
Minggu, 13 April 2036
Akhirnya Mo Lian memiliki waktu luang bersama dengan istri-istrinya dan menghabiskan hari dari malam sampai pagi untuk berhubungan. Dengan Yun Ning yang meminta ronde paling banyak, yang lain hanya dua sampai tiga kali, tapi Yun Ning memintanya sampai pagi.
Mo Lian, bagaimanapun, tidak menolaknya dan memenuhi kebutuhan istri-istrinya. Tapi tidak semana mestinya bisa melupakan semua niatnya, dia tetap berlatih dengan rutin, untuk menerobos ke Dewa Bumi. Namun tidak terlalu keras untuk menerobos, dia masih perlu memperkuat fondasinya, seperti yang dilakukan Hong Xi Jiang.
...
Pada saat ini, Mo Lian membuka matanya perlahan setelah beristirahat selama dua jam. Hal pertama yang dilihatnya saat terbangun adalah dua gunung giok seputih salju yang naik turun, itu tidak terlalu besar, tapi sangat kencang.
Rambut hitam basah karena keringat, mata yang tertutup, bibir merah merona basah, anting kupu-kupu di telinga yang bergerak ke sana-sini.
Mo Lian berkedip-kedip, kemudian matanya terbuka lebar. Siapa yang sedang bergerak di atas tubuhnya adalah Hong Xi Ning, ini adalah hal yang sangat langka, mengingat Hong Xi Ning tidak pernah mau menggunakan posisi lain dalam berhubungan.
Dia membuka mulutnya hendak berbicara, tapi menahannya dan memilih untuk melihat pemandangan indah di depannya selagi Hong Xi Ning tidak sadar bahwa dia sudah bangun. Tangan Mo Lian gemetar, tidak bisa menahan diri untuk meraih pinggang Hong Xi Ning.
"Aaahhh ... uuhhh ... pantas ... Yun Ning suka di atas ... rasanya lain..." Hong Xi Ning tidak bisa menahan suaranya dan mengerang cukup keras.
Yun Ning? Mo Lian tersadar bahwa hanya mereka berdua saja yang berada di kamar.
Di mana mereka berdua?
Hong Xi Ning memegang dada Mo Lian untuk menahan tubuhnya yang kelelahan. Matanya terbuka perlahan, dan saat mata mereka berdua bertemu, wajahnya memerah. "I- Ini ... Ning'er bisa jelaskan ... uuhh..."
Tanpa berkata-kata ataupun mendengarkan Hong Xi Ning, Mo Lian menggoyangkan pinggulnya sampai menimbulkan suara tamparan yang lebih keras. Dia juga memeluk pinggang Hong Xi Ning seraya mencium bibirnya.
Hong Xi Ning melepaskan ciumannya untuk mengambil napas, tapi tetap terengah-engah dan mengerang di telinga Mo Lian, itu malah membuat Mo Lian semakin bersemangat.
Kreekk... _.suara pintu terbuka.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, terlihat Qin Nian dan Yun Ning yang memakai mantel handuk. Sepertinya keduanya sudah membersihkan tubuh mereka.
"Woah! Bukankah ini pertama kalinya kita melihat Xi Ning seperti itu?" Yun Ning berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepian.
Hong Xi Ning menyembunyikan wajahnya dengan membenamkannya di leher Mo Lian.
Qin Nian berdiri di bagian bawah tempat tidur, dia melihatnya dengan jelas tempat Mo Lian dan Hong Xi Ning terhubung. "Ini sangat liar." Ia menutup matanya dengan kedua tangan, meski masih bisa melihatnya melalui sela-sela jari.
__ADS_1
Mo Lian terus bergerak, sampai akhirnya ularnya membengkak dan memuntahkan lahar panas. Begitu pun dengan Hong Xi Ning, tubuhnya bergelombang seperti ombak saat merasakan ada sesuatu yang keluar darinya dan lahar panas yang masuk.
Mo Lian membelai rambut Hong Xi Ning. "Bagaimana?"
Hong Xi Ning tidak menjawabnya, dan hanya mengeluarkan erangan panjang dengan napas yang terengah-engah.
Mo Lian membiarkan Hong Xi Ning beristirahat sebentar, sebelum akhirnya membawanya ke kamar mandi untuk mandi bersama. Tapi ternyata, Qin Nian dan Yun Ning juga ikut meski mereka berdua sudah mandi.
...***...
Bintang Wanzu
Sesepuh Aliansi 10.000 Ras masih berkumpul di dalam gua luas dengan tenang, mereka hanya memberi perintah tanpa ikut campur urusan di luar. Kematian Tetua Kesembilan, Kedelapan dan Ketujuh pun tidak mereka ketahui karena tidak ada yang memberikan laporan, atau lebih tepatnya tidak ada yang diperbolehkan untuk memasuki kawasan hutan di mana mereka berada saat ini.
Jika ada yang masuk, bahkan jika itu penting, akan mendapatkan hukuman. Kecuali, masalah ini sangat mendesak sampai Tetua yang merupakan generasi di bawah mereka tidak mampu menyelesaikannya.
"Bagaimana dengan Armada Satu yang kita kirim? Harusnya generasi muda bisa menyelesaikannya dengan cepat, tapi ini sudah berbulan-bulan dan belum ada laporan."
Yang bertanya adalah Sesepuh Pertama, dia yang duduk di kursi utama yang tersembunyi di dalam kegelapan, memiliki kekuatan Dewa Surga tahap Awal. Dia sangat dihormati, karena merupakan murid dari Leluhur yang menyerang Bangsa Zhongguo puluhan ribu tahun lalu.
Dia adalah satu-satunya Dewa Surga, dan satu-satunya yang bisa mencapainya.
Dengan jentikkan jari wanita itu, terlihat benang kecil berwarna oranye melesat seperti ular kecil di dalam kegelapan. Itu terus bergerak yang kemudian menghilang di dalam kekosongan.
Setelah menunggu untuk waktu yang tidak terlalu lama, tiba-tiba ada suara yang datang dari luar ruangan.
"Hamba di sini datang untuk memberi laporan. Mohon maaf atas ketidaksopanan Hamba yang terlambat melapor."
"Potong omong kosong mu dan katakan!" Sesepuh dari Klan Dewa Bersayap berteriak dengan marah.
Orang yang melaporkan berita dari balik ruangan, bergetar ketakutan dengan keringat dingin yang mengalir deras. Napasnya tersengal seperti orang yang sekarat dan hampir mati karena tidak mampu menahan tekanan. Tekanan itu sudah sangat kuat meski berada di luar, apa yang terjadi jika berada di dalam ruangan yang sama.
Dia yang awalnya gugup untuk memberikan laporan, sekarang sengat ketakutan apabila dihukum mati.
"Armada Satu generasi sekarang, tidak ada satu pun dari mereka ... yang kembali. Tetua Kesembilan telah terbunuh ..."
"Kemudian, Tetua Ketujuh dan Kedelapan, mereka terbunuh. Hanya satu Dewa Hitam yang kembali hidup ... atau lebih tepatnya, sengaja dibiarkan hidup."
__ADS_1
Tiba-tiba suasana menjadi hening, tidak ada suara di dalam ruangan ataupun di sekitar pemuda yang memberikan laporan.
Hal ini membuatnya lebih takut, karena mungkin sebentar lagi kematiannya akan datang.
Tiba-tiba...
Bang!
Dentuman keras terdengar dari dalam ruangan, dan itu mengejutkan pemuda yang memberikan laporan. Dia bersujud di tanah dengan memegangi kepalanya, tubuhnya telah basah akan keringat. Darah pun terlihat mengalir dari dalam telinga maupun matanya seperti menangis.
Tulang-tulangnya berderak sampai menimbulkan suara retak, dagingnya mulai hancur karena tekanan yang diberikan. Tekanan ini berasal dari Dewa Bumi, tidak seperti Dewa Bumi yang ditemuinya atau Dewa Bumi para Tetua. Ini adalah Dewa Bumi Sesepuh, yang kekuatannya di luar nalar.
Tepat saat dia berpikir akan mati, aura yang menekannya berangsur-angsur menghilang.
Dia bisa bernapas kembali dan mulai mengatur pernapasannya, tapi masih tidak berani untuk bergerak, masih dalam posisi bersujud menghadap dinding tebal yang merupakan jalan masuk ke ruangan di dalam gua.
Dinding itu bergetar, kemudian tenggelam, menciptakan sebuah pintu yang tidak bisa memperlihatkan apa pun di dalamnya, hanya ada kegelapan tanpa dasar dengan aura kuat yang memenuhi ruangan.
Aura itu kembali menekannya yang baru saja mengatur napas.
"Sampaikan pesanku, kirim semua armada generasi sekarang dan bawa tiga armada di bawah kami. Hancurkan Bangsa Zhongguo, dan ambil ras-ras kami yang tertinggal di sana!"
Mendengar itu, pemuda itu tersentak dengan mulut terbuka lebar mengungkapkan ketidakpercayaan terhadap apa yang baru saja didengarnya. Untuk mengerahkan armada sebanyak itu, dia merasa terlalu berlebihan.
Banyak Dewa Bumi yang turun dan ribuan Dewa Hitam serta Dewa Merah yang tak terhitung jumlahnya. Hanya mengirimkan satu Dewa Merah sudah cukup untuk menguasai salah satu galaksi, tapi untuk mengirimkan begitu banyaknya pasukan, dia mulai bertanya-tanya seberapa kuat Bangsa Zhongguo itu sendiri.
Bagaimanapun, dia hanya pernah mendengarnya turun temurun, dan menganggapnya dilebih-lebihkan. Karena, tidak mungkin ada orang yang sebegitu kuatnya untuk membunuh ribuan Dewa Bumi di saat hanya memiliki satu Dewa Bumi.
Tapi, dia tidak bisa mengutarakan isi pikirannya dan hanya menganggukkan kepala setelah berlutut. "Baik, Hamba akan mengirimkan pesan para Leluhur."
Dia kembali bersujud, kemudian pergi meninggalkan kedalaman hutan setelah berpamitan dan mendapatkan izin.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1
*Note : Ralat, sebelumnya chapter 347, sesepuh di sini hanya Dewa Hitam, tapi sudah diganti jadi Dewa Bumi dan Surga.