Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 52 : Menembus Ranah Inti Perak


__ADS_3

Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat langit, kemudian menghembuskan napas panjang. Tidak lama kemudian ia menundukkan kepalanya melihat ketujuh mayat yang tergeletak di tanah, ia mengarahkan telapak tangannya pada mayat-mayat itu. Seketika ketujuh mayat itu terbakar habis menjadi abu.


Setelah membakar mayat, Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitar, ia memastikan apakah ada tanda-tanda kehidupan dalam radius beberapa ratus meter darinya. Dirasa tidak ada, akhirnya ia pergi meninggalkan hutan yang telah gundul menuju Perusahaan Meiliafei untuk mengecek keadaan di sana.


Tidak lama kemudian setelah kepergiannya dari tempat kejadian, ia telah sampai di belakang perusahaan. Dengan cepat ia pergi menuju pintu depan dan masuk ke dalam gedung, ia menolehkan kepalanya, kemudian menghela napas lega saat mengetahui bahwa tidak ada tanda-tanda bahaya.


Mo Lian berjalan menuju tempat duduk yang terletak di samping dinding kaca. Seperti sebelumnya, saat ia datang, Adiknya, Mo Fefei datang menghampirinya dan memberikan minuman kopi es.


"Kakak. Apakah Kakak tahu kedelapan orang yang keluar bersama Kakak tadi?"


Mo Lian meletakkan cangkir kopi di atas meja, ia mendongakkan kepalanya menatap wajah Mo Fefei. "Lebih baik kau tidak mengetahuinya, untuk alasannya, seharusnya kau tahu sendiri."


Mo Fefei terdiam sejenak dengan kepala dimiringkan, beberapa detik kemudian ia tersentak dengan mata terbuka lebar, lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat dan kembali ke meja kasir.


Mo Lian menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Adiknya. Ia kembali meminum kopi yang berada di atas meja, kemudian bersandar di sandaran kursi. Ia bersantai di perusahaan selama beberapa jam, hingga akhirnya waktu jam kerja telah berakhir.


Akhirnya ia pulang ke rumah bersama dengan Su Jingmei dan Mo Fefei menggunakan mobil yang baru mereka beli, dengan harga 10.000.000 Yuan.


Untuk yang duduk di belakang setir kemudi tentu saja Su Jingmei, itu karena hanya dialah satu-satunya yang bisa mengendarainya. Sedangkan Mo Lian, ia tidak pernah sekalipun menyentuh setir kemudi, entah di kehidupan sekarang maupun sebelumnya.


Puluhan menit kemudian, mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan kediaman mewah mereka yang berada di Puncak Gunung Emei.


Mo Lian turun dari mobil, kemudian berjalan menuju pintu gerbang untuk membukanya. Sampai saat ini ia belum sempat mempekerjakan beberapa pelayan untuk mengurus kediamannya, itu karena ia selalu sibuk dengan kultivasi dan mengurus keamanan perusahaan dari balik layar.


Setelah pintu gerbang terbuka. Mobil memasuki halaman kediaman, kemudian Mo Lian kembali menutup pintu gerbang.


Ketiganya memasuki kediaman, mereka bertiga masuk ke kamar mandi yang berada di kamar masing-masing. Lalu turun ke lantai dasar untuk menyantap makan malam.


"Lian'er. Ibu tadi melihatmu dikejar oleh beberapa orang, apakah ada masalah?" Su Jingmei menolehkan kepalanya seraya masih mencuci piring.


Mo Lian terdiam sejenak, ia juga menghentikan gerakan tangannya. Ia menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya pelan, ia menolehkan kepalanya menatap wajah Ibunya, lalu menjawab, "Mereka adalah anggota Organisasi Dunia Hitam. Kebetulan salah satu anggota dari organisasi inilah yang mencoba mencemarkan nama baik perusahaan kita."


Su Jingmei tersentak, ia mengulurkan tangan kirinya menyentuh pipi kanan Mo Lian. "Apakah Lian'er tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.


Mo Lian tersenyum lembut, ia menyentuh tangan kiri Ibunya. "Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong ... tangan Ibu ada busanya, itu mengenai mataku dan perih," jawabnya seraya menutup mata kanannya.


"Ah! Maaf." Su Jingmei menarik tangan kirinya, kemudian menarik kepala Mo Lian untuk mendekat ke wastafel dan membasuhnya dengan air yang mengalir melalui selang.

__ADS_1


Mo Lian memejamkan matanya saat wajahnya dibasuh, kemudian ia mengambil handuk kecil yang tak jauh darinya untuk mengelap wajahnya yang basah. Kemudian ia kembali melanjutkan membantu Ibunya untuk mencuci piring yang kotor, sedangkan untuk Mo Fefei, dia sedang belajar untuk mempersiapkan ujian kenaikan kelas.


Setelah selesai membantu Ibunya, Mo Lian pergi naik ke lantai dua untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum ia kembali bepergian.


Beberapa jam kemudian, sinar rembulan berada di posisi puncaknya. Mo Lian beranjak dari tempat tidur menuju lemari, ia mengambil pakaian berwarna cokelat dan jaket cokelat. Kemudian melompat keluar melalui jendela kamarnya.


Setiap ia pergi keluar di tengah malam, pastinya Mo Lian akan menggunakan penyamaran, entah itu berpakaian hitam ataupun cokelat. Dan tentu saja, penyamaran-penyamaran itu akan dibuangnya setelah ia melakukan tindakan yang menghebohkan.


Mo Lian terbang keluar menjauh dari kawasan Real Estate Emei, bahkan ia juga menjauh dari kawasan padat penduduk di Kota Chengdu. Ia pergi menuju Lembah Jiuzhaiguo yang merupakan salah satu destinasi wisata memukau di Kota Chengdu.


Ia pergi ke sana karena di sana memiliki tempat yang luas, yang mana luasnya mencapai 72.000 hektar, dan berada di ketinggian 4.800 meter. Namun untuk daerah wisata utamanya berada di 1.980 hingga 3.100 mdpl.


Tentunya Mo Lian memutuskan untuk naik ke bagian tertinggi dari Lembah Jiuzhaigio. Ia membutuhkan waktu satu jam lamanya untuk bepergian dari Mansion Bai Long, dan membutuhkan lima menit untuk mencapai puncaknya.


Mo Lian mendarat dengan kaki kanan menyentuh tanah terlebih dahulu, ia duduk bersila di atas rerumputan dengan mata terpejam, ia bermeditasi untuk menstabilkan energi spiritualnya yang bergejolak dan sudah tak dapat ditahan kembali.


Ia menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan dari mulutnya, terlihat cahaya biru keluar dari mulutnya, lalu cahaya biru itu kembali masuk melalui kedua lubang hidungnya. Hal itu terus terjadi berulangkali hingga pernapasan Mo Lian kembali tenang.


Ketika ia membuka matanya, cahaya biru melonjak puluhan meter ke langit, menembus udara seperti pisau tajam. Cahaya itu tidak menghilang, melainkan terus melesat tinggi ke langit malam. Bukan hanya itu saja, di kedua mata Mo Lian juga memancarkan cahaya biru bagaikan bola lampu.


Tidak lama kemudian, langit malam yang sebelumnya diterangi cahaya biru dari Mo Lian kembali menghitam. Itu karena di langit sudah terlihat awan hitam yang menyebar luas dalam radius satu mil, awan hitam itu tidak berhenti, ia terus menyebar hingga mencapai radius 10 mil.


Mo Lian berdiri dari tempat duduknya, ia menekan kakinya di tanah kemudian terbang tinggi ke langit dengan kedua tangan direntangkannya. "Petir! Datanglah!"


Zzett! Zzett!


Seperti menanggapi provokasi dari Mo Lian, kilatan petir itu berkumpul lebih cepat dari sebelumnya. Kemudian petir berwarna biru menyambar Mo Lian dengan ganasnya.


Wush! Duarr!


Mo Lian tersenyum lebar saat mendapati dirinya di sambar petir. Biasanya saat pembudidaya yang akan menembus Ranah Inti Perak, para pembudidaya itu akan mempersiapkan beberapa Artefak untuk dapat bertahan hidup.


Tapi berbeda halnya dengan Mo Lian, ia yang mempraktekkan Teknik Budidaya Sutra Dewa tidak perlu mempersiapkan hal-hal yang merepotkan itu. Itu karena teknik yang dipraktekkan olehnya dapat meningkatkan kekuatan fisiknya, dan jika ia mendapatkan sambaran petir dari Kesengsaraan Petir, maka kekuatan fisiknya akan terus meningkat.


Seperti halnya saat ini, petir yang menyambar Mo Lian terurai menjadi potongan cahaya biru kecil, kemudian cahaya-cahaya itu memasuki pori-pori kulitnya dengan kecepatan yang dapat terlihat oleh mata.


Meski petir sudah menyambar Mo Lian, tapi awan hitam tidak menampilkan tanda-tanda akan berhenti. Kilatan petir kembali muncul dan berkumpul di satu titik, lalu petir itu kembali menyambar Mo Lian dengan ukuran dan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.

__ADS_1


Namun meski begitu, Mo Lian tidak merasakan adanya hal tidak mengenakan ataupun rasa takut. Malah ia semakin bersemangat untuk menerima sambaran petir yang mengenainya.


Hal itu terus berlanjut hingga Mo Lian sudah menerima sambaran petir yang kedelapan. Dan yang lebih mengejutkannya, awan hitam masih belum menghilang, bahkan semakin meluas dengan aura membunuh yang keluar darinya.


Mo Lian merentangkan kedua tangannya seraya menengadahkan kepalanya melihat awan hitam. "Datanglah!" teriaknya memprovokasi.


Awan hitam kembali menyebar luas saat mendapati provokasi dari Mo Lian. Kini awan hitam sudah menyebar dengan radius lebih dari 25 mil, dan membuat penduduk yang berada di sekitarnya menjadi khawatir dan ketakutan. Bukan hanya itu saja, bahkan BMKG di sekitar yang masih bekerja juga mulai mengingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas pada esok hari.


Zzett! Zzett!


Terdengar suara kilatan petir yang semakin nyaring di atas kepalanya.


Wush! Boom! Duarr!


Petir biru yang diprediksi sanggup menghancurkan gedung berlantai 40 itu menyambar Mo Lian dengan ganasnya. Mo Lian menggigit bibir bawahnya untuk memfokuskan rasa sakit pada satu titik, pakaiannya yang sebelumnya tidak ada tanda-tanda akan rusak, kini sudah hangus menjadi debu dan menyisakan ****** ***** saja.


Petir yang menyambar Mo Lian terus melesat tajam ke tanah, menghancurkan daratan dalam radius beberapa ratus meter darinya. Pepohonan, rerumputan, bebatuan yang berada di permukaan tanah menghilang dan digantikan oleh tanah tandus.


Bukan hanya itu saja, ledakan keras yang memekakkan telinga juga dapat didengar dalam radius beberapa mil jauhnya. Membuat semua penduduk setempat terbangun dari tidurnya, dan melihat keluar jendela untuk mengamati apa yang terjadi.


Tapi hal itu tidak perlu diceritakan, kembali lagi ke sisi Mo Lian. Mo Lian menutup matanya perlahan saat ia masih melayang di antara bumi dan langit, ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Ketika ia membuka matanya, senyum lebar bisa terlihat menghiasi wajah Mo Lian yang semakin tampan itu. Kulit halus bagai sutra, namun sangat kuat yang ketahanannya melebihi baja.


"Ranah Inti Perak! Terlebih lagi dengan sembilan sambaran petir!"


Seberapa banyak sambaran petir yang diterima dalam menembus Ranah Inti Perak dapat dikatakan sebagai prediksi masa depan untuk para pembudidaya.


Jika satu sampai dua sambaran dikatakan biasa, tiga sampai lima dianggap jenius. Enam sampai delapan disebut-sebut sebagai 'Anak Dewa' yang mana memiliki masa depan yang tak terbatas dan dapat menjadi seorang Dewa Abadi. Dan untuk sembilan sambaran petir, itu hanya ada dalam legenda dan tak pernah ada satupun orang yang pernah mengalaminya, jikapun pernah, maka orang itu sudah mati karena tidak kuat menahan beban dari sambaran petir.


"Sembilan sambaran! Meski hanya Ranah Inti Perak tahap Awal, tapi aku sudah dapat membunuh 30 orang yang berada di Ranah yang sama. Bukan itu saja, aku juga bisa membunuh satu atau dua pembudidaya yang berada di Ranah Inti Emas tahap Awal!" Mo Lian mengangkat tangan kanannya yang terkepal.


Mo Lian menundukkan kepalanya, seketika itu juga ia terdiam dengan alis berkedut-kedut. "Celana dalamku juga hampir terbakar. Aku harus cepat-cepat pulang."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2