
Kamis, 12 November 2020. Mo Lian memerintahkan semua orang tanpa terkecuali untuk berkumpul di depan halaman aula, hari ini adalah hari di mana ia akan membagikan seragam sekte pada semua orang.
Mo Lian duduk di tangga batu menatap semua orang, di atas kedua pahanya terdapat sebuah daftar nama semua orang yang bergabung dengan sektenya, dan tingkatan-tingkatan kultivasi mereka. Untuk jubahnya memang sudah dipersiapkan semua, namun akan diberi saat mereka semua naik tingkat.
"Qin Zhang. Silakan maju." Mo Lian menyebutkan nama yang tertera dalam daftar.
Qin Zhang melangkah maju dan berhenti beberapa langkah dari Mo Lian, atau paling tidak agar posisi berdirinya tidak sampai lebih tinggi dari Mo Lian yang sedang duduk. "Qin Zhang melapor pada Patriak Mo," ucapnya seraya menangkupkan kedua tangan.
Mo Lian mengangguk kecil, ia mengambil tiga set seragam yang telah disusun di sebelah kanannya, dengan dua jubah berbeda warna. "Kau memiliki dua jubah, itu karena kau dan Yun Hengtian adalah Penatua untuk Menara Sumber Daya. Lalu untuk jubah berwarna putih artinya kau adalah murid langsungku, terserah mau menggunakan yang mana," jelasnya menyerahkan tas berisikan seragam maupun jubah.
Qin Zhang menerima tas itu, ia sedikit membungkuk badannya dengan menangkupkan kedua tangan, kemudian berkata, "Terimakasih, Master."
Mo Lian melambaikan tangannya mempersilakan Qin Zhang untuk mengganti pakaiannya.
"Selanjutnya, Qin Tian." Mo Lian kembali menyebutkan nama yang tertera dalam daftar.
Qin Tian keluar dari barisan berjalan menghampiri Mo Lian, dan berhenti tepat di mana Qin Zhang tadi berhenti. Dengan kedua tangan ditangkupkan, ia memberi hormat. "Qin Tian melapor pada Patriak Mo."
"Kau telah berada pada Fase Lautan Ilahi tahap Menengah. Kau mendapatkan jubah berwarna biru muda dan putih, terserah mau menggunakan yang mana." Mo Lian menyerahkan tas berisikan seragam kepada Qin Tian, kemudian mempersilakannya untuk berganti.
Mo Lian terus memanggil semua nama yang tertera dalam daftar secara bergantian. Ia juga selalu menjelaskan mengapa ia memberi jubah, dan mengapa tidak. Hingga sepuluh jam berlalu, baru setengah dari jumlah anggota sekte yang mendapatkan seragam, untuk kekurangannya akan dilanjutkan kembali esok harinya.
***
Jum'at, 13 November 2020. Sama seperti hari sebelumnya, hari ini Mo Lian kembali melanjutkan kegiatan yang belum selesai pada sehari sebelumnya. Lalu untuk orang-orang yang sudah mendapatkan seragam, mereka tetap diharuskan untuk berbaris, ini agar tidak ada rasa ketidakadilan dari mereka. Namun meski begitu, barisan mereka dipisah tergantung tingkat kultivasi.
Sepuluh jam kemudian, semua orang sudah mendapatkan seragamnya dan menggantinya. Semua orang yang berada di depan Mo Lian tidak lagi seperti manusia normal, meski sebagian besar dari mereka belum menembus Fase Fondasi, tapi otot-otot mereka sudah mulai tersusun. Itu karena semua orang di sini sudah menelan Pil Pembersih Tubuh, kemudian berlari mengelilingi danau untuk meningkatkan stamina mereka.
Mo Lian berdiri dari tempat duduknya, ia menatap ratusan orang di depannya. Untuk di belakangnya sendiri berdiri 12 Penatua berjubah merah, dengan tiga murid langsungnya berjubah putih, lalu untuk ibu dan adiknya, mereka berada di perusahaan dan sekolah.
Sebenarnya Qin Zhang dan Yun Hengtian sangat ingin memakai jubah berwarna putih mereka, ini agar mereka terlihat sebagai murid langsung Mo Lian. Tapi Mo Lian memerintahkan keduanya untuk menggunakan jubah berwarna merah, ini dimaksudkan agar semua orang tahu jika di Sekte Dongfangzhi memiliki 12 Penatua.
__ADS_1
"Besok adalah acara pembukaan Sekte Dongfangzhi. Lebih dari 1000 orang akan datang untuk menghadiri upacara pembukaan, pada saat hari itu kalian gunakan pakaian dengan seragam abu-abu. Kemudian selebihnya sama seperti saat berlatih beberapa hari lalu. Paham?" Mo Lian menatap semua orang sembari berucap dengan suara pelan, namun bisa terdengar di telinga semua orang.
"Baik, Patriak!" Semua orang berteriak sembari menangkupkan kedua tangannya.
Mo Lian mengangguk kecil kemudian berbalik menuju bangunan aula. Ketika ia berjalan memasuki aula, semua orang yang berbaris di halaman mulai bekerja menyusun meja-meja maupun hiasan lainnya yang belum terpasang.
Pengerjaan hiasan ini berlangsung sampai malam hari. Tentu saja tidak semuanya bekerja, hanya para pria dewasa, sedangkan untuk para wanita dan anak-anak mengerjakan pekerjaan ringan, kemudian saat matahari sudah terbenam, mereka kembali ke rumah masing-masing.
***
Keesokan Paginya
Di halaman depan Aula Sekte sudah tersusun rapi meja-meja lingkaran dengan kain merah yang menutupinya, untuk satu meja bisa ditempati oleh lima sampai tujuh orang. Di atas mejanya juga terdapat vas bunga, bunga itu sendiri diambil dari gua yang berada di Gunung Kunlun, kemudian dibudidayakan di kebun sekte yang telah menyerap energi spiritual dari Vena Naga selama lebih dari seminggu.
Bunga itu adalah bunga mawar dengan warna biru dan mengeluarkan sedikit embun es. Bunga ini bisa digunakan untuk mengobati racun api yang diderita oleh para pembudidaya. Tapi ada fungsi lainnya, yaitu menenangkan emosi orang dan melancarkan peredaran darah pada manusia yang menghirup aromanya.
Bunga ini tersebar luas di Galaxy Pusat, bahkan bisa dianggap sebagai tanaman liar. Namun untuk ukuran Bumi, cukup langka, tapi beruntungnya, di dalam gua Gunung Kunlun banyak sekali tanaman bunga ini.
Ketika anggota sekte yang baru saja berlatih melihat itu, mereka semua terperangah dengan mata terbuka. Ini adalah pemandangan yang menakjubkan dan jarang terjadi.
Ribuan orang dari Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia berdatangan kemudian duduk di meja yang telah disiapkan dengan arahan dari Ong Hei Yun serta Qin Nian.
Obrolan ringan terdengar saat mereka semua sudah duduk.
"Siapa yang bisa mengundang Ketua dari Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia untuk datang ke acara seperti ini? Lalu siapa pria tua yang memakai tongkat itu? Bagaimana dia bisa duduk di sebelah Ketua?"
"Aku tidak tahu, tapi karena Senior Ong Hei Yun berada di sini dan tampak akrab dengan orang-orang di sini, sepertinya Senior Ong mengenal pemilik sekte."
"Tapi yang pasti pemilik sekte ini adalah orang hebat, apakah kau merasakannya? Aura di sini sangat padat dan sepertinya ada pelindung yang hebat melindungi seluruh lembah ini."
Percakapan terus terdengar membuat kebisingan di meja makan. Hingga tidak lama kemudian terdengar suara merdu namun penuh kekuatan dari dalam Aula Sekte yang menarik perhatian semua orang.
__ADS_1
Terlihat wanita muda yang sangat cantik mengenakan seragam semacam gaun tradisional China berwarna abu-abu dengan pernak-pernik indah, dan mengenakan jubah berwarna putih.
Wanita itu memiliki rambut hitam terurai sampai ke pinggang, memiliki wajah putih cerah dengan bibir mungil berwarna merah muda yang menambah kesan. Wanita itu sangat terkenal di Daratan Huaxia, atau biasa disebut dengan istilah Bintang Huaxia, Yun Ning.
Para pria muda membelalakkan matanya saat melihat Yun Ning. Bahkan tidak sedikit pula dari mereka yang membuka mulutnya lebar dengan air yang menetes.
"Selamat pagi semuanya. Terimakasih atas kedatangan semua orang di upacara pembukaan sekte kami. Saya tidak akan berbicara banyak, karena bukan hak saya untuk menyampaikan pesan penting ini pada kalian semua." Yun Ning sedikit menekuk lututnya dengan kedua tangan ditangkupkan di depan pinggang kanannya.
Yun Ning berjalan menuju bagian kanan dari depan bangunan, dari jika dilihat dari para tamu, itu di bagian kiri. Ketika sudah sampai pada tempat yang telah ditentukan, ia berhenti dan menghadap ke arah bangunan sekte. "Tanpa berlama-lama lagi. Mari kita panggil Patriak Sekte!"
Seketika itu juga jantung semua orang berdegup kencang dan menahan napas karena penasaran dengan sosok pemimpin sekte.
Ketika mereka sedang berpikir, tiba-tiba di belakang bangunan utama terlihat cahaya berwarna biru yang melonjak beberapa ratus meter ke langit, menembus udara seperti pisau tajam. Bukan hanya itu saja, udara di sekitar mereka juga berputar-putar dan berembus kencang, kemudian terdengar suara auman yang mengerikan.
Auman ini, auman naga!
Perubahan suasana yang sangat cepat ini hampir membuat tubuh semua orang bergetar. Perlahan, setelah cahaya biru hampir meredup dan keadaan sekitarnya hampir tenang, secara tiba-tiba dari belakang bangunan utama melesat beberapa cahaya siluet cahaya lainnya yang terbang di langit.
Belasan cahaya itu terbang tinggi menembus awan, kemudian turun secara perlahan dan melayang beberapa puluh meter di atas bangunan sekte.
Terlihat belasan orang yang tampak muda menggunakan pakaian beladiri tradisional China berwarna abu-abu yang sudah sedikit ditambah dengan hiasan. Kemudian ditambah lagi dengan jubah megah berwarna merah yang melapisi seragam abu-abu.
Lalu yang lebih menarik perhatian semua orang, adalah pemuda yang mengenakan celana hitam panjang, mengenakan seragam putih yang dilapisi dengan jas hitam dikancingkan, dan jubah berwarna emas dengan hiasan giok di pinggang.
Ketika semua orang melihat belasan orang yang sedang melayang, mereka membelalakkan matanya dengan rahang yang hampir terjatuh. Itu karena mereka semua tidak berharap jika Patriak dan Penatua memiliki penampilan yang muda. Tapi dari itu semua, ada satu orang yang tubuhnya bergetar dengan air mata mengalir deras menjelaskan kerinduan.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1