
Mo Lian sudah kembali ke Sekte Dongfangzhi dan memilih untuk bersantai ketimbang berkultivasi. Kultivasi selama tiga hari tidak akan membuahkan hasil dengan tingkatannya yang sekarang, itu seperti embun di dalam lautan.
"Nan Ren ..."
Mo Lian membuka matanya perlahan ketika sedang bersantai di kursi panjang untuk berjemur. Ia melihat Hong Xi Ning yang sedang menyisir rambut untuk diselipkan di samping telinga.
"Ada apa?"
Hong Xi Ning menggelengkan kepala, tapi tetap memanggil namanya dengan sebutan 'Nan Ren' tanpa henti ketika meletakkan kepalanya di dada Mo Lian, dan terkadang terkekeh kecil.
Mo Lian tersenyum lembut saat mengusap kepala dan punggung Hong Xi Ning yang tengah berada di atasnya.
Qin Nian dan Yun Ning, mereka berdua tidak bersama, mereka berada di belakang Istana Dongfangzhi untuk berkultivasi. Karena itu, Hong Xi Ning memanfaatkan waktu untuk berduaan bersama dengan Mo Lian.
"Lusa, akan menjadi pertarungan yang sulit."
Hong Xi Ning mendongak menatap Mo Lian dengan tatapan khawatir. "Ning'er akan membantu, meski masih tahap Akhir dari Dewa Pemula. Tapi, Ning'er bisa membantu membunuh Dewa Pemula sampai Dewa Merah."
"Terima kasih." Mo Lian mengecup kening Hong Xi Ning, kemudian membawanya pergi ke kamar karena sudah malam hari. Ia juga memecah tubuhnya untuk menjaga Qin Nian dan Yun Ning, dan meski hanya sebatas klon, mereka tetaplah dirinya, tidak memiliki kesadaran sendiri.
...***...
Kamis, 27 Maret 2036
Mo Lian duduk bersila di halaman depan dengan ratusan pedang rusak di depannya, dan merasa bahwa pedang itu telah melewati tingkatan dari yang diketahuinya. Dengan mengetahui tingkatan yang lebih tinggi, akan lebih sulit untuk memurnikan bahan dan mengkonstruksi ulang pedang.
Bahan yang dibutuhkan tentunya akan sangat langka dan tidak bisa dibeli dengan Batu Spiritual kualitas Tinggi, bahkan Mutiara Giok itu sendiri.
"Dunia Kecil sudah berjalan lebih dari enam puluh ribu tahun, Vena Spiritual di sana sangat membantu dalam mengembangkan Tanaman Spiritual. Bahkan, Ikan Sisik Naga sudah berevolusi, ada yang memiliki kaki, ada yang memiliki tanduk. Jika mereka bisa berevolusi sebanyak sembilan kali, bukan tidak mungkin mereka akan melompat ke Gerbang Naga dan menjadi naga."
Mo Lian terdiam sejenak seraya memainkan jarinya untuk menghitung berapa banyak elemen yang dikuasainya. Ia berencana untuk membuat sebuah senjata jenis pedang dengan jumlah yang sesuai dengan elemen yang dikuasainya.
"Aku memiliki sebelah elemen ... tunggu! Ruang dan Waktu adalah dua elemen yang berbeda!" Mo Lian menepuk dahinya sendiri.
Sungguh bodoh karena selalu menganggap Ruang dan Waktu adalah satu elemen. Ini karena terlalu mudah baginya untuk menguasai penggabungan antara Element Ruang dan Element Waktu, sehingga sering melupakan jika keduanya berbeda.
Mo Lian menyentuh dadanya sampai tangannya masuk, kemudian saat menariknya kembali, terlihat ada sebuah batu kristal seperti Batu Spiritual, tapi lebih kuat dan warnanya bukan biru muda, biru ataupun ungu. Warnanya adalah adalah emas, itu adalah Vena Spiritual yang sudah berkembang.
Aliran energi spiritual di atmosfer sangat kacau ketika pecahan Vena Spiritual sebesar kepalan tangan keluar dari tubuhnya, kemudian aliran di sini bertambah lebih padat lagi. Jika seluruh Vena Spiritual dikeluarkan, mungkin Sekte Dongfangzhi akan berkali-kali lipat dari Bintang Utama, bahkan Ruang Dimensi Khusus di Sekte Zhongjian.
Mo Lian menyebarkan energinya ke empat sudut untuk menandai tempat untuk memasang array. "Array, aktif."
Tanda yang telah disebarkan itu menyala, kemudian ada cahaya biru yang melonjak naik ke udara dan saling terjalin di tengah-tengah membentuk pelindung berbentuk kubah.
Pada saat itu, energi di sekitar tidak lagi kacau dan energi di dalam pelindung bertambah sangat padat.
Mo Lian ingin menyuling senjata yang melebihi tingkat tujuh, karena itulah menggunakan pecahan Vena Spiritual untuk membantu dalam menyuling. Jika Bumi sudah kembali seperti 50.000 tahun lalu, mungkin tidak dibutuhkan Vena Spiritual.
"Untuk saat ini, aku hanya perlu menyuling sepuluh pedang dengan Element Air, Api, Tanah, Kayu, Petir, Logam, Es, Cahaya, Kegelapan, Angin."
Mo Lian menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia memposisikan kedua tangannya di depan dada dan berseru, "Api! Datang!"
Api berwarna biru muncul dari dahinya, terbang perlahan beberapa meter di depannya.
__ADS_1
"Naik."
Ratusan pedang bergetar, kemudian naik di udara dengan ketinggian yang sejajar dengan dadanya.
Api mulai membakar dengan suhu yang sangat panas, membuat pedang-pedang itu meraung seperti monster yang hidup, bahkan bercahaya dengan warna yang berbeda meski tidak terlalu terang, tapi aura yang dikeluarkan sangat kuat sampai membuat Mo Lian sedikit tertekan.
Mo Lian mengangkat dua jarinya, membuat auranya meledak saat 9 Niat Pedang datang.
Tekanan yang diberikan keduanya saling bentrok, membuat getaran hebat dengan udara yang beriak. Kekuatannya seimbang, sangat sulit menemukan siapa yang akan memenangkannya. Tapi, Mo Lian mengeluarkan Cincin Matahari yang menambah tingginya suhu.
Pedang tidak lagi mengeluarkan tekanan, meski masih bergetar seperti memberontak, tapi tidak memiliki kekuatan yang cukup.
"Api, membesar."
Api membesar dalam sekejap mata, membakar ratusan pedang yang tetap mencoba memberontak, tapi karena suhunya yang terlalu kuat, pedang itu mulai tenang dan sedikit meleleh.
Hong Xi Jiang dan Wang Yue Fei datang ke Istana Dongfangzhi setelah berkeliling Bumi untuk melihat keadaan, apakah ada bahaya yang mengancam atau tidak.
"Ayah, Ibu!" Hong Xi Ning berlari menghampiri keduanya.
Hong Xi Jiang menganggukkan kepalanya seraya mengusap kepala Hong Xi Ning. "Pagi. Apa yang dilakukan suamimu?"
Hong Xi Ning melihat Mo Lian yang berada di dalam pelindung, lalu menjelaskan tentang rencananya untuk membuat Formasi Array 10 Pedang Semesta dan Keabadian, termasuk berapa banyak Dewa Hitam, Merah dan Pemula yang akan datang menginvasi Bumi.
"Begitu ..." Hong Xi Jiang menganggukkan kepalanya, kemudian menundukkan kepala seraya mengusap dagu seperti sedang berpikir. "Belum waktunya." Ia menggelengkan kepalanya. "Seribu segel yang aku pasang di Dantian belum waktunya untuk dibuka. Jika Dewa Bumi datang, mungkin aku bisa membukanya," gumamnya.
"Ayah?" Hong Xi Ning menoleh.
Hong Xi Jiang menggelengkan kepalanya kembali dan berkata, "Tidak ada, aku asal bicara."
***
"Apakah Yue Fu sudah tahu tentang Ranah di atas Dewa Pemula sejak lama?"
Tidak ada balasan untuk beberapa saat.
"Bukan begitu, aku sudah memupuk kekuatan di dalam tubuhku sejak lima puluh ribu tahun lalu. Aku bisa menerobos ke Dewa Pemula sejak saat itu, artinya, aku bisa dianggap lebih kuat dari Zaman Keemasan. Tapi, aku memiliki firasat buruk jika langsung menerobos, sehingga aku menundanya ..."
"Tapi, untuk membuka segel, aku perlu melakukan persiapan dan penyesuaian."
Mo Lian mengangguk kecil, akhirnya tahu alasan mengapa ia bisa melihat kekuatan Hong Xi Jiang, tapi terasa lebih dalam seperti kegelapan ruang angkasa dan terdapat badai yang tak terbayangkan.
"Apakah Ning'er juga begitu?" tanya Mo Lian.
"Iya, setelah dia lahir, aku menyegel hampir semua jalur Meridian yang dimilikinya. Aku hanya tidak ingin putriku menjadi incaran dari Sepuluh Ribu Ras. Awalnya aku tidak tahu tentang Sepuluh Ribu Ras, aku hanya tahu akan ada bahaya yang datang apabila Ning'er terlahir dengan bakat yang mengguncang Semesta." Hong Xi Jiang membalasnya melalui transmisi suara.
Keduanya terus berbicara diam-diam, dan mengetahui bahwa Wang Yue Fei terlahir dari keluarga petani yang tidak memiliki bakat dalam hal kultivasi. Perbedaan usia keduanya juga terbilang sangat jauh, sekitar 60.000 tahun. Kemudian, segel yang menyegel Meridian Hong Xi Ning tentunya sangat kuat dan tersembunyi, sampai membuatnya tidak sadar tentang hal itu.
Hong Xi Jiang berusia 114.750 tahun, Wang Yue Fei berusia 54.500 tahun, dan Hong Xi Ning berusia 3.120 tahun.
Mo Lian mengerutkan keningnya. "Bukankah kalian terlalu tua untuk memiliki anak? Dan, Yue Fu menikah dengan seseorang yang harusnya setara dengan cicit dari cicit dari cicit dari cicit dari cicit dari cicit... Cicitmu?"
Hong Xi Jiang tidak menjawab lagi, tetapi tatapan matanya sangat tajam menatap punggung Mo Lian dari luar.
__ADS_1
Tubuh Mo Lian bergidik ketika merasakan dingin di punggungnya.
Mo Lian kembali fokus pada ratusan pedang yang sudah meleleh, tapi masih memiliki kotoran yang menumpuk seperti karat maupun darah yang menempel.
Api yang membakar terus membesar dengan nyala yang sangat terang, bahkan bisa dilihat dari belasan ribu mil dari tempat api menyala.
Jika tidak ada formasi pelindung, suhu api ini akan menyebar dan melelehkan sekitarnya.
*10 Jam Kemudian
Semua kotoran sudah dibersihkan dan material yang digunakan untuk membuat pedang sudah dikelompokkan sesuai bahan masing-masing dengan Esensi Element di dalamnya.
Mo Lian memecah Vena Spiritual di tangan kirinya menjadi serbuk kecil.
Bang!
Energi spiritual meledak saat Vena Spiritual diledakkan, membuat tekanan di dalam pelindung lebih kuat lagi. Dengan kendali Mo Lian, serbuk-serbuk itu terbang ke berbagai material yang sudah dimurnikan.
Awalnya, ia memang berniat hanya membuat sepuluh pedang, tapi di sisi lain berharap mendapatkan bahan lebih, namun ternyata benar-benar pas.
Berbagai besi cair berbeda warna mendapatkan kilauan emas ketika bergabung dengan serbuk sari Vena Spiritual, menambahkan aura yang dimiliki mereka: bergetar hebat sampai membuat riak udara.
Mo Lian mengatupkan kedua tangannya. "Bentuk! Padatkan!"
Besi cair itu mulai bergerak mengikuti perintah Mo Lian, bergerak membentuk bilah pedang dengan panjang 120 cm.
Celah spasial terbuka karena ujung pedang sudah terbentuk.
Mo Lian yang menyuling pedang sedikit terkejut saat mendapati seberapa tajamnya pedang. Tapi dengan cepat kembali tenang untuk mempertahankan konsentrasi.
*10 Jam Kemudian
Semua pedang sudah terbentuk dengan baik, masing-masing pedang memiliki warna yang berbeda dengan aura yang berbeda.
Mo Lian tetap mengatupkan kedua tangannya, kemudian membukanya perlahan dan di antara kedua tangannya terlihat ada embun yang mulai mencair. Itu adalah Embun Spiritual.
Tidak membutuhkan waktu lama, Embun Spiritual sudah mencair sampai jumlah yang sesuai. Kemudian, Mo Lian mengendalikannya untuk membasuh semua pedang yang sudah selesai.
Pada saat itu juga, suara mendesing dikeluarkan dari pedang, merobek udara menciptakan celah spasial yang lebih banyak. Mereka bergetar dan terbang ke segala arah, menabrak pelindung dengan ganasnya seperti mendapat kesadarannya sendiri.
Mo Lian menyentuh dahinya, dan terlihat ada Esensi Darah yang diambilnya. Ia melemparkan Esensi Darah, menghantam pedang yang membuat mereka semua terhempas dan bergetar ketakutan.
"Selesai." Mo Lian menghela napas. "Sekarang, aku hanya perlu mengikatnya dengan jiwa ..."
Bahkan saat Mo Lian masih berbicara, tiba-tiba ada gemuruh yang menggelegar di langit dengan awan hitam yang berkumpul.
Mo Lian menengadahkan kepalanya. "Kesengsaraan Petir?"
Bahkan saat menyuling Pedang Dao tingkat Tujuh, tidak pernah sekalipun mendapatkan Kesengsaraan Petir.
"Apakah aku menyuling pedang dengan tingkatan baru?"
...
__ADS_1
***
*Bersambung...