Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 173 : Dimensi Ruang Lain


__ADS_3

Mo Lian dan Qin Nian mendarat di perbukitan hijau dengan hamparan rumput tinggi sesaat setelah mereka tiba di dimensi ruang di Lebak Naga. Hal yang pertama dirasakannya adalah kepadatan energi spiritual di sini yang setara dengan Negeri Surgawi, bahkan lebih, hanya saja ia tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan manusia.


"Bumi memiliki banyak sekali dimensi ruang, namun hanya satu saja yang dihuni oleh manusia. Negeri Surgawi, memiliki ukuran dua sampai tiga kali dari Bumi!"


Mo Lian mengeratkan pelukannya pada Qin Nian. "Berhati-hatilah, mungkin di sini ada monster yang menunggu dan siap menyerang," gumamnya.


Qin Nian mengangguk kecil seraya mencengkeram baju Mo Lian di bagian dada. Ini adalah kali pertamanya melihat dunia lain yang berada di Bumi, dan ia merasa sangat tertantang sekaligus bersemangat, namun ada sedikit ketakutan di hatinya.


Mo Lian menekan kakinya dan melompat tinggi ke langit, kemudian terbang lurus ke depan sembari terus merangkul pinggang Qin Nian. Melihat dari gerakan sinar matahari, ia kini terbang ke utara.


Sejauh mata memandang, yang dilihatnya setelah meninggalkan perbukitan tadi hanyalah hutan rimbun dengan gunung batu yang tajam menembus awan. Ia juga merasakan adanya tanda-tanda kehidupan selain dirinya, meski itu bukanlah manusia.


Kekuatan hewan buas atau monster itu berkisar antara Fase Mendalam tahap Awal hingga Fase Lautan Ilahi tahap Akhir, dan yang tertinggi adalah Ranah Inti Perak, itupun bersembunyi di gua kaki gunung.


Mo Lian mengabaikan monster-monster di bawah sana, karena monster itu tidak menyerangnya dan hanya akan memperlambatnya jika harus mengurus monster-monster itu. Bagaimanapun niat awalnya kemari untuk menemui pemilik aura yang dirasakannya tadi.


Puluhan menit berlalu, ia masih belum melihat hal lain selain hamparan pohon sejauh mata memandang. Ia menduga jika tempat ini sangat-sangat luas, itu ditandai dari jangkauan pandang serta kecepatan tertingginya, namun masih belum bisa melihat hal lain.


Hingga sampai langit berubah warna menjadi jingga, dengan Matahari yang hampir terbenam di ufuk barat. Akhirnya ia sudah keluar dari wilayah hutan yang sangat luas tadi, dan memilih untuk beristirahat di tepi sungai yang terlihat setelah menghilangnya hutan.


Mo Lian melepaskan rangkulannya pada pinggang Qin Nian. Ia berjongkok dan mengeluarkan semua perlengkapan yang telah disiapkannya, seperti senter ruangan, semprotan anti nyamuk, salep dan lain sebagainya.


Qin Nian juga mengeluarkan karpet dari dalam Cincin Ruang. Cincin Ruang yang diberikan oleh Mo Lian, yang sebelumnya adalah milik salah satu Penatua dari Istana Surgawi.


"Malam ini kita akan bermalam di sini, kau bisa beristirahat dan tidur. Biar aku saja yang berjaga." Mo Lian mulai merasakan adanya tanda-tanda monster yang menghampiri mereka.


Mo Lian tidak bisa melepaskan aura membunuhnya untuk mengusir monster-monster itu, karena bisa menarik perhatian makhluk terkuat yang ada di sini. Jika ia bertemu dan saling bertarung, maka ia harus menggunakan 1% kekuatannya. Namun jika begitu, kehidupan di Bumi akan berakhir.


Mo Lian menutup matanya perlahan dan membelah diri menjadi empat bagian, kemudian menyebarkannya ke segala arah untuk melawan monster-monster itu dari dekat.


Qin Nian yang duduk di seberang Mo Lian memilih berdiri, dan duduk bersebelahan. Ia menatap wajah Mo Lian yang matanya terpejam, kemudian ia tersenyum bahagia. "Hehehe. Yun Ning akan marah jika mengetahui Lian terus memelukku ..."

__ADS_1


Mo Lian mendengar ocehan Qin Nian, namun hanya diam tanpa membalas dan lebih fokus pada ratusan monster yang menyerang dari tempat yang berbeda.


Ketika Matahari benar-benar terbenam di ufuk barat dan digantikan dengan Bulan yang mulai naik, suasana mulai berubah dengan pasti. Yang salah satunya adalah tekanan udara yang lebih kuat, serta serangan monster yang semakin kuat dan bertambah banyak.


Meski demikian, itu tidak sampai mengerahkan semua kekuatannya. Ini seperti melawan anggota dari Organisasi Dunia Hitam yang sangat lemah dan mudah untuk dibunuh itu.


***


Pagi Harinya


Mo Lian membuka matanya perlahan, terlihat kilatan cahaya biru di sudut mata kanannya dengan keinginan membunuh yang kuat. Selama malam hari, ia sudah membunuh puluhan ribu monster yang hendak menyerangnya, namun terbunuh oleh kloningnya.


Mo Lian mengerutkan kening saat ada sesuatu yang menyelimuti tubuhnya, terlihat selimut tebal berwarna merah muda dengan gambar kucing putih, dengan Qin Nian yang tidur menggunakan paha kanannya sebagai bantal.


"Sepertinya ini adalah kali pertamanya tidur di luar seperti ini." Mo Lian membelai rambut yang menghalangi wajah Qin Nian.


Mo Lian terdiam sejenak sembari menyebarkan kesadarannya mencari tanda-tanda kehidupan di sekitar. "Tidak ada monster lain lagi yang hendak menyerang. Aku akan membiarkan Qin Nian beristirahat untuk beberapa saat, sebelum melanjutkan perjalanan menuju hulu."


Mo Lian mendongak menatap lurus ke depan, ke arah selatan di mana di arah sana adalah tempatnya datang. "Apakah mereka sudah kembali ke hotel? Mungkin aku membutuhkan waktu sampai empat hari di sini karena jaraknya yang terlalu jauh."


Mo Lian mengangkat tangan kanannya menjentikkan pelan pelipis kanan Qin Nian. "Selalu waspada, pastikan kau selalu ingat di mana kita berada. Jangan pernah lupakan itu, apalagi tertidur pulas. Jika aku tidak menjagamu, kau akan mati." Matanya menatap tajam Qin Nian.


Walaupun Mo Lian sudah berjanji akan menjaga Qin Nian, tapi tetap saja ia harus melatih Qin Nian agar lebih waspada. Karena, di Galaxy Pusat semuanya lebih mengerikan.


"Ba- Baik ..." Qin Nian tertunduk lesu saat melihat tatapan mata yang tertuju padanya.


Mo Lian mengusap lembut puncak kepala Qin Nian. "Ini demi kebaikanmu, kau harus selalu waspada. Ingat itu! Jika begitu saja kau tidak bisa, maka pergi mengikutiku untuk meninggalkan Bumi hanyalah sebuah angan-angan," ucapnya datar tanpa emosi.


Mendengar itu, tiba-tiba Qin Nian mendongak menatap Mo Lian dengan mulut sedikit terbuka. Ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, lalu mengangguk tegas dengan mata menjelaskan kesiapan.


Mo Lian tersenyum saat melihat tatapan penuh semangat Qin Nian.

__ADS_1


Setelahnya, mereka akhirnya mempersiapkan sarapan pagi mereka yang cukup sederhana. Hanya mie instan dengan beberapa dendeng daging, roti dan air mineral.


Belasan menit kemudian, Mo Lian berdiri dan kembali terbang ke hulu sungai dengan Qin Nian yang kembali ia rangkul.


Gunung batu di depannya memang terlihat sangat dekat, namun itu sangat jauh sekali dan membutuhkan setidaknya tiga jam untuknya sampai di sana. Ketika ia sudah dekat dengan gunung batu, ia mengurangi kecepatannya secara signifikan.


Pandangannya terfokus pada kaki gunung yang nampak biasa-biasa saja tanpa adanya hal aneh, namun sebenarnya itu terdapat sebuah gua dengan tinggi lebih dari tiga puluhan meter. Hanya saja tersamarkan dengan susunan array yang melindungi.


Mo Lian turun perlahan dari ketinggian langit dan mendarat ratusan meter dari mulut gua yang tersamarkan. Ia menangkupkan kedua tangannya mengarah pada mulut gua. "Salam. Kedatangan Hamba ke sini bukan untuk mencari masalah, Hamba ke sini untuk meminta izin pada Hewan Suci agar dapat memanfaatkan energi murni khusus di sini untuk menyempurnakan senjata."


Tidak ada balasan dari dalam gunung batu, bahkan meski belasan menit lainnya terlewati. Namun Mo Lian tetap berdiri tanpa mengubah posisinya dan terus menangkupkan kedua tangannya.


"Tidak!"


Mo Lian mendongak menatap lurus ke depan dengan tatapan heran bercampur kaget saat mendengar balasan. Ia tidak menduga bahwa akan mendapatkan penolakan yang cukup mengejutkannya.


"Anda tidak perlu memberi hormat, seharusnya Hamba adalah orang yang berlutut padanmu. Dewa Semesta, Dewa dari Para Dewa!" Suara berat kembali terdengar dari dalam gunung batu, membuat gunung itu sedikit bergetar.


Mo Lian kembali terdiam dengan tatapan kaget. Ia memang pernah mendengar tentang Hewan Suci, yang dapat melihat ingatan seseorang hanya dengan sekali pandang, tidak terkecuali ingatan di kehidupan sebelumnya.


Sepertinya cerita dari Master itu benar. Tidak ada rahasia yang bisa ditutupi di depan Hewan Suci, Naga!


"Masuklah!"


Gunung batu kembali bergetar dan di kaki gunungnya mulai menampakan perubahan. Perlahan terlihat gua yang sangat besar, memperlihatkan keindahan dinding gua yang dapat dilihat dari sini.


Banyak sekali Batu Spiritual yang tertanam di dinding gua seperti kerikil yang tidak berguna, maupun tanaman herbal yang tertanam di sana, ataupun herbal lain yang mengapung di sungai dalam gua.


Mo Lian menegakkan tubuhnya, dan kemudian berjalan memasuki gua tanpa terburu-buru, bersama dengan Qin Nian yang berdiri di sebelah kirinya.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2