
Ketika Mo Lian sudah keluar dari bangunan utama, semua orang sedang memberi hormat pada bangunan yang baru saja dimasukinya. Atau bisa dikatakan sedang menghormatinya, mereka semua sedikit membungkuk dengan menangkupkan kedua tangan, entah itu di depan dada maupun di kanan depan pinggang.
Sepertinya pembicaraan tentang ia yang membunuh tingkat Wu-Sheng sudah beredar di seluruh anggota Pasukan Taring Naga maupun Aliansi Beladiri Huaxia. Mo Lian sendiri tidak mempermasalahkannya, karena baginya, itu tidak ada artinya.
Mo Lian menaikkan tangan kanannya membalas salam dari semua orang.
"Terimakasih kepada kalian semua yang sudah datang kemari, menghadiri upacara pembukaan sekte kecil kami." Mo Lian berjalan menuju tangga batu, kemudian berhenti saat berdiri di tengah-tengah tangga. "Meski acara hari ini sedikit ada masalah, tapi tidak apa-apa. Lalu meski ini hanya sedikit, tapi aku akan memberikan kalian sovenir."
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada cincin ruang, secara tiba-tiba di depannya muncul ribuan kantung kecil yang berisikan daun Pohon Surgawi yang belum diolah. Kemudian dengan kibasan tangannya, ribuan kantung itu melesat pada semua tamu yang hadir hari ini. Untuk satu kantungnya sendiri berisi lima sampai sepuluh lembar daun, tapi itu sudah sangat berharga.
Bahkan ia sendiri yakin jika perlembar daun dari Pohon Surgawi bisa dihargai dengan 100 sampai 200 ribu Yuan.
"Terimakasih, Patriak Sekte!" Semua orang membungkukkan badannya dengan menangkupkan kedua tangan memberi hormat pada Mo Lian.
Mo Lian menghela napas panjang dan menaikkan satu tangannya kembali membalas salam semua orang.
Puluhan menit kemudian, setelah pembicaraan yang tidak penting dan menyantap kembali makanan yang dibawa oleh pihak katering, semua orang berpamitan pada Mo Lian dan kemudian kembali ke tempat mereka masing-masing. Tidak terkecuali semua anggota sekte yang kembali ke rumah masing-masing.
Sekarang di tangga batu hanya ada Mo Lian seorang, ia duduk di tangga dengan pandangan lurus ke depan memandangi danau buatan yang memancarkan aura biru.
Cukup lama ia berdiam diri seorang diri, hingga tidak lama kemudian ada yang memeluknya dari belakang, orang itu adalah Qin Nian.
Mo Lian sendiri tidak pernah lagi mempermasalahkan hal ini. Anggap saja ini sebagai permintaan maafnya karena pernah membuat Qin Nian menangis, terlebih lagi ia sudah berjanji membawa Qin Nian pergi meninggalkan Bumi.
Berbicara tentang meninggalkan Bumi. Ia terdiam dengan kepala tertunduk, peningkatan kekuatannya terbilang sangat cepat, yang artinya waktunya untuk berada di Bumi tinggal sedikit. Alam dan Manusia, aku harap aku bisa tinggal sepuluh tahun lebih di Bumi, sebelum pada akhirnya terusir paksa dari Bumi karena hukum langit di sini.
"Ada apa, Lian?" Qin Nian menyelipkan kepalanya di sebelah kepala Mo Lian.
Saat ada yang melihatnya seperti ini, tidak akan ada yang pernah berpikiran jika keduanya adalah seorang Kultivator Dao dengan kekuatan yang sangat besar. Orang-orang akan berpikiran jika keduanya hanyalah pemuda-pemudi yang sedang memadu kasih.
Mo Lian tersenyum, ia mengangkat tangan kanannya mengusap pipi Qin Nian. "Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan ayahku yang telah hilang selama empat belas tahun."
Qin Nian hanya bisa terdiam dengan pandangan bersalah. Ia mengencangkan kedua tangannya yang melingkar di leher Mo Lian.
"Saat masalah dengan Organisasi Dunia Hitam berakhir, aku akan pergi mencari ayahku yang sudah lama menghilang." Mo Lian melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Qin Nian melonggarkan kedua tangannya, ia menatap wajah Mo Lian dari samping. "Apakah aku boleh ikut?"
Mo Lian menolehkan kepalanya, seketika itu juga wajahnya berdekatan dengan Qin Nian, bahkan bibir mereka berdua hampir bersentuhan.
"Ah!" Qin Nian tersentak dan melepaskan pelukannya.
"Maaf, untuk yang satu ini aku hanya ingin pergi sendiri. Aku harap kau bisa mengerti." Mo Lian menatap serius wajah Qin Nian.
Qin Nian membuka mulutnya hendak memprotes, namun diurungkannya saat melihat tatapan Mo Lian sangat sedikit mengancam. Akhirnya ia mengangguk dengan perlahan, ia sendiri tahu maksud Mo Lian yang ingin pergi sendiri, tentunya ada kalanya seorang yang ingin pergi sendirian, terlebih lagi ini adalah masalah anak dan ayah.
Ketika suasana diantara mereka berat dan hening, tiba-tiba ada suara wanita yang sedikit berteriak.
"Tidak adil!"
Mo Lian menolehkan kepala ke sumber suara, terlihat Yun Ning yang berdiri di halaman bawah dengan kedua tangan bertumpu di pinggang, serta wanita lainnya yang selalu berpenampilan terbuka, Ong Hei Yun.
Yun Ning mengangkat bagian bawah seragamnya agar memudahkannya untuk berlari, ia menaiki tangga batu dengan cepat, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Mo Lian.
"Yun Ning. Jangan menyusahkan Master." Qin Nian mencoba melepaskan pelukan Yun Ning di pinggang Mo Lian.
Qin Nian mengepalkan kedua tangannya dengan wajah memerah, kemudian kembali melingkarkan tangannya di leher Mo Lian seperti tadi.
Mo Lian yang berada di tengah-tengah hanya bisa terdiam dengan pandangan malas dan menghela napas panjang. Ia menaikkan pandangannya melihat Ong Hei Yun yang masih berdiri di halaman bawah, terlihat pakaian yang dikenakannya sedikit kusam dengan sobekan, lalu di bagian siku, lengan, lutut dan wajahnya terlihat luka goresan yang mengeluarkan darah.
Melihat itu, Mo Lian mengarahkan jari telunjuknya pada Ong Hei Yun. Di ujung jarinya muncul energi spiritual berwarna biru, kemudian energi spiritual itu melayang perlahan menghampiri Ong Hei Yun dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Mo Lian tersenyum tipis saat luka-luka Ong Hei Yun sudah membaik. Sekarang yang jadi masalah adalah, ia bingung harus bagaimana meladeni dua wanita yang lebih tua darinya, namun memiliki sikap seperti anak kecil, Qin Nian dan Yun Ning.
Tapi meski begitu, Mo Lian tidak pergi dari tempatnya. Bahkan adiknya, Mo Fefei juga ikut datang dan menahannya agar tidak pergi, hingga hari mulai petang, barulah mereka semua beranjak, dan itupun karena diomeli oleh ibunya.
***
Waktu terus berjalan, tidak terasa sudah lima hari berlalu. Hari ini adalah hari Kamis tanggal 19 November 2020, hari ini adalah hari keberangkatan mereka ke Kota Fuzhou, Provinsi Fujian, yang mana bersebelahan langsung dengan Selat Taiwan.
Kini, Mo Lian berada di halaman depan bersama dengan Ibu dan Adiknya. Lalu di luar halaman sudah menunggu sebelas orang yang akan berangkat bersama dengannya.
__ADS_1
"Ibu, aku sudah ditunggu semua orang." Mo Lian menepuk-nepuk punggung Ibunya yang sedang memeluknya.
"Sebentar lagi," balas Su Jingmei yang mempererat pelukannya.
Mo Lian hanya bisa terdiam dan menghela napas panjang. Beberapa menit kemudian, barulah Ibunya melepaskan pelukannya.
Su Jingmei menatap wajah Mo Lian sembari menekan pundak Mo Lian agar sedikit merendah.
Merasakan itu, Mo Lian menekuk lututnya agar tingginya sejajar atau lebih rendah dari Su Jingmei. Kemudian ia merasakan basah dan lembut secara bersamaan di keningnya, menandakan bahwa ia baru mendapatkan kecupan dari Ibunya.
"Jaga baik-baik dirimu, jangan lupa memberikan kabar sesaat setelah tiba di sana," ucap Su Jingmei.
"Baik, Bu." Mo Lian mengangguk kecil. Ia menolehkan kepalanya menatap Mo Fefei yang berdiri di samping Ibunya. Tanpa berlama-lama lagi ia memeluk Mo Fefei. "Apakah kau ingin Kakakmu yang tampan ini membelikan sesuatu saat di sana nanti?"
Masih berada di dalam pelukan Mo Lian, Mo Fefei mendongakkan kepalanya. "Fefei ingin makanan khas dan apapun yang berharga di sana ..."
Mo Fefei terdiam sejenak memikirkan hal gila, kemudian kembali melanjutkan perkataannya, "Apakah aku boleh ikut Kakak pergi ke Provinsi Fujian?"
Seketika itu juga Su Jingmei menatap tajam Mo Fefei, membuat tubuh Mo Lian dan Mo Fefei bergidik ngeri. "Oh? Coba katakan sekali lagi," ucapnya pelan, namun di dalamnya terdapat aura mengerikan.
Mo Fefei mendorong tubuh Mo Lian, dan mundur beberapa langkah dengan senyum canggung terukir di wajahnya. "Haha haha, maaf, Bu. Aku hanya bercanda saja."
Mo Lian menggeleng pelan, ia berjalan menghampiri Mo Fefei dan mengusap lembut puncak kepalanya. "Kau harus sekolah, dengarkan kata Ibu."
"Baiklah. Ibu, aku berangkat." Mo Lian mengalihkan pandangannya pada Su Jingmei. Kemudian berjalan menuju mobil yang berada di depan kediaman setelah diberikan izin oleh Su Jingmei.
Mo Lian naik mobil yang sama dengan Xu Xumei dan para orang tua. Sedangkan Qin Nian dan Yun Ning di mobil lainnya.
Setelah semua orang sudah naik ke mobil masing-masing, mobil yang mereka kendarai akhirnya bergerak dengan kecepatan stabil menuju Bandara Shuangliu Chengdu.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1