
—Alam Semesta—
Gemuruh yang menggelegar terdengar di setiap sudut di Alam Semesta. Kilatan-kilatan petir bisa di lihat dari mana pun, dan ada tekanan kuat yang menggetarkan hati setiap orang. Banyak yang melihat ke atas, bahkan keluar dari bintang masing-masing untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Kemudian suara retak terdengar sangat keras, sampai meledakkan gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.
Mo Fefei yang berada di Bintang Peng, terluka dengan darah mengalir di kedua rongga matanya. Gendang telinganya pecah, dan ini saat dia sudah mencapai Dewa Merah tahap Awal, entah apa yang terjadi dengan mereka yang masih Heavenly Immortal ke bawah.
Dia tertatih-tatih, melihat sekitarnya yang porak-poranda. Ini semua terjadi dengan tiba-tiba, tapi dia tahu, tempat ini masih terbilang sangat aman karena adanya perlindungan dari Mo Lian. Entah apa yang terjadi di tempat lain yang tidak ada perlindungan, dia tidak bisa membayangkannya.
Mo Fefei menengadah, dia melihat langit terbelah, memperlihatkan angkasa luar, tapi tidak gelap, melainkan ada garis-garis retakan seperti sarang laba-laba.
"Matriak ..."
Mo Fefei melambaikan tangannya tanpa melihat ke belakang. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak berhubungan dengan Kakak selama dua tahun. Hanya dia yang tahu apa ini semua, tapi aku merasa, tidak hanya Bintang Peng, tapi semua tempat di Alam Semesta mengalami kehancuran yang sama."
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" Xiao Mei bertanya dengan nada khawatir.
Mo Fefei berbalik, mengangkat tangannya dan mengusap kepala Xiao Mei. "Buka pelindung sekte, dan tampung semua orang di dekatnya. Bencana di luar sangat kuat, hanya di sini kita bisa aman ... setidaknya kemungkinannya lebih tinggi."
Xiao Mei menganggukkan kepalanya. Dia menangkupkan kedua tangannya, lalu berbalik untuk pergi setelah mendapatkan izin.
Melihat Xiao Mei yang pergi, Mo Fefei kehilangan senyumnya. Ekspresinya kembali kaku, berusaha sekuat tenaga menekan kepanikannya.
Dia kembali melihat langit yang terbelah...
Bang!
Tiba-tiba dentuman lain kembali datang, memperlebar retakan di angkasa, tapi kemudian, itu meledak dengan cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Cahaya itu juga mengeluarkan suhu yang sangat panas, seperti matahari datang tepat di depannya.
Sementara itu, Mo Lian yang sudah memukul Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno, bergegas mengejar mereka berdua yang sudah turun ke Alam Semesta.
Kedatangan mereka di Alam Semesta membawa kehancuran baru. Kekuatan mereka tidak ditahan oleh hukum, sehingga badai spiritual menghancurkan apa pun yang dilewatinya, banyak kehidupan yang musnah, bahkan galaksi-galaksi besar tidak luput darinya.
Mo Lian mengulurkan tangannya ke depan, seolah mencoba meraih Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno yang melesat jatuh.
Ruang spasial terbentuk di belakang Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno, mengeluarkan suhu panas yang sangat kuat dengan aura kematian yang pekat. Tanah merah tandus mengeluarkan api terlihat dari ruang spasial yang terbentuk itu.
Mo Lian mengangkat tangannya, kemudian mendorongnya lagi.
Tekanan yang tak terbayangkan memborbardir Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno, menghempaskan keduanya memasuki Alam Hanzi melalui portal.
__ADS_1
Di atas atau di belakang Mo Lian, terlihat banyak bangunan maupun pulau-pulau yang berjatuhan. Dewa Abadi jatuh satu demi satu, kehilangan kualifikasi untuk menjadi Dewa, semua kekuatan mereka menghilang, dan mati perlahan karena sudah menjadi makhluk yang lebih lemah dari manusia biasa.
Tubuh mereka menyusut dengan cepat, membeku dan kemudian meledak.
...***...
—Alam Hanzi—
Booom!
Dao Surgawi dan Leluhur Kaisar Dewa Kuno menghantam gunung berapi yang diselimuti oleh nyala api dengan ukuran melebihi gunung itu sendiri.
Ketika keduanya jatuh, ledakan keras terbentuk, api menyala lebih besar, gelombang udara panas menghapuskan apa pun yang dilewatinya. Kota-kota dihancurkan tanpa meninggalkan bekas, semua kehidupan tersapu tanpa meninggalkan debu.
Mo Lian melesat, dia mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu, dan masing-masingnya menginjak dada Dao Surgawi maupun Leluhur Kaisar Dewa Kuno.
Karena itu, ketika Mo Lian mendarat, api meledak membentuk pilar yang menembus langit merah, menimbulkan retakan-retakan seperti sarang laba-laba di langit. Ini seperti di mana Alam Selestial dihancurkan, yang akibatnya menyatu dengan Alam Semesta.
Suara mendesing, Satu Kesatuan Niat Pedang muncul di belakangnya. Pedang putih membesar sampai tidak terlihat di mana gagangnya, kemudian miliaran pedang emas muncul dengan cepat mengelilingi pedang utama, mengarah ke bawah dengan sudut berbeda.
Dengan melambaikan tangannya, miliaran pedang itu turun seperti badai hujan, memborbardir daratan dan memberikan kehancuran yang luar biasa.
Leluhur Kaisar Dewa Kuno menggertakkan giginya. Dia mencengkeram erat kaki kanan Mo Lian dengan kedua tangan.
Leluhur Kaisar Dewa Kuno melesat seperti cahaya hitam, menghancurkan barisan pedang yang menancap di tanah, bahkan membentuk ngarai yang sangat dalam. Kemudian saat kecepatannya mulai melambat, dia memantul di tanah seperti batu pipih yang dilemparkan ke permukaan air sungai.
"Keugh!" Dao Surgawi tersedak oleh darahnya sendiri yang tersendat di tenggorokan. Darah itu berasal dari luka dalam karena tekanan yang diberikan oleh Mo Lian di dadanya semakin berat.
Booom!
Beban yang ditanggung Dao Surgawi semakin besar, sampai akhirnya tubuhnya tidak bisa menahannya lagi.
Kaki Mo Lian menembus dada Dao Surgawi, tapi tidak ada kesenangan di wajahnya. Dia tahu, luka semacam ini tidak cukup untuk membunuh Dao Surgawi. Bahkan meski dia sudah berubah dari Dao ke Kekacauan, dia masih harus berusaha untuk membunuh Dao Surgawi.
Mo Lian mengayunkan kaki kirinya, membuat Dao Surgawi terhempas sama seperti Leluhur Kaisar Dewa Kuno.
Dengan sedikit gerakan, Mo Lian berpindah di atas Dao Surgawi. Mengarahkan tangannya $(# menekan Dao Surgawi untuk menghantam tanah untuk sekali lagi.
Mo Lian mengangkat tangannya yang lain sambil menahan Dao Surgawi dengan satu tangan. Dewa Kematian muncul di belakangnya, ukurannya sangat besar, mengulurkan tangannya dan meraih Satu Kesatuan Niat Pedang.
Pedang itu berubah warna menjadi merah darah, mengeluarkan aura kematian yang pekat. Kabut darah menyebar, membuat langit menjadi lebih merah.
__ADS_1
Dewa Kematian mengangkat Satu Kesatuan Niat Pedang, kemudian menancapkannya di tanah di mana Mo Lian berada.
Pedang itu menembus Mo Lian dalam arti lain, melewatinya dan menusuk Dao Surgawi sampai terbelah dua.
"Aaarrrgghh!" Dao Surgawi berteriak keras. Bahkan meski tubuh fisiknya telah mati karena serangan ini, tapi dia masih tetap hidup dan bisa merasakan sakit.
"Brengse*!" Leluhur Kaisar Dewa Kuno berpindah tempat di samping kanan Mo Lian, tapi dalam jarak belasan ribu mil.
Leluhur Kaisar Dewa Kuno memasang kuda-kuda, kemudian terlihat ada sosok yang sama seperti dirinya berdiri di atasnya. Ukurannya lebih kecil dari Dewa Kematian, dan bentuknya seperti Malaikat Jatuh.
Malaikat Jatuh itu mengepakkan sayapnya, dan di atas di antara sayapnya berkumpul energi hitam yang memadat.
Tapi tiba-tiba...
Dengan suara mendesing, Dewa Kematian mengangkat pedang yang menancap di tanah, berbalik arah ke Malaikat Jatuh dan mengayunkan pedangnya secara vertikal ke bawah. Semua tindakan hanya dilakukan dalam seperkian detik dan membelah Malaikat Jatuh menjadi dua bagian.
Bahkan, Leluhur Kaisar Dewa Kuno tidak bisa bereaksi. Sebelum bisa memuntahkan darah, tubuh fisiknya sudah terbelah dan mati.
Tapi pertarungan ini belum berakhir. Bahkan meski tubuh fisik mati, Kekuatan Jiwa mereka sangat kuat.
Booom! Duarr!
Ledakan datang dari segala arah, kehancuran yang sudah sangat parah, diperparah lagi dengan daratan yang hilang, hanya ada ruang hitam tak berdasar.
Whooooosh!
Dao Surgawi yang di bawah Mo Lian, melesat seperti cahaya. Dia yang sekarang kembali ke bentuk awal, hanya bola cahaya seukuran kepalan tangan.
Mo Lian tidak ada niatan untuk mengejarnya, karena dia sangat yakin, Dao Surgawi tidak akan bisa lepas darinya. "Ruang dan waktu ... berhenti."
Tiba-tiba, semua ledakan berhenti terdengar, api yang menyala membeku dalam arti lain, tidak membeku seperti es, tapi berhenti bergerak. Puing-puing berhenti bergerak, bahkan energi yang meledak-ledak pun ikut berhenti.
"Kembali ..."
Waktu berputar mundur, menarik Dao Surgawi yang melarikan diri untuk kembali ke tempat awal.
Dao Surgawi tidak bisa mengontrol kekuatannya, dia menyadari semuanya. Dia sangat panik, jika tubuh fisiknya masih ada, tubuhnya akan basah karena banjir keringat.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...