
Hanya dalam waktu singkat, Mo Lian sudah berada di atas Samudra Atlantik. Ia menatap lurus ke depan, dan bisa melihat awan hitam yang sangat mengerikan dengan kilatan petir, Comulonimbus.
Awan itu terlihat sangat jauh darinya, sekitar belasan mil, tapi ia bisa merasakan perasaan aneh dari awan itu. Ia menunduk melihat air laut yang berwarna biru, kemudian kembali mendongak dan terus terbang ke arah barat.
Hingga pada akhirnya ia sudah berada di bawah awan Cumulonimbus, dan terus tersambar petir biru. Petir itu sangatlah kuat, memiliki kekuatan dari belasan rudal yang menembaknya, tapi tidak sampai membuat pakaiannya koyak.
Mo Lian menundukkan kembali kepalanya melihat air laut, air laut di bawah sana memiliki warna yang berbeda, biru gelap. "Apakah ini yang dinamakan Segitiga Bermuda?"
"Dikatakan bahwa Segitiga Bermuda menyimpan banyak misteri, ada yang mengatakan bahwa jauh di dalam sana ada monster berbahaya yang sangat kuat, terdapat pusaran air yang mampu menelan apapun, serta gaya tarik magnet yang sangat kuat ..."
"Dan yang paling menarik, bagi siapa saja yang menghilang di dalam awan di atas Segitiga Bermuda, orang itu tidak akan selamat. Jikapun selamat, orang itu akan muncul di tahun yang berbeda, entah puluhan tahun ke belakang ataupun ke depan."
Mo Lian melepaskan energi spiritualnya untuk membuat pelindung, kemudian mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya, ia melihat waktu yang tertulis di sana sembari melihat apakah ada sinyal di sini.
Mengetahui tidak ada sinyal sedikitpun, akhirnya ia menyimpan kembali handphone itu ke dalam Cincin Ruang. Sebelum ia berangkat ke sini, ia sudah mengirim pesan pada Ibu maupun Adiknya, bahwa ia akan pulang terlambat ataupun tidak bisa pulang sampai dua hari ke depan.
"Aku sudah bisa bernapas di luar angkasa, seharusnya bernapas di dalam laut bukan lagi masalah."
Baru saja mengatakan itu, ia menekan kakinya di udara sebagai pijakan dan melesat turun mengarah pada Segitiga Bermuda. Saat ia hanya beberapa meter lagi sebelum menyentuh permukaan air, tiba-tiba ia merasakan perasaan yang tidak nyaman. Tapi ia tidak menghentikan gerakannya, dan tetap menyelam ke dalam lautan.
Saat ia baru saja menyelam belasan meter dari permukaan air laut, Mo Lian merasakan arus dalam laut yang sangat kuat, ini sudah cukup untuk menghancurkan tubuh manusia biasa.
Mo Lian tidak merasa panik saat merasakan arus itu, ia kembali melepaskan energi spiritualnya untuk membuat pelindung yang seperti bola, serta mengeluarkan bola cahaya untuk membuat penerangan.
"Perasaan yang ku rasakan tadi sepertinya berasal dari penghuni yang berada di dasar Segitiga Bermuda, aku tidak tahu apa yang menanti di sana, tapi aku menduga jika itu adalah monster jutaan tahun lalu." Mo Lian meningkatkan kewaspadaannya dan terus menyebarkan kesadarannya untuk mencari tahu pergerakan di sekitar.
Mo Lian terus menyelam dengan kecepatan yang stabil. Yang diketahuinya dari artikel bahwa laut terdalam berada di Palung Mariana, Kepulauan Mariana, Samudra Pasifik. Tapi dari kesadaran yang disebarkan olehnya, ia merasa jika Segitiga Bermuda lebih dalam.
Sepuluh menit kemudian, ia sudah menyelam sedalam lima mil dari permukaan air laut, namun masih belum bertemu dengan monster yang berada di sini. Tekanan yang diterima juga semakin besar, seperti 1500 Gajah Afrika yang ditumpuk.
__ADS_1
"Monster kecil, di mana kau berad—" Mo Lian menghentikan perkataannya saat secara tiba-tiba ia merasakan serangan di depannya.
Dengan cepat ia menghindari serangan itu, dan melihat sebuah tentakel yang sangat panjang dengan diameter tentakelnya sekitar 30 meter.
"Oh? Gurita, ternyata di Bumi yang kecil ini juga ada monster. Berarti, kisah yang mengatakan bahwa kapal-kapal yang berlayar di atas Segitiga Bermuda akan tenggelam ditarik monster itu benar adanya?" gumam Mo Lian sembari mengerutkan keningnya dengan tangan mengusap dagu.
Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada tentakel yang terus menyerangnya. Ia memperbesar bola cahaya yang menyinari, hingga lautan dalam radius dua mil terlihat dengan jelas karena cahaya yang dikeluarkannya. Bahkan lautan Segitiga Bermuda terlihat berubah warna jika dilihat dari kamera satelit.
Setelah kedalaman lautan tidak lagi gelap, ia bisa melihat dengan jelas bahwa di sekitarnya sudah banyak sekali hewan lautan yang ukurannya tidak main-main. Buaya putih seukuran paus bungkuk, hiu yang ukurannya seperti Symphony of the Seas, kapal pesiar terpanjang di dunia, dengan panjang 362 meter.
"Bukan hanya tubuh mereka yang sangat besar, tapi mereka juga memiliki tingkatan kekuatan seperti seorang Kultivator, meski hanya berada ditingkat Inti Perak."
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang dan mengeluarkan pedang patah yang masih belum diperbaiki. Ia mengalihkan perhatiannya pada hiu yang sudah berada di dekatnya dengan mulut terbuka seperti hendak menelannya.
Mo Lian mengalirkan sebagian energi spiritual pada pedang patah, membuat pedang itu bergetar dan memancarkan cahaya merah gelap. Kemudian ia mengayunkan pedangnya secara vertikal, dari bawah ke atas mengarah pada hiu itu.
Air yang terkena siluet bulan sabit melonjak belasan mil ke langit, kemudian air dalam volume besar itu kembali menghantam lautan, menciptakan gelombang tsunami yang sangat besar.
Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian kembali mengayunkan pedangnya secara horizontal mengarah pada buaya putih yang juga mengarah padanya.
Sama seperti sebelumnya, serangan Mo Lian sangat mudah untuk membunuh monster-monster itu. Bagaimanapun serangannya ini mampu melukai setengah Jiwa Emas, terlebih saat ia serius, ia bisa membunuh Jiwa Emas.
Mo Lian mengalihkan perhatiannya pada gurita yang berada di bawahnya, yang sudah bergerak ke arah berlawanan mencoba melarikan diri. Melihat itu, tentu saja ia tidak akan memberikannya, ia mengarahkan telapak tangan kirinya pada monster itu.
Tiba-tiba dari belakang monster tercipta energi spiritual yang berfluktuasi, dan menciptakan sebuah tangan yang sangat besar, tangan yang mampu mencengkeram sebuah gunung.
Saat tangan biru itu sudah berada di atas gurita, dan gurita sudah masuk dalam jangkauan serang. Mo Lian mengepalkan tangannya erat seperti sedang menangkap sesuatu, membuat tangan biru itu mencengkeram erat gurita hingga hancur menjadi bubur.
"Meski monster di sini sangat lemah, tapi bagian tubuh mereka sangat berharga. Terutama untuk tulang hiu, itu bisa digunakan sebagai bahan pembuatan senjata," ucap Mo Lian yang mengalihkan pandangannya pada mayat hiu.
__ADS_1
Mo Lian kembali mengayunkan pedangnya pada mayat hiu yang terbelah dua, untuk membuat ukuran mayat itu menjadi lebih kecil agar mudah dimasukkan ke dalam beberapa Cincin Ruang, begitupun dengan hiu putih. Untuk monster gurita atau Kraken, ia hanya mengambil tentakelnya saja.
Setelah menyimpan semua bahan yang didapatkan, ia kembali menyelam lebih dalam lagi sembari mengecilkan bola cahaya serta membuat kloning. Ia menggunakan kloningnya untuk membuat penerangan, dengan dirinya yang bergerak ratusan meter di belakang.
Belasan menit lainnya kembali berlalu, tekanan di sekitarnya kembali meningkat, sekitar 3000 Gajah Afrika yang ditumpuk, atau 16 ton di setiap inchinya.
Dalam perjalannya keduanya ini setelah tadi bertemu tiga monster, ia tidak lagi menemukan kendala yang merepotkan ataupun menunda perjalannya. Hingga belasan menit lainnya, ia sudah berada di dalam lautan, sekitar 20 mil dari permukaan air laut.
Kloningan dirinya juga sudah menyentuh dasar dari Segitiga Bermuda, di sana tidak ada arus laut, aliran di sana nampak tenang, serta terdapat cahaya seperti sinar rembulan yang dipancarkan dari pasirnya.
Mo Lian yang juga sudah tiba di dasar langsung melepaskan kesadarannya mencari tahu apakah ada kehidupan lain di sini. "Tidak ada apapun lagi di sekitar sini, tidak ada monster ataupun hewan purba. Tapi ratusan mil dari sini, ada bangkai kapal maupun pesawat yang tenggelam." Ia membuka matanya perlahan.
Mo Lian menghilangkan kloningnya, dan terbang di dalam lautan dengan pelindung yang mengelilinginya. Ia bergerak ke arah timur, di sana ia merasakan aura yang terbilang cukup kuat, aura di sana tidak berbahaya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda bermusuhan.
Hingga belasan menit lainnya kembali terlewati, ia sudah menembus jarak delapan mil jauhnya. Pemandangan di sini berubah total, jika sebelumnya hanyalah pasir, maka di sini sudah banyak batu-batu besar dengan tinggi maupun besar yang berbeda.
Mo Lian terus bergerak, di depannya ada sebuah tebing yang di tengah-tengahnya terdapat celah kecil, ia memutuskan untuk melewati celah itu. Tidak lama kemudian, ia sudah berhasil keluar dari celah tebing, dan apa yang terlihat di depannya sangat mengejutkannya.
Tidak jauh darinya terdapat istana seperti dari zaman Yunani, di depan istana itu terdapat empat patung yang menjaga dan membawa tombak. Serta di depan istana itu seperti ada sebuah kepala patung berwarna emas.
"Apakah tempat ini adalah tempat tinggal Dewa? Seperti yang ada di mitologi Yunani?"
...
***
*Bersambung...
__ADS_1