
Samudra Pasifik
Tubuh Mo Lian tetap terjaga tanpa adanya sedikitpun luka meski sudah terkena tembakan rudal yang sangat besar, rudal yang mampu meluluh lantakkan bangunan bertingkat yang memiliki 15 lantai.
"Fire!"
Rudal kembali ditembakkan dari sisi kapal secara beruntun dengan senjata berat lainnya, membuat ledakan besar dengan asap hitam membumbung tinggi di langit. Permukaan air laut di bawah ledakan juga mulai mengusap meski hanya sedikit saja.
Mo Lian yang berada di dalam kepulan asap mengibaskan tangannya, menciptakan angin yang berembus menerbangkan asap tebal, dan memperlihatkan dirinya yang masih tidak terluka sama sekali. Ini hanyalah bayangan, yang kekuatannya hanya sebatas sepertiga dari tubuh utama yang berada di Kota Chengdu, tapi sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan kapal induk.
Setelah puluhan rudal ditembakkan dari kapal ke arah Mo Lian, tidak ada lagi tembakan yang keluar dari sana, hingga tak lama kemudian kapal itu berputar arah dan pergi menjauh dari tempat.
Mo Lian mengerutkan keningnya saat melihat hal itu, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh kapal induk milik Amerika.
"Apakah kau pikir aku akan membiarkan kalian pergi?!" Mo Lian melepaskan energi spiritualnya menyebar ke sekitar.
Mo Lian membuat segel tangan dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata, kemudian diakhiri dengan kedua telapak tangan yang saling bersentuhan. "Teknik Badai Air, Gerakan Keempat. Gelombang Tsunami!"
Gelombang air laut dari kedua sisi naik ratusan meter ke langit, kemudian menggulung kapal induk hingga terbalik dan patah, lalu tenggelam begitu saja bersama dengan ratusan orang di dalamnya tanpa bisa menyelamatkan diri.
"Sangat muda—" Mo Lian menghentikan perkataannya saat merasakan bahaya yang datang jauh di depan.
Hingga tidak lama kemudian, ia bisa melihat cahaya merah yang terbang di langit tinggi mengarah padanya.
"Nuklir? Apakah kalian serius?" Penggunaan senjata nuklir tidak diperkenankan untuk digunakan dalam perang, dan sekarang malah digunakan untuk hal sepele seperti ini.
"Datanglah!" Mo Lian menyentuhkan kedua telapak tangannya sembari berteriak dan melepaskan seluruh energi spiritualnya pada sekujur tubuhnya.
Energi spiritual berfluktuasi di sekitar Mo Lian, menciptakan gelombang udara yang menggetarkan lautan dengan puluhan pusaran air yang naik ratusan meter ke langit seperti pilar mengelilingi tubuhnya.
Mo Lian tidak bisa pergi dari tempatnya, karena itu bisa berdampak buruk bagi Daratan Huaxia yang mungkin saja bisa menjadi target lain dari nuklir yang hampir mengenainya sebentar lagi.
Belasan menit kemudian. Mo Lian mengangkat kedua tangannya ke udara, membuat air laut kembali bergerak membuat pelindung di atasnya.
Boom! Duarr!
Ledakan besar terjadi saat senjata nuklir mengenai pelindung yang dibuat Mo Lian, menciptakan api yang sangat besar menutupi langit dalam radius satu mil, bersamaan gelombang udara yang menyebar ke segala arah dalam radius belasan mil jauhnya, menguapkan air di bawah Mo Lian.
Puluhan detik setelah ledakan terjadi, api yang masih membakar udara itu bergerak-gerak membentuk pusaran api yang mengerikan, kemudian meledak begitu saja membentuk cincin api yang menyebar. Bisa terlihat di tengah-tengah ledakan itu ada Mo Lian yang pakaiannya rusak parah, namun tidak ada goresan sedikitpun di kulitnya.
Mo Lian menggertakkan gigi sembari mencengkeram jari-jarinya yang terkepal, ia mendongak menatap lurus ke depan dengan mata tajam dan keinginan membunuh yang kuat keluar darinya. "Beraninya! Meski serangan kalian tidak lebih dari Ranah Inti Perak tahap Menengah, tapi aku akan membalas kalian!"
Mo Lian menekan kakinya di udara sebagai pijakan, kemudian melesat tajam mengarah ke Pulau Hawaii. Hanya dari kecepatan terbangnya saja, ia mampu membelah permukaan lautan yang jaraknya sekitar 100 meter darinya.
***
Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, China
Mo Lian terus bergerak memukul Kepala Keluarga Rosth, yang bernama Gerlad Rosth ke langit yang tinggi, hingga menembus lapisan Termoster yang memiliki suhu tinggi. Dengan bertarung di lapisan ini, Mo Lian tidak perlu mengkhawatirkan tentang keadaan Kota Chengdu.
Keduanya menatap satu sama lain dengan jarak satu mil, jarak yang terbilang cukup jauh hanya untuk saling menatap tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.
Hingga tiga menit kemudian, terdengar dentuman keras dengan gelombang udara yang menyebar dan menganggu sinyal dari satelit yang berada tidak jauh dari pusat pertarungan. Dentuman itu dihasilkan dari dua pukulan yang saling beradu, pukulan Mo Lian dengan Gerlad Rosth.
__ADS_1
Dengan kecepatan tiada tara, Mo Lian mengangkat kaki kanannya dan menendang kepala Gerlad Rosth menggunakan seluruh kekuatan fisiknya.
Bang!
Dentuman lainnya kembali terdengar saat tendangannya ditahan oleh lengan kiri Gerlad Rosth, meski begitu tetap saja membuat Gerlad sedikit terlempar karena tidak mampu menahannya dengan sempurna.
Gerlad terperangah tak percaya dengan apa yang barusan terjadi, dengan kekuatannya, harusnya tidak ada yang bisa membuatnya terlempar seperti ini hanya dari tendangan biasa.
Gerlad kembali mengepakkan sayapnya dan memutar tubuhnya untuk membuat angin berputar, yang kemudian menahan tubuhnya dan dapat dikendalikan kembali. Setelah dapat mengontrol tubuhnya, ia menatap tajam Mo Lian sembari meringis menahan sakit di lengan kirinya.
"Sial—" Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit lain yang berasal dari punggungnya.
Mo Lian memukulkan tinju diselimuti energi kuat bercahaya biru pada punggung Gerlad, membuat Gerlad kembali terlempar ke arah yang berlawanan dengan cepatnya.
Saat Gerlad kembali terlempar, Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang, dan mengeluarkan pedang patah yang dinamainya dengan Pedang Kematian. Nama ini berasal dari cara bagaimana meningkatkan kekuatan pedang, yang harus dibasuh dengan darah.
Setelah bertarung dan membunuh jutaan orang di Istana Surgawi, Mo Lian merasa menyesali perbuatannya karena tidak menggunakan pedangnya, sehingga ketajaman pedangnya tidak bertambah.
Dengan Pedang Kematian di tangan dan kekuatan Ranah Inti Emas Sempurna, Mo Lian mampu bertarung melawan Kultivator Jiwa Emas, yang kekuatannya sangat jauh darinya. Yang artinya ia juga bisa menghancurkan Negara Amerika dalam sekali serang, membelah benua, membelah lautan.
Mo Lian mengalirkan sepuluh persen energi spiritualnya pada Pedang Kematian, memancarkan cahaya merah gelap dengan kabutnya.
"Jangan mati!" Mo Lian mengayunkan pedangnya secara horizontal dari kiri ke kanan mengarah pada Gerlad Rosth.
Dari ujung pedangnya mengeluarkan siluet bulan sabit berwarna merah darah. Hanya karena siluet itu muncul, aura di sekitar menjadi lebih berat dengan keinginan membunuh tersebar luas, bahkan sampai mempengaruhi cuaca yang berada jauh di lapisan Troposfer.
Duarr!
Dari dua bagian tubuh Gerlad yang terbelah, terlihat darah gelap yang menyembur deras, darah itu bercampur menjadi satu. Perlahan, tubuhnya yang terbelah dua kembali menyatu seperti dijahit kembali, darah yang mengalir deras juga sudah menghilang.
Gerlad menggertakkan giginya penuh amarah sembari mencengkeram jari-jarinya yang terkepal. Ini adalah pertama kalinya ada yang berhasil membelah tubuhnya, selama ratusan tahun ia hidup, tidak ada yang bisa melukainya kecuali ayahnya.
"Dasar manusia rendahan!" Gerlad berteriak lantang dengan kepala ditengadahkan serta aura membunuh yang keluar darinya.
Energi spiritual berfluktuasi di sekitar mengelilingi tubuh Gerlad menciptakan fenomena yang mengerikan, sayatan angin yang sangat tajam bagaikan pedang bergerak ke segala arah, cahaya merah gelap seperti api yang terbakar juga bisa terlihat di bawah kakinya dan mulai menutupi sampai lututnya.
Mo Lian yang melihat itu hanya terdiam tidak bergerak dari tempatnya, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh orang di depannya itu. Ia memang merasakan bahwa kekuatan Gerlad kian meningkat, tapi tidak sampai di mana ia tidak bisa mengalahkannya.
Bahkan jika kekuatan Gerlad bisa meningkat hingga Ranah Jiwa Emas, Mo Lian masih bisa melawannya, hanya saja ia akan memilih bertarung di luar angkasa, lebih dari 500 kilometer atau 310,6 mil dari permukaan tanah.
Cahaya merah gelap terus menutupi tubuh Gerlad seiring berjalannya waktu, hingga beberapa menit terlihat, seluruh tubuhnya sudah menghilang terlapisi dengan cahaya.
Ketika cahaya mulai meredup, tiba-tiba cahaya itu meledak dan menyebar membentuk cincin merah yang sangat kuat nan tajam seperti pedang.
Mo Lian yang terkena tiupan angin itu hanya diam tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi di wajahnya, bahkan matanya pun tidak berkedip.
Terlihat, di tempat Gerlad berdiri sebelumnya, sudah berdiri makhluk yang sangat berbeda. Manus— Tidak! Monster berkulit merah dengan sisik, memiliki sayap kelelawar dua pasang dan membentang sepanjang 20 meter. Mata merah menyala, taring yang keluar dari gigi atas maupun bawah, serta dua tanduk mencuat keluar dari dahi.
Mo Lian memiringkan kepalanya dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, dan berucap heran, "Evolusi? Bukan! Kawin silang?"
"Apakah pendahulu mu menikahi kambing? Atau buaya? Ah! Buaya bertanduk, atau kambing bersisik? Mungkin ular bertanduk? Bisa juga rusa bersisik, tapi sejak kapan rusa bersisik?" tanya Mo Lian berturut-turut dengan nada menghina.
Tubuh Gerlad bergetar dengan wajah menghitam menjelaskan amarah dan keinginan membunuh, kedua tangannya dikepalkan dengan erat.
__ADS_1
Dengan sedikit gerakan, Gerlad menghilang di udara kosong seperti orang beteleportasi, dan muncul kembali tepat di depan Mo Lian. "Berani—"
Plak!
"Bisakah kau diam! Aku sedang berpikir!" Mo Lian menampar keras wajah Gerlad menggunakan tangan kiri yang sudah dilapisi dengan seluruh energi spiritualnya.
Samar-samar juga terlihat bahwa tubuh Mo Lian sudah diselimuti oleh jubah emas dengan mahkota di atas kepala, ini adalah wujud yang didapatnya saat menembus Ranah Inti Emas Sempurna.
Meski sebelumnya dikatakan sangat beresiko menggunakan wujud seperti ini, tapi berbeda jika hanya menggunakan 1 : 1000.000 dari kekuatan asli, tubuhnya sudah bisa menanggung beban untuk bandingan sebanyak itu. Jika 1 : 100.000, ia harus bermeditasi selama seminggu penuh untuk mengembalikan tenaga. Jika 1% kekuatannya, mungkin ia harus menghabiskan waktu satu tahun dengan rempah maupun herbal berharga sebagai tambahan.
Kepala Gerlad berputar 180° saat terkena tamparan Mo Lian yang menggunakan seluruh kekuatannya. Bahkan tamparan kecil itu juga menciptakan udara bertekanan tinggi yang melesat sangat jauh, hingga menembus jarak 1000 mil.
Mo Lian mengulurkan tangan kanannya mencengkeram batang leher Gerlad, kemudian melemparkannya jauh hingga keluar dari lapisan Termosfer dan menembus lapisan terakhir, lapisan Eksosfer.
Mo Lian menekan kakinya di udara dan kembali melesat dengan cepatnya, hanya dalam hitungan detik, ia sudah menyingkat jarak 186 mil dan muncul tepat di bawah Gerlad, lalu melemparkannya kembali hingga berada di luar angkasa gelap dengan kilauan bintang.
Saat Mo Lian bergerak tadi, ia mengubah kekuatan dari 1 : 1000.000 itu menjadi kecepatan dan pertahan, agar kecepatannya dapat menyingkat jarak yang sangat jauh dalam hitungan detik, serta ketahanan agar tubuhnya mampu menahan gesekan udara sekitar.
Gerlad terus bergerak sangat cepat dan menabrak asteroid, membuatnya tidak lagi bergerak, namun tertanam di dalamnya.
Gerlad sedikit menundukkan kepalanya agar pandangannya dapat melihat Mo Lian. Dengan mata bergetar ketakutan, serta keringan dingin mengalir, ia berucap, "Ba- Bagaimana mungkin ..."
"Apakah kau pikir hanya kau yang bisa berubah? Aku juga bisa," balas Mo Lian santai.
Setelah seorang Kultivator menembus Ranah Inti Emas, orang itu akan mampu bernapas dengan bebas di angkasa luar.
Gerald terdiam sejenak dengan mulut terbuka, raut wajahnya berubah menjadi tak enak dipandang. Hingga tidak lama kemudian, ia mendengus dingin dengan seringai lebar terlihat di wajahnya. "Heh! Asal kau tahu, Ayahku sedang bergerak dan akan membantai orang-orang dari Negara China!"
Mo Lian hanya diam menatap datar tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi. Di Bumi ada dua kloningnya, sebelum ia pergi ke luar angkasa, ia juga membelah diri lagi karena saat itu ia merasakan aura kuat lain.
"Oh? Aku tidak peduli, dia hanyalah Alam dan Manusia tahap Menengah, jika berubah sepertimu, dia hanya meningkatkan satu tingkat. Aku bisa membunuhnya dengan mudah."
"Omong kosong! Kau hanya berbicara tanpa bukt—" Gerald yang hendak keluar dari dalam asteroid itu menghentikan gerakannya, ia tidak dapat lagi keluar dari sana dan tidak akan pernah bisa, karena tubuhnya sudah meledak menjadi kabut darah.
Sementara itu. Mo Lian mengarahkan jari telunjuknya pada tempat di mana Gerlad tadi berada, di ujung jarinya ada asap putih yang terlihat sesaat sebelum menghilang kembali karena di sini adalah ruang hampa.
Tadi Mo Lian menembakkan peluru yang terbuat dari energi spiritual, ia menahan kekuatannya hanya sampai di mana dapat meledakkan Gerlad.
"Hanya orang bodoh yang mempertanyakan kekuatan Dewa Semesta, bahkan jika itu satu banding sejuta, itu sudah cukup untuk menghancurkan planet kecil seperti Bumi."
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat ISS (International Space Station) yang berjarak beberapa puluh mil darinya, ia merasa jika orang-orang di sana sedang menatapnya. "Apakah kalian juga ingin merasakannya?"
Orang-orang yang berada di dalam ISS bergidik ngeri saat mendengar suara Mo Lian yang menggema, mereka semua menjauh dari teleskop dan tidak lagi mengamati Mo Lian.
Mo Lian kembali mengalihkan perhatiannya pada Bumi, kemudian melesat sangat cepat seperti kilat.
Mo Lian tidak mengambil Inti Darah milik Gerlad, karena ia merasa bahwa Gerlad tisak memiliki darah murni. Sehingga ia hanya bisa berharap pada pendahulu Gerlad yang akan pergi ke Daratan Huaxia.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1