Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 72 : Gunung Kunlun


__ADS_3

Mo Lian merasakan perasaan hangat dan nyaman di hatinya, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini selain dari ibu dan ayahnya saat masih kecil. Untuk kakek dan nenek aslinya, mereka memperlakukannya dengan baik hanya di depan umum maupun saat ada Mo Qian, ayahnya. Namun saat berada di rumah, sikap mereka acuh tak acuh seperti orang asing.


Mo Lian tersenyum, ia menatap Xu Xumei yang menarik tangannya dengan tatapan lembut. "Terimakasih."


Xu Xumei sedikit membuka mulutnya, ia merasa aneh dengan perasaan Mo Lian. Namun untuk saat ini ia hanya mendiamkannya dan akan menanyakannya nanti setelah selesai menjelajahi Gunung Kunlun


Saat mereka berjalan menuju Gunung Kunlun. Banyak tatapan mata yang tertuju padanya, lebih tepatnya pada wanita muda yang cantik di depannya, beserta kesembilan orang yang mengikutinya dari belakang. Mereka semua keheranan, karena ini ada kali pertama penduduk desa melihat orang-orang itu.


Tapi, ada salah satu dari mereka yang sangat tua, usianya berkisar 70 tahunan. Meski tidak secara langsung dan hanya diceritakan oleh pendahulunya, ia tahu siapa kesepuluh orang yang terlihat muda itu, dengan tubuh bergetar, orang tua itu berlutut dan bersujud di tanah. "Dewa telah kembali."


Orang-orang di sekitar terdiam menatap heran pria tua yang bersujud, namun karena orang tua itu merupakan orang yang dihormati. Mereka semua mengikuti orang tua itu untuk bersujud kepada kesepuluh orang yang tampak muda itu, dan Mo Lian. "Dewa telah kembali."


Xu Xumei tersenyum, tapi disisi lain ia merasa bingung. Pasalnya di desa ini tidak ada yang mengetahui penampilannya saat masih muda. Ia menghentikan langkah kakinya, menolehkan kepala melihat semua orang yang bersujud di tanah. "Apakah kalian mengetahui siapa kami?"


Pria tua yang bersujud terlebih dahulu mendongakkan kepalanya. Ia berlutut dengan bertumpu pada satu kakinya, dengan menangkupkan kedua tangannya mengarah pada Xu Xumei. "Tentu, Anda adalah Tetua Xu Xumei, istri dari Kepala Desa, Tetua Wu Yengtu ..."


"Dan mereka, adalah para tetua lainnya." Pria tua itu melanjutkan perkataannya sembari menolehkan kepala menatap orang yang berada di belakang Mo Lian.


Mendengar itu, sontak semua orang yang ada terperangah dengan mata terbelalak lebar, tidak terkecuali kesepuluh orang yang disebutkan tadi.


Tapi tetap saja, lebih terkejut orang-orang yang masih setengah bersujud di tanah.


Wu Yengtu berjalan tepat di samping Xu Xumei dengan kedua tangan diletakkan di belakang pinggang. Ia menatap semua orang, ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Aku tahu kalian semua bingung dengan perubahan penampilan kami, tapi untuk saat ini kalian tahan dulu rasa penasaran kalian, nanti ada saatnya untuk penjelasan. Untuk saat ini aku dan lainnya akan pergi ke Gunung Kunlun untuk mengecek keadaan di sana," ucapnya pelan, namun bisa terdengar di telinga semua orang.


Semua orang menganggukkan kepalanya, kemudian berdiri dan melanjutkan pekerjaan mereka setelah meminta izin pada Wu Yengtu.


Mo Lian dan lainnya kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Gunung Kunlun. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah tiba di tebing yang cukup curam, biasanya orang-orang akan melewati jalan khusus yang mudah untuk dilewati, namun karena mereka semua adalah seorang Kultivator. Maka mereka memilih jalan yang lebih cepat.


Xu Xumei menolehkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. "Lian, apakah kau bisa mengejar Nenek?"


Setelah mengucapkan itu, Xu Xumei langsung menekan kakinya di tanah, dan berlari secara vertikal menghindari bebatuan besar yang berada di tebing.


Wu Yengtu menghela napas panjang, ia menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah istrinya. "Mo Lian. Ku harap kau bisa memaklumi tingkahnya, dari dulu dia memang seperti itu, tapi semenjak kami terluka parah. Selama 400 tahun ini dia harus menahan rasa sakit dan berjalan menggunakan bantuan tongkat," ucapnya menepuk pundak Mo Lian.


"Baik." Mo Lian menganggukkan kepalanya, kemudian dengan sedikit gerakan, ia menghilang dari tempatnya berdiri, membuat semua orang terperangah dengan mata terbuka lebar. Ketika Mo Lian muncul, ia sudah berada tepat di sebelah Xu Xumei.

__ADS_1


"Nenek. Aku duluan." Mo Lian melambaikan tangan kanannya, kemudian mempercepat laju larinya.


Xu Xumei sedikit terkejut saat melihat Mo Lian sudah berada di sampingnya. Kemudian ia tersenyum merasa tertantang. "Oh? Apakah begitu caramu membalas kasih sayang Nenekmu? Baiklah, akan Nenek perlihatkan."


Xu Xumei mengalirkan energi spiritual pada kakinya, ia mencoba mengejar kecepatan yang dikeluarkan oleh Mo Lian. Namun bukannya semakin dekat, jarak keduanya semakin jauh dan Mo Lian tidak terlihat lagi.


Ketika Xu Xumei sudah berada di puncak Gunung Kunlun. Ia melihat Mo Lian yang sedang menolehkan kepala ke sana kemari melihat sekeliling, ia berjalan menghampiri Mo Lian. "Lian. Berada ditingkatan apa dirimu? Mengapa aku tidak bisa melihatnya?"


Puncak Gunung Kunlun sendiri setinggi 7167 meter, atau 4,4 mil.


"Ranah Inti Perak."


Ranah Inti Perak? Kesepuluh orang yang sudah berada di puncak gunung mengerutkan keningnya keheranan, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Mo Lian.


"Ah!" Mo Lian tersentak saat ia mengucapkan tingkatan yang salah. Ia terbatuk pelan seperti orang yang tidak tahu apa-apa. "Maksudku, Wu-Sheng tahap Menengah," ucapnya meralat.


Wu Yengtu, Xu Xumei dan lainnya masih menatap wajah Mo Lian dengan pandangan penuh tanya, mereka sangat penasaran dengan tingkatan yang baru saja dikatakan oleh Mo Lian. Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya mendengar istilah Ranah Inti Perak yang tingkatannya sama seperti Wu-Sheng. Saking penasarannya, mereka sampai melupakan fakta bahwa Mo Lian adalah seorang Pejuang tingkat Wu-Sheng.


Mo Lian terdiam sejenak sembari mengalihkan pandangannya ke sisi lain mencoba menghindari tatapan semua orang. Beberapa detik kemudian, ia menghela napas panjang. "Baiklah, akan aku jelaskan. Tapi penjelasannya akan dilakukan sambil berjalan, apakah tidak masalah?"


Sambil berjalan mengikuti langkah kaki Wu Yengtu, Mo Lian membuka mulutnya menjelaskan tentang tingkatan kultivasi, "Dalam tingkatan ini tidak ada tingkat Wu-Shi, ini langsung ketingkat Wu-Zun. Pertama ada Ranah Perbaikan Qi, ini dibagi menjadi tiga tingkatan lagi, yaitu Fase Fondasi atau Wu-Zun, Fase Mendalam atau Wu-Zong, Fase Lautan Ilahi atau Wu-Dan ..."


"Tingkatan kedua, ada Ranah Inti Perak atau Wu-Zheng. Tingkatan ketiga, ada Ranah Inti Emas ..." Mo Lian terus menjelaskan tingkatan kultivasi sampai kedelapan tingkatan, dan untuk kekuatannya, ia tidak ingin menjelaskannya lebih lanjut. Karena itu terlalu merepotkan untuk dijelaskan melalui kata-kata, akan lebih mudah jika mengirimkan gambar melalui kesadaran.


Semua orang terperangah dengan mulut terbuka lebar, mereka tidak menyangka akan banyak sekali tingkatan kultivasi. Sebelumnya mereka selalu beranggapan jika Wu-Sheng adalah tingkatan tertinggi, dan belum pernah tahu jika ada tingkatan lainnya.


"Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan agar kau mencapai apa tadi? Ranah Inti Perak?" Xu Xumei memberanikan diri untuk bertanya. Maksudnya memberanikan diri adalah takut kalau perkataan Mo Lian akan mengejutkannya.


Dengan senyum canggungnya, Mo Lian menggaruk pipi kanannya dan kemudian menjawab pertanyaan itu, "Itu, satu bulan. Aku juga memiliki lima murid, ada salah satu dari mereka yang menembus Fase Mendalam dalam waktu satu bulan, dan Fase Lautan Ilahi dalam waktu empat bulan."


"Apa?!"


Benar saja, mereka semua tidak bisa menahan keterkejutan. Bahkan tanpa sadar sampai berteriak, itu adalah peningkatan yang mengerikan. Bahkan Wu Yengtu saja membutuhkan waktu 250 tahun untuk menembus Ranah Inti Perak, dan sekarang, pemuda yang usianya belum gelap 20 tahun hanya membutuhkan waktu satu bulan.


"Ba- Ba- Bagaimana bisa?" Xu Xumei kembali bertanya dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Mo Lian tersenyum. "Susah untuk menjelaskannya, nanti saat kalian semua sudah tiba di Kota Chengdu. Kalian akan mengetahuinya sendiri, dan untuk kalian semua para Senior. Dari energi spiritual yang kurasakan di tubuh kalian, energi spiritual kalian memang sangat berlimpah, tapi sepertinya teknik yang kalian gunakan tidak lengkap," jelasnya.


Wu Yengtu menolehkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanyanya tidak percaya.


"Pernapasan yang kalian gunakan di ruangan tadi terlihat sangat berat dan tidak halus."


Semua orang hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka lebar, mereka tidak menyangka bahwa Mo Lian sangat mengerti tentang kultivasi. Terlebih lagi mengetahui teknik yang mereka gunakan hanya dalam sekali lihat.


"Lian. Apakah kami masih bisa berkultivasi ketingkatan yang lebih tinggi? Mungkin terdengar serakah untuk orang tua seperti kami, tapi kami ingin menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi Daratan Huaxia seperti dulu lagi," tanya Xu Xumei penuh harap dan dengan sedikit rasa bersalah.


Mo Lian tersenyum, jika itu orang lain, ia tidak akan menjawab pertanyaan itu. Dan meski ini belum sampai tiga jam mereka bertemu, ia sudah merasa nyaman terhadap mereka semua, ia juga tidak merasakan adanya maksud tertentu dan niat buruk dari mereka. Mungkin terdengar sombong, tapi ia memiliki mata yang bagus setelah menjadi seorang Kultivator Dao. Ia bisa melihat niat orang lain meski hanya sepintas, ia melihatnya melalui aura yang dikeluarkan dari tubuh orang itu.


"Tentu. Jika Teknik Budidaya kalian disempurnakan, pada saat itu kalian akan langsung naik satu atau dua tingkat, dan jika beruntung, mungkin langsung menembus tiga tingkat."


Xu Xumei membuka mulutnya, ia menatap Mo Lian dengan pandangan penuh hangat dan kasih sayang, kemudian ia melingkarkan kedua tangannya di leher Mo Lian. "Be- Benarkah?"


Mo Lian mengangguk kecil, ia menolehkan kepalanya menatap wajah Wu Yengtu dengan pandangan rumit meminta tolong.


Melihat itu, Wu Yengtu menghela napas panjang, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke sisi lain mencoba menghindari tatapan mata Mo Lian. "Dia memang begitu, bagaimanpun kau adalah cucunya, jadi terima saja," gumamnya pelan.


Alis Mo Lian berkedut-kedut, ia tidak berharap akan mendapatkan respon seperti itu.


Bukan hanya Wu Yengtu, Xu Fulian, Jia Yaoyu dan lainnya juga memberikan Mo Lian tanda semoga beruntung dengan memperlihatkan jempol mereka, kemudian menepuk pundak Mo Lian secara bergantian.


Mo Lian hanya bisa terdiam dan menghela napas pasrah.


Perjalanan terus dilanjutkan, tidak terasa sudah satu jam berlalu dengan berjalan kaki. Di depan mereka terlihat sebuah gua yang sangat gelap, gua itu sangat besar, bahkan bisa dilewati oleh truck besar. Di sekitar gua ditutupi oleh tanaman merambat yang menambah suasana mencekam, dari dalam gua juga bisa dirasakan energi yang cukup kuat untuk menekan Pejuang dibawah Wu-Sheng.


Mo Lian memejamkan matanya sejenak, ia mengedarkan kesadarannya ke dalam gua untuk mengecek apa yang berada di sana. Ketika ia membuka matanya, senyum lebar bisa terlihat di wajahnya. "Itu dia!"


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2