
Dengan suara mendengung yang mengerikan, semua orang yang berusaha memasuki reruntuhan langsung merasakan sakit di kepala mereka dengan gravitasi yang menekan di atas kepala. Mereka semua melesat jatuh menghantam lantai, menimbulkan suara keras dan pemandangan yang mengerikan.
Banyak dari mereka yang tidak mampu menahan tekanan saat jatuh dari ketinggian, dan akibatnya langsung terbunuh saat menghantam lantai dengan tubuh menjadi daging giling.
"Sayang ..." Yun Ning menggandeng lengan Mo Lian saat berkata dengan suara getir; ketakutan terlihat jelas di matanya ketika melihat pemandangan yang mengerikan itu.
"Tidak apa-apa," Mo Lian berkata saat mengusap kepala Yun Ning, lalu menambahkan, "Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Mo Lian menoleh ke arah lain, melihat Hong Xi Ning di sampingnya. "Apakah Ning'er merasakannya?"
Hong Xi Ning mengangguk kecil dan menjawab dengan suara pelan, "Iya, reruntuhan ini memang memiliki formasi yang melarang orang untuk terbang, tapi ada pihak luar yang ikut campur untuk membunuhnya."
Tidak ada yang mendengarnya selain mereka, dan sepertinya juga tidak ada yang menyadari bahwa formasi di reruntuhan sudah dirusak oleh Dewa Bumi yang bersembunyi di kedalaman tanah.
"Walaupun formasi ini tidak bisa menahan kita, tapi lebih baik turun dan berjalan." Mo Lian tidak menunggu jawaban yang lain, dan langsung menggunakan kekuatannya untuk membuat mereka berempat turun di depan reruntuhan.
Walaupun Mo Lian memang bisa terbang di udara dan mengabaikan formasi yang telah menguat, tapi agar tidak menarik perhatian, lebih baik berjalan.
Dewa Pemula dan Dewa Merah masih tidak berani bertindak setelah melihat banyak yang mati hanya karena jatuh. Bahkan jika mereka percaya diri dengan kekuatan mereka, mereka tidak ingin bermain-main dengan nyawa mereka.
Mo Lian melambaikan tangannya saat turun perlahan dari langit, membuat reruntuhan sedikit bergetar dan tembok di salah satu sisinya hancur berkeping-keping. Awalnya berniat tidak ingin menarik perhatian, tapi kenyataannya berbanding terbalik.
Tindakan sederhana Mo Lian ini menarik perhatian Dewa Pemula dan Dewa Merah yang masih melayang di udara. Mereka memandang Mo Lian saat tiba-tiba memiliki cara untuk memasuki reruntuhan dengan selamat. Tanpa sepatah kata pun, dengan serempak mereka semua turun ke arah yang diambil Mo Lian.
Mo Lian melangkah dengan santainya tanpa adanya beban saat memasuki reruntuhan. Bahkan dia tidak merasakan tekanan seperti orang-orang lain yang memasuki reruntuhan.
Tapi tidak dengan orang-orang yang mencoba mencari peruntungan dengan mengikutinya, mereka langsung tertunduk diam seolah ada gunung yang datang dari langit dan menghantam tubuh mereka. Bahkan Dewa Merah sedikit menegang karena tekanan yang teramat kuat.
Mo Lian tidak ingin berlama-lama di sini, alasan utamanya hanya karena penasaran, dan setelah mengetahui ada yang ingin mencari masalah dengannya, dia sedikit bersemangat. Dia ingin mengeluarkan orang itu dari dalam tanah dan menghajarnya sampai mati.
Dengan mengangkat tangannya, reruntuhan bergetar hebat seperti gempa bumi dan gempa itu berada di bawah tanah reruntuhan.
Kemudian ledakan datang satu demi satu dari setiap bangunan yang ada di reruntuhan, tapi ledakan itu tidak menghancurkannya. Namun tiba-tiba atap setiap bangunan hancur dengan cahaya biru membentuk pilar yang menembusnya dari dalam. Cahaya itu membawa banyak harta yang tersembunyi di dalam ruangan, dan jatuh seperti hujan.
Mo Lian melambaikan tangannya, membawa semua sumber daya: herbal, rempah-rempah, pil, material. Untuk teknik, artefak dan senjata, dia tidak peduli dengan mereka. Dia lebih suka membuatnya sendiri.
Semua orang tercengang dengan rahang yang hampir jatuh saat melihat semua harta berharga terlempar ke langit, dan sumber daya penting terbang ke arah Mo Lian. Walaupun bukan teknik, artefak dan senjata, tapi tetap saja sumber daya itu berusia ribuan tahun dan sangat dicari-cari bahkan untuk Dewa Hitam.
"Apakah kalian menginginkan sesuatu?" Mo Lian melihat istri-istrinya. Meski dia tidak menyukai harta lain, tapi belum tentu dengan istri-istrinya.
Yun Ning mengamati setiap objek yang melayang di udara yang dilindungi oleh energi biru berbentuk bola. "Sayang, aku ingin itu! Itu cocok denganku!"
__ADS_1
"Mana-mana?" Mo Lian mengikuti arah yang ditunjuk; melihat kipas yang terbuat dari giok hijau, dan di kain putihnya terdapat sulaman bergambar bambu dan sakura.
Mo Lian melambaikan tangannya, membuat kipas tangan itu melesat ke arahnya. Setelah mendapatkannya, dia memberikannya pada Yun Ning.
"Aku ingin ..." Hong Xi Ning melihatnya dengan saksama, mencari yang cocok untuknya. "Aku merasa itu bagus, itu Meja Teh Pencerahan."
Itu adalah meja berwarna merah yang merupakan warna asli dari pohon yang digunakan. Di salah satu sudut meja, tumbuh batang pohon sebesar lengan orang dewasa dan bahkan ada daun teh yang tumbuh lebat di sana.
Mo Lian menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya, mengambil Meja Teh Pencerahan. Dia juga mengambil hairpin untuk Hong Xi Ning, warnanya biru langit, sangat cocok dengan warna antingnya.
"Sayang, sepertinya itu bagus." Qin Nian menunjuk pada gelang giok berwarna merah dengan ukuran Naga dan Phoenix.
Mo Lian mengambilkannya dan memberikannya pada Qin Nian.
Qin Nian tersenyum cerah melihat gelang yang dikenakannya. "Jika dijual, ini bisa dihargai ¥15.000.000."
Semua orang terdiam tanpa kata saat melihat Mo Lian yang dengan mudahnya mengambil harta. Di sini, mereka mempertaruhkan nyawa untuk mencari peruntungan dengan harapan mendapatkan sumber daya berharga, dan sekarang, mereka melihat Mo Lian mengambil harta seperti memetik buah di halaman belakang.
Mo Lian mengabaikan tatapan mata semua orang yang masih selamat. "Jika aku meninggalkannya, itu tidak seperti diriku. Maka, habiskan semua." Ia melambaikan tangannya, membuat ratusan ribu harta di langit menghilang dalam sekejap mata.
Melihat itu, semua orang merasakan sakit di hati dan mengutuk Mo Lian untuk mati, tapi tidak ada yang berani mengucapkannya langsung.
Duarr!
"Hahahaha!"
Tawa menggelegar datang dari langit yang entah dari kapan mulai menghitam dengan aura menyeramkan yang jatuh.
Langit hitam mengeluarkan awan yang membentuk wajah manusia nampak menyeramkan dengan mata birunya yang terbakar seperti api.
Semua orang yang mengenalinya, merasakan tubuh mereka lemas dan bergidik ngeri.
"Si- Sial! Mengapa dia di sini? Sudah seratus tahun dia tidak terlihat, banyak kekaisaran yang mencoba membunuhnya!"
"Jika Dewa Kabut Pembantaian di sini, maka kita semua akan mati! Saat itu dia sudah Dewa Hitam dan hampir menerobos Dewa Bumi, dari auranya, harusnya sudah Dewa Bumi! Sial?"
Mo Lian menoleh ke belakang melihat orang-orang yang berbicara sampai selesai. Hingga ia mengetahui siapa itu Dewa Kabut Pembantaian, itu adalah nama yang diberikan oleh orang-orang yang pernah melihatnya bagaimana menyerang.
Pernah ada kerajaan kuat yang bermasalah dengan Dewa Kabut Pembantaian. Hanya dengan satu teknik, tubuhnya yang berubah menjadi kabut dan menyelimuti seluruh kerajaan, kerajaan itu langsung hancur tanpa seorang pun yang selamat.
Semenjak saat itu, tidak ada yang berani mencari masalah dengan Dewa Kabut Pembantaian, bahkan saat melihatnya, mereka akan lari sekuat tenaga untuk hidup mereka.
__ADS_1
"Sial! Bukan hanya tidak mendapatkan harta! Tapi aku bertemu dengannya!" Salah seorang di belakang Mo Lian berteriak dan berbalik untuk menyelamatkan diri.
Tapi baru saja berlari, tiba-tiba ada angin hutan yang melewatinya. Ketika angin sudah menghilang, hanya meninggalkan kerangka tulang, bahkan Inti Jiwa-nya menghilang.
Dewa Kabut Pembantaian yang berada di langit dalam bentuk awan, memandang Mo Lian dengan tatapan tajam. "Kau bisa menjadi tubuh baruku!"
Awan hitam jatuh ke arah Mo Lian seperti air terjun yang siap menghancurkan apa pun di bawahnya.
Mo Lian tetap diam, bahkan masih sempat memasangkan hairpin di rambut Hong Xi Ning.
"Hahahaha!" Dewa Kabut Pembantaian kembali tertawa dengan kerasnya.
Bang!
Awan yang menyerang Mo Lian itu terbelah dua saat hanya tersisa beberapa meter darinya, awan itu menyebar seolah-olah ada payung besar yang menghalangi untuk jatuh menimpa Mo Lian.
Awan yang menyebar mulai melewati bangunan-bangunan, menghanguskannya langsung menjadi arang sebelum berubah menjadi abu yang menghilang tertiup angin.
"Xi Ning sangat cantik."
Hong Xi Ning tersenyum tipis. "Yun Ning juga cantik, aku ingin memiliki rambut perak sepertimu."
Qin Nian mendengus kesal, dia akan selalu kesal setiap kali mereka membahas hal ini. "Kalian semua cantik! Aku tidak!"
Hong Xi Ning dan Yun Ning tertegun, kemudian tertawa kecil.
Mo Lian tersenyum tipis. Dia menarik kepala Qin Nian ke pelukannya dan mengusapnya pelan. "Kalian semua cantik, aku mencintai kalian."
Dewa Kabut Pembantaian yang berada di langit, sangat marah karena diabaikan, tapi ada kejutan yang tidak bisa dijelaskan saat serangannya tidak mengenai Mo Lian, seperti kendali atas serangannya menghilang dan diambil alih.
"Aku akan mengungsikan kalian ke Dunia Kecil." Mo Lian melambaikan tangannya, memasukkan mereka bertiga ke Dunia Kecil.
"Sekarang ..." Mo Lian menghela napas seraya mengangkat tangannya, kemudian mengayunkannya secara menyilang.
Dengan dentangan keras, awan hitam yang terus jatuh ke arahnya meledak tanpa sisa.
Mo Lian menengadahkan kepala melihat langit. "Sekarang, kita lihat, kau yang berhasil mengambil tubuhku, atau aku yang mengambil Inti Jiwa-mu."
...
***
__ADS_1
*Bersambung...