
Mo Lian mengamati Ayahnya dalam memahami teknik yang telah diajarkan, sembari memindahkan kesadarannya terus-menerus pada kloningnya yang berada di dua tempat berbeda untuk melihat bagaimana keadaan di sana.
Memang menyulitkan dan bisa menjadi beban tersendiri bagi Kultivator karena terus memindahkan kesadaran, tapi lain halnya jika kekuatan jiwa orang itu sudah memenuhi syarat untuk menggunakannya.
Mo Lian juga menggunakan cara yang berbeda, awal-awal memang selalu mengalihkan kesadarannya, sehingga pandangannya selalu berubah pada tiga tempat. Namun sekarang ia membagi kesadarannya menjadi tiga bagian, tubuh utama 50%, kloning 25%.
"Oh? Alam dan Manusia, dia pergi melalui Samudra Pasifik, tidak melalui daratan ..."
Mo Lian mengalihkan pandangannya pada arah timur di mana Samudra Pasifik berada. "Aku akan menggunakan bayanganku saja untuk menghadapinya, aku akan mengirimkan setengah kekuatanku ke sana ..."
Mo Lian menutup matanya perlahan sembari menghirup napas dalam-dalam, dan membukanya secara tiba-tiba setelah menutup mata selama beberapa detik. Tubuhnya mengalami perubahan lagi, jubah emas serta mahkota yang samar-samar terlihat sudah menghilang secara total, aura dalam tubuhnya juga menurun secara signifikan.
"Tapi masih membutuhkan waktu lama untuk sampai pada bayanganku yang menunggu di sana." Kecepatan Leluhur Keluarga Rosth sangatlah lambat ketimbang kecepatannya.
Mo Lian kembali menoleh mengamati Ayahnya yang masih memahami teknik yang dikultivasikan. Saat ia mengamati keadaan Ayahnya, tiba-tiba datang beberapa orang yang berdiri di belakangnya.
"Master, apakah ini sudah selesai?"
Suara itu adalah milik Qin Nian yang berucap dengan berhati-hati karena tidak ingin lagi membuat Mo Lian sangat marah seperti hari sebelumnya.
Mo Lian menggeleng pelan dan menjawabnya tanpa menoleh, "Belum, pangkalan militer di Hawaii memang sudah hancur, tapi masih ada lagi Leluhur Keluarga Rosth yang sedang pergi melalui Samudra Pasifik, bayanganku yang di sana akan melawannya."
Tidak ada yang mempertanyakan apakah bayangan Mo Lian bisa menghadapi Leluhur Keluarga Rosth setelah mereka melihat kekuatannya secara langsung.
Berita mengenai pertarungan dari tiga tempat berbeda juga sudah ditayangkan secara langsung ke seluruh dunia melalui kamera satelit, meski gambarnya sedikit buram karena terlalu jauh dan terlalu banyak asap yang menghalangi pandangan.
"Meski Keluarga Rosth sudah hampir hancur, tapi itu tidak mendasari bahwa Daratan Huaxia sudah aman. Banyak lagi kekuatan yang bersembunyi di kegelapan, dan tidak tahu kapan akan muncul ke permukaan. Yang pasti, Bumi sudah tidak sama lagi seperti sebelumnya." Mo Lian melanjutkan perkataannya dengan suara datar dan tanpa menoleh.
Walaupun Mo Lian berkata dengan datar, namun perkataannya itu mampu membuat orang-orang di belakangnya merasa sangat lemah.
"Berlatihlah lebih giat dan perbanyak pengalaman dalam hal bertarung, persiapkan mental. Tekankan pada diri kalian, membunuh atau dibunuh. Setelah kalian memasuki jalan Kultivator Dao, hidup kalian sudah sangat berbeda ..."
Mo Lian terdiam sejenak memikirkan apakah harus memberitahu orang-orang di belakangnya tentang Alam Semesta. Meski ragu, tapi ia tetap melanjutkannya. "Bumi, itu hanyalah tempat terpencil jauh di ujung Alam Semesta yang sangat lemah, di luar sana masih banyak orang-orang kuat yang mampu menelan Matahari, menghancurkan gugus bintang seperti meniup debu!"
Wosh!
Tiba-tiba angin berhembus kencang menyebar ke segala arah menghilangkan awan hitam di langit.
Semua orang hanya bisa terdiam tanpa dapat membalas perkataan Mo Lian. Walaupun murid-murid Mo Lian sudah sedikit mengerti tentang Alam Semesta, tapi tetap saja ini masih mengejutkan bagi mereka, terlebih Wu Yengtu dan yang lain, yang mana sudah pernah melihat wujud asli Mo Lian.
***
Samudra Pasifik
Bayangan Mo Lian yang hampir memasuki perairan Amerika menghentikan gerakannya dan melayang beberapa mil di atas permukaan laut. Ia menutup matanya perlahan, dan membuka kembali secara tiba-tiba, bersamaan dengan jubah emas serta mahkota terlihat secara samar-samar menutupinya.
Mo Lian menyilangkan kedua lengannya di depan dada menunggu kedatangan Leluhur Keluarga Rosth yang jaraknya hanya tersisa 800 mil lagi, yang mungkin akan membutuhkan waktu satu jam.
Saat Mo Lian menunggu, tiba-tiba ada rudal balistik jarak jauh yang menyerang ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Hah..." Mo Lian menghembuskan napas panjang. Dengan malasnya ia mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya di udara di depannya.
Gelombang udara bertekanan tinggi melesat ke arah berlawanan dari rudal. Gelombang udara itu berasal dari jentikkan jari Mo Lian yang membuat tekanan udara di depannya, tekanan udara itu menghantam ratusan senjata yang mengarah padanya, menciptakan ledakan besar dengan angin menyebar luas seperti pedang tajam.
Raut wajahnya tetap tidak berubah saat terkena tiupan angin kencang, bahkan ia pun tidak berkedip sama sekali.
Mo Lian menutup matanya perlahan dengan kedua lengan disilangkan di depan, ia melayang di udara dengan santainya menunggu Leluhur Keluarga Rosth yang sebentar lagi akan datang.
Ketika Mo Lian menunggu kedatangan lawannya, ia selalu terkena serangan dari segala arah. Namun ia hanya diam tak bergeming dan melepaskan energi spiritualnya membuat pelindung, yang mampu menahan seluruh serangan.
Hingga puluhan menit berlalu, Mo Lian membuka matanya perlahan dan tiba-tiba angin mulai bertiup sangat kencang, sampai mampu membuat air laut bergelombang.
"Akhirnya kau datang juga, apakah kau juga akan membalas dendam terhadap cucumu? Putramu?" tanya Mo Lian menatap pria paruh baya di depannya.
Pria paruh baya mengenakan pakaian rapi, dengan jas panjang yang digantung di bahunya. Pria itu memiliki rambut pirang dengan kumis tipis, serta jenggot berwarna yang sama.
"Bukankah tentu saja? Setelah aku membunuhmu hari ini, aku akan membantai seluruh orang di Negara China untuk melepaskan kemarahan ku!" Pria itu berteriak lantang, menciptakan gelombang udara yang menyebar ke sekitar, dengan air laut yang naik ratusan meter ke langit.
Mo Lian hanya terdiam dan menatap datar tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi. Ia mengangkat tangan kanannya dengan jari tengah yang diperlihatkan pada orang di depannya. "Datanglah!"
Tubuh pria itu bergetar dengan amarah yang memuncak, ia merasa terhina. Bukan hanya Keluarga Rosth sudah hampir hancur, keluarga yang sudah berdiri ratusan tahun, dan sekarang malah mendapatkan hinaan dari bocah kemarin.
Dengan sedikit gerakan, pria tua itu menghilang di udara kosong dan muncul kembali tepat di belakang Mo Lian. Pria itu memutar tubuhnya dan menendang kepala bagian kiri Mo Lian menggunakan tumitnya.
Mo Lian hanya diam tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi, tidak ada sedikitpun rasa takut di wajahnya, karena baginya tidak ada lawan yang kuat di Bumi, yang mampu membuatnya mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Namun saat tendangan orang di belakang Mo Lian hampir mengenai wajahnya, ia menggerakkan tangan kirinya dengan sangat cepat dan menghalau serangan itu.
Bang!
Pria paruh baya itu memperlihatkan raut wajah yang tidak enak dipandang saat melihat apa yang terjadi di depannya. Tendangan yang menggunakan setengah kekuatannya ditahan oleh Mo Lian, bukan menggunakan lengan, melainkan jari telunjuk.
Mo Lian menjentikkan jarinya pada pergelangan kaki pria paruh baya yang berada di sebelah kepalanya.
Bam!
Kaki pria itu bergerak menjauh dari kepala Mo Lian, yang juga berdampak pada tubuhnya yang berputar-putar sangat cepat dan menjauh dari Mo Lian.
"Perbedaan kekuatan kita sangat jauh, berhentilah menyerang dan serahkan Inti Darah serta Inti Jiwa milikmu!" Mo Lian berbalik secara perlahan dan menatap pria paruh baya itu, sembari melepaskan aura membunuhnya.
Suara gemuruh terdengar menggelegar di langit saat ia melepaskan aura membunuhnya, air laut terus bergejolak dan menciptakan gelombang tsunami yang cukup tinggi untuk meratakan sebuah kota kecil.
Wajah pria paruh baya itu mengeras dengan urat-urat lehernya yang terlihat, amarahnya semakin memuncak saat mendengar perkataan itu. "Baji****! Aku akan membunuhmu!" teriaknya lantang sembari merentangkan kedua tangannya.
Energi spiritual berfluktuasi di sekitar pria yang tidak diketahui namanya itu, menciptakan fenomena yang cukup mengerikan. Sayatan angin bagaikan pedang bergerak ke segala arah yang mampu membunuh Fase Mendalam seperti membelah 'Tahu', cahaya merah gelap seperti api yang terbakar juga bisa terlihat di bawah kakinya dan perlahan mulai menutupi sekujur tubuhnya.
Mo Lian membiarkan hal itu, ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
Ketika cahaya merah yang menutupi Leluhur Keluarga Rosth mulai meredup, cahaya itu meledak sangat keras dan menyebar membentuk cincin merah yang mampu meruntuhkan gedung berlantai 70, bahkan gunung juga mampu untuk dibelah.
__ADS_1
Di tempat pria paruh baya berdiri sebelumnya, sudah terlihat seorang pria paruh baya dengan rambut pirang panjang menyentuh pinggang, taring panjang di bagian atas, mata merah menyala, serta sepasang sayap yang membentang sejauh 100 meter.
Mulut Mo Lian sedikit terbuka saat melihat itu, dan detik berikutnya terlihat seringai lebar di wajahnya. Akhirnya ia mendapatkan bahan untuk menyuling Pil Darah.
Kekuatan pria paruh baya itu hampir menembus tahap Akhir dari Alam dan Manusia. Itu adalah kekuatan yang sangat mengerikan untuk ukuran Bumi. Berada ditingkat keempat dalam tingkatan kultivasi termasuk pencapaian yang luar biasa.
"Beraninya kau menghinaku!" Pria paruh baya itu tiba-tiba muncul di depan Mo Lian dengan mata merah yang menatap tajam.
Mo Lian mendongak dan mencengkeram erat leher pria di depannya. Dengan telapak tangan terbuka, ia mengarahkan telapak tangannya pada kening pria paruh baya itu yang berada di antara alis.
"Inti Darah! Serap!"
Dari telapak tangannya muncul kabut berwarna biru yang mulai memasuki dahi Leluhur Keluarga Rosth.
"Arrgg—" teriakan pria paruh baya itu terhenti saat Mo Lian menekan tenggorokannya.
Bisa terlihat embun darah mulai keluar dari dahi pria paruh baya itu melalui pori-pori kulit, yang berkumpul pada satu titik dan mulai memadat membentuk kelereng kecil.
Inti Darah dari suatu klan atau ras adalah hidup mereka, barang siapa yang kehilangan Inti Darah, maka orang itu sudah bisa dikatakan sebagai sampah dan tidak berguna. Bahkan bisa dianggap tidak lagi memiliki hubungan dengan klan itu.
Penampilan pria paruh baya itu mulai mengalami perubahan yang cepat. Rambut pirangnya sudah berganti warna menjadi putih kusam, kulit segarnya juga berubah dan dipenuhi kerutan di wajah, bersamaan dengan kekuatannya yang jatuh hingga merosot tajam menjadi Ranah Inti Emas tahap Menengah.
Dengan tubuh bergetar, pria paruh baya itu mencoba menyerang Mo Lian menggunakan tangan kanannya. Ia mengayunkan tangannya mengarah pada pinggang Mo Lian.
Bang!
Dentuman lain kembali terdengar saat pukulannya menghantam benda keras. Terlihat jika di pinggang Mo Lian sudah terdapat dinding pelindung berwarna biru.
Mo Lian menatap tajam pria yang berada di cengkeraman tangannya. "Leluhur Keluarga Rosth, sangat lemah!"
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada tangan kanannya membentuk pisau pendek yang melapisi telapak. Ia memukulkan tinjunya pada bagian bawah dada pria tua itu hingga menembus.
Tangan kanan Mo Lian yang menembus dada pria tua itu dilumuri dengan darah segar, dan terdapat Inti Jiwa yang berada di antara jari telunjuk dan tengah, yang memiliki warna merah gelap.
Inti Jiwa itu bergetar mencoba melepaskan diri dari genggaman Mo Lian. Namun seberapa keras mencoba, itu tidak membuahkan hasil.
"Diamlah!" Mo Lian kembali menatap tajam Inti Jiwa, yang membuat Inti Jiwa itu tidak lagi bergetar.
Mo Lian menyimpan Inti Jiwa itu ke dalam artefak yang sama saat menyimpan Inti Jiwa milik Alexander Zhyvlach.
"Sangat lemah, bahkan sampai tidak bisa membuatku berkeringat. Aku juga hanya berdiri di tempatku berdiri tanpa berpindah tempat."
Mo Lian melihat darah yang melumuri tangan kanannya dan melapisi darah itu dengan energi spiritualnya. Kemudian ia membuat segel tangan dengan kecepatan tinggi, dan diakhiri dengan jari telunjuk dan tengah berada di antara alisnya. "Teknik Darah, Kutukan Darah Pembunuh!"
Darah yang melumuri tangan kanannya mulai bergerak dan membentuk gumpalan darah di depan matanya, memancarkan cahaya terang. Gumpalan darah itu terbagi menjadi bagian yang sangat kecil, bahkan hampir tidak terlihat dan menyatu dengan udara. Setelah terbagi, darah itu menyebar luas ke segala arah di seluruh Bumi.
"Aku tidak berharap jika masih ada banyak lagi keturunan dari Keluarga Rosth," ucap Mo Lian yang melihat langit. Ia mengalihkan pandangannya lurus ke depan. "Sekarang, saatnya pergi ke Gedung Putih! Aku ingin meminta kejelasan tentang penyerangan yang menggunakan senjata nuklir!"
...
__ADS_1
***
*Bersambung...