Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 391 : Pembaptisan Dewa?


__ADS_3

Dewa Kabut Pembantaian tertegun sebelum tertawa. "Hahahaha! Sombong!"


Dewa Kabut Pembantaian melepaskan kekuatannya yang berupa kabut awan. Kabut awan itu menyebar jatuh seperti awan cumulonimbus yang menghisap apa pun di sekitarnya, membuat semua orang kecuali Mo Lian berteriak dengan rasa takut dan berlari untuk menyelamatkan diri.


Mo Lian melihat awan kabut di sekitarnya yang mencoba menyerangnya namun tidak bisa. "Serangan yang langsung menyerang jiwa. Mengendalikan Inti Jiwa orang lain untuk menyerap semua nutrisi tubuh sebelum menelan Inti Jiwa. Tapi, ini hanya efektif untuk Kekuatan Jiwa yang lebih rendah."


Menghadapi musuh tanpa bentuk seperti Dewa Kabut Pembantaian tidak sulit, tapi tidak bisa dikatakan mudah.


Serangan fisik tidak berguna, dan serangan jiwa juga tidak terlalu berdampak besar karena Dewa Kabut Pembantaian mengkultivasikan jiwanya.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin, kemudian langsung berjongkok saat menghantamkan tangannya ke tanah.


Tanah di bawahnya meledak saat daratan dalam radius ratusan mil darinya jatuh lebih dalam ke tanah; retakan besar menyebar ke segala arah dan ada ledakan api seperti pilar yang menyembur dari dalam tanah ke langit.


Pilar-pilar api menembus kabut awan menciptakan lubang merah yang sangat panas; tanah-tanah terbakar sampai meleleh seperti magma panas yang tersimpan di dalam perut bumi.


Booom! Booom! Booom!


Tanah terus meledak tanpa henti saat mengeluarkan api dari dalam tanah membentuk naga. Naga api meraung marah sebelum menyemburkan napas api yang memusnahkan kabut awan.


Dewa Kabut Pembantaian sangat marah. Kekuatannya kembali dilepaskan dan itu lebih kuat dari sebelumnya. Langit di seluruh gurun pasir menghitam seperti kegelapan di malam hari tanpa kilauan cahaya bintang; awan hitam kembali jatuh lebih padat dengan aura kematian yang bercampur di dalamnya.


Dalam sekejap, api yang muncul dari dalam tanah tertelan oleh kegelapan sampai benar-benar menghilang tanpa sedikit pun cahaya.


Mo Lian tersenyum tipis. "Seperti yang diharapkan dari praktisi jiwa."


Mo Lian melayang perlahan meninggalkan daratan. Napasnya lembut tapi terdengar suara dengkuran naga yang sedang tertidur di dalam tubuhnya.


Gruoahhh!!


Dengan kilatan petir biru dari tubuhnya, siluet naga petir muncul di belakangnya dengan raungan keras. Raungan itu membawa amarah alam yang membelah cermin tanah, mengungkapkan lautan petir dan air yang bergolak.


Kekuatan naga ini berasal dari Esensi Darah dari Lan Zhian Shen. Lan Zhian Shen berasal dari Ras Naga murni, sehingga Esensi Darah yang dimiliki bisa terus ada meski diambil berkali-kali, walaupun harus menunggu waktu yang tidak sedikit untuk pulih.


Mo Lian diberikan Esensi Darah atas rasa terima kasih karena telah membantu memusnahkan semua Sekte Racun Minghai. Karena itu dia memiliki sedikit kekuatan dari Ras Naga, meski tidak seberapa dibandingkan dengan Kunpeng.

__ADS_1


Kilatan-kilatan petir yang keluar dari tubuh naga terus membesar dengan suara ledakan keras. Petir-petir itu menyerang secara kasar sampai menekan Domain Pembantaian yang mengelilingi Mo Lian.


Mo Lian melesat keluar dari dalam awan hitam setelah melemahkan Domain Pembantaian. Dia langsung mengayunkan tangannya secara vertikal ke bawah sesaat setelah keluar, menciptakan sebuah tirai petir yang jatuh menuju kabut awan.


Kabut awan yang berlubang di mana-mana, mulai memadat kembali sampai benar-benar gelap tanpa ada celah yang bisa ditembus. Kemudian kabut awan itu melesat ke arah tirai petir yang jatuh secara menyilang ke arahnya.


Dengan ledakan keras, dua serangan yang berlawanan itu bertemu, mengakibatkan terjadinya badai spasial di mana-mana. Bahkan lubang besar muncul di langit yang menembus angkasa luar, menarik bebatuan di luar angkasa untuk masuk ke dalam lubang dengan daya hisap luar biasa.


Dari jauh, petir dan kabut awan terus berseteru. Kekuatan keduanya bisa dianggap setara, tidak ada satu pun dari mereka yang nampak mundur dan hanya diam di tempat.


Gurun pasir di bawahnya sudah terbelah dua membentuk jurang yang sangat dalam, yang tidak tahu seberapa jauh kedalamannya. Pasir-pasir di sekitar jurang itu turun seperti air terjun yang memasuki dunia baru.


Dari badai spasial yang muncul tadi, terlihat bebatuan besar yang jatuh seperti meteor. Itu menghantam gurun pasir dengan ganasnya, menciptakan kawah besar dengan gelombang kejut yang menerbangkan pasir dalam jumlah besar ke segala arah.


Mo Lian mengangkat tangannya lagi, tangannya memancarkan cahaya biru dengan kilatan petir yang mulai berkumpul di sana. Kemudian dengan menggenggam tangannya, langit mengeluarkan suara menggelegar saat awan hitam mengecil karena munculnya Sambaran petir yang memenuhi langit.


Terdengar suara serak yang batuk dari dalam kabut awan, kemudian awan di langit itu berangsur-angsur turun membentuk tubuh raksasa. Tubuh itu masih dalam bentuk awan dengan matanya telah berubah menjadi merah.


"Kau adalah orang pertama yang menekanku sampai seperti ini."


Dewa Kabut Pembantaian sangat marah. Dia mengangkat tangannya, membuat daratan bergetar dengan gravitasi yang berbalik. Kemudian mengayunkan tangan sebesar gunung ke arah Mo Lian.


Mo Lian mendongak melihat tangan besar yang jatuh ke arahnya, membawa tekanan berat dengan kehancuran yang luar biasa. Alam di sekitarnya mulai rusak parah, lebih parah dari sebelumnya; gurun pasir yang telah terbelah dan terbakar, berubah menjadi massa hitam.


Mo Lian mengangkat tangannya, mengubah aura langit seraya menghentikan gerakan tangan awan yang jatuh menimpanya.


Fluktuasi energi yang sangat kuat berkumpul di langit, memberikan tekanan yang tak terbayangkan bagi makhluk hidup di Alam Semesta yang fana ini. Tekanan ini seperti ingin menghancurkan apa pun di bawahnya, menganggapnya semut lemah tak berharga.


Dewa Kabut Pembantaian merasakan tekanan saat tangannya berhenti bergerak. Dia memaksa kepalanya untuk mendongak melihat langit. "Pembaptisan Dewa?"


Pembaptisan Dewa? Mo Lian sedikit bingung, tapi melihat reaksi Dewa Kabut Pembantaian, dia sedikit mengerti. Sepertinya setiap kali ada yang menerobos Dewa Bumi, dia tidak mendapatkan hukuman, melainkan cahaya emas yang menyinari. Mungkin, di Alam Selestial ada kekurangan Dewa yang akhirnya menghargai setiap Dewa Bumi, meski masih tidak peduli apakah mereka bisa bertahan hidup atau tidak dalam pertempuran.


Dewa Kabut Pembantaian melihat Mo Lian. "Kau, sebenarnya Dewa Bumi?"


Ada sedikit getaran di mata Dewa Kabut Pembantaian saat melihat Mo Lian. Awalnya dia berpikir Mo Lian paling kuat hanya Dewa Merah, tidak seperti ini. Walaupun dia adalah Dewa Bumi yang menerobos lebih dulu, tapi dari kuantitas energi, dia bisa tahu bahwa dia bukan tandingannya.

__ADS_1


Mo Lian berdiri di tengah-tengah sinar cahaya yang membasuh tubuhnya; rasa hangat yang menyenangkan memasuki tubuhnya dengan semua hal buruk dikeluarkan.


"Mengeluarkan semua kotoran, membersihkan pikiran buruk dan menjadi murni untuk melangkah ke Keabadian?"


Mo Lian masih sedikit bingung dengan perubahan ini dan pengetahuan yang baru saja didapat. Bahkan jika dia berpengetahuan luas, dia hanya tahu informasi sampai Dewa Pemula, selebihnya tidak mengerti apa pun.


"Sepertinya aku harus mencari buku kuno, atau menyerang Organsiasi Penjarah Spiritual untuk mengetahuinya."


Banyak hal yang tidak diketahui Mo Lian, terutama tentang Pembaptisan Dewa. Jika Pembaptisan Dewa memiliki efek membersihkan pikiran buruk dan menjadi murni, lalu bagaimana dengan Kultivator Iblis dari Aliansi 10.000 Ras dan Organisasi Penjarah Spiritual.


Tidak perlu jauh-jauh, bahkan Dewa Kabut Pembantaian di depannya sudah menembus Dewa Bumi.


"Apa itu Pembaptisan Dewa?" Mau tidak mau Mo Lian menahan diri untuk membunuh Dewa Kabut Pembantaian dan bertanya.


Keduanya tidak lagi mengerahkan serangan, meski petir dan kabut awan masih terus menghantam satu sama lain untuk mempertahankan Domain masing-masing.


Dewa Kabut Pembantaian memandang Mo Lian yang masih bermandikan cahaya emas. "Aku tidak tahu! Bahkan jika aku tahu, aku tidak berniat untuk memberitahunya!"


Mo Lian tersenyum tipis, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia mengangkat tangannya perlahan di depan dada, kemudian mengatupkannya saat melepaskan kekuatan dari Element Ruang.


Dengan suara mendesing, tiba-tiba ruang di sekitar mereka terdistorsi, dan dalam sekejap mata, pandangan mereka mengalami perubahan yang sangat jelas.


Tidak ada lagi langit biru atau gurun pasir, saat ini mereka berdua berada di luar Bintang Mu.


Dewa Kabut Pembantaian tercengang dengan mata merahnya yang membesar di tubuh kabut awan. Dia tidak menyadari perubahan yang tiba-tiba ini.


Mo Lian mengabaikan keterkejutan Dewa Kabut Pembantaian dan melihat Bintang Mu. Dia melihat salah satu titik di sana telah berlubang dan banyak aura yang bocor, itu adalah efek dari pertarungan mereka berdua.


Dengan melambaikan tangannya, lubang di salah satu penghalang itu langsung menutup dan menahan aura yang bocor.


Mo Lian kembali melihat ke arah Dewa Kabut Pembantaian. Awalnya dia ingin mengambil Inti Jiwa-nya untuk meningkatkan kekuatan, tapi setelah mendengarnya “Pembaptisan Dewa”, dia mengubah rencananya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2