Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 340 : Pemakaman Pedang


__ADS_3

Pemandangan sekitar tidak jauh berbeda seperti Gunung Kunlun biasa, hanya saja di dalam Dimensi Pertempuran ini, banyak pedang berbagai bentuk yang menancap di tanah. Entah itu pedang berkarat, patah, bergerigi dan lain sebagainya.


Gunung Kunlun di Dimensi Pertempuran tidaklah berwarna hijau, melainkan hitam dengan asap yang keluar dari retakan-retakan kecil di tanah.


Bangunan-bangunan bergaya China klasik juga terlihat besar dan hampir semuanya sudah rusak, sepertinya bangunan ini sudah ada setelah Ras Raksasa dan Malaikat bertarung habis-habisan. Mungkin, 50.000 tahun yang lalu.


"Apakah ini pemandangan lima puluh ribu tahun setelah peperangan itu?" Mo Lian mengacu pada Ras Raksasa dan Malaikat.


"Untuk berpikir bahwa Bumi menyimpan banyak rahasia seperti ini. Apa mungkin Bumi adalah pusat Semesta? Tapi, Galaxy Bima Sakti berada di pinggiran."


Mo Lian merenung di atas awan yang dinaikinya, memikirkan hal yang lebih masuk akal tentang Bumi. Tapi, tidak peduli berapa banyak memikirkannya, ia tidak bisa mendapatkan jawabannya. Bukan hanya ia harus membuka Dimensi Pertempuran untuk melihat pemandangan aslinya, tapi ketika masuk pun tetap tidak mendapatkan apa-apa.


"Jika saja ada formasi array seperti di Istana Kekaisaran, mungkin aku bisa mengetahui kejadian lima puluh ribu tahun lalu ..." Mo Lian menghentikan perkataannya dan menggelengkan kepalanya, meski hanya ilusi, ia tidak ingin lagi terlalu lama di sana seperti terakhir kali.


Walaupun bisa mendapatkan kekuatan yang mungkin berguna, tapi tidak mungkin ia membuang-buang waktu di sana selama ribuan tahun—bahkan jika itu mimpi.


Ketika Mo Lian melihat sekeliling, perhatiannya tertuju pada gundukan tanah rusak seperti patah dan di atasnya terdapat bangunan megah yang juga rusak. Pupil matanya menyusut saat mencoba lebih fokus, kemudian ia tersentak saat mengetahui apa itu.


"Pulau?!" Mo Lian menengadahkan kepala melihat langit merah darah. "Apakah di sini ada pulau terbang? Kemudian pulau itu jatuh karena tidak ada energi yang menopangnya."


Mo Lian menghilangkan awan di bawahnya dan mendarat di sekitar pedang-pedang yang menancap di tanah. Ia bisa merasakan aura penindasan yang cukup kuat sampai membuat punggungnya terasa dingin. Adalah hal yang luar biasa sampai mampu membuatnya merasa seperti ini, yang artinya pada masa-masa itu banyak kekuatan luar biasa, lebih kuat daripada Ras Raksasa dan Malaikat.


Tidak ada kehidupan sama sekali di sini, dan itu menambah kesan mengerikan, bahkan sesekali Mo Lian sampai menoleh ke belakang karena merasakan tiupan angin, tapi tidak ada seorang pun di sana.


Mo Lian terus melangkah menghampiri pulau terbang yang sudah menjadi reruntuhan; setiap langkah yang diambil akan terasa sangat berat seperti ada tangan-tangan yang menahan kakinya untuk tidak berjalan lebih jauh.


"Senior, saya tahu Anda berada di sana. Saya datang bukan dengan maksud buruk, saya datang hanya ingin mengetahui keanehan di Bumi. Bagaimanapun, saat aku meninggalkan Bumi, keadaan masih tenang-tenang saja, mungkin karena pada saat itu kekuatanku masih lemah. Tapi, setelah kembali, aku merasakan banyak perubahan, termasuk aura spiritual yang kembali pulih."


Mo Lian sedikit membungkukkan badannya dengan menangkupkan kedua tangannya mengarah pada reruntuhan pulau terbang. Ia tidak berdiri sebelum mendapatkan jawaban, meski itu harus menunggu untuk waktu yang lama.

__ADS_1


Tiba-tiba angin berembus kencang dengan aura penindasan yang tak terbayangkan, menekan Mo Lian sampai harus mengambil langkah mundur.


Darah mulai naik dari celah antara tanah dan pedang yang menancap. Darah itu bergerak dengan kecepatan yang dapat dilihat oleh mata telanjang, terbang ke arah reruntuhan pulau membentuk siluet manusia.


Bang!


Darah itu meledak dan memperlihatkan bentuk aslinya; pria paruh baya berambut perak dengan pakaian merah berlapiskan jubah emas. Bagian punggungnya terdapat belasan pedang yang berbaris dan membentuk lingkaran seperti Cincin Dewa.


Aura yang dilepaskan pria paruh baya itu cukup kuat, lebih kuat dari Mo Lian meski hanya sebatas jiwa yang tertinggal di reruntuhan Dimensi Pertempuran.


Pria paruh baya itu membuka matanya perlahan, melepaskan aura membunuh yang terfokus pada Mo Lian, meski tidak sampai melukainya. "Aku merasakan aura Bangsa Zhongguo darimu. Apakah Perang Para Dewa masih berlangsung sampai sekarang?" Suaranya pelan, namun menggema di langit dan menusuk jiwa.


Bangsa Zhongguo? Mo Lian mengerutkan keningnya. Ia memang tidak tahu sebutan itu, tapi menurut bahasa, Zhongguo memiliki arti Cina. Yang artinya, Bangsa Cina.


Perang Para Dewa? Itu adalah hal baru yang diketahui Mo Lian. Ia tidak pernah mengetahui perihal itu, bahkan sebelum kelahiran kembali dirinya; tidak pernah ada catatan yang mengatakan tentang Perang Para Dewa.


Mo Lian kembali menangkupkan kedua tangannya dan bertanya dengan penuh hormat, "Maaf atas ketidaktahuan Junior ini. Bolehkah saya mengetahuinya, apa itu Perang Para Dewa dari Senior?"


"Kemudian, tentang Bangsa Zhongguo, saya tidak tahu apa itu, tapi jika Anda menyebutkan Cina, maka saya termasuk di dalamnya. Lalu, saya merasakan tempat ini sudah seperti ini selama lima puluh ribu tahun."


Pria paruh baya itu terbang menjauh dari Mo Lian dengan posisi membelakangi. Ia meletakkan kedua tangannya di punggung, tatapan matanya tajam seperti memendam amarah, tapi di satu sisi ada kerinduan.


"Panggil aku Jia Shenjun. Aku adalah Dewa Pedang, Leluhur kalian. Aku hidup di Zaman Keemasan, setelah Zaman Kuno pecah akibat perang antara Ras Raksasa dan Malaikat."


Walaupun terkejut dalam kejutan, Mo Lian tetap diam dan mencoba untuk tenang. Ia tidak boleh bertindak gegabah, bukan hanya orang di depannya sangat kuat meski hanya sebatas jiwa, tapi orang di depannya adalah Leluhur Kultivator Bumi!


"Manusia bukan ras kuat, tapi penuh potensi. Setelah Ras Raksasa musnah di Bumi, Ras Manusia mulai bangkit kembali dan hanya membutuhkan lima puluh ribu tahun untuk menumbuhkan Kultivator Ranah Dewa. Pada saat itu, ada ratusan Dewa! Bumi bisa dianggap sebagai Surga Semesta!"


"Tapi, karena Bumi memiliki banyak Dewa dan potensi-potensi yang terpendam, serta sumber daya berlimpah. Ras lain dari bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya, datang ke Bumi untuk mengambil sumber daya, termasuk mengambil bakat-bakat di Bumi untuk dijadikan Tungku Hidup!"

__ADS_1


Ada kemarahan di matanya saat menyangkut Ras Manusia yang dijadikan sebagai Tungku Hidup.


Tungku Hidup memiliki fungsi sebagai penyedia kekuatan. Para Kultivator akan membina bakat-bakat luar biasa, mereka akan meningkatkan kekuatan bakat-bakat itu sampai tingkat tinggi, kemudian mengambil semua kultivasinya. Tindakan ini sama seperti yang dilakukan oleh Sekte Racun Minghai.


"Perang tidak bisa dihindari, ribuan Dewa dari bintang yang tak terhitung jumlahnya, datang menyerang. Kami, Dewa Bumi yang awalnya memiliki masalah masing-masing, bersatu untuk melawan mereka semua. Tapi, tidak peduli seberapa kuat kami, kami tetap kalah dalam segi jumlah."


Kerutan dalam terlihat di dahi Mo Lian; tidak pernah tahu jika puluhan ribu tahun lalu, banyak Ranah Dewa dan itu seperti biasa-biasa saja. Tapi, yang ia tidak ketahui, mengapa Hong Xi Jiang tidak pernah menyinggung tentang masalah ini.


Seperti melihat melalui isi pikiran Mo Lian, Jia Shenjun berbalik dan kembali berkata, "Tentu saja kalian tidak mengetahuinya, setelah Perang Para Dewa sampai pada puncaknya. Hampir semua Dewa kehilangan kekuatan karena luka parah dan akhirnya mati, daripada harus menanggung malu karena mati di bintang kecil seperti Bumi ..."


"Dewa-dewa yang masih memiliki sedikit kekuatan, menggabungkan kekuatan terakhir mereka dan mengaktifkan Teknik Penghapus Ingatan. Menghilangkan semua jejak tentang Legenda Ranah Dewa!"


Mo Lian terpana dengan mulut terbuka lebar. Untuk mampu menghilangkan semua jejak tentang Ranah Dewa, maka orang yang mengaktifkan teknik ini sangat kuat, karena sampai catatannya pun tidak bisa ditemukan.


Jia Shenjun terus bercerita tentang Zaman Keemasan. Banyak hal luar biasa yang tidak pernah Mo Lian dengar, tapi ada satu pohon bernama Pohon Dewa yang tumbuh di Bumi, dan menjadi alasan utama pecahnya Perang Para Dewa.


Pohon Dewa itu memungkinkan siapa pun, tidak peduli apakah mereka manusia biasa atau praktisi yang baru mulai. Jika mereka memakan Buah Dewa, kekuatan mereka akan langsung melonjak ke Ranah Dewa dan mampu naik ke Alam Selestial tanpa harus melalui ujian dari Dao.


Mo Lian tidak bisa tenang. Ia bernapas dengan cepat dan jantung berdegup kencang seperti hampir keluar dari dalam dadanya.


Jia Shenjun kembali berbalik membelakangi Mo Lian. "Ikut aku, karena kau adalah keturunan Bangsa Zhongguo, maka kau berhak mempelajarinya. Tapi, seberapa banyak kau menguasainya, itu tergantung pada kemampuan yang kau miliki."


"Baik, Senior." Mo Lian menangkupkan kedua tangannya dengan maksud memberi hormat, kemudian terbang mengikuti Jia Shenjun dari belakang.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2