Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 312 : Mo Lian Mendapatkan Pencerahan


__ADS_3

Hei dan Bai masih terlihat tenang, tidak ada rasa curiga pada Mo Lian yang selama ini tidak dapat mereka temukan meski sudah mencarinya semaksimal mungkin.


Mo Lian mengulurkan tangannya mengarah pada Hei, Bai, Gu Tau dan Be Bin. "Aku memberikan dua pilihan, ingin perlahan atau cepat."


Hei dan Bai memandang satu sama lain, kemudian mengangkat bahu mengungkapkan ketidaktahuan mereka terhadap kata-kata yang diucapkan Mo Lian.


Whooooosh! Whooooosh!


Hei dan Bei bergerak dengan cepat ke arah Mo Lian dari dua arah yang berlawanan, mencoba untuk mengepung Mo Lian di tengah-tengah agar tidak melarikan diri, sehingga pekerjaan mereka bisa selesai lebih cepat dan membiarkan Yan Luo mengambil Esensi Darah.


Mo Lian merasa terhina dengan ini, yang mana ada dua dari mereka saja yang bergerak untuk menghentikannya. Tapi, ia tidak berencana untuk membunuh keduanya, karena ada cara yang lebih baik daripada membunuh, bahkan, mungkin mereka akan memohon untuk mati.


"Serang bersamaan!" Mo Lian sedikit kesal, melepaskan pukulan ke kanan dan kiri secara bergantian.


Bam! Bam!


Pukulannya mengenai Hei dan Bai pada bagian wajah, menghempaskan mereka berdua sangat jauh dengan gelombang udara yang meledak.


Hei dan Bai keluar dari wilayah Istana Neraka dalam waktu singkat karena terkena pukulan yang tidak bisa mereka tahan, bahkan pukulan sederhana itu terasa lebih kuat dari kekuatan Yan Luo.


Gu Tau dan Be Bin tersentak saat melihat bawahan langsung dari Yan Luo yang dikalahkan hanya dengan pukulan sederhana.


Tanpa berlama-lama, Gu Tau dan Be Bin menyerang bersamaan dengan tongkat panjang, yang bagian ujungnya merupakan mata pedang.


Bang! Craang!


Tombak itu mengayun mengarah pada leher Mo Lian, yang kemudian tercipta dentuman keras sebelum akhirnya tombak itu patah. Bukan hanya tidak mampu melukai Mo Lian dan senjatanya rusak, tapi Gu Tau dan Be Bin terhempas jauh dan menghantam Istana Neraka.


Booom!


Istana Neraka hancur dan meledak karena terhantam oleh Gu Tau dan Be Bin yang terhempas tidak mampu menahan aura Mo Lian.


Mo Lian mengibaskan tangannya, meledakkan semua makhluk yang mengelilinginya. Ia hanya menyisakan 4 Anggota Istana Neraka, yang mana memiliki tugas masing-masing.


Mo Lian melihat seorang pemuda berambut cokelat tergerai yang duduk di Singgasana, kepalanya dimiringkan dengan tangan menumpu pipi.


Yan Luo menengadahkan kepalanya perlahan melihat Mo Lian yang terbang di langit, ekspresi wajahnya tetap datar tanpa ada emosi meski bawahannya telah dikalahkan dengan mudah. Ia menekan kedua tangan di sandaran kursi seraya berdiri.


"Menarik." Yan Luo bertepuk tangan perlahan, menimbulkan getaran pada Istana Neraka dan Sungai Kuning.


"Dengan bantuan mu, akhirnya aku menguasai Alam Hanzi dan karena dirimu, aku akan menembus Ranah God dan kembali menjadi manusia."


Mo Lian menutup matanya, memikirkan tentang dirinya sendiri dari awal hingga sekarang. Aku, pemaaf? Pemarah? Siapa aku?

__ADS_1


Mo Lian mulai mengerti mengapa ia tidak mampu naik ke Alam Selestial selain karena tidak bisa lepas dari penyesalan masa lalu, alasan itu karena ia masih belum terlalu paham akan dirinya sendiri. Sebagai contoh, tidak menerima siapa dirinya.


Yan Luo merasa kesal karena diabaikan oleh Mo Lian yang sedang menutup mata.


Whooooosh!


Yan Luo sangat kesal dan memutuskan langsung menyerangnya tanpa melakukan serangan jarak jauh.


Bang!


Pukulan Yan Luo menimbulkan dentuman keras saat pukulannya terhenti beberapa inchi dari wajah Mo Lian, seperti menghantam dinding besi keras. Tubuhnya juga berhenti bergerak, seperti waktu telah berhenti dan tidak lagi bergerak.


Untuk Mo Lian sendiri, ia masih menutup matanya untuk memahami siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi, sebanyak apa pun ia berpikir, ia tetap menemukan satu jawaban, ia adalah Dewa!


Bagaimana aku harus bersikap? Temperamen, benar, aku masih bimbang, terkadang sangat pemarah, kadang aktif, dan terkadang aku juga tenang.


Baiklah, aku akan tenang seperti air yang mengalir. Bahkan, jika aku marah, aku akan mencoba tenang dan membunuh dalam hening.


Tapi, apakah aku bisa tetap tenang saat bersama Ning'er?


Mo Lian tetap berpikir tentang dirinya sendiri dan tanpa sadar, ada energi emas yang mulai menyelimuti tubuhnya, menghempaskan apa pun yang berada di sekitar tanpa ampun.


Cincin Dewa muncul di belakangnya, tapi bukan hanya itu saja, ada 7 Cincin Dewa lain yang muncul. Entah itu berada di kiri, kanan, atas, bawah atau mengelilinginya.


Auranya juga mulai meningkat pesat, menekan Alam Hanzi, itu terlihat dari daratan yang semakin masuk ke dalam tanah.


Jika aku sudah menghilangkan bahaya di Alam Hanzi, apa yang akan aku lakukan? Aku sudah memiliki semuanya di Alam Semesta, apakah aku harus naik ke Alam Selestial?


Keraguan Mo Lian ini mempengaruhi 8 Cincin Dewa yang mulai meredup, dan bahkan salah satunya sudah menghilang. Namun, saat Mo Lian kembali bertekad, Cincin Dewa kembali muncul dan bahkan lebih kuat lagi.


Tidak! Bahkan jika aku sudah memiliki semuanya di Alam Semesta, aku akan pergi ke Alam Selestial! Berpisah? Aku bisa membawa semuanya di Dunia Kecil!


Bang!


Mo Lian membuka matanya secara tiba-tiba, memperlihatkan mata emas yang bersinar terang seperti sinar matahari. Aura kuat meledak darinya, menghempaskan gelombang udara dan menggetarkan Alam Hanzi.


Bang!


Ledakan teredam dari dalam tubuhnya bisa terdengar, menandakan bahwa Mo Lian sudah menembus Ranah God tahap Menengah.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya yang terbuka, ia melihat telapak tangannya sendiri. "Datang."


Whooooosh! Whooooosh! Whooooosh!

__ADS_1


Yan Luo, Hei, Bai, Gu Tau dan Bei Bin melintas bagaikan cahaya ke arah Mo Lian. Kelimanya tidak bisa mengendalikan tubuh mereka yang bergerak sendiri, dan langsung pergi ke arah Mo Lian.


"Berlutut."


Getaran kuat mulai terjadi di tubuh kelimanya saat Mo Lian berucap, yang membuat mereka tidak bisa berdiri dengan baik, lutut mereka terasa gemetaran dan sakit, yang tak lama kemudian satu per satu dari mereka mulai berlutut dengan Mo Lian di tengah-tengahnya.


Masih membuka telapak tangannya, Mo Lian menciptakan lima gumpalan energi berwarna biru di telapak. "Pergi, dan kembali."


Gumpalan energi itu bergerak cukup cepat dan berhenti di depan dahi kelimanya, kemudian bergerak masuk secara perlahan.


"Aarrgghh!" Kelimanya tidak bisa menahan rasa sakit yang mulai menyerang kepala mereka, dan teriakan ini berdampak pada Api Jiwa yang bergerak di Sungai Kuning.


Tidak lama setelah gumpalan itu masuk, gumpalan itu kembali keluar dengan membawa Esensi Jiwa yang merupakan inti kehidupan dari makhluk hidup yang berkultivasi.


"Aaarrrgghh!"


Rasa sakit yang dialami lebih menyakitkan ketimbang saat gumpalan energi memasuki dahi kelimanya, dan saat itu juga basis kultivasi mereka menurun satu tahap.


Mo Lian melihat 5 Esensi Jiwa berbeda warna di telapak tangannya, yang kemudian menghilang karena tertelan pusaran biru di tangannya. "Aku akan menyimpan Esensi Jiwa kalian, bekerja dengan baik. Jika kalian tidak mengurus Alam Hanzi, aku akan menghancurkan Esensi Jiwa kalian."


Menghancurkan Esensi Jiwa sama saja dengan kematian, dan terbunuhnya tergantung pada bagaimana cara menghancurkan Esensi Jiwa itu. Apabila langsung dihancurkan, maka pemiliknya tidak akan merasakan sakit, namun apabila digores perlahan, siksaannya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Mo Lian mengangkat tangan kirinya mengarah pada Istana Neraka. "Kembali."


Reruntuhan Istana Neraka mulai bercahaya dengan warna biru yang merupakan energi Mo Lian. Perlahan, reruntuhan itu mulai melayang secara bersamaan dan mulai menyatu kembali, membentuk Istana Neraka seperti sedia kala saat di mana belum dihancurkan.


Mo Lian melihat Sungai Kuning atau Jiwa, melihat Api Jiwa yang terus bergerak memasuki pusaran cahaya putih. "Hapus ingatan."


Api Jiwa bercahaya bersamaan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali meredup dengan ingatan kehidupan sebelumnya yang telah terhapus.


Memiliki ingatan kehidupan sebelumnya seperti pedang bermata dua, sehingga lebih baik menghapus semua ingatan Api Jiwa, meski sebelum memasuki Gerbang Reinkarnasi ingatan mereka akan terhapus. Hanya saja, ada sebagian kasus yang masih memiliki ingatan dan membuat kekacauan.


"Kalian, kembali ke tempat masing-masing."


Yan Luo gemetaran mencoba menahan tubuhnya untuk tidak mematuhi perintah Mo Lian, namun, kekuatannya tidak cukup untuk melawannya, terlebih lagi Esensi Jiwa miliknya yang telah diambil.


"Ba- Ba- Baik. Tuan." Yan Luo menggertakkan giginya seraya menangkupkan kedua tangan, lalu pergi kembali ke Istana Neraka.


Mo Lian masih berdiri di tempatnya, melihat semuanya kembali ke tempat masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Sekarang, aku bisa kembali, batin Mo Lian.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2