
Mo Lian melepaskan jubah emas yang menyelimutinya, dan meraih Pil Ilahi yang melayang tepat di depannya. Ia mengamati pil yang baru saja dibuatnya, pil ini adalah pil yang sangat efektif dalam menghilangkan racun dari Sekte Racun Minghai. Resep dari pil ini adalah temuannya sendiri, yang harusnya 500 tahun dari sekarang akan tersebar dan digunakan oleh semua orang di Sekte Zhongjian.
"Cukup bagus untuk bisa menyuling pil ini saat aku masih ditingkat Inti Emas." Mo Lian menggenggam Pil Ilahi dengan kuat, memastikan apakah pil ini mudah dihancurkan atau tidak. Ia mendongak melihat naga, kemudian melemparkannya. "Terima ini."
Naga itu terlihat panik saat melihat Mo Lian yang melempar pil berharga seperti melempar sampah. Dengan tubuh yang merasakan sakit, ia bergerak dan membuka mulutnya lebar menelan Pil Ilahi secara langsung.
Bang!
Dentuman keras yang teredam terdengar dari dalam tubuh naga yang menelan Pil Ilahi. Energi spiritual dalam jumlah besar menyebar ke sekujur tubuh naga yang panjangnya lebih dari sepuluh mil itu, dan mulai terlihat satu persatu sisiknya mulai terlepas yang kemudian digantikan dengan yang baru.
"Groaahhhh!" Naga itu berteriak keras mengungkapkan rasa sakitnya, yang membuat dimensi lain yang berada di dalam gunung batu bergetar hebat.
Mo Lian menatap datar naga yang kesakitan itu. "Pil Regenerasi dan Kelahiran Kembali, itu bisa menghilangkan segala racun maupun meregenerasi anggota tubuh yang menghilang, serta membuatmu terlahir kembali menjadi naga yang berbeda. Jadi tahan saja, jika tidak, kau akan mati!"
Mendengar hal itu, naga itu menggertakkan giginya mencoba untuk menahan rasa sakit yang sangat menyiksa. Rasa sakit yang diterima berbeda-beda, tergantung siapa yang menyerapnya.
Mo Lian sendiri sudah pernah merasakan rasa sakit yang dialami naga itu sebanyak dua kali. Yang pertama saat menyerap Pil Tiga Warna di Sekte Dongfangzhi, dan saat menembus Ranah Inti Perak di Negeri Surgawi, yang mana saat itu ia mendapatkan Tubuh Emas.
Naga itu kembali berteriak saat hampir semua sisiknya terlepas dan digantikan dengan yang baru, terlebih saat di bagian perutnya yang harus terpotong setengahnya, menghilangkan bagian yang terkena racun, serta mengeluarkan semua racunnya dari sana.
Mo Lian menoleh ke kiri melihat Qin Nian yang terdiam membeku. Ia mengarahkan tangannya ke sana, membuat dinding pelindung agar tidak melukai Qin Nian.
Proses regenerasi sekujur tubuh naga itu memakan waktu beberapa jam lamanya, dan ia merasa hari sudah memasuki siang. Namun karena di sini berada di dalam gunung, waktunya seperti berhenti.
Mo Lian yang melihat sisik-sisik naga berjatuhan tidak tinggal diam saja, ia mengambilnya dan menyimpan ke dalam Cincin Ruang, termasuk darah, taring maupun Racun Minghai. Semua bahan itu sangat sulit untuk dijumpai, ia bisa memasukkan esensi racun ke dalam pedang yang akan diperbaikinya, dan dilapisi oleh serat sisik, yang kemudian dimurnikan oleh darah naga.
Tiga jam berlalu dengan cepat, proses regenerasi sudah berakhir dengan keberhasilan yang memuaskan tanpa adanya sedikitpun cacat.
Naga itu kembali berteriak dengan kepala menengadah melihat langit biru yang sebenarnya adalah langit gua. Kemudian ia menunduk menatap Mo Lian. "Terimakasih karena telah menyembuhkan racun yang telah menyiksa Hamba selama tiga puluh ribu tahun."
Mo Lian hanya diam dan mengangguk kepalanya sebagai balasan. Kemudian ia turun perlahan dan duduk bersila di tepi danau yang berada tepat di depan naga, atau di bawahnya tadi.
Danau ini adalah sumber air yang dilihatnya tadi, dan danau ini juga mengandung energi spiritual yang sangat murni, terutama memiliki aura naga, cocok untuk memurnikan pedangnya yang patah, meski tidak ditambahkan dengan bahan lain.
__ADS_1
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang dan mengeluarkan dua patahan pedang yang didapatnya dari dua tempat berbeda. Ia meletakkan dua patahan pedang ith di atas rerumputan tepi danau.
Naga itu tersentak saat melihat pedang yang dikeluarkan Mo Lian, dengan keringat dingin yang mengalir membasahi wajahnya. "Pe- Pedang itu, dari mana Anda mendapatkannya?"
Mo Lian mengalihkan pandangannya pada naga yang berada di kirinya. "Reruntuhan di dimensi lain. Apakah kau mengetahui pedang ini?"
Naga itu mengangguk dengan gerakan kaku. "Te- Tentu, pedang itulah yang melukai ku. Saat aku tiba di bintang kecil ini, pedang itu menancap pada tubuhku dan terlepas dengan sendirinya." Suaranya terdengar berat dan bergetar, seperti takut dengan pedang yang digenggam Mo Lian.
Mo Lian terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Ia tidak menduga jika pedang ini adalah pedang milik Sekte Racun Minghai, dan karena informasi yang didapatnya ini pula. Ia akhirnya mengetahui jika Masternya datang ke Bumi mungkin saja untuk mendapatkan pedang ini.
Dengan kekuatan Masternya, harusnya pedang ini didapatkan Masternya. Namun jika diingat kembali, ia tidak pernah melihat Hong Xi Ning menggunakan pedang ini. Hingga ia hanya bisa menduga jika pedang ini dihancurkan agar tidak terjadi lagi pembantaian yang menimpa Ras Naga.
Kemudian saat ia membantai Sekte Racun Minghai, ia teringat akan seseorang yang mengatakan jika mendapatkan pedangnya kembali, Sekte Racun Minghai bisa menghilangkan Sekte Zhongjian.
Tentu saja Mo Lian hanya menganggapnya omong kosong. Karena dengan ribuan Dao Immortal, masih tetap tidak bisa mengalahkan dua Heavenly Immortal, yang salah satunya sudah menembus God, dan seharusnya 700 tahun lagi akan naik ke Alam Selestial.
Mo Lian menggeleng pelan dan kembali meletakkan patahan pedang di atas rumput. Ia melepaskan energi spiritualnya dengan kekuatan jiwa sekali untuk mengendalikan air danau di depannya.
Dua patahan pedang itu melayang beberapa meter dari atas kepalanya, dan bergerak ke tengah-tengah danau. Ia merentangkan kedua tangannya, memunculkan sisik naga berwarna biru di sebelah kanan, dengan dua gumpalan cairan berwarna merah berkilauan serta hitam pekat yang mengeluarkan aura hitam.
Mo Lian mengerakkan tangan kanannya perlahan, membuat sisik sebesar mansion itu bergerak ke depan. Ia juga melepaskan api biru yang berasal dari energi jiwanya untuk melebur sisik dan mengubahnya menjadi serat tipis.
Peleburan sisik ini membutuhkan usaha yang ekstra keras untuk melakukannya, karena sisik merupakan salah satu bahan yang cukup berharga dan keras. Sangat cocok untuk digunakan sebagai bahan pembuat jirah.
Puluhan menit berlalu, sisik biru itu akhirnya mulai berubah warna menjadi merah terang seperti logam yang hampir meleleh, meski sebenarnya masih membutuhkan waktu yang sangat lama lagi.
Tiga jam berlalu lagi, sisik itu akhirnya mulai meleleh, berubah menjadi lava yang mengalir keluar dari dalam gunung berapi.
Dengan cepat Mo Lian kembali bertindak, ia mengepalkan tangan kanannya dan menariknya ke belakang, membuat benang tipis yang berasal dari cairan sisik naga. Yang kemudian dikendalikannya untuk melilit dua patahan pedang agar menyatu kembali.
Serat sisik itu mulai menyatu pada bagian yang tidak lengkap, yang kemudian saling tarik-menarik antara dua patahan pedang agar menyatu kembali. Namun sangat sulit untuk menyatu, seperti ada magnet dengan kutub yang sama.
"Berani menolak kehendakku? Bahkan langit harus mendengarkan ku, dan kau pedang rusak berani menolaknya?" Mo Lian berdiri dari tempat duduknya. Ia mengibaskan tangannya secara menyilang dari kiri bawah ke kanan atas.
__ADS_1
Bang!
Dentuman lainnya kembali terjadi saat dua patahan pedang yang secara tiba-tiba menyatu tanpa dapat menolaknya lagi.
Pedang itu kembali bergetar dan memancarkan aura hitam dengan kabut merah mengerikan yang menyebar ke segala arah, membuat tekanan udara menjadi lebih berat dan menekan siapapun yang berada dibawah Alam dan Manusia.
Meski demikian, Mo Lian tidak merasakan adanya tekanan, dan untuk Qin Nian, itu mendapatkan perlindungan dari naga yang sudah sembuh.
Mo Lian kembali merentangkan tangan kirinya, yang kemudian mengarahkannya ke depan, menuju pedang yang telah menyatu kembali. Perlahan, racun itu mulai terserap oleh pedang dan merubah penampilan pedang menjadi lebih pekat dengan aura merah kehitaman.
Kemudian ia melapisinya lagi dengan serat yang masih tersisa, untuk menambah daya tahan pedang dan menjaga agar racunnya tidak menghilang.
Setelahnya, Mo Lian menyentuhkan kedua telapak tangannya sembari membuat kuda-kuda. Gumpalan darah dalam jumlah besar itu bergerak dan mulai membasuh pedang untuk waktu yang lumayan lama.
Dari dalam gumpalan darah yang membasuh pedang itu mulai memancarkan cahaya merah terang yang menyilaukan mata, yang kemudian meledak begitu saja, bersama dengan angin yang menyebar bagaikan sayatan pedang tajam. Tak lama kemudian, cahaya merah melonjak naik ratusan meter ke langit, menembus udara seperti pisau tajam yang menghantam ujung dari langit gua.
Cahaya merah itu menyebar luas setelah menghantam langit-langit gua. Dengan cepat ia melompat dari tempatnya berdiri dan menangkap pedang yang melayang tak terkendali, lalu menyimpannya ke dalam Cincin Ruang, dan menghilangkan cahaya yang menyebar tadi.
Mo Lian bernapas terengah-engah dengan keringat membahasi tubuhnya. "Ha- Hampir saja, jika aku telat sedikit saja, pedang ini akan mengamuk dan melepaskan lebih banyak lagi aura kematian ..."
Mo Lian tidak menduga pedang yang dimurnikannya memiliki kekuatan sebesar itu. Ia berpikiran pedang ini mampu melukai Jiwa Emas, bahkan Dao Immortal, dan membunuhnya secara perlahan karena racun yang terkandung di dalamnya.
"Dengan pedang ini, aku mampu menahan sembilan Dao Immortal yang akan datang ke Bumi dalam waktu satu tahun lagi. Tapi sebelum itu, aku harus berhasil menembus Alam dan Manusia, agar perbedaan kekuatan di antara kami tidak terlalu besar."
Jika pertempurannya nanti melawan sembilan Dao Immortal benar-benar terjadi, tentunya akan sangat mengguncang, dan yang terparahnya dapat menghancurkan planet-planet di sekitar.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1