
Mo Lian menyilangkan kedua lengannya di belakang kepalanya, sembari merebahkan diri dan melihat langit-langit ruangan. "Pil Jiwa, tidak ada yang berani memurnikan pil itu jika tidak dibantu oleh Kultivator yang lebih kuat, dan mengerti dalam pengendalian kekuatan jiwa. Jika tidak, hanya kematianlah yang menanti."
Mo Lian mengangkat tangan kanannya seperti hendak menggapai sesuatu. "Tapi aku berbeda!" Ia mengepalkan tangannya.
"Hanya perlu menunggu satu tahun lagi, Master akan datang ke Bumi!"
Mo Lian menutup matanya perlahan, dan tidur dengan pulas. Ia tidak perlu terlalu bersiaga, karena kamar yang disewanya sudah dipasangi formasi array. Untuk memasang formasi array, ia tidak perlu melakukan persiapan, karena array yang digunakan adalah array sementara, terlebih kekuatannya yang telah meningkat, ditambah memiliki alat dari Cincin Ruang yang diterimanya.
***
Keesokan Harinya
Pagi-pagi sekali, sebelum Matahari terbit, Mo Lian sudah keluar dari kamar hotel dan pergi kembali ke dimensi ruang yang berada di Tebing Shiuhai, untuk memurnikan Pil Jiwa dan meningkatkan kekuatan jiwanya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuknya saat menyerap semua energi murni yang terkandung di dalam Pil Jiwa, dan prosesnya juga tidak berbeda jauh saat menyerap Pil Darah. Hanya saja, rasa sakitnya lebih menyakitkan karena ia harus mengalami perubahan besar pada Inti Jiwa.
Inti Jiwa Mo Lian mengalami lima kali kerusakan dalam proses memurnikan Pil Jiwa, banyak sekali retakan-retakan, dan yang terakhir Inti Jiwanya sedikit terpotong, sekitar ukuran satu butir beras. Meskipun hanya berukuran kecil, tapi rasanya sangat menyakitkan.
Tapi untungnya ia berhasil, dan mengubah Inti Jiwanya menjadi bercahaya keemasan, dengan pola-pola kuno yang terukir di sana. Dengan demikian, ia memiliki ketahanan, dan Inti Jiwanya tidak mudah dihancurkan, kecuali lawannya adalah Dao Immortal keatas.
Mo Lian kembali beristirahat untuk beberapa saat setelah menyerap energi murni yang terkandung di dalam Pil Jiwa. Ia terlentang di atas rerumputan yang berada jauh di bagian tempatnya memurnikan pil.
"Itu tadi sangat menyakitkan, dan untungnya aku membawa beberapa baju ganti, serta handphone milikku sudah ku simpan di dalam Cincin Ruang."
Mo Lian menutup matanya perlahan, kemudian membukanya lagi secara tiba-tiba saat memikirkan ide gila. Ia berdiri dan menepuk-nepuk rumput yang menempel pada pakaiannya, kemudian berlari menuju portal cahaya.
Tanpa berlama-lama lagi, setelah berhasil keluar dari dimensi ruang. Mo Lian terbang ke arah barat baya untuk menemui Ibunya dan meminta izin. Memang bisa meminta izin dengan cara meneleponnya, namun ia tidak ingin melakukan hal itu, karena ia harus pergi ke Perusahaan Meiliafei dan memberikan Embun Spiritual yang sudah dibuatnya.
Biasanya yang bertugas untuk memberikan Embun Spiritual adalah Mo Fefei, atau Mo Qian sendiri.
Mo Lian terbang di atas awan untuk tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang berada di bawah, dan hanya membutuhkan belasan menit saja untuk sampai di langit Perusahaan Meiliafei.
Mo Lian pergi ke belakang gedung dan mendarat di tempat yang sepi, kemudian pergi ke bagian depan bangunan.
Kedatangan Mo Lian yang mengenakan pakaian biasa itu sedikit mengejutkan pihak keamanan, dan ia hampir diperika karena penampilannya. Namun sebelum itu, ia mengeluarkan tanda pengenal sebagai Ketua Divisi Penelitian Obat.
__ADS_1
Jika ini di perusahaan lain, mungkin Mo Lian sudah diusir, sebelum dapat melangkah lebih jauh.
Setelah ia keluar dari dimensi ruang di Pegunungan Himalaya, ia tidak pernah sekalipun berkunjung ke Perusahaan Meiliafei, karena hal itulah banyak yang tidak mengenalinya.
Mo Lian berjalan menghampiri meja resepsionis yang dijaga oleh wanita muda berambut hitam panjang terikat, mata hitam dan bibir merah muda. Wanita itu mengenakan pakaian resmi yang biasanya digunakan untuk bekerja.
"Ada yang bisa dibantu?"
"Aku ingin bertemu dengan Su Jingmei."
Resepsionis itu terdiam sejenak dengan tatapan tidak nyaman, kemudian bertanya dengan sopan, "Apakah Anda sudah membuat janji dengan Beliau?"
"Belum." Mo Lian menggelengkan kepalanya pelan.
Wanita itu tersenyum hangat dan tidak memperlihatkan ketidaknyamanan, karena untuk dapat berada di sini, ia harus bersikap baik pada tamu apapun. Keamanannya juga terjamin, karena ada Pejuang yang bersembunyi di lantai atas.
"Maaf, Ketua sedang melakukan pekerjaannya. Jika Anda tidak memiliki janji, Anda bisa kembali dan membuatnya, atau Anda bisa menunggu sampai Beliau selesai."
Mo Lian tersenyum canggung seraya menggaruk pipinya. "Tapi, aku adalah putranya, dan merupakan Ketua dari Divisi Penelitian Obat." Ia mengeluarkan tanda pengenalnya, dan meletakkannya di atas meja.
Tidak lama kemudian setelah mengecek data di komputer yang berada di bawah meja, wanita itu mendongak menatap Mo Lian dengan mata terbuka lebar. "Ah! Ma- Maafkan saya, saya akan mengantar Anda langsung untuk menemui Ketua." Ia menundukkan kepalanya.
Mo Lian menggeleng pelan sembari mengambil tanda pengenalnya, dan menjawab, "Tidak masalah, aku akan pergi ke sana sendiri."
Mo Lian memasuki lift yang menghubungkan antar lantai, ia pergi ke lantai 65 untuk menyerahkan Embun Spiritual, dan kemudian ke lantai 70 untuk bertemu dengan Ibunya.
Akhirnya Mo Lian mengerti untuk apa Ibunya membeli gedung yang lebih besar lagi, itu karena agar memberikan fasilitas pada pegawainya. Fasilitas yang diberikan adalah pengobatan, taman bermain yang mengusung tema alam liar, gym, kantin yang sangat luas dan berada di setiap sepuluh lantai berbeda.
Kemudian ada lagi fasilitas yang sangat membantu, yaitu memberikan tempat tinggal secara gratis bagi mereka yang memiliki kinerja yang baik, atau yang berasal dari luar kota, namun harus sesuai dengan ketentuan. Termasuk mereka yang memiliki jabatan penting di sini.
Mo Lian yang sudah berada di depan pintu kerja Su Jingmei tidak langsung masuk ke dalam, karena di sana ada Ayahnya, sehingga ia tidak ingin mengacaukan waktu mereka berdua.
"Masuk." Terdengar balasan dari dalam ruangan.
Mo Lian membuka pintu kembar itu secara perlahan, terlihat Su Jingmei yang duduk di belakang meja kerja sedang menyelesaikan semua tugas. Ia juga melihat Mo Qian yang duduk di sofa sedang membaca semua dokumen dengan kerutan di dahi.
__ADS_1
"Ayah, aku tahu Ayah tidak terlalu bisa mengurus dokumen. Jadi tidak perlu berpura-pura seperti itu." Mo Lian melangkah masuk dan menutup kembali pintu kembar.
Mo Qian tersentak saat mendengar perkataan itu, dan mencoba untuk menyangkalnya, "Ja- Jangan asal bicara, Ayah sangat hebat dalam mengelola tugas seperti in—" Ia menghentikan perkataannya saat merasakan aura dingin yang berada di punggungnya.
Perlahan, Mo Qian berbalik melihat Su Jingmei, terlihat Su Jingmei yang tersenyum lembut, namun entah mengapa auranya berkata lain.
Su Jingmei terkekeh kecil, kemudian mengalihkan pandangannya pada Mo Lian. "Jadi, apa yang ingin Lian katakan? Sangat jarang bagimu untuk datang ke perusahaan, apakah ingin mendapatkan pelukan Ibu? Setelah Ayah kembali, kau tidak lagi memeluk Ibu." Suaranya halus dan menenangkan, sembari membuka kedua tangannya, memberi tanda meminta pelukan.
Mo Lian tersenyum hangat dan menghampiri Su Jingmei, kemudian memeluknya erat.
Mo Qian yang melihat itu tidak mempermasalahkannya sama sekali, malah merasa tenang karena Mo Lian tetap menenangkan Su Jingmei selama kepergiannya dulu. Ia juga sudah mendengarnya langsung dari Su Jingmei dan Mo Fefei bagaimana keadaan mereka saat menghilangnya dirinya.
"Ibu, aku ingin pergi ke Mesir hari ini, mungkin akan kembali seminggu setelah kepergian."
Su Jingmei membuka matanya tiba-tiba, dan melepaskan diri dari pelukan Mo Lian. "Untuk apa? Apakah kau akan melakukan hal yang berbahaya lagi? Tidak bisakah kau berada di sini saja?"
Mo Lian terdiam, tentu saja Ibunya akan bereaksi seperti ini, mengingat apa saja yang dilakukannya, yang sangat berbahaya, meski sudah mengatakannya berulang kali bahwa dirinya tidak apa-apa.
Mo Lian mengalihkan pandangannya pada Mo Qian, dan apa yang dilihatnya hanyalah gelengan tak berdaya Ayahnya yang tidak bisa membantu.
"Apakah kau paham?" tanya kembali Su Jingmei yang menyentuh kedua pipi Mo Lian.
Mo Lian terdiam sejenak sembari meletakkan tangan kirinya ke belakang secara diam-diam, dari jari telunjuknya mencuat akar pohon yang sangat tipis seperti cacing tanah, yang bergerak sangat cepat keluar dari dalam ruangan. Jika ia tidak bisa pergi, maka ia hanya bisa mengirimkan kloningnya.
"Baik, Bu. Aku akan berada di tempat yang aman, dan tidak pergi ke tempat yang berbahaya ..." jawab Mo Lian yang menyentuh tangan Su Jingmei yang.
Untuk sekarang ...
Walaupun berkata tidak akan pergi, ia harus pergi ke Mesir dan tempat lain yang terpikirkan olehnya. Ia pergi ke Mesir untuk menggali makam di sana, dan ia juga berencana untuk pergi ke Gurun Sahara.
Paling tidak, dalam waktu sebulan ia harus menahan diri untuk tidak pergi langsung, dan menggunakan klon untuk pergi berpetualang.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...