Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 189 : Membunuh Anubis


__ADS_3

Dari luar, Piramida yang sangat tinggi itu bergetar, menjatuhkan bebatuan yang berada di sana, dan menghancurkan setengah dari bangunan itu. Semua orang yang melihatnya, entah berada di sekitar atau di jalan beraspal, mulai menghentikan kendaraan mereka dan mengambil gambar tentang kehancuran harta internasional.


Hingga saat mereka masih merekam, tiba-tiba terlihat jubah berwarna hitam pekat yang keluar dari dalam Piramida, dan dikejar oleh manusia berkepala jackal, hewan yang memiliki penampilan seperti serigala.


Bukan hanya itu saja, masih ada lima makhluk lagi yang mengikutinya di belakang Anubis, yang penampilannya penuh dengan perban putih, dan memancarkan aura kematian yang pekat.


Mo Lian mundur menjauh setelah mencapai ketinggian tertentu, untuk menjaga jarak dengan Anubis. Meski ia bisa bertarung melawan Jiwa Emas dengan kekuatannya yang sekarang, tapi karena Anubis disebut sebagai Dewa Kematian pada Zaman Kuno, tentunya ia harus bertindak siaga.


Mo Lian merentangkan tangan kanannya ke depan, dan tiba-tiba sebuah pedang yang terbuat dari api sudah muncul di sana. Untuk pertarungan ini, ia akan berusaha untuk tidak menggunakan Element Cahaya, Air, Tanah, dan Kayu untuk menyembunyikan kemampuannya.


"Aku tidak berharap kau bisa merubah api menjadi sebuah pedang." Suara Anubis terdengar berat dan serak, mengandung keinginan membunuh di dalamnya.


Mo Lian menarik tangan kanannya ke pinggang, kemudian melemparkan pedang apinya pada Anubis yang tetap tenang.


Anubis itu tidak memperlihatkan perubahan ekspresi, bahkan ia tidak menggerakkan jari-jarinya untuk menghalau serangan itu, dsn membiarkan salah satu bawahannya untuk berdiri di depannya.


Makhluk yang tidak diketahui manusia ataukah hewan itu berdiri di depan Anubis, memegang tombak dengan kedua tangannya ke depan, menangkis serangan Mo Lian menggunakan batang tombak.


Tombak besi itu meleleh saat terkena ujung pedang, dan menusuk dada yang melindungi Anubis dari serangan Mo Lian.


Mo Lian menjentikkan jarinya, membuat pedang api itu membesar dengan kilauan cahaya putih yang terpancar dari dalam pedang. Hingga pada akhirnya, terjadi ledakan keras yang memekakkan telinga.


Api yang sangat besar terlihat di langit Piramida yang masih sedikit jingga, dan karena ledakan itu seperti Matahari sudah berada di posisi puncaknya secara tiba-tiba.


Dampak dari ledakan api menciptakan tiupan angin yang sangat kencang, menerbangkan bebatuan yang berada di puncak Piramida, dan pasir dalam volume besar meski berada jauh dari pusat ledakan.


"Serangan yang mengesankan."


Terdengar suara berat dan serak dari dalam ledakan, dan meski suaranya terdengar santai, tapi di dalamnya mengandung energi yang sangat kuat.


Wosh!


Angin kembali bertiup, menghilangkan api yang masih membakar dan asap tebal berwarna hitam. Terlihat Anubis yang memegang tombak dengan mata tombak terarah ke bawah, dan bagian belakang tombaknya menyilang di belakang punggungnya.


Anubis itu berdiri tegap tanpa adanya luka, berbeda dengan lima bawahannya yang terbakar habis menjadi abu.


Amarah memuncak saat Anubis mengetahui semua bawahannya telah terbunuh tanpa meninggalkan jejak sama sekali, termasuk Inti Jiwa. Aura berwarna hitam kemerahan mulai terlihat, terpancar darinya, dengan niat membunuh yang sangat kuat, sampai membuat Piramida bergetar.

__ADS_1


Mo Lian hanya menatap datar tanpa bereaksi sama sekali dengan kemarahan Anubis. Ia kembali mengarahkan tangannya ke depan, tiba-tiba di tangannya sudah muncul tombak yang terbuat dari tanah, tombak itu tercipta bukan karena udara sekitar, melainkan pasir yang berada jauh di bawah sana dan melesat ke tangannya.


Keduanya menatap satu sama lain untuk beberapa saat tanpa ada yang bergerak sama sekali, hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara dentuman yang sangat keras bersama dengan gelombang angin yang menyebar ke segala arah bagaikan pedang tajam.


Dentuman keras itu terjadi akibat benturan antara tombak tanah Mo Lian, dengan tombak besi milik Anubis yang saling mengayunkan.


"Mati!" Anubis memukulkan tinju kirinya pada pinggang kanan Mo Lian.


Mo Lian memutar tombaknya dengan sangat cepat, dan menghalau serangan itu. Namun karena ia menggunakan tombaknya untuk menangkis bagian samping, maka bagian depannya terbuka, membuat Anubis melancarkan serangan tombak.


Mo Lian tidak menghindar sama sekali, dan membiarkan tombak itu menembus perut kirinya.


Anubis itu membuka mulutnya, memperlihatkan taringnya. "Bodoh!"


Mo Lian terdiam sejenak, kemudian menyeringai lebar. "Aku dengan sengaja menerima serangan itu." Ia menangkap tombak yang menembus perutnya.


Mo Lian mengalirkan Element Api pada tombak Anubis, membuat tombak itu terbakar dengan cepatnya hingga mengenai tangan Anubis.


Anubis itu menginjak kakinya di udara sebagai pijakan, kemudian melompat jauh ke belakang. Ia menunduk melihat tangan kanannya yang terbakar, kemudian mengalirkan energi spiritualnya pada tangan kirinya, menciptakan sebuah pedang berwarna hitam, dan memotong tangannya yang terbakar.


"Kau akan mati, tidak sepertiku yang bisa menumbuhkan tangan dalam hitungan detik," ucap Anubis yang menatap rendah Mo Lian.


Anubis itu tersentak saat melihat luka Mo Lisn yang langsung menutup.


Mo Lian mematikan api yang membakar tombak, dan menyimpannya ke dalam Cincin Ruang. Tombak ini termasuk Senjata Dao 5, dan terbuat dari salah satu bahan terbaik, Besi Surgawi.


"Terimakasih atas senjata pemberianmu."


Mo Lian menghilang dari tempatnya berdiri, dan muncul secara tiba-tiba tepat di depan Anubis seraya mengayunkan pukulannya pada pinggang kanan Anubis.


Bang!


Dentuman keras terjadi saat pukulannya mengenai pinggang Anubis dengan telak, membuat Anubis bergerak ke kanan. Namun sebelum Anubis bergerak menjauh, Mo Lian mengangkat kaki kanannya, menendang kepala lawannya.


Bang! Boom!


Dentuman lain kembali terdengar hasil dari tendangan Mo Lian, yang membuat Anubis itu melesat tajam ke arah daratan, dan menghantamnya sangat keras.

__ADS_1


Getaran bagaikan gempa bumi terjadi saat Anubis menghantam daratan, dan menciptakan badai pasir yang mengerikan karena angin yang bertiup.


Mo Lian tidak mengejar lawannya yang tertanam di kedalaman pasir karena tendangannya tadi, dan memilih untuk menunggu di langit. Jika ia mengejarnya, kerusakan yang terjadi akan lebih parah lagi.


"Ba- Ba- Bagaimana mungkin manusia biasa dapat melukai ku, Dewa Bumi?!"


Mo Lian menatap tajam Anubis yang masih berada di dalam kepulan asap. "Meski aku tidak memahami apa yang kau ucapkan, tapi sepertinya itu menyangkut tentang Dewa. Aku adalah Dewa Semesta! Hanya melawanmu sangatlah mudah!"


"Baji—" Anubis yang melesat dari kepulan asap itu tiba-tiba sudah berada di bawah Mo Lian.


Mo Lian sudah menduga akan adanya serangan lain, tapi dengan cepat ia menangkap leher Anubis dan menekannya keras. Ia juga memiringkan kepalanya, menghindari pukulan yang di arahkan pada kepalanya.


Kemudian mengangkat tangan kirinya, menangkap pukulan lain yang terarah pada kepalanya. Mo Lian menarik pergelangan tangan Anubis, hingga terdengar suara retakan kasar, menandakan lepasnya sendi siku Anubis.


Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian terus menariknya sampai melepaskan lengan Anubis.


Anubis meringis menahan rasa sakit, mencengkeram lengan Mo Lian dengan tangan kirinya untuk dapat lepas, serta mengalirkan energi spiritualnya pada lengan kanan untuk meregenerasi kembali lengannya yang terputus.


"Apakah kau pikir aku akan membiarkanmu?" Mo Lian menekan titik Meridian pada lengan Anubis untuk tidak dapat meregenerasinya kembali.


Setelah menekan titik Meridian, Mo Lian melemparkan Anubis jauh ke langit. Ia juga menekan kakinya di udara, melesat naik mengejar Anubis yang tidak berhenti sama sekali. Ia menggunakan kedua jarinya, menyerang sekujur tubuh Anubis untuk menekan semua titik Meridiannya.


"Terbanglah lebih tinggi. Ah! Tidak! Matilah!" ucap Mo Lian memukul dada Anubis.


Bam!


Cahaya merah menyebar ke segala arah membentuk cincin yang sangat besar, melepaskan kekuatan Dewa Semesta yang sanggup untuk membunuh Jiwa Emas dalam satu pukulannya ini. Cahaya yang menyebar tadi adalah manipulasi dari Element Cahaya, agar identitasnya tetap rahasia sebagai pria berjubah hitam.


Pukulan Mo Lian yang sangat keras ini membuat Anubis meledak begitu saja, menjadi kabut darah yang tertiup angin. Tekanan angin yang dihasilkan dari pukulannya juga belum menghilang, dan terus melesat ke langit yang tinggi, membelah awan, melesat puluhan mil ke langit.


Serangannya kali ini sangatlah berbahaya, dan untungnya di sana tidak ada pesawat yang terbang, dan tidak mengenai satelit. Namun, berbeda dengan daratan, setengah Piramida telah hancur, termasuk Great Sphinx yang tidak lagi berbentuk. Jalan utama juga tertutupi oleh pasir tebal, serta lubang di mana-mana.


Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada Piramida yang setengah hancur. "Saatnya mengambil semua harta di sana, kemudian aku akan mengurung diri selama tiga bulan untuk menembus tahap Akhir dari Inti Emas!"


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2