
Awalnya ia menganggap bahwa ini semua adalah ingatan, tapi ternyata bukanlah ingatan, melainkan formasi ilusi yang seperti membawa kembali ke Zaman Kuno. Untuk keluar dari ilusi ini hanya perlu mengerahkan kekuatan dari Ranah God tahap Akhir sampai merusaknya.
Mo Lian menundukkan kepalanya melihat kedua tangannya yang mungil; merasakan bahwa kekuatannya yang sekarang hanya sampai batas Fase Lautan Ilahi tahap Akhir, tapi Kekuatan Jiwa-nya masih tetap God tahap Akhir.
"Kepadatan energi spiritual di sini belasan kali lebih banyak dari Bintang Utama."
Mo Lian penasaran apakah dengan kembalinya ia ke Zaman Kuno meski hanya sebatas ilusi, mampu meningkatkan kekuatannya ataukah tidak. Akan sangat luar biasa jika berdampak pada kekuatannya yang asli karena kesadarannya masuk ke formasi.
Mo Lian menoleh ke kiri melihat aliran sungai, ia bisa melihat penampilannya saat ini; rambut cokelat pendek, mata merah dengan luka di bagian pipi. "Apakah aku menjadi Dewa yang memasang formasi?"
"Tindakan apa saja yang kulakukan di sini tidak memengaruhi masa depan. Dan, semakin aku pahami, Dewa yang memasang formasi sedang meninggalkan warisan untuk mereka yang mampu."
Mo Lian masih melihat aliran sungai yang terlihat seperti cermin, namun tiba-tiba ia langsung berbalik, berlari ke arah semak-semak dan bersembunyi di sana. Kesadaran Spiritual-nya menangkap ada yang sedang mendekat dari arah utara dengan jarak 10.000 mil, dan kecepatannya sangat tinggi.
Mo Lian masih mampu menggunakan kekuatan untuk menghilangkan aura keberadaannya, dan mulai menunggu apa yang akan lewat di sungai dengan lebar seperti lapangan sepak bola.
Gelombang air mulai tercipta dengan embusan angin kencang, tapi tidak sampai menerbangkan pepohonan. Hingga tak lama kemudian terlihat ada dua naga berwarna merah yang berenang dan sedang menarik sebuah kapal besar.
Di atas kapal terlihat ada manusia maupun makhluk yang memiliki empat tangan, dengan ukuran tubuh empat kali lebih besar dari manusia normal.
Kekuatan mereka berada di Ranah Inti Emas tahap Awal dan yang terkuat adalah Alam dan Manusia tahap Akhir.
"Berapa banyak desa yang harus kita hancurkan?"
"Sebanyak-banyaknya, sebentar lagi musim dingin dan Tuan Muda akan menerobos Alam dan Manusia. Kita harus mengambil lebih banyak manusia untuk perjamuan!"
Mo Lian mengerutkan keningnya saat mendengar obrolan dari Ras Raksasa yang tidak terlalu besar; tidak berharap jika mereka menangkap Ras Manusia untuk dijadikan bahan makanan.
Apakah aku harus membunuh mereka? Walaupun aku hanyalah Fase Lautan Ilahi tahap Akhir, Kekuatan Jiwa-ku bisa mengendalikan alam untuk mematuhi ku dan menjadi serangan.
Biarlah!
Mo Lian mengangkat tangan untuk melepaskan Kekuatan Jiwa-nya; air mulai naik seperti ada gunung yang mencuat keluar dari dalam tanah yang berpengaruh pada volume air sungai.
__ADS_1
Gelombang air pasang membentuk tembok tinggi mulai jatuh menghantam kapal yang mengangkut Ras Raksasa dan menenggelamkannya.
Mo Lian mengigit bibir bawahnya saat merasakan sakit di kepala maupun dada saat memaksakan diri untuk menggunakan Kekuatan Jiwa, tapi tubuh fisiknya terlalu lemah dan tidak mampu menampung kekuatannya. Tapi, ia tetap menahan rasa sakit dan menyelesaikan serangan.
Mo Lian mengepalkan tangannya; air yang menenggelamkan kapal mulai bergerak membentuk pusaran air yang kuat dan menggiling Ras Raksasa sampai hancur, mengubahnya menjadi daging cincang; air sungai terlihat berubah warna menjadi merah dengan aroma sedikit amis.
Napas Mo Lian terasa berat dan darah mulai mengalir dari hidung maupun telinga serta bibirnya.
"Herbal." Mo Lian menemukan Ginseng Kayu Surgawi tepat di sebelahnya.
Harta di Zaman Kuno sangat luar biasa, hampir ditemukan di segala tempat, bahkan Ginseng Kayu Surgawi di tempatnya dalam radius beberapa mil saja, setidaknya terdapat 23 ginseng. Bukan hanya Ginseng Kayu Surgawi, masih banyak lagi harta-harta berharga lainnya.
Tidak tahu mengapa banyak herbal berkualitas yang tidak dimanfaatkan oleh Ras Raksasa, atau mereka tidak bisa mengolahnya? Mo Lian tidak tahu hal itu, dan Ras Manusia tidak mungkin bisa merasakan Ginseng Kayu Surgawi, karena mereka tidak berkultivasi.
Alasan mengapa Mo Lian berpikir demikian, karena Ras Manusia sangat lemah dan dirasa tidak mampu membuat perlawanan. Apalagi Ras Manusia diperlakukan seperti hewan ternak yang akan selalu dipanen untuk makanan Ras Raksasa.
Mo Lian duduk bersila dan langsung memakan Ginseng Kayu Surgawi; aliran energi murni mulai mengalir di dalam tubuhnya, luka dalamnya mulai membaik dan sembuh seperti semula, bahkan terasa lebih baik lagi.
Energi murni yang terkandung di dalam Ginseng Kayu Surgawi terlalu banyak dan ini membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Mo Lian mengalirkan energi murni ini di dalam Meridian dan memaksanya titik Meridian-nya untuk terbuka.
Ledakan yang teredam berasal dari dalam tubuhnya, menandakan bahwa ia telah berhasil menembus Ranah, tapi ledakan itu tidak berhenti dan aliran energi yang terserap masuk ke dalam Dantian Mo Lian semakin kuat.
Angin bertiup kencang seperti badai; aliran aura spiritual yang menyatu dengan atmosfer mulai bergerak memasuki tubuh Mo Lian dan Esensi Kehidupan dari Element Kayu di sekitarnya mulai terhisap, mengubah hutan menjadi layu dan mengering.
Energi hijau membentuk nyala api menyelimuti tubuh Mo Lian dan mengubah kekuatannya: regenerasinya meningkat pesat dan dirasa mampu menghilangkan racun mematikan hanya dengan berdiam di dalam hutan.
Mo Lian membuka matanya perlahan, ada kilauan cahaya hijau yang merupakan Esensi dari Element Kayu.
"Inti Emas tahap Menengah ..." Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat langit biru; menunggu datangnya Kesengsaraan Petir. Namun, setelah belasan menit berlalu, tidak ada tanda-tanda akan datangnya Kesengsaraan Petir. "Apakah karena aku sudah di Ranah God tahap Akhir?"
"Aku sudah bisa keluar dari tempat ini, tapi, aku merasa lebih baik menunggunya sebentar sampai peperangan antara Ras Raksasa dan Malaikat terjadi."
Mo Lian berjalan mengikuti aliran sungai ke arah hilir untuk menemukan desa manusia yang sebelumnya ingin di datangi Ras Raksasa. Cukup jauh dari desa manusia yang ia datangi, karena ia masih tidak merasakan kehadirannya. Kalaupun bisa merasakannya, kehadirannya sangat lemah dan terus memudar.
__ADS_1
Bam... Bam... Bam...
Mo Lian yang sudah berlari cukup jauh dan berada di pegunungan batu, memilih untuk berhenti dan bersembunyi saat merasakan getaran kuat yang sepertinya berasal dari langkah kaki.
Crack!
Mo Lian melihat gunung batu yang tingginya menembus awan dan bagian lerengnya retak karena telapak tangan besar yang meraihnya. Kemudian dari balik gunung batu terlihat seorang raksasa yang sangat besar dan setiap langkah yang diambil akan menimbulkan gempa.
"Heavenly Immortal?"
Mo Lian merasakan bahaya jika tetap berada di sini tanpa melakukan apa pun. Ia berlutut dengan tangan kanan menyentuh tanah, kemudian tanah-tanah di sekitarnya mulai lunak dan menelannya masuk.
"Apakah kau menemukannya? Ke mana mereka pergi, padahal sebentar lagi acaranya akan dimulai."
"Aku tidak menemukan mereka, tapi tidak jauh dari sini ada hutan yang mengering dan pasukan yang kita suruh terbunuh tidak jauh dari lokasi hutan."
Suara gema menggetarkan daratan dan menghempaskan awan yang menutupi langit; aura kuat juga terasa menyebar hanya karena dia raksasa yang sedang mengobrol.
Mo Lian yang berada di dalam tanah tidak bisa melihat penampilan raksasa lain yang datang dari arah berlawanan, tapi ia tahu kekuatan mereka berdua sama-sama Heavenly Immortal tahap Menengah. Dan, meski tidak berhubungan dengan masa depan, jika ia sampai tertangkap, semuanya akan berakhir dan ia tidak mengetahui alasan terjadinya perang.
Yang terpenting, Mo Lian bisa mendapatkan luka yang sangat parah, karena yang datang ke Zaman Kuno bukanlah tubuh fisik, melainkan jiwa. Jika terkena serangan, rasa sakit yang diterima akan terasa belasan kali lebih menyakitkan.
Aku akan menunggu sebentar sampai mereka pergi, dan aku sudah bertekad untuk tidak ikut campur dalam urusan Zaman Kuno ini. Biarkan semuanya mengalir sesuai alurnya.
Bam... Bam... Bam...
Langkah besar yang menggetarkan bumi akhirnya menjauh dari tempat Mo Lian sekarang.
Mo Lian mulai mencuat keluar dari dalam tanah dan hanya memperlihatkan kepalanya saja. Ia melihat sekitarnya, tidak ada lagi raksasa yang, bahkan ia sudah tidak bisa melihatnya lagi.
"Di sini kaya akan Element Tanah. Aku akan menyerap Esensi Element Tanah di sini untuk memperkuat Fondasi."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...