
Jika Mo Lian memilih untuk menikah, tentu saja ia akan mengejar Masternya, berharap di kehidupan ini ia dapat diterima. Tidak seperti di kehidupan sebelumnya, ia selalu ditolak dengan berbagai alasan. Hingga sampai akhir, ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan setelah mengutarakan keinginannya selama 700 tahun.
"Setiap kali aku memikirkannya, itu membuatku tertekan. Tapi tetap tidak pantang menyerah dan mengejarnya." Mo Lian menyandarkan kepalanya seraya memijat keningnya.
Mo Fefei yang melihat keluar jendela pesawat itu menoleh pada Mo Lian. "Ada apa, Kakak?"
Mo Lian melirik pada Mo Fefei, kemudian mengangkat tangannya mengusap kepala dan mencium lembut kening Mo Fefei. "Tidak ada. Aku hanya terpikirkan tentang masa lalu, seharusnya satu bulan lagi kalian semua akan mengetahuinya."
Mo Fefei mengerti apa maksud dari perkataan Mo Lian. Bagaimanapun ia sudah melihat ingatan Kakaknya sendiri, meski banyak yang disembunyikan.
Untuk mengisi waktu luangnya di dalam pesawat, ia memutuskan untuk memainkan video game yang berada di layar di depannya. Sudah sangat lama ia tidak bermain seperti ini, karena waktu yang ia punya hanya digunakan untuk berlatih ataupun melatih.
Karena terlalu menikmati video game yang ia mainkan, ia sampai tidak menyadari jika sudah mendarat di Bandar Udara Haneda.
"Apakah aku terlalu lama bermain?"
Mo Lian merasakan perbedaan aura spiritual yang signifikan, entah mengapa di sini lebih padat dari Daratan Huaxia normal. Namun masih kalah jauh dari Pulau Siwang Zhi Hun maupun Sekte Dongfangzhi. Tapi, hanya dengan padatnya aura di sini pastinya ada tempat yang menyimpan misteri.
Untuk saat ini aku akan menahan diri untuk tidak mencari tempat itu. Bagaimanapun musuh akan datang tidak lama lagi, takutnya kejadian Deus-Techno akan terulang kembali jika aku memasuki dimensi ruang.
Kelompok enam orang itu keluar dari dalam kabin pesawat dan pergi menuju pemberhentian taxi yang telah dipesan saat mereka baru datang. Mereka langsung pergi menuju hotel terdekat yang juga cukup mewah di sana.
Mo Lian merasa lebih tenang di Jepang, karena tidak ada wartawan menyebalkan yang mencari berita, yang selalu saja menganggu ketenangannya.
Keenam orang itu menginap untuk satu hari di Kota Tokyo, yang kemudian berpindah ke Pulau Miyako keesokan harinya untuk pergi ke pantai yang bersih nan indah di sana.
Mo Lian memutuskan untuk duduk di puncak Menara Tokyo untuk berkultivasi di saat yang lainnya sedang beristirahat. Memang ini terlalu mencolok untuk berkultivasi di ruang terbuka seperti itu, tapi hanya tempat itulah yang mengandung energi spiritual lebih padat dari yang lain.
"Aku merasakan tatapan dengan niat membunuh yang kuat tidak jauh dariku, dan niat membunuh itu ditujukan padaku." Mo Lian membuka matanya perlahan dan berdiri di puncak Menara Tokyo.
Mo Lian memiringkan kepalanya secara tiba-tiba, dan dari kecepatan matanya yang menangkap sesuatu, ia melihat peluru berwarna emas yang tidak asing baginya. Dengan cepat ia menangkap peluru yang berada di kanan depannya.
__ADS_1
"Dues-Techno lagi? Peluru yang dibuat khusus untuk membunuh Kultivator. Menarik sekali."
Mo Lian berbalik melihat gedung di sebelah barat, kemudian ia mengarahkan tangannya pada gedung yang berjarak dua mil darinya.
"Datanglah."
"Euk!!" Pria paruh baya yang secara tiba-tiba berada di cengkeraman Mo Lian itu tidak bisa bernapas saat lehernya ditekan.
Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang akan menanyakan pertanyaan. Kali ini ia langsung membaca ingatan pria paruh baya yang mengenakan pakaian serba hitam, serta kain yang menutupi wajahnya.
Mo Lian melihat gambar ingatan dari pria paruh baya yang bernama Albert Vector, yang berasal dari Inggris dan sudah lama tinggal di Jepang. Ia melihat pertemuan yang dilakukan oleh Deus-Techno dua bulan setelah kehancuran markas pusat mereka, dan hanya menyisakan anggota-anggota bawah yang tidak memiliki kekuatan.
Anggota bawah ini hanya mempunyai senjata jarak jauh, pistol, dan pisau pendek yang telah dilapisi oleh serbuk emas yang merupakan racun. Racun ini berfungsi untuk melumpuhkan Kultivator dengan cara menahan jalur Meridian.
Organisasi mereka sudah lama kehilangan dana akibat dari hancurnya Deus-Techno pusat yang berada di perbatasan Amerika dengan Canada. Serta terbunuhnya Presiden bernama Gober Duck, yang membuat negara lain memutuskan untuk tidak lagi mendanai penelitian itu.
Anggota yang tersisa masih meneruskan misi dari pendahulu mereka, dan menambah misi baru untuk membalaskan dendam pendahulu mereka dengan cara membunuh Mo Lian.
Mo Lian membuka matanya perlahan, menatap tajam pria paruh baya itu. Kemudian ia membakarnya habis menjadi abu yang menghilang tertiup angin. "Dua puluh di Inggris, lima belas di Amerika, tiga puluh di Korea Selatan, sepuluh di Rusia, delapan di Canada, dua belas di Jepang, dan empat puluh di China."
Mo Lian mengangkat tangan kanannya ke udara, memperlihatkan gumpalan cahaya biru yang jumlahnya sesuai dengan jumlah anggota Deus-Techno yang tersisa. Kemudian melesat ke arah masing-masing dengan kecepatan kilat.
Ia menunggu di sana untuk beberapa waktu, memastikan apakah semuanya sudah habis terbunuh.
"Sudah habis, semua masalah di Bumi benar-benar menghilang. Hanya tersisa yang berasal dari luar Bumi."
Mo Lian terbang meninggalkan tempat kultivasinya untuk kembali ke hotel, dan beristirahat di sana untuk beberapa saat, kemudian akan meninggalkannya sebelum Matahari terbit.
***
Mereka berenam pergi dari hotel sebelum sinar matahari terbit dan menyinari daratan. Mereka terbang di atas awan untuk tidak terlalu menarik perhatian, meski hal itu sudah tidak terlalu berarti lagi karena Kultivator seperti hal yang wajar.
__ADS_1
Mo Lian sempat kesal saat mengetahui tempat tujuan yang ingin didatangi oleh Mo Fefei, Pulau Miyako, berdekatan dengan Taiwan. Bahkan bisa dikatakan jika Pulau Miyako adalah tetangga Taiwan, yang sangat jauh dari Daratan Utama Jepang.
Tapi, setelah ia bepergian, ia tidak lagi kesal karena merasakan aura spiritual yang cukup kuat dari sana. Aura itu ia rasakan berada jauh di bawah permukaan air laut.
Sebelumnya aku tidak terlalu merasakannya, mungkin ada harta surga dan bumi yang terlahir baru-baru saja karena peningkatan aura spiritual di Bumi.
Enam orang itu terus terbang selama beberapa jam, hingga sinar matahari berwarna jingga mulai terlihat di ufuk timur, barulah mereka sampai di Pulau Miyako.
Saat yang lain sedang pergi ke penginapan yang telah dipesan saat masih di Tokyo. Mo Lian memutuskan untuk pergi ke Pantai Miyakojima, lebih tepatnya menyelam jauh ke bawah sana.
Mo Lian yang baru sampai melihat sekitar. "Ternyata banyak yang sudah datang di pagi-pagi seperti ini. Tapi ini tidak mengubah niatku, aku akan datang mencarinya sekarang juga."
Mo Lian berlari menuju lautan. Banyak orang yang berteriak saat melihatnya berlari seperti orang gila, namun saat melihatnya berlari di atas air. Sudah bisa ditebak apa yang dilakukan, mengambil handphone dan mulai merekam.
Mo Lian berhenti setelah menempuh jarak satu mil, kemudian berjongkok seraya menyentuh permukaan air dengan mata terpejam. "Aura ini, mungkin inilah yang yang menarik perhatian orang-orang dari Galaxy Pusat ..."
"Namun, Master menemukanku di Sungai Minjiang setelah hampir mati lemas karena Tang Zhao."
Mo Lian terdiam sejenak, berpikir apakah di Sungai Minjiang saat ia tenggelam dulu menemukan sesuatu benda yang terlihat berbeda. Namun sebanyak apapun ia mencoba mengingatnya, ia merasa tidak ada hal aneh di dasar Sungai Minjiang.
"Biarlah! Aku akan mengirim klon milikku yang berada di sekte untuk pergi ke Sungai Minjiang."
Mo Lian berdiri perlahan sembari menatap tajam ke dalam lautan. Perlahan, lautan di bawah kakinya mulai terbelah dua, memperlihatkan dasar lautan yang ditumbuhi oleh terumbu karang, maupun ikan-ikan yang tergeletak karena tidak ada air.
"Tidak ada yang spesial, begitupun di Sungai Minjiang. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencari tahu lebih dekat."
Mo Lian melompat turun memasuki lautan yang terbelah dua itu.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...