Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 365 : Api Pembantaian dan Jalan Hantu


__ADS_3

Mo Lian tahu orang asing yang datang ini tidak biasa, karena mampu melewati Array Pertahanan dan kekuatannya pun lebih tinggi dari Tetua Kesembilan yang dilawannya minggu lalu. Tapi, tidak ada ketakutan di wajahnya, melainkan kegembiraan karena mendapatkan bahan untuk menyuling pil.


Dia ingin menerobos tahap Akhir dan menembus Dewa Bumi. Untuk menembusnya, sumber daya dan waktu yang dihabiskan tidak sedikit, dan saat melihat kedatangan orang asing, dia sangat beruntung.


"Sepertinya, aku harus mengubah Array Pertahanan. Array ini hanya melindungi serangan fisik, tidak menyegel ruang, jika tidak, tidak akan ada yang menyusup seperti ini." Mo Lian menghela napas, akhirnya tahu mengapa banyak yang menyerang pada Zaman Keemasan.


Tapi yang tidak diketahui Mo Lian, Array Pertahanan yang dipasangnya sudah lebih kuat dari Array Pertahanan pada Zaman Keemasan. Hanya saja Mo Lian terlalu terburu-buru dalam memasangnya, itu pada saat Nadi Naga baru terlahir, sehingga kekuatan yang dibawanya terlalu rendah.


"Oh? Ada pembudidaya kuat yang menunggu kita? Tapi, sekuat apa pun dia, dia hanyalah Dewa Hita—" Bahkan sebelum sempat mengakhiri kata terakhirnya, wanita itu menangkap tangan yang muncul dari kekosongan.


Wanita itu tidak bisa melihat bagaimana Mo Lian sudah berada di depannya dengan tangan yang berusaha menangkap kepalanya. Jika ini tersebar, mau taruh di mana mukanya? Tidak mampu menangkap pergerakan Dewa Hitam? Itu sangat memalukan!


Mo Lian menangkap kepala wanita dan menariknya ke bawah bersamaan dengan mengangkat lututnya.


Booom!


Kepala wanita itu menghantam lutut Mo Lian, menimbulkan gelombang kejut yang menggetarkan udara saat suaranya menggema dan menimbulkan badai angin.


Yang lain, yang terasa seperti pria tua dari suaranya itu terdiam dengan mata terbuka lebar di balik penutup kepala dan rahangnya hampir terjatuh. Ia tahu pihak lawan hanyalah Dewa Hitam, tapi dari kecepatan barusan, tidak berbeda dengan Dewa Bumi tahap Menengah, yang artinya setara dengan kekuatan mereka berdua.


Tanpa menoleh, Mo Lian mengibaskan tangannya ke belakang.


Pria tua dengan nama panggilan Penatua Hantu itu mengerutkan keningnya saat melihat kibasan tangan Mo Lian yang tidak menghasilkan apa-apa. Tapi, tiba-tiba ia merasakan sakit di pinggang kirinya dan detik berikutnya, ia terlempar.


Jika dilihat secara teliti, terlihat ada cairan merah yang melayang di udara tempat Jalan Hantu berdiri sebelumnya. Itu adalah darah yang keluar setelah Penatua Hantu terkena Niat Pedang.


Wanita yang menghantam lutut Mo Lian, terlihat sangat marah, ditandai dengan adanya energi oranye yang menyelimuti tubuhnya dan suhu mulai naik.


Bang!


Wanita itu berdiri tegak, mendorong Mo Lian untuk menjauh darinya. Jubah yang dikenakannya terlepas karena ledakan auranya. Rambut biru langitnya berkibar seperti ada angin yang meniupnya dari bawah, matanya berwarna oranye dengan tatapan yang dalam, seperti mampu menelan jiwa semua orang yang melihatnya. Pakaian berwarna merah menyelimuti tubuhnya, itu terbuka pada bagian perut dan bahu, serta tidak mengenakan rok, melainkan celana.


Walaupun terlihat sangat kuat, tapi ledakan auranya hanya membuat Mo Lian mundur tiga langkah.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya di depan dada dengan dua jari menghadap langit. "Tekan!"


Tiba-tiba terdengar suara gema di langit, kemudian samar-samar ada dua pelindung berbentuk bola yang tercipta. Dua pelindung itu berasal dari permukaan tanah dan atmosfer terluar. Kedua pelindung itu bergerak ke arah yang berlawanan, satu ke atas dan yang lainnya turun.


Bang!


Ketika dua pelindung bertemu, dentuman keras dengan gelombang kejut menyebar, bersama wanita dengan panggilan Penatua Pembantaian. Nama itu diambil dari kebiasaannya yang akan membantai musuh-musuhnya dengan membakar mereka. Begitu pun dengan Jalan Hantu, membunuh musuhnya dengan cepat, dan siapa pun yang bertemu atau melihat wajahnya, akan langsung mati.


Tapi, sangat disayangkan mereka berdua bertemu dengan Mo Lian.


Penatua Pembantaian dan Penatua Hantu bergetar saat tekanan kuat berkumpul dari atas dan bawah mereka, menakan mereka berdua sampai kesulitan untuk bergerak.

__ADS_1


Penatua Pembantaian hanya tertekan sebentar, sebelum akhirnya kembali meledak. Aura kuat itu menyebar ke segala arah dengan kekuatan luar biasa, langit berubah menjadi merah dengan oranye yang bercampur, seolah-olah Matahari telah turun di dalam atmosfer Bumi.


Ketika aura Penatua Pembantaian meledak, terdengar suara keras seperti kaca yang pecah. Itu adalah tekanan yang mencoba menahannya dari atas dan bawah.


Penatua Hantu juga tidak tinggal diam, ledakan lain berasal dari tubuhnya saat aura hitam menyebar dari tubuhnya membentuk kabut. Aura energi spiritual mulai menyusut secara signifikan, tapi untungnya hanya dalam radius 1000 mil, tapi, itu tetaplah kerugian.


Mo Lian memiliki ekspresi muram saat mengetahui aura spiritual mulai menurun, ini membuatnya kesal karena kerja kerasnya dihancurkan. Tapi ekspresi muramnya disalahartikan, mereka menganggap Mo Lian ketakutan karena mengeluarkan kekuatan asli mereka.


Penatua Hantu mengkultivasikan pedang, kekuatannya bisa dibilang yang terkuat di bawah Tetua Pedang di kelompok mereka. Jika Aliansi 10.000 Ras bertemu, Aliansi 10.000 Ras tidak akan mampu bertindak banyak.


Penatua Hantu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tubuh sedikit membungkukkan; tangannya membawa pedang berwarna hitam yang memancarkan aura hitam, itu mengandung teriakan jiwa yang liar, seperti kesakitan dan mengeluarkan suara menakutkan.


Teriakan jiwa itu adalah korban yang selama ini dibunuhnya, mereka sangat marah karena jiwa mereka tidak dibiarkan bereinkarnasi atau dihancurkan dan malah disiksa seperti itu, membuatnya berubah menjadi jiwa liar penuh dendam.


Penatua Hantu melesat seperti udara tanpa meninggalkan jejak, bahkan kabut hitam yang mengelilinginya tidak bergerak dan tetap pada tempatnya.


Penatua Pembantaian bergerak, mengangkat kedua tangan di depan dada dan mengatupkannya. Kemudian mengangkat tangan kanannya dan tangan kirinya yang jatuh ke bawah seperti memukul.


Bang!


Tirai api tiba-tiba muncul dalam kekosongan udara. Yang sebelumnya suhu sudah naik, kini kian bertambah bahkan pepohonan yang jaraknya ribuan mil di bawahnya mulai layu dan mengering. Bahkan Kekaisaran Huaxia yang sudah dilindungi oleh Array Tembok Nasional bisa merasakan suhu dan tekanannya.


Penatua Pembantaian sangat marah dan tawanya menggelegar ketika melihat Mo Lian yang diam membeku. Ia sudah menganggapnya mati!


Mo Lian tidak peduli dengan Penatua Pembantaian. Ia menarik kaki kirinya ke belakang saat berbalik dan sedikit membungkuk.


Dalam posisi sedikit membungkuk, Mo Lian menggenggam udara kosong dan terlihat ada energi putih yang berkumpul di sana. Ia mengibaskan tangannya secara vertikal.


Tebasan Mo Lian tidak menimbulkan efek visual, tapi tiba-tiba terdengar ledakan keras pada dua pedang yang dibawa Penatua Hantu yang jaraknya masih beberapa mil darinya.


Penatua Hantu tidak berharap reaksi Mo Lian sangat cepat, dan itu sudah termasuk serangan. Ini baru satu detik setelah ia terlempar karena serangan awal, dan serangan kembali terlempar saat masih berada dalam kejutan.


Bang!


Tanpa diduga, tirai api itu menghantam Array Tembok Nasional, mengakibatkan array itu sedikit bergetar meski tidak ada goresan.


Gruoahhhh!


Raungan naga menggema di langit saat Array Tembok Nasional aktif, dan itu membuat aliran energi spiritual yang sebelumnya kacau kembali tenang, bersamaan dengan suhu yang kembali turun di Kekaisaran Huaxia.


Fluktuasi energi berkumpul di langit Sekte Dongfangzhi, itu membentuk pusaran cahaya yang menarik semua energi di sekitar. Kilauan emas berkumpul membentuk sebuah energi berbentuk bola yang terus memadat.


Hanya dalam waktu seperkian detik, kekuatan yang setara dengan Dewa Bumi sudah berkumpul. Kemudian energi itu meledak, menembakkan cahaya emas membentuk laser yang membelah udara dan menembus awan di langit.


Tirai api itu terbelah dan menyebar seperti kabut yang ditiup angin kencang; sinar emas seperti laser itu terus bergerak sampai menyebarkan semua tirai api.

__ADS_1


Penatua Pembantaian merasakan bahaya saat sudah bersiap-siap akan menyerangnya, tapi tiba-tiba tubuhnya tidak bisa bergerak; diam membeku di udara. Ketika matanya bergerak mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi, ia bisa melihat Mo Lian yang mengarahkan tangannya padanya. Pada tangan Mo Lian itu terlihat ruang yang terdistorsi, dan samar-samar merasakan kekuatan Hukum yang luar biasa.


Booom!


Serangan laser menghantam Penatua Pembantaian yang bahkan masih tersentak dalam pemikirannya sendiri. Tubuhnya dimakan oleh kekuatan yang tidak terbayangkan olehnya.


"Brengs**!" Penatua Hantu sangat marah.


Mo Lian sudah mengabaikan Api Pembantaian sejak awal. Sekarang hanya fokus pada Jalan Hantu.


Whooooosh!


Penatua Hantu mendapatkan kendali atas tubuhnya lagi dan bergerak lebih cepat dari sebelumnya seperti hantu. Ia tiba di samping Mo Lian, kemudian melepaskan aura penindasan yang dimilikinya dan ditahannya.


Penatua Hantu tiba dengan tangan kanan menyilang, kemudian mengayunkan; menebas leher Mo Lian dengan tekanan dari Niat Pedang yang dimilikinya.


Mo Lian merasakan bahaya dari tebasan Jalan Hantu. Tanpa ragu, ia mundur beberapa mil hanya dengan lompatan kecil.


Slash!


Tebasan Penatua Hantu melewati leher Mo Lian.


Jalan Hantu tersenyum melihat Mo Lian yang menjauh. Ia melihat pedang di tangannya yang basah, dan terlihat ada darah merah keemasan yang menetes dari ujung pedangnya. Ketika ia mendekatkan ujung pedang ke mulutnya, tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah.


"Ini ..." Penatua Hantu mengetahui darah yang mengalir di pedangnya. "Tubuh Emas? Hahahaha! Aku mendapatkan harta karun!"


Mo Lian menyentuh lehernya dan memang terasa basah; ada darah yang mengalir meski sayatan itu hanya setipis kertas. "Darah?" Ia sedikit terkejut sesaat sebelum tersenyum. Sudah lama semenjak ia mendapatkan luka, dan karena luka inilah yang membuatnya semakin bersemangat.


Mo Lian tersenyum, dan dengan lambaian tangannya, auranya meningkat pesat dari tahap Menengah dari Dewa Hitam ke Dewa Bumi.


Angin bertiup kencang dengan celah spasial yang terbuka di langit seperti kaca yang pecah. Suara burung terdengar di langit, samar-samar terlihat sayap yang membentang luas. Sayap itu terlihat bersembunyi di antara awan, dan yang terlihat hanyalah sayap yang membentang di seluruh langit Kekaisaran Huaxia dan belahan Bumi yang sama.


Senyum Penatua Hantu membeku ketika merasakan tekanan yang terus menindasnya. Perasaan ini lebih kuat daripada saat kekuatannya ditekan oleh Array Pertahanan, dan ia merasakan firasat buruk.


Bang!


Laser yang menelan Penatua Pembantaian meledak, memperlihatkan Penatua Pembantaian yang menghitam karena terbakar. Bahkan, Element Api yang dikuasainya tidak mampu menahan serangan dari Array Tembok Nasional.


Mo Lian sudah mengharapkan hal itu, meski Jia Shenjun mengatakan mampu menahan dan menyerang balik Dewa Bumi, ia tidak memiliki keyakinan tinggi. Bagaimanapun, zaman telah berubah, Bumi bahkan tidak memiliki ukuran sepersepuluh dari ukuran Bumi di Zaman Keemasan.


"Jika aku menghadapinya di luar Array Pertahanan, ini akan sangat sulit. Tapi, aku tidak bisa berlama-lama." Ketika melihat keadaan alam di luar Kekaisaran Huaxia, Mo Lian hanya bisa menghela napas berat.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2