
Dimensi Ruang, Tebing Shiuhai
Mo Lian meletakkan beberapa bahan yang digunakan untuk menyuling Pil Darah maupun Pil Jiwa di atas rerumputan di depannya, dan ia berada di dimensi ruang di mana Tombak Emas ditemukan. Ia dengan sengaja memilih tempat ini karena hanya tempat inilah yang memiliki kepadatan energi spiritual lebih baik dari tempat yang masuk pikirannya.
Ia bisa saja kembali ke Borneo, dan memasuki dimensi ruang yang ada di Lebak Naga, tapi itu terlalu jauh untuk berangkat ke sana.
Bahan-bahan yang digunakannya adalah bahan normal ketika menyuling sebuah pil. Yaitu, Ginseng Kayu, Ginseng Air, Embun Spiritual, Daun Pohon Surgawi, Bunga Matahari Putih, Jahe, Akar Gongxu, Inti Jiwa, Esensi Darah, dan lain sebagainya.
Mo Lian mengangkat tangan kanannya ke udara, dengan jari telunjuk dan tengah yang menghadap ke langit. "Bahan! Naik!"
Rempah maupun herbal yang berada di permukaan tanah itu menari-nari, sebelum akhirnya mereka melonjak naik beberapa meter dari permukaan, dan memancarkan cahaya yang berbeda.
Mo Lian menyentuhkan kedua jarinya pada keningnya, kemudian mengarahkannya pada puluhan bahan pil. "Api, membakar!"
Api mulai membakar puluhan rempah maupun herbal yang telah disiapkan, dan secara berangsur-angsur bahan itu berubah bentuk menjadi abu yang terbakar dan digantikan dengan setetes cairan berbeda warna.
Mo Lian mengangkat jari telunjuknya ke atas, membuat botol giok berisikan Embun Spiritual mulai naik dan membasuh semua esensi dari rempah maupun bahan yang telah dibakarnya tadi.
Cairan itu memancarkan cahaya emas yang berkilauan, dengan angin bertiup kencang ke segala arah, aura bertekanan juga tercipta hanya karena bahan-bahan berkualitas itu dimurnikan oleh Embun Spiritual.
Mo Lian membuka botol giok dan mengeluarkan esensi darah dari Leluhur Rosth, yang saat itu juga memancarkan aura yang sangat mengerikan karena tekanan dari Alam dan Manusia. Perlahan, ia mulai membakar esensi darah itu agar lebih murni lagi, dan membutuhkan sekitarnya satu jam untuk mengubah warnanya menjadi merah terang.
Ketika semua bahan sudah dimurnikan, Mo Lian menyatukannya secara perlahan, dan terlihat kilatan petir pada puluhan bahan saat proses penyatuan. Bahkan petir juga menyambar dari satu titik, ke sekitar, membuat lubang besar di tanah.
"Padatkan!" Mo Lian menyatukan kedua tangannya, membuat semua bahan menyatu dengan kecepatan tinggi dan mulai memadat.
Mo Lian berdiri dari posisi duduknya, kemudian mengangkat tangannya ke langit setelah pil itu berhasil memadat. "Petir! Murnikan!"
Tiba-tiba awan hitam muncul di langit luas dengan kilatan petir biru, meski ia tidak memiliki Element Petir, tapi ia bisa mengubah cuaca untuk digunakan sebagai alat untuk menyerang maupun memurnikan pil.
__ADS_1
Dengan ayunan tangan Mo Lian, petir itu mulai menyambar dengan kekuatan penghancur yang sangat mengerikan. Petir itu mulai terserap oleh Pil Ilahi berwarna merah terang dengan corak petir di permukaannya.
Mo Lian mengambil pil itu, dan menyimpannya ke dalam botol giok untuk digunakan nanti. Saat ini ia ingin menyuling Pil Jiwa dengan menggunakan Inti Jiwa dari Alex Zhyvlach dan Zhian Ming.
Proses penyulingan pil tidak berbeda jauh dari Pil Darah, namun Pil Jiwa harus membutuhkan konsentrasi yang tinggi, dan ia harus membagi tubuhnya menjadi tiga bagian untuk menahan dua Inti Jiwa yang mencoba untuk melarikan diri.
Teriakan-teriakan yang menyakitkan terdengar dalam proses penyulingan pil, suara itu adalah teriakan dari Inti Jiwa Alex Zhyvlach maupun Zhian Ming, membuat getaran di rerumputan, serta angin bagaikan pedang yang bertiup.
Ketika waktu sudah terlewat selama setengah jam, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya dalam menyuling Pil Jiwa yang sangat menyebalkan karena penolakan dari dua Inti Jiwa.
"Aku sudah berhasil menyuling dua Pil Ilahi, dan kerusakan yang terjadi di sini sangat mengerikan. Dalam radius lima mil, semuanya sudah rata dengan tanah ..." Banyak asap hitam yang keluar dari dalam tanah karena dampak dari sambaran petir tadi.
Mo Lian menundukkan kepalanya melihat Pil Darah yang telah dikeluarkan dari dalam botol giok. Ia kembali duduk bersila, mempersiapkan diri untuk mencerna Pil Darah yang dapat mengubah susunan tubuh.
Tanpa berlama-lama, Mo Lian memasukkan Pil Darah ke dalam mulutnya dan menelannya.
Tubuh Mo Lian memancarkan cahaya merah terang sesaat setelah menelan Pil Darah. Keringat dingin juga mulai bercucuran sembari meringis menahan rasa sakit. Terlihat, di bawah permukaan kulitnya mulai banyak urat-urat maupun pembuluh darah yang terus bermunculan.
"Arrgghh!" Mo Lian berteriak keras dengan rasa sakit yang teramat. Pembuluh darahnya mulai diperbesar, bersama dengan jalur Meridian, otot-otot tubuhnya juga semakin kuat.
Angin berembus kencang dari segala arah menuju Mo Lian, bersama dengan energi murni berwarna emas yang samar-samar terlihat. Energi murni itu mulai menyelimuti tubuhnya, bersama dengan darah yang masih melekat di kulitnya.
Perlahan, energi murni itu bergerak masuk ke dalam pori-pori kulit, dan pembuluh darah yang bocor, dengan membawa darah yang masih menempel di tubuhnya.
Mo Lian meringis menahan rasa sakit saat darah itu kembali masuk dengan derasnya, dengan aliran yang yang berlawanan selama satu jam. Hingga akhirnya ia tidak bisa menahannya, ia berteriak lantang, membuat getaran hebat di daratan dengan gemuruh yang menggelegar di langit.
Bang!
Ledakan yang teredam terdengar dari dalam tubuhnya, bersama dengan cahaya berwarna biru yang melonjak naik ke langit, menembus udara seperti pisau tajam. Kemudian meledak begitu saja setelah mencapai ketinggian tertentu, menyebar membentuk cincin cahaya.
__ADS_1
Cahaya yang melonjak tidak berhenti di sana, masih ada cahaya lain yang naik. Kuning keemasan, merah, hijau, cokelat, perunggu, biru keputihan. Enam cahaya itu adalah warna yang mewakili elemen yang dikuasai Mo Lian.
Tiga puluh menit kemudian setelah menerima rasa sakit yang menyiksa, akhirnya ia tidak lagi merasakan rasa sakit, meski napasnya tersengal-sengal seperti orang yang sekarat.
Mo Lian merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang. "Itu ... sangat ... berbahaya ..."
Mo Lian menutup matanya perlahan untuk beristirahat beberapa jam, sebelum ia menyerap Pil Jiwa nantinya, setelah staminanya kembali pulih kembali.
Ia tertidur sangat pulas tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya yang sudah banyak monster berdatangan, meski tidak ada satupun dari mereka yang menyerangnya.
Masih dalam keadaan tertidur, jari-jari Mo Lian bergerak dan menggetarkan daratan. Daratan di sekitarnya mulai terbelah, menelan semua monster yang ada, dan menutupnya kembali dalam hitungan detik saja.
Ketika Mo Lian terbangun dari tidurnya, langit sudah berubah menjadi jingga, dengan Matahari yang terbenam di ufuk barat. Ia menekan kedua tangannya di atas tanah, menopang badannya untuk duduk.
"Aku tidak menyangka akan tertidur pulas di tempat seperti ini ..." Mo Lian meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. "Ini juga sudah sore hari, dan kemungkinan di luar sudah pagi."
Mo Lian membuka dan menutup kedua tangannya. Kemudian ia mengalirkan energi spiritualnya pada tangan tangan, membentuk sebuah pedang spiritual berwarna biru. Tanpa berpikir panjang, ia menebas tangan kirinya, memotongnya begitu saja.
Baru saja terpotong, tangannya mulai tumbuh kembali hanya dalam hitungan detik saja, lebih cepat dari yang sebelumnya, yang setidaknya membutuhkan waktu satu menit.
Dengan kecepatan regenerasinya yang bertambah, ia memiliki ketahanan yang luar biasa karena orang yang ingin mengalahkannya harus memiliki serangan besar, yang mampu membunuhnya dalam satu serangan, bersama dengan Inti Jiwanya yang hancur.
"Bukan hanya kemampuan regenerasi yang bertambah cepat dan penyerapan energi spiritual yang meningkat, tapi juga aku berhasil menembus tahap Menengah dari Inti Emas. Ditambah dengan Pil Jiwa, yang mengandung banyak energi spiritual, setidaknya aku tidak membubuhkan waktu lama untuk menembus tahap Akhir!" Senyum cerah terlihat di wajahnya saat ia mengakhiri perkataannya.
Mo Lian menunda untuk menyerap Pil Jiwa karena hari sudah hampir malam, dalam keadaan ini ia sangat tidak diuntungkan karena monster bertindak pada malam hari. Apalagi saat ini ia sedang sendirian, sangat tidak menguntungkannya apabila diserang saat keadaan yang sangat krusial.
"Aku akan kembali ke kota untuk menginap di sana." Mo Lian berdiri dari tempatnya, dan berjalan menuju cahaya dimensi yang berada di kedalaman hutan jauh di belakangnya.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...