
Mo Lian yang telah tiba di depan halaman Mansion Bai Long menggerakkan tubuhnya dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Ia berbalik menatap Ong Hei Yun yang berdiri di belakangnya. "Aku minta tolong padamu, seminggu lagi kami akan mengadakan upacara pembukaan sekte. Bisakah kau katakan pada Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia untuk datang? Aku nanti akan menulis surat undangan."
"Baiklah. Besok aku akan datang lagi ke sini untuk mengambil suratnya." Ong Hei Yun menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan ke arah mobilnya.
"Apakah kau langsung pergi?"
Ong Hei Yun kembali menganggukkan kepalanya, kemudian menjawab, "Aku harus melapor pada markas yang ada di Kota Chengdu. Terlebih lagi dengan kenaikan tingkatku yang sekarang sudah berada ditingkat Fase Lautan ... apa itu? Ah itulah pokoknya."
Mo Lian hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya membiarkan Ong Hei Yun pergi. Sekarang di halaman kediaman ini hanya tersisa ia dan Qin Nian, ia menolehkan kepalanya menatap Qin Nian. "Nian, apakah kau ingin menginap untuk malam ini?"
Qin Nian tersenyum, meski ia sangat ingin menginap di tempat Mo Lian. Tapi ia tidak bisa melakukannya. "Maaf Master. Saya harus kembali ke rumah, lalu ada beberapa urusan lainnya di perusahaan, serta Paviliun Baozang yang belum aku urus, dan beberapa tugas lainnya di SMA 1 dan 2 Chengdu," jawabnya seraya menangkupkan kedua tangan.
Mo Lian terdiam, ia tidak tahu mengapa teman-teman wanitanya memiliki kesibukan yang sangat padat. Bukan hanya Qin Nian, bahkan Yun Ning dan Ong Hei Yun juga memiliki kesibukan masing-masing. Lalu untuknya, ia hanya berada di rumah tanpa melakukan apapun, bahkan tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
"Baiklah, hati-hati."
Qin Nian menganggukkan kepalanya, ia berbalik menuju mobilnya yang terparkir. Namun baru saja berjalan beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Mo Lian.
"Tunggu!" Mo Lian meraih pergelangan tangan Qin Nian. Ketika Qin Nian berbalik menatapnya, ia tersenyum tipis dan kemudian melanjutkan perkataannya, "Jika ini merepotkanmu, kau bisa menolaknya. Aku ingin meminta tolong padamu untuk membawa penjahit handal yang bisa membuat pakaian dengan jumlah lebih dari 400 lembar dalam satu minggu, datangkan orang itu besok ataupun lusa ke Aula Sekte."
"Baik, Master." Qin Nian menjawabnya dengan kepala tertunduk.
"Ah! Maaf." Mo Lian melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Qin Nian.
"Kalau begitu, saya undur diri," ucap Qin Nian yang masih tertunduk malu.
Mo Lian hanya terdiam dan tersenyum tipis saat melihat Qin Nian yang memasuki mobil. Ia berdiam di halaman sampai saat di mana mobil Qin Nian tidak masuk lagi dalam jangkauan pandangnya, kemudian ia masuk ke dalam rumah.
Puluhan menit kemudian, terdengar suara mobil di halaman depan. Mo Lian membuka pintu dan terlihat sebuah mobil hitam mewah yang mengkilap, dari dalam mobil keluar tiga wanita muda yang tak lain ialah Su Jingmei, Mo Fefei dan Yue Xin Mei.
Lalu di belakang mobil itu juga terlihat sepuluh pemuda dan pemudi yang tak lain Ialah Wu Yengtu.
"Kakak!" Mo Fefei berlari ke arah Mo Lian dan memeluknya erat.
Meski tidak tahu mengapa, tapi Mo Lian tetap menangkap Mo Fefei dan memeluknya, serta mengusap lembut rambut Mo Fefei mencoba untuk menenangkannya. "Ada apa?"
Mo Fefei membenamkan wajahnya di dada Mo Lian. "Kakak, ada sepuluh orang asing di depan rumah."
Mo Lian terdiam dengan mulut sedikit terbuka, ia tidak berharap jika Mo Fefei berlari ke arahnya karena hal itu. Tapi tunggu, bahkan ibunya juga berlari dan bersembunyi di belakangnya.
Karena keduanya adalah Kultivator Dao, tentu saja keduanya merasakan aura yang keluar dari tubuh Wu Yengtu dan yang lain, mungkin karena itulah mereka berdua beranggapan jika kesepuluh orang itu datang ke sini dengan maksud yang tidak baik.
__ADS_1
"Ibu, Fefei. Mereka adalah orang yang datang dari Gunung Kunlun, mereka sangat baik, bahkan aku diperlakukan seperti seorang cucu," ujar Mo Lian yang masih mencoba menenangkan Mo Fefei.
Masih dengan memeluk erat Mo Lian. Mo Fefei mendongakkan kepalanya, terlihat air mata yang menetes menjelaskan akan ketakutan. "Benarkah?"
"Tentu. Apakah Kakak pernah berbohong padamu?" Mo Lian menyentuh pelan hidung Mo Fefei.
"Lian. Apakah ini adik yang kau ceritakan?" tanya Xu Xumei yang sudah berada di depannya.
Mo Lian mengangguk kecil. "Iya, Nek. Dia memang seperti ini, tidak terlalu baik dengan orang yang baru ditemuinya," jawabnya masih dengan memeluk Mo Fefei.
"Kakak..." Mo Fefei merengek kecil dan kembali membenamkan wajahnya di dada Mo Lian.
Su Jingmei yang berdiri di belakang Mo Lian mulai berjalan ke samping. "Lian'er sudah menceritakan tentang kalian. Terimakasih karena telah merawat Lian'er saat di Gunung Kunlun, aku Ibunya, Su Jingmei," ucapnya memperkenalkan diri dan menundukkan kepalanya.
Xu Xumei tersenyum, ia berjalan menghampiri Su Jingmei. "Apakah kau ingin menjadi anakku?"
"Eh?" Su Jingmei tersentak dan mendongakkan kepalanya. Ia menolehkan kepalanya menatap Mo Lian dengan pandangan meminta tolong.
Mo Lian menghela napas panjang kemudian berkata, "Itu terserah Ibu saja. Aku menganggap mereka sebagai kakek dan nenek, Ibu tahu, kan. Kalau semasa kecil aku tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang dari seorang yang dipanggil kakek dan nenek, apalagi Fefei."
Ketika mendengar itu, Su Jingmei tersentak dan menundukkan kepalanya lagi. Sedangkan Mo Fefei memeluk Mo Lian lebih erat, dan terdengar isak tangisnya.
Su Jingmei mengepalkan kedua tangannya dengan tubuh bergetar. Napasnya berat dan air mulai menetes menjelaskan tentang kesedihan yang dialaminya selama belasan tahun. Perlahan, ia melonggarkan kedua tangannya dan mendongak menatap Xu Xumei. "Karena Lian'er sangat percaya pada Anda. Maka aku akan menjelaskannya di dalam, silakan masuk," ucapnya berbalik memasuki kediaman.
Xu Xumei dan yang lainnya masuk ke dalam rumah mengikuti langkah kaki Su Jingmei.
Sedangkan untuk Mo Lian, ia masih berada di halaman depan dan terus memeluk Mo Fefei untuk sesaat. "Sudah, ayo kita masuk."
"Gendong..."
Mo Lian tersenyum kecil, ia melepaskan pelukannya dari Mo Fefei, kemudian berjongkok dengan kedua tangan di letakkan di pinggang. Lalu kembali berdiri saat Mo Fefei sudah melingkarkan kedua tangan di lehernya. "Bukankah ini sudah lama. Terakhir kali kau memintaku menggendong mu pada usia empat tahun," ucapnya sembari berjalan.
"Terimakasih, Kakak."
"Tidak masalah, ini sudah tugasku sebagai Kakakmu."
Mo Lian berjalan memasuki kediaman, di dalam ruang tamu terlihat ibunya dan yang lain sedang duduk di sofa. Namun suasana di sana hening tanpa ada pembicaraan sekali. Ketika ia dan Mo Fefei masuk, ibunya menepuk-nepuk sofa seperti memintanya untuk datang ke sana. Mo Lian mengangguk kecil dan menghampiri ibunya dengan Mo Fefei yang masih digendongnya.
Saat Mo Lian telah duduk. Barulah Su Jingmei mulai menceritakan bagaimana kehidupan mereka selama belasan tahun terakhir, paling tidak dari awal saat Mo Qian menghilang di perbatasan, lalu perlakuan yang diterima dari kedua belah pihak keluarga, dan kehidupan sehari-hari mereka yang sedikit kurang.
Meski Su Jingmei memiliki penghasilan 5000 Yuan untuk satu bulannya, hidup di Kota Hanzhong cukup berat. Lima ratus Yuan untuk sewa rumah, biaya makan 800 Yuan, lalu keperluan lainnya seperti listrik dan sekolah.
__ADS_1
Terlebih lagi saat Mo Lian dan Mo Fefei sudah pindah ke Kota Chengdu, Su Jingmei hanya memiliki pegangan sebanyak 300 Yuan untuk satu bulannya.
Sekali lagi, Mo Fefei tidak bisa menahan tangisnya saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Su Jingmei. Tidak terkecuali Mo Lian, ia juga sedikit meneteskan air matanya.
Xu Xumei, Jia Yaoyu, Gou Menghu dan dua wanita lainnya tidak bisa menahan rasa sedih mereka. Dengan penjelasan ini, akhirnya Xu Xumei mengerti mengapa Mo Lian menatapnya dengan mata yang menjelaskan kesedihan, kerinduan, dan rasa hangat yang secara bersamaan.
Xu Xumei beranjak dari sofa, kemudian duduk di sebelah Su Jingmei dan memeluknya erat. "Mungkin ini terdengar kasar dan tidak nyaman untukmu karena kau masih memiliki orangtua di Kota Xianyang. Tapi kau bisa menganggapku sebagai orangtua sambung," ucapnya mencoba menenangkan Su Jingmei.
Mo Fefei yang duduk di sebelah Mo Lian menolehkan kepala. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Mo Lian. "Ka ... kak, dia berusia ... berapa tahun?" tanyanya tersedu-sedu.
"Tujuh ratus tahun." Mo Lian menjawabnya singkat dan tanpa berpikir panjang.
Seketika itu juga semua wanita yang ada di sini mengalihkan perhatiannya pada Mo Lian dan menatapnya tajam, ini seperti mengatakan jangan asal sebut usia para wanita.
"Uhuk." Mo Lian terbatuk secara sengaja.
"Apakah kalian ingin beristirahat di sini? Kami masih memiliki kamar kosong di lantai dua dan tiga. Besok kita akan membuat array."
Mo Lian berdiri dari tempat duduknya. "Kalau begitu aku naik ke lantai atas duluan," lanjutnya.
"Lian'er ... apa yang ingin kau lakukan? Apakah kau meninggalkan para tamu?" tanya Su Jingmei sembari mengusap kedua matanya.
"Aku ingin menulis teknik untuk diletakkan di dalam lima menara. Itu adalah pekerjaan yang cukup sulit untuk menulis 500 buku untuk satu menaranya, jadi aku ingin memulainya dari sekarang." Mo Lian menjawabnya tanpa menoleh dan berjalan menaiki tangga yang menghubungkan tiap lantai.
Lima ratus teknik?
"Apakah Lian bisa menulis teknik sebanyak itu?" tanya Xu Xumei dengan pandangan penuh tanya dan tak percaya.
Mo Fefei mengangguk kecil, ia menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan dengan jari telunjuk menyentuh bibirnya seperti mencoba mengingat sesuatu. "Kalau tidak salah, kakak pernah menulis 200 teknik dalam waktu dua jam."
"Apakah kami boleh naik untuk melihatnya?" Kali ini giliran Wu Yengtu yang bertanya. Ia sangat penasaran bagaimana cara Mo Lian menulis teknik-teknik dengan jumlah yang sangat banyak dalam waktu beberapa jam saja.
"Tentu." Mo Fefei beranjak dari tempat duduknya dan mengajak semua orang untuk naik ke lantai tiga.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka pun mengikuti Mo Fefei naik ke lantai teratas, lantai tiga, lantai yang untuk sementara digunakan sebagai tempat penyimpanan harta.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1