
Ketika Mo Lian sudah berada di dalam kabin Businnes Class, ia berdiri dari tempat duduknya saat merasakan pria tua itu juga bergerak. Ia ingin membuat pencegahan awal agar pria tua itu tidak berbuat yang aneh-aneh, yang mungkin saja bisa meledakkan pesawat.
Saat Mo Lian diberikan tiket oleh Su Jingmei, ia menolak dan hendak terbang saja agar dapat sampai lebih cepat. Tapi jawaban yang didapatnya adalah sebuah teguran dan telinganya ditarik, karena terbang di kota hanya akan membuat kepanikan penduduk.
Bagaimanapun ini adalah dunia modern, orang-orang masih belum percaya akan hal-hal mistis seperti itu, dan mungkin saja tidak akan mempercayainya, sampai saat di mana banyak sekali organisasi yang naik ke permukaan, serta aura yang kembali padat.
Mo Lian berlari-lari kecil di dalam kabin menuju kamar mandi.
"Ah!" Mo Lian berpura-pura tidak sengaja menabrak pria tua yang dilihatnya tadi. "Maaf, saya sedang terburu-buru."
Pria tua itu tersenyum tipis dengan anggukan kecil, dan saat Mo Lian sudah menghilang dari pandangannya. Pria tua itu mengerutkan keningnya sembari meraba-raba pakaiannya, dan beberapa lagi berdehem maupun membuat gerakan-gerakan aneh.
"Mengapa? Mengapa?" Pria tua itu terus membuat gerakan aneh dengan keringat mengalir di wajah. Kepanikannya ini menarik perhatian pramugari di sana yang memintanya untuk duduk kembali.
Sementara itu. Mo Lian yang berada di dalam kamar mandi membuka telapak tangannya perlahan, terlihat di sana terdapat gumpalan energi spiritual berwarna hitam yang membentuk seperti api. "Ini adalah energi spiritual milik orang lain yang ditanam pada Dantian pria tua itu. Jika orang yang menanamkan ini bertindak, maka pria tua itu akan meledak."
Mo Lian menutup matanya perlahan dan mengalirkan energi spiritualnya pada gumpalan energi itu. Kesadarannya berjalan mengikuti arah yang diberitahukan oleh benang biru yang mengantarkannya pada suatu tempat yang jauh dari Kota Chengdu.
Hingga kesadarannya membentur sebuah penghalang yang melarangnya untuk melihat lebih jauh. Tapi ia tidak akan membiarkan kesempatan ini menghilang, ia ingin mengetahui siapa dalang dibalik perencanaan peledakan pesawat.
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya lebih banyak lagi, dan berhasil memecahkan penghalang itu. Terlihat sebuah tempat pegunungan, pegunungan yang entah berada di mana, namun masih berada di Daratan Huaxia.
Pegunungan itu merupakan sebuah pagar alam, yang dibaliknya terdapat sebuah lembah dengan bangunan-bangunan kuno berwarna merah menyala, puluhan ribu orang yang merupakan murid dari tempat itu, mengenakan pakaian merah dengan jubah putih.
Mo Lian ingin berkelana di tempat itu, namun sangat disayangkan ia tidak bisa melakukannya, karena kesadarannya dituntun oleh benang untuk pergi ke tempat pemilik energi.
Pandangannya terus berpindah, memasuki gua di kaki gunung yang terus berjalan turun ratusan meter di bawah tanah, hingga sampai tepat di depan pintu batu besar.
"Ah!" Mo Lian tersentak dan tiba-tiba membuka matanya. Ia menunduk melihat gumpalan energi hitam di tangan kanannya, sudah tidak ada apa-apa lagi di sana.
"Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan kekuatanku, memang bisa sampai lebih cepat, tapi ini menghancurkan gumpalan energi ini." Senyum masam terlihat di wajahnya saat ia mengakhiri perkataannya.
Mo Lian menghembuskan napas panjang, dan keluar dari kamar mandi menuju tempat duduk. Saat ia berjalan melewati pria tua tadi, ia merasakan tatapan tajam yang menjelaskan kekesalan. Ia yang mendapati tatapan itu hanya terdiam, namun tidak tahu nanti.
Puluhan menit kemudian. Pesawat sudah mendarat di bandara Kota Hanzhong. Keduanya langsung turun melalui pintu belalai gajah yang menghubungkan antara kabin dengan ruang tunggu ataupun kedatangan.
__ADS_1
Bersama dengan Mo Fefei, ia berjalan menuju terminal untuk menunggu taxi yang baru saja dipesan datang. Terkadang, ia berpikir terlalu merepotkan jika harus memesan taxi, namun apa daya, ia tidak bisa mengemudi.
Saat taxi yang dipesannya telah tiba, tanpa berlama-lama lagi keduanya memasuki mobil yang dipesan.
Mo Lian menutup matanya perlahan, ia mencoba merasakan keberadaan pria tua yang Dantiannya ia segel untuk tidak bisa meledakkan diri. Ia akan membiarkan pria tua itu hidup untuk beberapa hari, atau paling tidak sampai pria tua itu kembali pulang.
"Tuan. Apakah Anda benar-benar ingin pergi ke Showroom Xac?"
Mo Lian kembali membuka matanya saat mendengar pertanyaan dari sopir. Ia mengangguk kecil dan menjawab, "Tentu, apakah ada yang aneh?"
Sopir itu menggeleng pelan. "Tidak, hanya saja harga mobil-mobil di sana sangat mahal. Harga termurah adalah dua juta Yuan."
"Terimakasih." Mo Lian kembali menutup matanya.
Mo Lian tahu maksud dari sopir itu, sopir itu mencoba mengingatkan dirinya untuk tidak pergi ke Showroom Xac agar tidak direndahkan di sana. Itu karena pakaian yang dikenakannya tidak bermerek. Tapi jika dilihat dari jam tangan yang baru dibeli, serta sepatu maupun celana, itu adalah hal lain.
Jam tangan yang baru dibelikan Ibunya adalah jam Graff seri Diamonds Hallucination, yang dibanderol dengan harga ¥360.046.980. Sepatu Diamond Studded Nike Boots ¥1.400.000, dan Jeans Gucci ¥19.700.
(1 Yuan \= Rp.2213,16)
Semua ini dibelikan oleh Su Jingmei padanya, agar ia lebih memperhatikan penampilan. Lalu uang yang dimilikinya, sebagian besar ia kembalikan untuk pengembangan Perusahaan Meiliafei, serta menyebarkannya ke ribuan panti asuhan di Provinsi Sichuan dan provinsi lain.
Sehingga dari tabungan miliknya yang awalnya adalah 405 miliar Yuan, hanya tersisa 195 miliar Yuan.
Belasan menit berlalu, akhirnya taxi yabg dinaikinya berhenti di halaman gedung yang sangat luas, gedung itu memiliki jumlah lantai lebih dari 50.
Mo Lian dan Mo Fefei keluar dari mobil, dan ia memberikan upah maupun beberapa uang tip yang cukup untuk kehidupan sopir itu selama satu tahun.
"Tu- Tuan. I- Ini terlalu banyak." Sopir itu terbata-bata dan tidak bisa memegang handphone-nya dengan benar.
Mo Lian hanya tersenyum tipis dan meninggalkan sopir itu dalam keterkejutan maupun kebahagiaan.
"Kakak..." Suara Mo Fefei terdengar lemah dan pelan, seperti orang yang mengalami trauma.
Mo Lian menolehkan kepalanya ke kiri, melihat Adiknya yang menggandeng lengannya. "Apakah kau masih mengingat kejadian itu? Saat bersama pria busuk yang hampir mencelakaimu?"
__ADS_1
Dengan tubuh bergetar, Mo Fefei menganggukkan kepalanya perlahan.
Mo Lian mengencangkan bibirnya dan kemudian menghembuskan napas panjang. "Kau bisa memberikan dia pelajaran, kau sudah menembus Ranah Inti Perak, dan bukan Ranah Inti Perak biasa. Tidak perlu takut." Ia mengusap lembut puncak kepala Mo Fefei.
Mo Lian tersenyum tipis dan membawa Mo Fefei berjalan menghampiri pintu kembar yang terbuat dari kaca seraya melihat layar handphone. Akun bank miliknya juga sudah ditingkatkan, sehingga ia bisa melakukan transaksi puluhan hingga miliaran Yuan.
Setelah memainkan handphone miliknya untuk beberapa saat, ia memasukkannya kembali ke dalam saku celana.
Langkah keduanya terhenti saat handphone Mo Fefei yang berada di dalam tas selempang berbunyi, ia membuka handphone dan melihat apa yang berada di sana. Alangkah terkejutnya ia saat melihat apa yang tertulis, ia mendapatkan transferan dari Mo Lian dengan nominal ¥5.000.000.000
Mo Fefei melompat kegirangan dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Mo Lian. "Terimakasih, Kakak." Ia mengecup lembut pipi Mo Lian.
Mo Lian hanya tertawa kecil melihat Adik kecilnya yang kembali bersemangat. "Baiklah, tapi jangan kau gunakan untuk hal yang tidak-tidak, dan jika kau terlalu boros. Aku akan meminta Ibu untuk menarik akunmu."
"Siap, Kak!"
Mo Lian kembali berjalan menuju pintu kembar dengan Mo Fefei yang tidak mau turun darinya. Banyak tatapan mata yang tertuju pada keduanya saat hendak memasuki Showroom Xac, mereka mengecek pakaian yang dikenakan Mo Lian dan menganggapnya tidak pantas.
Orang-orang itu adalah orang kaya di Kota Hanzhong, yang penghasilan pertahunnya antara lima sampai tujuh juta Yuan.
Mo Lian mengabaikan tatapan mata itu. Saat ini ia hanya ingin membawa Mo Fefei masuk dan membelikan mobil keinginannya, berapapun harga yang tertera, bahkan jika Mo Fefei menginginkan Showroom Xac, ia akan membelikannya.
Bagaimanapun, ia ingin membahagiakan keluarga kecilnya.
Mo Lian dan Mo Fefei dapat masuk dengan mudah. Memang ada sedikit kendala, namun petugas lain mengizinkannya masuk saat melihat sepatu serta jam tangan yang dipakainya. Ini seperti mengatakan jika petugas keamanan itu sangat berpengetahuan, atau bisa saja petugas keamanan itu adalah CEO yang menyamar.
Baru saja memasuki gedung, tiba-tiba Mo Lian kembali menghentikan langkahnya. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya, melihat jauh ke arah utara.
Pria tua itu berada di tempat yang kaya akan energi spiritual. Sepertinya nanti aku harus pergi ke sana!
...
***
*Bersambung...
__ADS_1