Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 200 : Ingatan Mo Lian


__ADS_3

Malam Harinya, Mansion Bai Long


Dalam suatu ruangan, sudah berkumpul empat orang yang hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan. Ruangan ini telah diberi formasi array yang dapat menahan suara di dalam agar tidak terdengar dari luar, array yang dipasang juga bukanlah satu, melainkan empat, karena informasi ini sangatlah rahasia.


Mo Lian duduk di sofa dengan kepala tertunduk seraya memainkan jari-jemarinya di atas paha. Ia benar-benar tidak siap untuk melihat reaksi apa yang akan diperlihatkan ketiga orang yang berada di satu ruangan dengannya.


Su Jingmei yang duduk di sebelah kanan Mo Lian tersenyum lembut. "Tidak perlu terburu-buru, Ibu akan menunggunya meski itu sampai pagi hari."


Mo Lian mengepalkan kedua tangannya erat di atas pahanya. Kemudian membalikan tangannya, energi spiritual mulai memadat di telapak tangannya, membentuk tiga cahaya biru yang merupakan ingatan di kehidupan sebelumnya.


"Ambil posisi duduk yang nyaman, kemudian tutup mata kalian." Mo Lian masih tertunduk, tidak menatap wajah mereka sedikitpun.


Mo Qian dan Su Jingmei duduk bersandar di sandaran sofa, sedangkan Mo Fefei duduk bersila agar bisa menstabilkan energi spiritualnya, kalau-kalau terjadi beberapa hal yang cukup menyakitkan bagi fisiknya.


Mo Lian mulai berdiri dan menjauh dari sofa, menatap ketiga secara bersamaan. Ia mengarahkan telapak tangannya ke depan, bergerak ketiga orang yang duduk berhadapan di kedua sofa yang berbeda.


Tiga cahaya biru itu mulai bergerak dan memasuki dahi mereka bertiga secara perlahan, yang pada saat itu juga semua ingatan Mo Lian dari saat terlahir sampai ia diambil oleh Hong Xi Ning ke Galaxy Pusat.


Dalam ingatan itu, ada beberapa hal yang dihilangkannya, seperti membolos karena harus bekerja secara diam, agar mendapatkan uang tambahan.


Yang pertama merasakan kepedihan adalah Mo Qian dan Su Jingmei, karena ingatan itu saat Mo Lian yang sendirian harus merawat Mo Fefei kecil seorang diri.


Ingatan terus berlanjut saat Mo Lian memasuki sekolah dasar, banyak hinaan dan cacian karena ia yang tidak memiliki seorang ayah, pulang bersama Mo Fefei yang masih kecil. Mendapatkan pertanyaan yang sama dari Mo Fefei di mana ayah mereka, dan ia hanya bisa menjawabnya sedang bekerja. Namun saat sudah sendirian, ia juga menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri, di mana ayahnya berada.


Mo Qian yang memejamkan mata itu mengepalkan kedua tangannya erat di sebelah pahanya, ia merasa sangat sedih saat melihat putranya mendapatkan perlakuan yang tidak nyaman seperti itu.


Hingga ingatan memasuki masa sekolah menengah pertama, hari-hari yang dijalani Mo Lian semakin dan semakin menyakitkan. Untuk anak seusianya, tentunya mentalnya benar-benar diuji, dan jika tidak tahan, ia tidak akan bertahan hidup di dunia yang keras ini.


Saat memasuki tahun ketiga, ia harus benar-benar melindungi Mo Fefei dari godaan anak-anak kurang ajar.

__ADS_1


Memasuki sekolah menengah atas, akhirnya hidupnya sedikit lebih tenang, hingga pada akhirnya ia mengalami kecacatan pada kakinya karena tertabrak mobil, yang dikendarai oleh Fang Tian saat di tahun ketiga.


Ia juga harus kehilangan Adiknya yang terbunuh di depan mata, menjadi beban karena tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa melihat Ibunya yang meninggal karena penyakit dan stress kehilangan Mo Fefei. Kemudian, ia juga tidak dapat melakukan apapun saat melihat rumah peninggalan Ibunya terbakar habis.


Penghinaan-penghinaan dari Keluarga Su saat kematian Su Jingmei, ia menangis di depan makam, dan Keluarga Su menginjak makan Ibunya yang bahkan tanahnya belum kering. Itu benar-benar sangat mengguncang mentalnya.


Mo Qian, Su Jingmei dan Mo Fefei akhirnya membuka matanya kembali setelah melihat ingatan yang dikirim Mo Lian selama tiga jam penuh. Ketiganya hanya diam tanpa bersuara, mereka tidak pernah menyangka kalau Mo Lian mengalami hal yang sangat mengerikan selama itu.


Su Jingmei menoleh perlahan, menatap Mo Lian yang masih berdiri. Ia menepuk-nepuk sofa kosong yang di sebelahnya, meminta pada Mo Lian untuk kembali duduk.


Mo Lian melangkah perlahan, duduk di sebelah Su Jingmei dan langsung dipeluk erat sesaat setelah ia duduk di sana.


Mo Qian yang duduk di sofa seberang mencoba menenangkan diri. "Lian, apakah ini yang dinamakan sebagai reinkarnasi? Berapa usiamu sekarang?"


"Seribu tahun, setelah mengalami banyak hal, pertempuran, pembunuhan, dan dianggap sebagai Dewa Semesta. Aku ingin naik ke Alam Selestial atau Surga, namun Surga menolakku karena memiliki penyesalan. Karena itulah, aku dikirim kembali pada tanggal tiga puluh Maret tahun lalu."


Mo Qian mengembuskan napas berat, kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Meskipun Keluarga Tang, Long yang saat ini tidak mengetahuinya. Tapi tetap saja, dia memperlakukan kalian seperti itu, dan karena kedua keluarga itu telah berakhir, hanya tersisa Keluarga Fang ..."


Su Jingmei juga sangat marah, namun saat ini ia lebih memilih untuk memeluk Mo Lian erat.


Mo Fefei juga berdiri, dan datang menghampiri Mo Lian. Akhirnya ia mengetahui mengapa Kakaknya berubah banyak, mendapatkan kekuatan yang tidak masuk akal, dan terkadang bahkan berbicara tidak sopan meski lawan bicaranya lebih tua, itu karena Kakaknya sendiri sudah berusia ribuan tahun.


Kemudian tentang Dewa Semesta, meski tidak tahu apa itu, tapi dari sebutannya saja, ia menebak jika Kakaknya adalah orang terkuat di Alam Semesta yang luas.


Su Jingmei melepaskan pelukannya, dan digantikan oleh Mo Fefei. Ia berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju jendela keluar. Ia melompat dari jendela, dan terbang menuju Provinsi Shaanxi, Kota Xianyang untuk mendatangi Keluarga Su.


Su Jingmei ingin memberi pelajaran pada mereka, bahkan jika mereka adalah keluarganya sendiri, ia tidak peduli akan hal itu. Karena ia sendiri tidak dianggap sebagai bagian dari Keluarga Su.


Ia benar-benar menyesal memaafkan Keluarga Su saat Pertandingan Beladiri di Kota Chongqing dulu, dan terus memaafkan meski Perusahaan Meiliafei sedikit kacau karena mereka, saat Mo Lian belum dianggap Dewa Bumi.

__ADS_1


Hanya tersisa Mo Lian dan Mo Fefei saja yang di dalam ruangan.


"Ka- Kakak..."


Mo Lian yang melihat Su Jingmei melompat itu mengalihkan pandangannya pada Mo Fefei di sebelah kirinya, terlihat jika Mo Fefei masih terus menangis tanpa henti. Ia memeluk erat Adiknya dan mencoba untuk menenangkannya, entah itu mengusap punggung, maupun puncak kepala.


Belasan menit kemudian, Mo Fefei sudah tidak bersuara. Mo Lian melonggarkan pelukannya dan menunduk, terlihat jika Mo Fefei telah tertidur pulas.


Mo Lian tersenyum tipis, dan membenarkan posisi duduknya, sehingga Mo Fefei dapat tertidur di sofa dengan kedua pahanya sebagai bantal.


"Banyak hal yang ku sembunyikan dari ingatan itu, aku tidak ingin terlalu banyak hal menyakitkan yang diketahui. Bagaimanapun, itu adalah ingatan di kehidupan sebelumnya, tidak ada hubungannya dengan sekarang." Mo Lian melihat jendela keluar seraya membelai rambut Mo Fefei.


Mo Lian menaikkan sebelah alisnya saat merasakan fluktuasi energi spiritual yang berada di Real Estate Shan, di mana Keluarga Fang berada. "Sepertinya Ayah menggunakan Kutukan Pengambil Usia."


"Berbagai tempat di seluruh dunia juga terdapat fluktuasi energi spiritual, dan itu berasal dari keturunan yang sama dari Keluarga Fang."


Mo Lian juga merasakan fluktuasi lain di Kota Xianyang yang lebih kuat daripada di Real Estate Shen. Ia tahu betul energi spiritual siapa itu, itu milik Ibunya yang sangat marah, dan tidak bisa menahan diri untuk memberi pelajaran pada Keluarga Su.


Dengan kejadian di dua tempat ini, tentunya berita utama akan memberikan pergerakan dari Su Jingmei yang biasanya selalu tenang, dan meski seorang Kultivator, tidak pernah terlihat emosi ataupun mengeluarkan kekuatannya. Namun kali ini berbeda, benar-benar seperti orang lain yang haus akan pertarungan.


Mo Lian tahu hal terberat dalam menghadapi keluarga sendiri adalah Su Jingmei, berbeda dari Mo Qian.


Su Jingmei merupakan anak kandung dari Kepala Keluarga Su, tentunya sangat berbeda.


Semoga saja Ibu tidak merasa bersalah atau apapun yang membuat mentalnya terganggu.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2