Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 375 : Membunuh Komandan Ketiga


__ADS_3

Walaupun Mo Lian mampu menembus Dewa Bumi kapan dan di mana pun, tapi tidak ada rencana untuk menembusnya dalam waktu dekat. Dia ingin terus menekan energi spiritual di dalamnya, terus menahan sampai tidak bisa ditahan lagi. Seperti saat di Alam Hanzi, dia melakukan hal gila dengan menghancurkan semua kultivasinya sebanyak sembilan kali.


Itu adalah hal gila, tapi sebelum Armada Besar datang, dia telah mengobrol singkat dengan Hong Xi Jiang yang lebih gila lagi.


Hong Xi Jiang menempa kekuatan sebanyak 99 kali setiap ranah. Akan ada masanya saat hendak menembus Inti Perak dari Perbaikan Qi, tapi terus menahannya dari awal, dari Fase Fondasi ke Fase Mendalam, Fase Mendalam ke Fase Lautan Ilahi. Hong Xi Jiang mengulanginya terus-menerus.


Ketika hendak menembus Inti Emas, Hong Xi Jiang terus mengompres energi spiritualnya, yang tahap Akhir ke tahap Awal, dan saat kembali lagi ke tahap Akhir setelah lama berkultivasi, Hong Xi Jiang akan kembali menekannya lagi agar kembali ke tahap Awal.


Hong Xi Jiang terus melakukannya bahkan sampai Heavenly Immortal tahap Akhir. Untuk bisa melakukannya terus-menerus seperti itu, harus memiliki kesabaran, kedisiplinan, dan keteguhan hati.


Bahkan Mo Lian yang mengulangi kultivasi sebanyak sembilan kali saja sudah merasakan sakit kepala, dan perlu diketahui, setelah Hong Xi Jiang mengulangi kultivasinya untuk yang kedua kalinya, kesulitannya akan meningkatkan lebih banyak.


Harus mengerahkan 99 kali usaha lebih banyak dan besar, entah berapa banyak sumber daya yang dihabiskan.


Mendengar cerita itu, Mo Lian merasa Hong Xi Jiang membutuhkan 100 tahun untuk menembus Perbaikan Qi (Fase Fondasi, Mendalam, Lautan Ilahi) ke Inti Perak.


Jika orang biasa mencoba melakukan hal yang sama seperti Hong Xi Jiang, mungkin butuh ratusan ribu bahkan jutaan tahun, dan itu mungkin masih tertahan di Alam dan Manusia, yang terkuat mungkin hanya sampai batas Jiwa Emas.


Karena itulah, Mo Lian lebih yakin dan mengerti mengapa Hong Xi Jiang mampu menghancurkan Zhu Tong yang kekuatannya di atas Hong Xi Jiang dalam hal ranah.


Sekarang, Hong Xi Jiang telah menembus Dewa Bumi, mungkin bisa melawan ribuan lawan dengan ranah yang sama. Harusnya, sekarang Hong Xi Jiang tidak memiliki ketakutan dengan Organisasi Penjarah Spiritual seperti 50.000 tahun yang lalu, saat Hong Xi Jiang masih di Jiwa Emas.


Walaupun tidak bisa seperti Hong Xi Jiang, tapi setidaknya Mo Lian ingin mendekatinya. Lagi pula, di kehidupan ini, dia baru berkultivasi sela 17 tahun. Jika menghitung di Zaman Kuno dan Keemasan, itu baru 2017 tahun.


...


Mo Lian menghirup napas dalam-dalam meski tidak ada udara di sini. Dia melihat Komandan Pertama, Kedua dan Ketiga. Dia mengabaikan ratusan Dewa Bumi, ribuan Dewa Hitam, belasan ribu Dewa Merah dan Dewa Pemula yang tak terhitung jumlahnya.


Yang menjadi fokusnya hanyalah tiga orang di depannya, Tetua saja sudah dibunuhnya dalam sekejap, apalagi mereka yang di bawah. Jadi, Mo Lian tidak peduli yang lebih lemah dari Tetua Pertama.


Komandan Pertama melihat Mo Lian dengan wajah merah karena marah, dia telah kehilangan dua artefak yang sangat berharga. Sarung Tangan Emas dan Kayu Petir Ungu.


Hong Xi Jiang, dari awal hingga akhir, tidak memperlihatkan perubahan. Dia sudah tahu bahwa Mo Lian telah mendapatkan beberapa pertemuan yang meningkatkan kekuatan.


"Siapa yang menduga, puluhan tahun lalu aku datang ke sini, menemuinya ayahnya dan mengatakan asal-asalan untuk menerimanya menjadi murid dan bahkan kami sudah membuat janji untuk menjodohkan anak kami ..."


"Pada saat itu, usianya baru delapan tahun dan Ning'er sudah ribuan. Bahkan menantuku saja masih belasan tahun kemudian untuk terlahir."


Hong Xi Jiang mengacu pada Mo Lian.


Tiba-tiba...


Bang!


Dentuman keras terdengar menghancurkan.


Mo Lian telah tiba di tengah-tengah tiga Dewa Bumi tahap Akhir. Dia menahan tiga serangan fisik yang dilepaskan Dewa Bumi. Dia berencana untuk menyerang dari dekat, tapi kecepatan mata mereka bisa menangkap pergerakannya.


Tangan kanannya menahan pukulan Komandan Pertama, tangan kirinya menahan tendangan Komandan Kedua, dan lututnya menahan pedang Komandan Ketiga.


Tangannya tidak mengalami banyak luka selain retakan di tulangnya, tapi lututnya yang diserang dengan Senjata Surga tingkat Tinggi, itu mampu menembusnya dan memiliki kemampuan korosif yang mematikan.


Rasa sakit menjalar di lututnya, dan kakinya mulai meleleh.

__ADS_1


Mo Lian mengatupkan rahangnya, kemudian memutar lututnya dengan paksa.


Crack!


Pedang yang dibawa Komandan Ketiga itu retak ketika diputar paksa oleh Mo Lian.


Komandan Pertama dan Kedua kembali bertindak. Keduanya menarik tangan mereka, tapi sebelum sempat pergi, pergelangan tangan mereka telah dicengkeram erat oleh Mo Lian.


Mo Lian tidak berencana untuk membiarkan mereka pergi, dia harus membunuh mereka bertiga, bahkan jika harus menghancurkan tubuhnya sendiri. Lagi pula, dia tidak akan bisa mati.


Setelah kembali dari Zaman Kuno dan Keemasan, dia telah memiliki banyak pengetahuan baru tentang Tubuh Abadi. Karena itulah, dia memiliki keyakinan tinggi.


Komandan Ketiga tidak berencana untuk melepaskan pedangnya, pedang ini sangat berharga.


Craaang!


Pedang itu pecah berkeping-keping seperti kaca saat tulang Mo Lian direkonstruksi kembali dan lututnya yang berputar ke kiri.


Tidak berhenti, Mo Lian yang sudah tidak ditahan, berputar memunggungi Komandan Ketiga seraya membawa Komandan Pertama dan Kedua. Itu membuat keduanya terhempas ke arah yang berlawanan tanpa memberikan luka, itu hanya memisahkan mereka bertiga.


Mo Lian kembali berputar melihat Komandan Ketiga. Dengan membuka mulutnya, Niat Pedang berkumpul di dalamnya membentuk pedang biru sebesar ibu jari.


Puuh!


Mo Lian meludahkan Niat Pedang ke arah Komandan Ketiga. Dari awal hingga akhir, tidak sampai dua detik.


Jarak itu sangat dekat, hanya dua meter.


Tebasan sederhana dari tangannya itu adalah Niat Pedang.


Bang!


Kedua Niat Pedang bertemu, tapi Niat Pedang Komandan Ketiga sangat lemah. Bahkan Generasi Kedua tidak akan berani bersikap sombong di hadapan Niat Pedang yang telah dipadatkan oleh Mo Lian di bawah asuhan Jia Shenjun.


Ketika kedua Niat Pedang bertemu, itu seperti dua bintang yang saling bertabrakan, menimbulkan gelombang kejut dengan suara yang memekakkan telinga. Bahkan Dewa Bumi tahap Awal bisa merasakan sakit di kepala dengan jiwa yang meraung kesakitan.


Mo Lian tidak memperhatikan Komandan Ketiga, dia kembali memutar tubuhnya ke belakang seraya mengibaskan tangannya secara horizontal ke kanan.


Lintasan pedang terlihat, Formasi Array 10 Pedang Semesta dan Keabadian muncul di sekitarnya dengan Niat Pedang yang menyatu.


Semua kekuatan itu berkumpul di satu tebasan Mo Lian, mengandung Dao Ruang dan Waktu.


Komandan Pertama dan Kedua yang melintas seperti cahaya, tiba-tiba merasakan bahaya yang mengancam. Keduanya tidak bisa menghindari tebasan pedang dan langsung terkena, tapi anehnya mereka tidak terluka, namun bukan berarti mereka baik-baik saja.


Dengan mata terbelalak, Komandan Pertama dan Kedua bisa melihat tubuh mereka sendiri yang diam membeku ratusan ribu mil di depan mereka. Sekarang, Kesadaran Spiritual mereka telah terpisah dari tubuh fisik, itu terkena tebasan dari Niat Pedang Semesta dan Keabadian dengan Dao Ruang dan Waktu.


Itu meniadakan tubuh fisik dan langsung menyerang jiwa, memindahkan jiwa ke tempat lain dan menyegel waktu untuk beberapa saat tergantung seberapa kuat pengguna dan pihak lawan.


Bahkan meski satu detik, itu sangat berharga untuk Mo Lian.


Mo Lian kembali berputar, entah berapa kali dia sudah melakukannya. Dia bisa melihat Komandan Ketiga yang mundur ratusan mil dengan wajah muram.


Komandan Ketiga menerima sayatan kecil di bahunya setelah menahan Niat Pedang dengan Niat Pedang-nya. Tapi, Niat Pedang Mo Lian terlalu kuat. Bahkan jika hanya sayatan kecil, itu langsung menyerang Kesadaran Spiritual dan Inti Jiwa.

__ADS_1


Pandangannya sedikit kabur.


Suara mendesing! Itu menarik perhatian Komandan Ketiga yang mendongak.


Bisa terlihat, Mo Lian yang sedang mengangkat tangan kanannya.


Tangan kanannya memegang Pedang Spiritual yang terbuat dari Energi Sejati. Itu berwarna putih dengan aura penindasan yang tak terbayangkan meledak-ledak darinya.


Sepuluh Pedang Dewa muncul di sekitarnya, dengan 9 Niat Pedang yang berputar-putar di punggungnya. Sembilan belas pedang itu terjalin dengan energi putih seperti tali.


Kemudian mereka terus memberikan kekuatan yang terkumpul ke tangan Mo Lian.


Cahaya putih di tangannya terus membesar, naik ke atas sampai ketinggian yang tidak diketahui.


Yang pasti, galaksi di luar Galaksi Bima Sakti dapat merasakan aura yang dibawa di tangannya.


"Pedang adalah tubuh, pedang adalah hati, pedang adalah jiwa. Seratus ribu pedang, menjadi satu. Tebasan Sembilan Reinkarnasi!"


Mo Lian mengayunkan tangannya secara vertikal ke bawah.


Suara desing yang dihasilkan lebih kuat, itu menggetarkan tulang-tulang sampai saling mengikis. Komandan Pertama dan Kedua yang berada jauh di belakang Mo Lian, merasakan tekanan yang memperlambat mereka untuk kembali ke tubuh fisik.


Dalam tebasan ini, ada kekuatan Garis Keturunan yang dibawanya. Garis Keturunan ini menekan Komandan Ketiga yang masih termasuk dalam "Ras Burung".


Seperti menemukan musuh alami, Komandan Ketiga terus berusaha untuk berdiri. Tapi pikirannya terus terusik dengan jeritan Kunpeng.


Kunpeng, bahkan bisa bersaing dengan Phoenix 9 Warna.


Komandan Ketiga, yang termasuk dalam Ras rendah, tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tekanan Garis Keturunan.


Pedang besar itu terus turun dengan kecepatan tinggi.


Pasukan Armada Besar yang ditinggalkan, gemetar ketakutan di bawah tekanan yang diberikan.


Tapi, saat jaraknya hanya tersisa beberapa ratus meter dari kepala Komandan Ketiga. Tiba-tiba pedang putih itu menghilang, seolah-olah telah kehabisan energi.


Komandan Ketiga membuka matanya, menoleh ke kiri-kanan dengan mata melebar dan tatapannya mengungkapkan kebingungan. "Apa itu?" Dia menatap Mo Lian, kemudian tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha! Ini yang kau sebut serangan? Omong kos—"


Bahkan sebelum Komandan Ketiga mengakhiri kalimatnya, tubuhnya langsung terpotong menjadi puluhan ribu potongan kecil. Kemudian meledak-ledak seperti kembang api, tapi dalam bentuk bintang yang meledak.


"Ini adalah serangan yang menyerang jiwa." Mo Lian menghilangkan pedang di tangannya.


"Memberi harapan pada musuh, kemudian membunuhnya saat dia sedang bahagia tanpa mengetahui bagaimana dia mati."


"Bahkan jika dia bisa bereinkarnasi, dia akan terus mati."


"Walaupun, di bawah serangan ini, dia tidak akan bisa bereinkarnasi lagi."


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2