
Bagi Mo Lian yang sekarang, yang mana telah dibaptis oleh sembilan sambaran Kesengsaraan Petir. Tubuhnya yang sekarang sangat-sangat kuat, jangankan mainan seperti RPG, bahkan nuklir yang memiliki daya ledak tinggi yang dapat menghancurkan satu negara kecil, tidak akan bisa membunuhnya.
"Apakah kau pikir hanya dengan senjata mainan anak-anak itu dapat membunuhku?"
Angin berembus kencang menghilangkan asap tebal di langit. Terlihat seorang pemuda yang sedang mencengkeram rahang pria paruh baya. Pemuda itu tak lain ialah Mo Lian.
Semua orang kembali membelalakkan matanya lebar saat melihat keadaan Mo Lian. Berbagai pertanyaan muncul dibenak semua orang, pasalnya Mo Lian yang baru saja terkena RPG masih dapat hidup, bahkan tidak ada luka-luka ditubuhnya. Jangankan luka, pakaian yang dikenakannya pun tidak menampilkan tanda-tanda terkena serangan.
Tetua Ping juga tidak berbeda jauh dari orang-orang lainnya. Ia membuka matanya lebar saat melihat keadaan Mo Lian yang masih baik-baik saja setelah terkena tembakan RPG. "Wu- Wu- Wu- Wu-Sheng. Ka- Ka- Kau benar-benar seorang Wu-Sheng," ucapnya terbata-bata.
Mo Lian mengabaikan keterkejutan Tetua Ping dan semua orang yang hadir. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada orang yang menyerangnya tadi, di depan jarinya terlihat gumpalan energi spiritual berwarna biru dengan ukuran seperti kelereng kecil. "Mati!"
Ia melepaskan energi spiritual yang telah terkumpul di jarinya. Energi spiritual itu melesat tajam bagaikan peluru yang ditembakkan dari senapan, kemudian menembus kepala orang yang sebelumnya menyerang Mo Lian. Seketika itu juga orang itu tergeletak di tanah dengan darah mengalir dari lubang yang berada di kepalanya.
Mo Lian menolehkan kepalanya kembali menatap Tetua Ping. Dengan jari telunjuk dan tengahnya, ia menekan titik akupuntur lengan kiri Tetua Ping yang telah terputus untuk menghentikan pendarahan. Kemudian ia mengalirkan energi spiritualnya pada tangan kanannya, dan memukulkannya di antara dada dan pusar, yang mana posisi itu merupakan tempat penyimpanan energi spiritual, Dantian.
"Uhuk!" Tetua Ping terbatuk dengan seteguk darah segar keluar dari dalam mulutnya. Energi dalam tubuhnya menurun drastis, Wu-Zong, Wu-Zun, Wu-Shi, dan menjadi manusia biasa. Penampilannya juga berubah seiring berjalannya waktu, rambut hitamnya berubah menjadi putih dengan kerutan di wajah.
Mo Lian menatap tajam Tetua Ping. "Sekarang kau menjadi manusia biasa. Namun meski begitu aku tidak akan mengampuni mu, aku juga tidak akan membunuhmu dengan mudah," ucapnya dengan penekanan pada setiap kata-katanya, kemudian ia melemparkan Tetua Ping ke tanah.
Ia menolehkan kepalanya menatap Ong Hei Yun yang sedang memandanginya. "Kau tanyakan padanya di mana markas Organisasi Dunia Hitam. Jiwanya tidak dikunci, sehingga dia tidak akan mati jika dia membongkar rahasia, tapi tetap saja kau harus berhati-hati agar dia tidak bunuh diri."
Mendengar itu, Ong Hei Yun menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menghampiri Tetua Ping yang tubuhnya telah lemas tanpa adanya sedikitpun tenaga untuk berdiri, tapi meski begitu ia tidak memperlihatkan sedikitpun rasa kasihan. Seperti kata Mo Lian, ia harus melakukannya dengan hati-hati. Bagaimanapun pria tua di depannya adalah Tetua dari Organisasi Dunia Hitam.
Kembali lagi ke sisi Mo Lian, ia mengangkat tangan kanannya ke udara dengan posisi jari telunjuk dan tengah mengarah ke langit. "Teknik Pedang 1000 Mil, Gerakan Ketiga. Formasi 1000 Pedang!"
Tiba-tiba di langit biru yang cerah tercipta fluktuasi energi spiritual yang sangat kuat. Perlahan, pedang berwarna biru transparan dengan jumlah lebih dari seratus muncul di langit.
"Mati!" Mo Lian melambaikan tangannya mengarah pada puluhan orang yang tergeletak di tanah.
Ratusan pedang biru bergetar hebat seperti menanggapi panggilan dari lambaian tangan Mo Lian. Pedang-pedang itu melesat tajam menembus tubuh puluhan orang bersenjata api yang tergeletak di tanah, seketika itu juga mereka semua kehilangan nyawa mereka tanpa dapat bergerak, bahkan berteriak pun tidak bisa, ini seperti mengatakan jika mereka semua mati secara instan.
Kini, di langit dari halaman perusahaan hanya bisa terlihat Mo Lian seorang yang melayang di antara bumi dan langit. Di permukaan tanah entah sudah dari kapan berdiri lebih dari seribu orang yang menengadahkan kepalanya melihat Mo Lian, anggota Perusahaan Meiliafei, pengunjung cafe, kepolisian, anggota Keluarga Qin, anggota Pasukan Taring Naga, dan warga sekitar yang penasaran akan suara ledakan.
Dewa! Hanya itulah ungkapan yang cocok untuk situasi saat ini.
Mo Lian menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ia melihat ke sekeliling, banyak sekali tatapan mata yang tertuju padanya, ia menggelengkan kepalanya seraya memegangi dahinya, dengan ini ia tak lagi bisa menyembunyikan identitas dirinya.
__ADS_1
Ia turun perlahan dari langit dan mendarat di tanah yang dipenuhi oleh mayat tergeletak dan api di mana-mana. Ketika ia mendarat, tiba-tiba ada seorang wanita yang sangat cantik berlari ke arahnya dan memeluknya erat, wanita itu bukan Su Jingmei maupun Mo Fefei, melainkan Qin Nian.
Mo Lian tersentak kaget saat ia dipeluk oleh Qin Nian.
"Ma- Ma- Master. Ja- Jangan membahayakan dirimu lagi," ucap Qin Nian tersedu-sedu di dada Mo Lian.
Mo Lian terdiam sejenak dengan mulut sedikit terbuka. Kemudian ia tersenyum lembut dan mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Qin Nian, ia mengusap punggung dan puncak kepala Qin Nian. "Baik, baik."
Su Jingmei dan Mo Fefei juga sedikit terkejut ketika melihat Mo Lian dan Qin Nian berpelukan di depan umum. Keduanya menatap satu sama lain dengan tatapan keheranan. Sejak kapan mereka begitu dekat?
Mo Lian mendekatkan bibirnya ke telinga Qin Nian. "Qin Nian. Bisakah kau melepaskan pelukanmu? Banyak orang yang melihatnya," bisiknya pelan.
Qin Nian tersentak, ia mendongakkan kepalanya, mata keduanya saling bertemu, kemudian dengan cepat ia melepaskan pelukannya dari Mo Lian. Dengan malu-malu ia berbalik dan pergi menjauh menuju keluarganya.
Melihat itu, Mo Lian hanya terdiam dan terkekeh kecil. Ia mengalihkan pandangannya ke sisi lainnya, terlihat Ibu dan Adiknya yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh rasa penasaran serta senyuman aneh.
"Tadi pagi, saat Fefei menghubungiku. Kami berdua sedang bersama di taman bermain." Mo Lian menjelaskan rasa penasaran Ibu dan Adiknya seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Mo Fefei berjalan mendekati Mo Lian, ia mendongakkan kepalanya menatap tajam wajah Kakaknya seraya tersenyum penuh makna, dan tangan kanannya yang mengelus dagunya. "Oho."
"Bagaimana keadaanmu?" Mo Lian mengalihkan topik pembicaraan.
Mo Lian tersenyum lembut, ia mengusap lembut rambut Adiknya. "Tentu. Sekarang kau berada ditingkat Fase Fondasi tahap Menengah. Dua tingkat lagi kau bisa berjalan di atas air dan menahan peluru, hanya saja tidak semua peluru bisa kau tahan saat berada ditingkatan itu."
Mo Fefei mengepalkan tangan kanannya, ia tersenyum penuh tekad dengan mata berapi-api ketika mendengar penjelasan singkat dari Kakaknya.
Setelah memastikan keadaan Ibu dan Adiknya yang baik-baik saja. Mo Lian berjalan menghampiri Ong Hei Yun yang sedang menjaga Tetua Ping.
"Bagaimana? Apakah kau mengetahui keberadaan markasnya?"
Ong Hei Yun menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia tidak mau menjawab satupun pertanyaan, dan bahkan selalu mengancam jika rakyat China akan menderita," jawabnya dengan nada sedikit kesal.
Mo Lian mengerutkan keningnya, ia mengalihkan pandangannya pada Tetua Ping yang duduk lemas di tanah. "Katakan. Di mana markas Organisasi Dunia Hitam?" tanyanya seraya mengeluarkan aura membunuhnya yang kuat.
Tetua Ping menatap tajam Mo Lian. "Lebih baik aku mati ketimbang harus memberitahukanmu! Kau bisa merasa bangga karena kau seorang Wu-Sheng. Tapi kau tidak akan bisa mengalahkan Pemimpin kami!"
Mo Lian kembali mengerutkan keningnya, jika ia yang telah mencapai Ranah Inti Perak tidak bisa mengalahkan Pemimpin dari Organisasi Dunia Hitam, lalu harus berada ditingkatan apa yang harus dicapainya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, ia membuang semua pemikirannya tentang Pemimpin mereka yang lebih kuat darinya. "Berada ditingkatan apa Pemimpin mu?"
__ADS_1
Tetua Ping menaikkan sudut bibirnya. Ia mendengus dingin, dan kemudian menjawabnya, "Heh! Pemimpin kami sudah berada ditingkat Wu-Sheng tahap Akhir, satu langkah satu untuk menembus tingkatan baru yang tidak pernah dicapai dan tidak diketahui oleh orang-orang semacam kalian!"
Mo Lian terdiam dengan wajah datar, ia mengira jika Pemimpin dari Organisasi Dunia Hitam sangatlah kuat. Namun ternyata hanya berada ditingkatan itu, dan orang di depannya mengatakan jika itu sangatlah kuat? Omong kosong! Bahkan jika musuhnya berada ditingkat Ranah Inti Emas, ia masih dapat membunuhnya.
Selama pertempuran hari ini di Perusahaan Meiliafei, Mo Lian hanya menggunakan 1% dari energi spiritualnya. Itupun hanya untuk melindungi orang-orang yang tak bersalah dari tembakan peluru, menyembuhkan anggota keluarganya, dan membunuh para semut.
Jika ia serius, dan melepaskan semua kekuatannya hingga ketahap maksimal. Ia sanggup untuk meratakan Kota Chengdu yang luasnya 14.378 km², tapi jika ia melakukannya, tentu saja akan ada kerugian dalam kultivasinya karena memaksakan kekuatan yang tidak semana mestinya untuk Ranah Inti Perak tahap Awal.
Tapi kesampingkan dulu tentang kekuatannya, yang menjadi pikirannya saat ini adalah tentang mengapa Pemimpin Organisasi Dunia Hitam tidak turun tangan sendiri jika dia telah berada ditingkat Wu-Sheng tahap Akhir.
Mo Lian menghela napas panjang, ia mencengkram kepala Tetua Ping menggunakan tangan kiri, dengan jari telunjuk serta tengah dari tangan kanannya berada di depan matanya. "Teknik Pencarian Jiwa!"
Tiba-tiba di dalam benaknya terlihat bayangan kejadian-kejadian yang dialami Tetua Ping selama beberapa tahun terakhir, lebih tepatnya dari awal saat Tetua Ping bergabung dengan Organisasi Dunia Hitam.
Ketika Mo Lian membuka matanya perlahan, terlihat raut wajahnya berubah menjadi marah dan jijik. Ia melemparkan kembali Tetua Ping ke tanah dengan kerasnya. "Baji****!"
"Ada apa?" Ong Hei Yun mencoba menenangkan Mo Lian agar tidak membunuh Tetua Ping.
Mo Lian menolehkan kepalanya menatap Ong Hei Yun, ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Dia meningkatkan kekuatannya ... dengan cara berhubungan badan, bersama gadis-gadis di bawah umur, dan bermandikan darah mereka ..."
Ia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya, "Organisasi Dunia Hitam hampir tersebar luas di seluruh Daratan Huaxia. Di Provinsi Sichuan ini mereka memiliki markas di Kota Chengdu, lebih tepatnya Perusahaan Heiqiu."
Seketika orang-orang di sekitarnya yang mendengar itu membelalakkan matanya lebar, terlebih lagi untuk para Pejuang, mereka tidak berharap jika ada orang yang sangat tidak manusiawi untuk meningkatkan dengan cara seperti itu. Dari itu juga mereka mengerti mengapa Mo Lian menjadi sangat kesal dan ingin membunuh Tetua Ping.
Tapi kesampingkan dulu soal itu, yang lebih mengejutkannya lagi adalah perihal Perusahaan Heiqiu yang merupakan markas Organisasi Dunia Hitam di Kota Chengdu.
Perusahaan Heiqiu sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dibidang properti, perusahaan itu termasuk tiga terbesar yang berada di Kota Chengdu.
"Lalu. Di mana markas utama mereka?"
Mo Lian menggelengkan kepalanya karena kecewa dengan napas berat keluar dari mulutnya. "Dia memang pernah berkunjung ke markas utama, namun dari ingatannya, pandangan yang terlihat hanyalah warna hitam, dan tiba-tiba dia sudah berada di dalam ruangan. Di ruangan itu terdapat empat orang termasuk dirinya, dan untuk Pemimpin mereka, wajahnya tidak terlihat karena tertutupi oleh bayangan."
Ia menolehkan kepalanya kembali menatap Tetua Ping yang setengah gila, itu karena ia secara paksa memasuki ingatan Tetua Ping, sehingga sebagian jiwanya terluka. "Jika kau ingin datang ke Perusahaan Heiqiu, pastikan kau membawa cukup pasukan. Dan yang lebih penting, bawa satu atau dua Pejuang ditingkat Wu-Dan."
...
***
__ADS_1
*Bersambung...