Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 143 : Pertarungan Lainnya


__ADS_3

Semua orang mengalihkan perhatiannya pada arah yang ditunjuk oleh Mo Lian, mereka menyipitkan mata mencoba mencari tahu apakah benar di sana ada orang, namun seberapapun mereka berusaha, mereka tidak bisa melihatnya.


Mo Lian menghembuskan napas panjang sembari merentangkan kedua tangannya, dari telapak tangannya mencuat akar pohon yang kian membesar seiring dengan berjalannya waktu, kemudian membentuk sebuah tubuh dengan penampilan maupun pakaian yang sama sepertinya.


Dengan tangan terangkat dan dilambaikan, kedua tiruannya berpencar menjadi dua, ada yang pergi ke arah barat laut untuk mencegat ratusan pesawat tempur, ada pula yang pergi ke arah timur, Samudra Pasifik untuk menghadang kapal induk.


Teknik yang digunakan Lin Chen ini mengejutkan semua orang dari Pasukan Mata Setan, mereka tidak tahu jika ada teknik semacam itu. Terutama untuk pria tua yang belum memperkenalkan dirinya, ia sendiri yakin tidak bisa mengalahkan Mo Lian yang sendirian, dan sekarang ada tiga.


"Masih membutuhkan tiga puluh menit lagi sebelum Keluarga Rosth tiba ..." Mo Lian kembali duduk di atas dinding di bawah kakinya.


"Setelah pertarungan ini selesai, Bumi akan berubah, Pejuang di seluruh dunia akan keluar ke permukaan untuk mencari harta berharga yang tersebar, terutama harta milik Keluarga Rosth." Dari pemikirannya, seharusnya Keluarga Rosth memiliki harta yang terbilang sangat berharga untuk ukuran Bumi.


Harta apa yang dimiliki? Itu adalah sesuatu yang tidak diketahuinya. Namun besar kemungkinan itu adalah senjata.


Meski Pasukan Mata Setan sudah menyadari bahwa hal itu akan terjadi cepat atau lambat, tapi mereka masih belum cukup untuk melakukan pertempuran dengan kekuatan-kekuatan tersembunyi. Karena mereka yakin, kekuatan yang bersembunyi itu sangatlah kuat.


Meski Pasukan Mata Setan berada di posisi teratas dari pasukan lainnya, tapi tetap saja mereka tidak bisa mengusut tuntas kasus Organisasi Dunia Hitam yang terbilang lemah.


"Lian'er, berapa banyak yang datang kemari? Seberapa kuat mereka?" tanya Mo Qian menatap Mo Lian yang memejamkan mata dari samping.


Mo Lian membuka matanya perlahan, ia menoleh ke kanan dan menengadahkan kepalanya menatap wajah Ayahnya. "Harusnya Ayah bisa melihat mereka dalam waktu sepuluh menit lagi." Ia hanya menebak jarak pandang yang bisa dilihat Ayahnya, meski sama-sama Inti Emas, tapi mereka berdua berbeda.


Jarak pandang Mo Lian sampai 1000 mil jauhnya, dan untuk Ayahnya, ia menebak hanya bisa melihat sampai jarak 200 mil.


Semua orang kembali terdiam dan terus memfokuskan pandangan mereka ke arah barat, di mana Mo Lian menunjuk tadi.


Belasan menit kemudian, semua orang membuka handphone masing-masing untuk melihat berita hari ini. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat SNS dipenuhi oleh gambar-gambar pesawat tempur yang mengudara di atas perairan China, serta ribuan manusia bersayap yang berada di atas Provinsi Chengdu.


Mo Lian hanya tersenyum tipis menanggapi keterkejutan mereka semua, dengan mata yang tetap terpejam. Hingga belasan menit lainnya terlewat, ia berdiri dengan tangan bertumpu pada satu lututnya.


"Mereka datang." Mo Lian membuka matanya perlahan terlihat kilatan cahaya berwarna biru di sudut matanya saat menatap lurus ke depan.


Semua orang menelan ludah mereka saat melihat dengan jelas jika jauh di depan dan sudah ribuan orang dari Keluarga Rosth.


"Hah..." Mo Lian menghembuskan napas panjang dengan keinginan membunuh yang kuat keluar darinya, membuat suhu di sekitar turun secara signifikan.


"Aku sudah bisa menggunakan satu persen dari kekuatanku sebelumnya. Aku akan menggunakannya satu banding sejuta dari kekuatan asli untuk kecepatan," gumam Mo Lian tersenyum dingin.


Dengan sedikit gerakan, ia menghilang di udara kosong tempatnya berdiri di hadapan semua orang. Saat ia muncul, ia sudah berada di depan ribuan orang Keluarga Rosth, yang jaraknya sepuluh mil dari tempat awalnya berdiri.


Kedatangan Mo Lian ini sangat cepat, bahkan ribuan orang dari Keluarga Rosth tidak menyadari bahwa ia sudah berada di depan mereka.


Tanpa menunggu lama, ia memukulkan tinjunya pada udara di depannya. Dari pukulannya itu menciptakan tekanan udara yang sangat kuat, udara bertekanan tinggi itu melesat tajam pada ribuan orang di depannya.

__ADS_1


Duarr! Duarr! Duarr!


Ledakan keras saling bersahutan menandakan bahwa tubuh orang-orang dalam garis lurus meledak menjadi kabut darah saat terkena udara bertekanan tinggi.


Masih belum cukup, Mo Lian membuat dinding pelindung di bawah kaki kanannya sebagai tempatnya berpijak. Ia mengangkat kaki kirinya dan mengayunkannya menendang secara horizontal, dari kiri ke kanan mengarah pada 7000 orang yang tersisa.


Samar-samar terlihat siluet bulan sabit berwarna merah yang dihasilkan dari gesekan antara tendangannya dengan udara sekitar, yang akibatnya dapat menciptakan api meski itu hanya sesaat.


Bang!


Dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar bersamaan dengan angin menyebar luas seperti pedang tajam. Dentuman itu berasal dari serangannya yang menghantam dinding pelindung berwarna merah darah, namun sedikit lebih gelap.


Suara yang dihasilkan dari benturan itu juga dapat terdengar oleh orang-orang yang berada di jalan-jalan kota, dan membuat kepanikan, meski tidak sedikit pula dari pejalan kaki yang tetap berada di situ untuk mengabadikan momen.


"Apakah kau orang yang membunuh anakku, Gerrald Rosth, dengan Kepala Pelayan, Alexander Zhyvlach?" Terlihat pemuda berambut pirang yang penampilannya sama seperti Tuan Muda Keluarga Rosth yang pernah dibunuh Mo Lian. Pemuda itu turun dari langit dan berdiri sejajar dengan Mo Lian, yang jaraknya sekitar sepuluh meter.


Note : Pertanyaannya diucapkan dalam Bahasa Inggris.


"Ya!" Mo Lian menjawabnya singkat dengan aura membunuh keluar darinya.


Pemuda itu mengepalkan kedua tangannya sembari menggertakkan giginya penuh amarah, bersamaan dengan aura membunuh yang keluar darinya, membuat angin bertiup kencang.


"Die!" Pemuda itu bergerak sangat cepat dan muncul di depan Mo Lian dengan tinju diselimuti energi kuat membentuk asap hitam.


Dengan kecepatan tiada tara, Mo Lian mengibaskan tangan kanannya menangkap pergelangan tangan Kepala Keluarga, kemudian melemparkannya jauh ke langit setelah mengambil ancang-ancang.


"Apa yang kalian lakukan?! Kalian pergi ke tempat di mana Gerrald dan Alex terbunuh, bantai semua orang di sana!" Pemuda itu berteriak keras memerintahkan bawahannya.


"Jangan alihkan perhatianmu!" Mo Lian kembali muncul tepat di depan Kepala Keluarga yang sudah menguasai diri.


Mo Lian memukulkan tinjunya pada wajah pemuda di depannya dengan 30% kekuatan fisiknya tanpa adanya sedikitpun energi spiritual. Saat ini ia masih menahan diri karena masih terlalu dekat dengan daratan, yang mungkin saja serangannya akan membunuh orang-orang di bawah sana jika ia melepaskan kekuatannya terlalu banyak.


Bang!


Dentuman keras lainnya kembali terdengar saat pukulannya ditahan oleh telapak tangan Kepala Keluarga Rosth.


Kepala Keluarga Rosth mendengus dingin dengan tatapan merendahkan Mo Lian. "Heh! Apakah hanya segini saj— Keuk!" ucapannya terhenti saat merasakan pukulan di bawah dagunya, yang membuatnya mengigit lidahnya sendiri.


Pukulan Mo Lian menggunakan setengah dari kekuatannya, yang membuat pemuda itu kembali naik ke langit, meski tidak terlalu tinggi.


Tapi itu bukanlah akhir, dengan kecepatan tiada tara, ia kembali muncul tepat di bawah pemuda yang masih melesat jauh. Ia memutar tubuhnya di udara dan menendang perut pemuda itu dengan seluruh kekuatan fisiknya yang ditambah dengan sedikit energi spiritual.


Boom!

__ADS_1


Pemuda itu kembali melesat tajam ke langit menembus lapisan Mesosfer.


Pertarungan Mo Lian kembali diberitakan ke seluruh dunia, bukan hanya pertarungan yang berada di atas Kota Chengdu, tapi juga di barat laut, serta Samudera Pasifik.


Pemuda itu mengepakkan sayapnya untuk mengendalikan tubuhnya yang melesat tajam. Setelah dapat mengontrol kembali tubuhnya, ia menatap tajam Mo Lian dengan gigi digertakkan. "Kau akan mati di sini, Keluarga Rosth ku adalah Penguasa! Ratusan pesawat tempur datang kemari dengan kapal induk!"


Mo Lian hanya diam mengabaikannya.


Merasa terabaikan oleh Mo Lian, pemuda itu kembali menggertakkan giginya penuh amarah, kemudian mendengus dingin dan berucap, "Bawahanku akan membunuh keluargamu!"


Mo Lian tetap terdiam tidak membalas ucapan itu, bahkan raut wajahnya tidak berubah sama sekali. Membunuh orang di Sekte Dongfangzhi? Itu adalah sesuatu yang sangat konyol.


Di sana ada Ayahnya yang berada ditingkat Inti Emas, yang mampu bertarung melawan setengah Alam dan Manusia jika berusaha sekuat tenaga. Sedangkan orang yang dibawa oleh Keluarga Rosth, hanya berada ditingkat Fase Lautan Ilahi tahap Akhir sampai Ranah Inti Perak tahap Akhir.


***


Beberapa Menit Lalu, Samudra Pasifik


Bayangan Mo Lian sudah berada di atas Samudera Pasifik menunggu kedatangan kapal induk milik Amerika yang hendak memasuki perairan China.


Mo Lian menyilangkan kedua lengannya sembari menatap tajam lurus ke depan dengan aura membunuh yang keluar darinya. Aura membunuh Mo Lian sangat kuat hingga mampu menimbulkan fenomena alam yang mengerikan, angin bertiup kencang membuat pusaran, air laut bergejolak dan memecahkan ombak.


Cukup lama ia menunggu, hingga pada saat Keluarga Rosth sudah tiba di Kota Chengdu. Mo Lian dapat melihat kapal induk milik Amerika yang panjangnya lebih dari 300 meter.


Mo Lian turun perlahan dari langit menghadang kapal induk. "Berbalik, atau mati!"


Orang-orang yang berada di atas kapal terperangah dengan mata terbuka lebar tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Hingga tidak lama kemudian, terdengar balasan dari kapal menggunakan pengeras suara, "Fire!"


Suara menggelegar terdengar dari kapal induk, menembakkan rudal mengarah pada Mo Lian.


Mo Lian hanya berdiri tak bergeming di tempatnya dengan kedua lengan disilangkan di depan dada, serta menatap tajam orang-orang yang berada di kapal induk.


Boom! Duarr!


Rudal mengenai tubuh Mo Lian, menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar. Terlihat api yang menyebar luas di langit bersamaan dengan gelombang udara yang membuat air laut sedikit menyebar.


"Hahahaha!" Suara tawa terbahak-bahak dapat terdengar di kapal induk melalui pengeras suara.


"Apakah kalian sudah selesai?" Suara Mo Lian terdengar di dalam asap hitam di langit, hingga asap itu menghilang tertiup angin, memperlihatkan Mo Lian yang berdiri tanpa sedikitpun luka, bahkan pakaiannya pun tidak tergores.


"Selanjutnya, adalah giliranku!"


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2