Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 80 : Pergi ke Kota Beijing


__ADS_3

Selama beberapa hari ini Mo Lian selalu berkunjung ke lembah belakang Mansion Bai Long untuk mengecek proses pembangunan. Memang membosankan, tapi ia harus melakukannya meskipun ia seorang diri tanpa ada yang menemaninya.


Qin Nian, sedang mengerjakan pekerjaannya di perusahaan milik Keluarga Qin. Sedangkan Yun Ning, seperti biasa, karena Yun Ning merupakan Bintang Huaxia, tentunya jadwalnya sangat padat dan hanya sedikit saja memiliki waktu luang.


Mo Lian duduk di tumpukan pipa beton. Ia menolehkan kepalanya sekitar dengan pandangan bosan. "Sangat membosankan Memang aku suka seorang diri, tapi jika dipikir-pikir lagi, ternyata sendirian sangat sepi."


"Oi! Boss. Apa yang kau katakan, ini tidak sepi, coba kau dengar, banyak sekali kebisingan di sini. Seperti alat berat yang memukul besi, para pekerja yang menghancurkan batu." Pria paruh baya mengenakan kemeja putih berompi orange dan memakai helm keselamatan di kepalanya berjalan menghampiri Mo Lian.


Bibir Mo Lian berkedut-kedut, memang benar yang dikatakan pria paruh baya itu, itu tidak salah. Tapi cukup menyebalkan saat mendengar fakta yang diucapkan pria paruh baya itu.


Ini adalah hari keempat semenjak ia menerima panggilan telepon dari Ong Hei Yun. Besok adalah hari di mana ia akan dijemput dan pergi ke Kota Beijing, ia sangat penasaran akan mendapat apa dan akan bertemu orang seperti apa. Namun meski ia sangat penasaran, ia tidak akan tinggal diam jika ada orang yang menantangnya bertarung.


Mo Lian menghela napas panjang, ia menaikkan kakinya ke atas pipa beton dan merebahkan tubuhnya di atas pipa. Ia menatap langit biru yang indah, langit biru yang tidak panas maupun mendung, langit biru yang cocok untuk beristirahat.


Ketika ia baru saja memejamkan mata untuk mencoba tidur. Tiba-tiba terdengar suara dering dari handphone-nya yang berada di kantung celananya, ia merogoh kantung celana dan mengeluarkan handphone. Terlihat di sana ada panggilan masuk dari Ong Hei Yun, tanpa berlama-lama lagi ia mengangkat panggilan itu.


"Ada apa? Aku lagi berantai, bisakah kau telepon lagi nanti," ucap Mo Lian sembari memejamkan matanya.


"Kau di mana? Aku sudah berada di depan rumahmu!"


Mo Lian membuka matanya secara tiba-tiba, ia terdiam sejenak mengingat waktu yang dijanjikan. "Kau bilang akan menjemput ku besok. Kenapa hari ini?"


"Sudah jangan banyak tanya. Di mana kau?"


Alis Mo Lian berkedut-kedut, dulu ia menganggap Ong Hei Yun adalah orang yang lembut dan pendiam, itu adalah kesan pertama yang didapatnya saat pertama kali bertemu Ong Hei Yun. Tapi lambat laun, sikapnya sangat keras dan acuh tak acuh.


"Coba kau lihat di belakang Mansion Bai Long. Di belakangnya ada sebuah lembah, kau bisa menjemput ku di sana."


Tidak ada balasan dari balik telepon. Ini seperti mengatakan jika Ong Hei Yun sedang berjalan mengikuti perkataan Mo Lian untuk mengecek lembah yang diberitahukan.


"He- He- Hei. Ap- Ap- Apa ini. Sejak kapan ada bangunan di bawah sana? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku tidak tahu ini semua?"

__ADS_1


Mo Lian sedikit menjauhkan handphone-nya dari telinga saat mendengar teriakan Ong Hei Yun. Perlahan, ketika suara tidak lagi terdengar, ia mendekatkannya kembali. "Kau terlalu banyak tanya, coba kau cari lagi di sekitar sana, ada sebuah jalan yang menuju ke bawah. Katakan pada penjaga di sana jika kau disuruh olehku."


"Meski aku tidak tahu apa yang kau rencanakan dengan membangun sesuatu di bawah sana. Tapi baiklah, aku akan datang ke sana."


Panggilan telepon ditutup, Mo Lian kembali memejamkan matanya menikmati embusan angin sepoi-sepoi bersama dengan debu yang beterbangan. Ya! Debu, debu pembangunan yang belum dibersihkan. Ketika semua bangunan sudah selesai, barulah pepohonan akan ditanam, dan jalan-jalannya akan dibuat menggunakan batu alam.


Tapi meski di sini masih berdebu, ia bisa bernapas dengan halus tanpa ada beban. Itu karena ia menggunakan metode pernapasan khusus, yang membuatnya hanya menghirup udaranya saja.


Puluhan menit kemudian, ketika ia hampir tertidur, tiba-tiba ada suara nyaring yang membuatnya tersentak dan terbangun dari tidurnya.


"Mo Lian!"


Mo Lian membuka matanya, ia menoleh ke arah sumber suara. Terlihat wanita muda mengenakan gaun merah yang sangat indah dengan belahan dada yang terpampang jelas, tapi gaun itu hancur karena dilapisi dengan rompi orange dan helm keselamatan.


Melihat itu, Mo Lian tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak dengan kedua tangan menyentuh perutnya.


Ong Hei Yun mengalihkan pandangannya dengan kedua tangan menyilang di depan dada, ia menggembungkan pipinya kesal. "Huh! Cukup, jangan tertawa, ini semua salahmu yang menyuruhku untuk datang!"


"Hahaha. Maaf, maaf." Mo Lian mengusap air di matanya. Ia melompat turun dari tumpukan pipa beton dan mendarat tepat di depan Ong Hei Yun. "Jadi, apakah kita akan berangkat sekarang?"


"Tapi, bukankah terlalu cepat, dan lagi mengapa kau mengenakan gaun meski hanya untuk menjemput ku?" Mo Lian bertanya kembali. Akan sangat aneh jika mengenakan gaun mewah hanya untuk menjemputnya dan berangkat ke Kota Beijing.


Ong Hei Yun menghela napas panjang. "Aku baru saja selesai menghadiri pesta yang diadakan ayahku. Pestanya belum selesai, tapi aku sudah pergi duluan, di sana sangat menyebalkan. Banyak pria-pria yang kurang ajar, aku ingin sekali mematahkan tulang-tulang mereka dan menghancurkan telur mereka," ujarnya sembari menampilkan tangan kanan yang bergerak seperti sedang meremas sesuatu.


Tubuh Mo Lian bergidik saat ia melihat gerakan tangan Ong Hei Yun. Ia seperti merasakan rasa sakit yang diterima jika dua telur yang sangat berharga itu pecah. "Baiklah-baiklah. Ayo kita langsung berangkat ke bandara, aku sudah mengatakan pada ibuku jika akan pergi ke Kota Beijing."


"Apakah kau tidak bersiap-siap dulu?" tanya Ong Hei Yun saat melihat pakaian yang dikenakan Mo Lian.


Mo Lian menggeleng pelan dan berjalan melewati Ong Hei Yun. "Tidak perlu, aku bisa membelinya saat tiba di Kota Beijing," jawabnya tanpa menoleh.


Ong Hei Yun terdiam, kemudian berjalan mengikuti langkah Mo Lian. Ia tidak mengomentari perkataan yang dikatakan Mo Lian, karena ia juga sama seperti itu, jika ia malas dan menurutnya menyusahkan, ia akan membelinya yang baru.

__ADS_1


Sebenarnya Mo Lian mengatakan itu hanyalah sebagai pengalihan. Padahal ia sudah menyiapkannya di hari-hari sebelumnya dan disimpan di dalam Cincin Ruang.


Keduanya masuk ke dalam mobil yang terparkir cukup jauh dari mereka berdua. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat parkir, ia berjalan mengikuti Ong Hei Yun yang berjalan di depannya. Terlihat mobil sport tanpa atap berwarna merah dengan harga lebih dari 10 juta Yuan.


"Kau yang menyetir." Ong Hei Yun melempar kunci mobil ke arah Mo Lian.


Mo Lian menangkapnya, ia terdiam di tempatnya berdiri tanpa bergerak masuk ke dalam mobil. Ia mengalihkan pandangannya ke sisi lain dengan senyum canggung terlihat di wajahnya.


"Kau bercanda, kan? Apakah kau tidak bisa mengendarai mobil?" tanya Ong Hei Yun sedikit tak percaya.


Mo Lian menggaruk pipinya pelan dan menjawabnya dengan canggung, "Haha, haha. Aku tidak bisa."


Ong Hei Yun berjalan mendekati Mo Lian dan mengambil kembali kunci mobilnya, kemudian ia masuk ke dalam mobil duduk di belakang setir. Ia menolehkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. "Cepat masuk."


Mo Lian mengangguk kecil dan tersenyum ringan, kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.


Ong Hei Yun menginjak gas mobil mengemudikannya meninggalkan lembah dan pergi menuju Bandara Shuangliu Chengdu. Lebih dari satu jam kemudian, keduanya sudah sampai di bandara, tanpa berlama-lama lagi mereka berdua pergi menuju ruang tunggu.


"Apakah tidak masalah mobil kau parkir di sana selama beberapa hari?"


"Tidak masalah, nanti keluargaku akan datang mengambilnya. Bahkan jika mereka tidak datang, itu hanya beberapa puluh ribu Yuan saja," jawab Ong Hei Yun yang sibuk memainkan handphone-nya.


Mo Lian terdiam, ia tidak pernah mendengar tentang Keluarga Ong di Kota Chengdu. Tapi ia tidak ingin bertanya maupun ingin tahu, karena itu bukanlah urusannya dan ia tidak memiliki kepentingan untuk mengetahuinya.


Keduanya menunggu di dalam ruang tunggu untuk beberapa puluh menit hingga akhirnya terdengar suara dari speaker yang tidak tahu di mana letaknya.


"Perhatian, para penumpang pesawat ABC dengan nomor penerbangan ABA605 tujuan Kota Beijing dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A11."


Sesaat setelah mendengar itu, Mo Lian dan Ong Hei Yun beranjak dari tempat duduknya. Meski dikatakan melalui pintu A11, tapi mereka berjalan melewati pintu lain, itu karena kursi yang mereka pesan berada di kabin Businnes Class. Untuk tiketnya sendiri dibelikan oleh Ong Hei Yun, ia tidak mengeluarkan uang sama sekali, bahkan untuk satu fen.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2