
Mo Lian mendarat sekitar 500 meter dari gerbang kota di bagian utara dari Kota Tanzhuan yang tembok kotanya berwarna merah bercampur cokelat, dengan tinggi hampir mencapai 100 meter. Gerbangnya juga tidak terbuka dengan cara di dorong, melainkan diangkat.
Kota Tanzhuan adalah kota yang memiliki luas setengah dari Daratan Huaxia, China. Kota Tanzhuan merupakan Ibukota dari Kekaisaran Tang.
Mo Lian berjalan santai menunju gerbang utara, yang jalannya terbuat dari aspal dan terbagi menjadi dua jalur, meski hanya sepanjang satu mil dari depan gerbang kota.
Pada pembatas jalan juga ada tiang dan ada penerangan jalan yang menggunakan Batu Spiritual kualitas Menengah sebagai media, yang di permukaan tanah terdapat pola Mantra Element Cahaya.
"Teknologi semacam ini sudah banyak di Bintang Utama." Mo Lian melirik sekilas dan kemudian fokus pada jalan.
Mo Lian terus berjalan kaki di trotoar yang dinaungi oleh pohon rindang. Gerbong kereta kuda juga berlalu lalang di jalan utama, dan tidak ada yang berhenti untuk memberikannya tumpangan.
"Ada Gerbang Dimensi di Kota Tanzhuan, aku akan mencari barang berharga di sini untuk beberapa hari, kemudian pergi ke Daratan Tianzu."
Mo Lian menghentikan langkah kakinya, kemudian menengadahkan kepala melihat langit yang luas. "Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya aku merindukan Fefei kecil."
Mo Lian menunduk dan kembali melangkah seraya menyentuh dedaunan yang berada di sebelah kirinya. Pagar bunga setinggi pinggang orang dewasa juga menjadi hiasan di jalan utama dan menambah kesannya.
Banyak tatapan mata gadis-gadis muda maupun dewasa yang melihat Mo Lian sedang menyentuh bunga. Penampilan Mo Lian sendiri terlihat seperti seorang Sarjana dari keluarga terpandang, dan tidak terlihat seperti Kultivator.
Wajah Mo Lian terlihat sangat halus bagaikan sutra, mata hitam berkilau dengan bibir merah merona. Mengenakan pakaian biru muda dengan jubah hijau daun, dan membawa kipas di tangan kanannya.
Pada bagian pinggang juga terlihat Plat Giok dari Sekte Dongfangzhi, yang tidak diketahui sama sekali oleh orang-orang di Bintang Tianjin.
Mo Lian berbalik melihat ke seberang jalan, terlihat banyak sekali wanita yang memandanginya. Ia menundukkan kepalanya pelan, dan memperlihatkan senyum indahnya.
Jadi teringat akan masa lalu.
Setelah memberikan senyuman, Mo Lian kembali berjalan menyusuri trotoar menuju gerbang kota.
Ketika sudah sampai di gerbang kota, Mo Lian diberhentikan oleh petugas berseragam yang atasannya berwarna hitam kecokelatan, dan celana abu-abu.
Petugas berambut hitam panjang teringat itu tidak membawa pedang sebagai senjatanya, melainkan pistol yang amunisinya menggunakan Batu Spiritual. "Identitas?"
Mo Lian merogoh lengan bajunya dan mengeluarkan Tanda Pengenal berwarna hitam yang tepiannya ada garis halus emas, serta ada gambar menara tinggi di tengah-tengahnya.
Petugas itu melihat sekilas, kemudian membiarkan Mo Lian memasuki Kota Tanzhuan.
__ADS_1
Mo Lian melihat banyak sekali bangunan yang terlihat megah dan bergaya, namun tidak ada bangunan yang lebih tinggi dari Menara 100 Lantai. Dari hal ini, ia menyadari jika Kekaisaran Tang tidak mempermasalahkan tentang tinggi bangunan.
Biasanya, ada Kaisar yang marah saat ada bangunan yang lebih tinggi dari kediamannya, karena itu merupakan suatu hinaan secara terang-terangan. Karena itulah, tidak jarang Kaisar akan mengirimkan pasukan untuk memberikan peringatan, dan bisa menjadi pembantaian.
Mo Lian menoleh ke kiri dan berjalan menuju tembok di sebelah gerbang. Kemudian ia bersandar di sana seraya menutup matanya perlahan, menyebarkan kesadarannya menutupi seluruh penjuru Kota Tanzhuan.
Tidak lama kemudian, hanya berselang belasan detik sejak Mo Lian menutup mata. Kini ia membukanya kembali dan memperlihatkan senyum tipis yang terukir di wajahnya. "Ada, aku tidak berharap akan benar-benar ada harta berharga di Kota Tanzhuan. Tapi, harta itu berada di pusat kota, yang sepertinya Kediaman Tang."
"Lalu, ada Dimensi Ruang yang berada di langit Kediaman Tang."
Mo Lian kembali melangkah tanpa tujuan. Memasuki Kediaman Tang sangat mudah, bahkan jika ada penghalang, aku bisa menembusnya tanpa diketahui. Tapi, apakah aku harus masuk begitu saja?
Mo Lian menggeleng pelan, meski ia bisa masuk dengan mudah, ia tidak akan mengambilnya langsung. Itu hanya akan mencoreng nama baik dari Dewa Semesta, dan mendapatkan ceramah dari Su Jingmei jika diketahui.
Akhirnya, Mo Lian memutuskan untuk pergi ke penginapan yang berdekatan dengan Kediaman Tang, sekaligus untuk mencari informasi tentang Kota Tanzhuan.
Tentu saja ia tidak berjalan kaki, melainkan berpindah tempat dengan merubah tubuhnya menjadi embusan angin yang bergerak sangat cepat.
Sebesar dan seindah apa pun kotanya, pasti akan selalu ada gang kecil yang sangat gelap tanda adanya orang. Dan Mo Lian muncul di sana, yang tidak jauh dari penginapan mewah di Kota Tanzhuan.
"Paviliun Merak Putih, namun tidak ada unsur merak."
Mo Lian berjalan menuju Paviliun Merak Putih yang dijaga oleh belasan petugas dengan setelan jas hitam. Ia menggantung identitasnya yang diberikan oleh Menara 100 Lantai, dan dipersilakan masuk begitu saja tanpa adanya pemeriksaan lebih lanjut.
"Ada yang bisa dibantu?" Wanita muda berambut pirang duduk di belakang meja resepsionis mengenakan setelan hitam.
"Aku ingin menginap selama tiga hari di sini, berikan kamar terbaik di lantai teratas." Mo Lian meletakkan identitas dari Menara 100 Lantai.
Wanita resepsionis itu mengangguk kecil, kemudian berucap, "Tiga puluh Batu Spiritual kualitas Menengah."
Mo Lian meletakkan Batu Spiritual di atas meja dan menerima kartu kuning yang merupakan kunci untuk membuka kamar. Ketika ia baru mengambilnya, ia mendengar adanya pembicaraan yang menarik perhatiannya.
"Apakah kalian sudah bersiap-siap? Yang Mulia Kaisar akan membuka kediamannya, untuk mencari siapa saja yang mampu membuatkan Talisman Kesengsaraan Petir tingkat Lima. Barang siapa yang mampu membuatnya, maka Yang Mulia Kaisar akan memberi kesempatan kepada pemenang untuk mengambil harta dari Ruang Harta ..."
"Aku juga mendengarnya, dan siapa saja yang berpartisipasi, setidaknya bisa membuat setingkat Tiga. Mereka akan dibawa masuk ke dalam Dimensi Ruang milik Kekaisaran Tang, dan membiarkan untuk mengambil sumber daya di sana atupun berlatih ..."
Mo Lian menaikkan sudut bibirnya. Ia sangat senang dan seperti keberuntungan datang menghampiri. Ia baru tiba tidak sampai sepuluh menit, namun sudah menemukan cara untuk masuk ke dalam Kediaman Tang.
__ADS_1
Mo Lian terus mendengarkan pembicaraan dan mendapat informasi jika Kediaman Tang akan terbuka dalam waktu dua hari lagi. Ada juga informasi yang tidak terlalu penting, bagi siapa saja yang bisa mengesankan Kaisar Tang, maka akan dijodohkan dengan Putri Kedua.
Perjodohan? Tidak penting!
Mo Lian berjalan menaiki tangga beton yang tidak jauh dari meja resepsionis, pergi menuju lantai sembilan.
***
Kota Yanshue, Kekaisaran Yang, Daratan Tianzu
Seorang pria paruh baya berambut hitam panjang, alis tajam bagaikan pedang dengan jenggot hitam panjang. Mengenakan pakaian oranye dengan jubah emas dan ada Mahkota Kaisar di atas kepalanya.
Yang Haoshan adalah pria paruh baya yang merupakan Kaisar dari Kekaisaran Yang. Ia sedang duduk di Singgasana, terlihat aura merah kehitaman yang terpancar keluar dari tubuhnya.
"Bagaimana bisa Fan Cheng terbunuh di Daratan Tianming?!" Yang Haoshan sangat kesal dan membanting tangan kanannya di atas meja di sebelah kanannya.
Fan Cheng adalah adik ipar dari Yang Haoshan, yang mana sedang menyamar sebagai Liiu Hui Jun dan bertugas di Kota Jenzhuan, Provinsi Xan, Kerajaan Cai.
Belasan Penatua yang ada di satu ruangan hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk, tidak ada yang berani mengangkat kepala ataupun menjawabnya.
Yang Haoshan benar-benar marah karena tidak ada yang menjawabnya sama sekali. Ia berdiri dan menghancurkan Singgasana, dengan aura kultivasinya yang terlepas, membuat semua orang di dalam ruangan tertekan.
"Pergi ke Kota Tanzhuan! Bunuh Kaisar Tang! Aku tidak peduli bagaimana kalian melakukannya!"
Belasan Penatua yang tertekan itu mencoba untuk berdiri, dan menganggukkan kedua tangan dengan lengan yang bergetar.
"Ba- Baik, Yang Mu- Mulia Kaisar."
Dengan kibasan tangan kanannya, Yang Haoshan melemparkan belasan Penatua keluar dari ruangan, bahkan sampai merusak pintu.
Ketika semua orang sudah keluar, Yang Haoshan berbalik memasuki pintu rahasia di bawah Singgasana yang ia sembunyikan. "Aku Yang Haoshan akan membantai Kekaisaran Tang, dan menguasai Bintang Tianjin!"
...
***
*Bersambung...
__ADS_1