.


Mo Lian tersenyum tipis, ia berbalik dan berjalan menuju ular yang telah mati dengan kedua tangan diletakkan di belakang punggungnya. Aura di sekelilingnya berubah, ia tidak lagi terlihat seperti pemuda biasa maupun Pejuang Bumi, kini ia terlihat seperti seorang penguasa dunia. Ia menghela napas panjang, dan kemudian menjawabnya, "Senior. Seharusnya tidak ada yang boleh mengetahui ini, tapi karena kalian baik padaku, bahkan menganggapku sebagai cucu kalian. Maka akan ku beritahu, itupun hanya sebagian kecilnya saja ..."


Mo Lian terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya, "Pertempuran? Itu adalah pembantaian satu pihak. Cahaya-cahaya yang berkelap-kelip itu adalah planet, ukuran terkecilnya adalah dua kali dari Matahari, dan yang terbesarnya 100 kali, bahkan lebih. Di sana dihuni oleh miliaran bahkan triliunan manusia, iblis, monster, binatang spiritual, dan lainnya ..."


"Lalu apa alasan dari pembantaian itu?" Mo Lian menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan. Meski dikatakan langit-langit ruangan, sebenarnya tatapannya menembus bebatuan yang menghalangi dan sampai ke luar angkasa.


"Alasannya sangat sederhana. Jika kau memiliki kekuatan yang besar, lalu ada orang-orang yang mencoba mencelakai orang tersayang kalian. Apa yang akan kalian lakukan?" Mo Lian berbalik menatap wajah Wu Yengtu.


Tubuh Wu Yengtu bergetar, keringat dingin mengucur deras membahasi wajahnya saat ia melihat siluet manusia yang berdiri di belakang Mo Lian. Siluet itu mengenakan pakaian tradisional China berwarna putih dan sabuk berwarna biru, lalu dilapisi dengan jubah emas megah, dan di kepalanya terdapat mahkota yang memancarkan energi kuat, yang mana membuat semua orang ingin bersujud saat melihatnya.

__ADS_1


"Ja- Ja- Jadi. Apa- Apakah yang kami lihat tadi benar-benar dirimu?" Wu Yengtu kembali bertanya dengan terbata-bata. Bahkan sampai melupakan pertanyaan yang diajukan Mo Lian.


"Entahlah ..." Mo Lian menggelengkan kepala sembari mengangkat kedua bahunya.


Semua orang terdiam dengan mulut terbuka, mereka menatap Mo Lian dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya. Kini mereka tidak lagi memandang Mo Lian seperti anak kecil maupun orang yang setara, sekarang di mata mereka terlihat ketakutan, kagum, cemas yang bercampur menjadi satu.


Mo Lian yang melihat itu hanya bisa terdiam dan menggaruk pipi kanannya sembari tersenyum canggung. Ia menundukkan kepala seraya menghela napas panjang, kemudian mendongakkannya kembali setelah beberapa detik. "Perlakukan saja aku seperti sebelumnya, tidak sebagai Pejuang, tidak sebagai rekan, melainkan sebagai seorang cucu," ucapnya dengan tatapan memohon.


Ketika melihat tatapan mata Mo Lian, mereka semua tersentak. Terutama untuk Xu Xumei, ia tahu betul arti tatapan itu, karena ia sendiri pernah merasakannya. Tatapan mata kesepian, tatapan mata yang meminta kasih sayang, tatapan mata kecewa karena ditinggalkan.


Xu Xumei menguatkan hatinya, ia melompat ke arah Mo Lian dan memeluknya erat.


Wu Yengtu, Xu Xumei, Jia Yaoyu, dan lainnya mengangguk kecil. Mereka semua berjalan menghampiri Mo Lian dan memberinya pelukan kecil, meski baru bertemu untuk waktu yang singkat, mereka sudah memperlakukan Mo Lian seperti cucu mereka sendiri dan melupakan fakta tentang kekuatan Mo Lian.


Kakek dan nenek aslinya? Itu sudah tidak perlu ditanyakan lagi.


Tidak lama kemudian, mereka semua melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah untuk membuat jaraknya sedikit terbuka.


Berpelukan seperti ini, seperti serial kartun yang sering dilihat Fefei dulu.


"Jadi. Apa kegunaan dari Danau Spiritual?" Wu Yengtu menatap wajah Mo Lian dengan pandangan penuh tanya.


Mo Lian tersenyum tipis kemudian mulai menjelaskan semua hal tentang Danau Spiritual. "Tapi, agar lebih maksimal, harus menggunakan pakaian kain putih polos. Namun akan lebih bagus lagi jika tidak mengenakan pakaian," ujarnya seraya menggaruk pipinya.


Mereka semua tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya terhadap penjelasan Mo Lian.

__ADS_1


Jika apa yang dikatakan Mo Lian benar. Tidak! Mereka semua sudah sangat mempercayai apa yang dikatakan Mo Lian, bagaimanapun Mo Lian memiliki pengetahuan dan kekuatan yang tidak dimiliki oleh semua orang.


Mereka semua memandang satu sama lain, kemudian menganggukkan kepala secara bersamaan tanda memiliki satu tujuan.


Salah satu dari mereka turun ke tanah, membuat segel tangan dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata. Kemudian diakhiri dengan kedua telapak tangan yang menyentuh permukaan tanah. "Teknik Bumi, Gerakan Pertama. Dinding Pelindung!"


Permukaan tanah bergetar hebat seperti gempa bumi, air danau juga ikut bergetar. Kemudian dari dalam danau muncul dinding batu yang membuat air melonjak beberapa puluh meter ke langit, dinding itu bukan hanya satu, melainkan lima dinding. Kini jika dilihat dari atas, Danau Spiritual sudah terbagi menjadi enam ruangan.


Wu Yengtu mengangguk kecil. "Dengan ini kita bisa berendam dengan tenang," ucapnya menyentuh dagu.


Mo Lian hanya bisa terdiam, untuk sekarang ia tidak terlalu tertarik dengan Danau Spiritual. Niat awalnya kemari untuk membunuh binatang spiritual dan mendapatkan tulangnya, ia berbalik mendarat tepat di depan kepala ular dengan kaki kanan menyentuh tanah terlebih dahulu.


Ia berjalan di pinggir tubuh ular dengan tangan kiri menyentuh sisik tiap sisik, ia mencari bagian tulang yang cocok untuk digunakan sebagai tempat penopang Batu Spasial.


Tidak lama kemudian, ia berhenti tepat di bagian tengah-tengah dari tubuh ular. Dengan tangan kanannya diselimuti energi spiritual, ia melepas sisik-sisik yang melindungi dagingnya. Sisik-sisik ini sendiri merupakan barang berharga, ini bisa dipakai sebagai baju zirah maupun pelapis mobil yang daya tahannya melebihi baja.


Bukan hanya sisiknya saja, dagingnya juga bisa dimanfaatkan. Daging ular seperti ini sangat diminati di Galaxy Pusat, orang-orang akan membayar mahal hanya untuk bisa mencicipi masakan dari daging ular sebesar ini. Tapi tidak sembarang ular, ular itu harus berada diatas Ranah Perbaikan Qi, dan dibawah Ranah Alam dan Manusia, lalu warnanya juga haruslah putih. Jika hitam, dagingnya akan berasa masam dan alot.


Dengan tangan kanan memegang pedang spiritual, Mo Lian mengayunkan pedangnya melepaskan daging dari tulangnya. Perlahan, tulang putih bersih nan kokoh terlihat di depan matanya, ia mengusap pelan tulang yang berbentuk setengah melingkar. "Ketahanan ini, energi spiritual yang terkandung di dalamnya. Sangat cocok untuk penyangga Batu Spasial."


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2